Halaman

Tampilkan postingan dengan label Qira'ah Kutub. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Qira'ah Kutub. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2025

Al-Asma’ Al-Maushulah: Menghubungkan Kata dan Makna dalam Bahasa Arab

Dalam ilmu nahwu, al-asmā’ al-maushulah (الْأَسْمَاءُ الْمَوْصُوْلَةُ) adalah kata penghubung yang digunakan untuk menjelaskan atau menerangkan suatu benda atau orang. Kata ini berfungsi seperti kata “yang” dalam bahasa Indonesia, misalnya untuk menunjukkan siapa atau apa yang sedang dibicarakan. Memahami al-asmā’ al-maushulah membantu pembelajar bahasa Arab untuk membaca, menulis, dan menyusun kalimat dengan lebih tepat, serta memahami hubungan antara kata dalam kalimat secara jelas dan runtut.

1. Definisi Al-asmā’ al-Maushūlah

Al-asmā’ al-maushūlah adalah kata ganti penghubung (relative pronouns) dalam bahasa Arab yang digunakan untuk menghubungkan suatu kata benda dengan klausa atau kalimat yang menjelaskannya. Dengan kata lain, ia berfungsi sebagai kata penghubung yang merujuk kembali kepada suatu isim (kata benda) dan menjelaskan sifat, keadaan, atau tindakan dari isim tersebut.

Dalam bahasa Indonesia, sering diterjemahkan sebagai “yang”. Contohnya: Orang “yang” datang kemarin adalah guru saya, buku “yang” saya baca menarik.

2. Macam-Macam Al-Asma’ Al-Maushulah

Dalam bahasa Arab, al-asma’ al-maushulah terbagi menjadi beberapa jenis tergantung pada jumlah dan jenis kelamin:

Bentuk

Gender/Jumlah

Contoh Kalimat

Terjemahan

Fungsi/I‘rab

الَّذِي (alladhī)

Maskulin tunggal

جَاءَ الرَّجُلُ الَّذِي يَدْرُسُ الْعَرَبِيَّةَ

Orang laki-laki yang belajar bahasa Arab datang

Subjek (فَاعِلٌ) dari fi‘il “يَدْرُسُ

الَّتِي

(allatī)

Feminin tunggal

قَرَأْتُ الْمَقَالَةَ الَّتِي فِي الْحَقِيْبَةِ

Saya membaca artikel yang ada di tas

Keterangan/na‘at (صِفَةٌ) menjelaskan “الْمَقَالَةَ

اللَّذَانِ (alladhāni)

Maskulin dual

جَاءَ الطَّالِبَانِ اللَّذَانِ فَازَا بِالْمُسَابَقَةِ

Dua peserta didik laki-laki yang menang dalam perlombaan datang

Subjek (فَاعِلٌ) fi‘il "فَازَا"

اللَّتَانِ (allatāni)

Feminin dual

حَضَرَتِ الطَّالِبَتَانِ اللَّتَانِ تَأَخَّرَتَا فِي دُخُوْلِ الْفَصْلِ

Telah datang dua peserta didik perempuan yang terlambat masuk kelas

Subjek (فَاعِلٌ) fi‘il "تَأَخَّرَتَا"

الَّذِيْنَ (alladhīna)

Maskulin jamak

حَضَرَ الطُّلَّابُ الَّذِيْنَ فَازُوْا

Para peserta didik laki-laki yang menang telah hadir

Subjek (فَاعِلٌ) fi‘il “فَازُوْا

اللَّوَاتِي/اللَّاتِي (allawātī / allātī)

Feminin jamak

نَجَحَتِ الطَّالِبَاتُ اللَّوَاتِي اجْتَزْنَ الْاِخْتِبَارَ

Para peserta didik perempuan yang lulus ujian berhasil

Subjek (فَاعِلٌ) fi‘il “اجْتَزْنَ

3. Fungsi dalam Kalimat

a. Subjek (فَاعِلٌ)

Al-asma’ al-maushulah dapat berfungsi sebagai subjek kalimat yang menjelaskan siapa pelaku suatu tindakan, misal: جَاءَ الرَّجُلُ الَّذِي يَدْرُسُ الْعَرَبِيَّةَTelah datang pria yang belajar bahasa Arab” → “الَّذِيmerujuk pada subjek الرَّجُلُ.

a.    Objek (مَفْعُوْلٌ بِهِ)

Bisa juga menjadi objek dalam kalimat, misal: شَاهَدْتُ الْفِلْمَ الَّذِي أَعْجَبَنِيSaya menonton film yang membuat saya senang”  → “الَّذِيmerujuk pada objek الْفِلْمَ.

b.    Keterangan (ظَرْفٌ/صِفَةٌ)

Memberikan keterangan tambahan tentang isim yang disebut sebelumnya, misal: هذَا الْكِتَابُ الَّذِي فِي الْحَقِيْبَةِIni adalah buku yang ada di tas”  → “الَّذِيmenerangkan tempat buku.

