Siwak atau miswak telah lama
dikenal dalam tradisi Islam sebagai salah satu sunnah yang dianjurkan oleh Nabi
Muhammad Saw. Di antara berbagai kitab yang membahas keutamaannya, Anwarul
Masalik mencantumkan sejumlah fadhilah yang diyakini membawa manfaat
spiritual, moral, dan fisik bagi pengamalnya. Penggunaan siwak dalam literatur
klasik bukan hanya dipandang sebagai upaya menjaga kebersihan, tetapi juga
sebagai sarana meraih keberkahan dan peningkatan kualitas diri. Oleh karena
itu, memahami fadhilah siwak membantu seorang Muslim menyadari nilai ibadah
yang terkandung dalam praktik sederhana tersebut.
Dalam kitab Anwarul Masalik,
beberapa fadhilah siwak berkaitan langsung dengan hubungan seorang hamba kepada
Allah. Di antaranya adalah mendapat ridha Allah, suatu bentuk kedekatan
spiritual yang menjadi tujuan tertinggi seorang mukmin. Selain itu, disebutkan
bahwa siwak dapat menjauhkan seseorang dari gangguan setan, karena anggota
tubuh yang bersih diyakini lebih sulit dipengaruhi oleh bisikan kejahatan.
Fadhilah-fadhilah ini menggambarkan bahwa siwak bukan sekadar alat kebersihan,
tetapi juga sarana penjagaan diri secara spiritual.
Sebagian fadhilah siwak
berkaitan dengan kebersihan dan manfaat fisik sebagaimana dipahami dalam
tradisi ulama. Siwak disebut membersihkan mulut, memudahkan
pencernaan, dan bahkan menjengkelkan setan, karena kebersihan mulut
dianggap bagian dari kesempurnaan ibadah. Dalam literatur sufistik dan fikih,
kebersihan tubuh sering dikaitkan dengan kejernihan jiwa, sehingga praktik
siwak dipandang memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar kesehatan
oral. Pemahaman ini menegaskan bahwa menjaga kebersihan merupakan bagian
integral dari spiritualitas dalam Islam.
Dalam paparan kitab tersebut,
siwak juga disebut membawa efek positif bagi aspek kepribadian dan kecerdasan.
Fadhilah seperti menumbuhkan sifat percaya diri, menambah kecerdasan,
dan menambah kefasihan dalam bicara haq (benar) menggambarkan pandangan
ulama bahwa tubuh dan jiwa manusia saling berhubungan. Dengan mulut yang bersih
dan pikiran yang jernih, seorang Muslim lebih mudah menyampaikan kebenaran dan
menjaga perilaku yang baik. Walaupun manfaat ini tidak dipahami secara ilmiah,
ia dianggap sebagai hasil keberkahan dari amalan sunnah.
Beberapa fadhilah lainnya berkaitan dengan ketahanan fisik dan penampilan sebagaimana disebutkan dalam kitab. Di antaranya adalah menambah kejernihan mata, memperlambat penuaan, memperlambat tumbuhnya uban, serta menjadikan punggung tegak. Dalam tradisi ulama, manfaat-manfaat tersebut tidak selalu dipahami secara literal, tetapi sering dimaknai sebagai tanda bahwa seseorang yang rajin menjaga kebersihan dan menghidupkan sunnah akan terlihat lebih segar, berwibawa, dan bersemangat. Hal ini memperlihatkan bahwa siwak diyakini membawa pengaruh positif pada kondisi tubuh secara keseluruhan.
Di antara fadhilah yang juga disebutkan adalah menambah pahala, menjadikan musuh takut, serta memudahkan naza’ (sakaratul maut). Ini menunjukkan bahwa siwak dipandang memiliki efek yang mencakup dimensi ukhrawi, sosial, dan spiritual. Dalam perspektif kitab-kitab klasik, mengamalkan sunnah secara konsisten membawa cahaya dan kewibawaan pada diri seorang mukmin sehingga musuh pun merasa segan. Sementara itu, kemudahan saat sakaratul maut dipahami sebagai buah dari hidup yang dipenuhi amalan baik. Dengan demikian, seluruh fadhilah ini mencerminkan pandangan Islam tradisional bahwa siwak adalah amalan kecil yang membawa manfaat besar bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar