Halaman

Jumat, 14 November 2025

Menghidupkan Hati dengan Ilmu: Renungan atas Nasihat Para Ulama

Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama sering menyampaikan nasihat yang bertujuan menumbuhkan kesadaran spiritual dan intelektual umat. Salah satu nasihat yang masyhur adalah ucapan, “Orang mukmin jika dalam tiga hari tidak bertambah ilmunya, maka ia akan menyesal sebab hatinya akan mengeras.” Ungkapan ini bukan hanya bentuk motivasi untuk terus menuntut ilmu, melainkan juga peringatan agar seorang mukmin menjaga kesucian hati melalui aktivitas intelektual dan spiritual yang berkelanjutan. Ilmu dalam pandangan ulama bukan sekadar informasi, tetapi cahaya yang menuntun perilaku, menyuburkan iman, dan menghidupkan hati.

Ucapan ulama tersebut menegaskan bahwa seorang mukmin idealnya selalu berada dalam proses peningkatan, khususnya dalam hal ilmu. Tiga hari yang disebutkan bukanlah batasan kaku, tetapi simbol bahwa seorang beriman tidak boleh membiarkan dirinya berada dalam kondisi stagnan. Jika tubuh membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, maka hati pun membutuhkan ilmu agar tetap hidup dan peka. Dengan terus menambah wawasan—baik yang bersifat keagamaan maupun pengetahuan bermanfaat lainnya—seorang mukmin menjaga kemurnian niat, memperbaiki amal, dan menghindarkan diri dari kebodohan yang dapat menyeret kepada kemaksiatan.

Selain itu, para ulama menekankan bahwa ilmu memiliki fungsi membersihkan hati dari sifat-sifat tercela. Ketika seseorang berhenti menuntut ilmu, ia rentan terjebak dalam rutinitas duniawi yang dapat menyebabkan kelalaian. Kelalaian inilah yang menjadi awal dari "mengerasnya hati", yaitu kondisi ketika seseorang sulit menerima nasihat, malas beribadah, dan tidak sensitif terhadap dosa. Ilmu berperan ibarat air yang mengalir, menjaga hati agar tetap lembut, hidup, dan mudah tersentuh oleh kebaikan. Tanpa aliran ilmu, hati dapat mengering dan kehilangan kekuatannya untuk menolak godaan syaitan maupun hawa nafsu.

Ucapan tersebut juga mengisyaratkan pentingnya menjadikan aktivitas menuntut ilmu sebagai kebiasaan hidup. Ilmu yang dimaksud tidak hanya terbatas pada belajar di majelis atau membaca buku ilmiah, tetapi juga bisa berupa perenungan, memperbaiki pemahaman agama, mengkaji pengalaman hidup, dan meningkatkan kualitas ibadah. Ketika seseorang istiqamah menambah ilmunya, ia akan merasakan peningkatan kualitas iman dan amal. Hal ini sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW bahwa amal yang paling baik adalah yang dilakukan secara konsisten meskipun kecil. Konsistensi dalam belajar membangun karakter mukmin yang kuat, berwawasan luas, dan bijaksana dalam bersikap.

Pada akhirnya, ucapan ulama tersebut mengingatkan kita bahwa ilmu adalah fondasi utama dalam menjaga keutuhan hati dan keimanan. Penyesalan yang disebutkan bukan semata-mata tentang hilangnya kesempatan belajar, tetapi kehilangan kesempatan mendekatkan diri kepada Allah melalui ilmu. Dengan terus berusaha menambah ilmu, seorang mukmin akan menjaga hatinya tetap lembut, menjauhi maksiat, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Nasihat ini patut direnungkan dalam kehidupan modern yang penuh distraksi, agar kita tidak lalai dari kewajiban memperbaiki diri melalui ilmu dan amal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harmoni Semesta, Harmoni Cinta: Menemukan Arah Bersama dalam Kebersamaan

Ungkapan puitis “ Dengarlah suara burung bersahutan, gelombang laut berkejaran, matahari dan bulan bergiliran. Dari semesta alam raya, kit...