4. Tanda-Tanda dan Kaidah Nahwu

a. I‘rab (tanda gramatikal)

Al-asmā’ al-maushulah bisa menjadi na‘at (kata sifat) yang mengikuti isim yang dijelaskan, sehingga ia mendapat i‘rab sesuai dengan posisi dalam kalimat (nominatif, akusatif, genitif). Contoh: جَاءَ الطَّالِبُ الَّذِي نَجَحَالَّذِي menjadi subjek fi‘il نَجَحَ.

b. Kesepakatan gender dan jumlah

Kata hubung harus sesuai dengan isim yang diterangkan dalam hal jenis kelamin dan jumlah.

a.    Menghubungkan dengan kalimat sebelumnya

Al-asmā’ al-maushulah selalu menghubungkan isim sebelumnya dengan klausa penjelas. Contoh: قَرَأْتُ الْكِتَابَ الَّذِي فِي الْمَكْتَبَةِ  الَّذِي فِي الْمَكْتَبَةِ menerangkan الْكِتَابَ.

Selasa, 21 Oktober 2025

Mendalami Struktur Kalimat Arab: Elemen-Elemen yang Membuat Makna Lebih Hidup

Pemahaman terhadap struktur bahasa Arab yang mendalam merupakan kunci untuk menguasai bahasa ini dengan baik dan benar. Dalam kajian tata bahasa Arab, terdapat berbagai elemen yang memiliki peran penting dalam membentuk makna kalimat, salah satunya adalah masdar, na'at & man'ut, athaf, badal, dan taukid. Masing-masing konsep ini memiliki fungsi yang sangat mendasar dalam menyusun kalimat yang tepat, memperkaya ekspresi, serta memperjelas maksud yang ingin disampaikan. Dengan memahami secara mendalam kelima elemen ini, kita tidak hanya dapat menyusun kalimat yang lebih kompleks, tetapi juga dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dalam bahasa Arab baik secara lisan maupun tulisan.

1. Masdar (مَصْدَر)

Definisi:

Ibnu Jinni dalam kitab Al-Khashais menyebutkan bahwa masdar adalah bentuk dasar dari kata kerja yang dapat digunakan untuk menunjukkan aktivitas secara umum, tanpa merujuk pada waktu atau tempat tertentu.

Masdar adalah kata benda abstrak yang berasal dari kata kerja dan menggambarkan makna yang terkandung dalam kata kerja tersebut dalam bentuk yang lebih umum. Dalam bahasa Arab, masdar seringkali berfungsi sebagai kata benda yang menunjukkan kegiatan atau tindakan yang dilakukan. Masdar sering digunakan untuk menjelaskan tindakan yang bersifat umum atau secara abstrak. Contoh: دَرَسَ (darasa) → دِرَاسَة (dirāsah) berarti "studi/belajar" dalam bentuk masdar, yang menggambarkan kegiatan belajar secara umum, قَرَأَ (qara'a) → قِرَاءَة (qirā'ah) berarti "bacaan/membaca."

2. Na'at (نَعْت) dan Man'ut (مَنْعُوت)

Definisi:

Az-Zamakhsyari dalam kitab “Al-Kasysyāf” menjelaskan bahwa na'at adalah kata yang menggambarkan sifat atau karakteristik man'ut dalam sebuah kalimat.

Na'at adalah kata sifat yang menggambarkan atau memberikan penjelasan tambahan mengenai suatu benda atau objek.

Man'ut adalah benda atau objek yang digambarkan atau dijelaskan oleh na'at. Man'ut adalah kata yang diterangkan oleh na'at. Contoh: الرَّجُلُ الطَّوِيْلُ "pria yang tinggi." الرَّجُلُ adalah man'ut (yang digambarkan), الطَّوِيْلُ adalah na'at (kata sifat yang menggambarkan pria tersebut). Contoh lain: قَامَ زَيْدٌ الْعَاقِلُ Zaid yang berakal telah berdiri.”.

3. Athaf (عَطْف)

Definisi:

Ibnu Malik dalam kitab “Alfiyah Ibn Malik” menyebutkan bahwa athaf adalah penghubung yang digunakan untuk menggabungkan dua kata, frasa, atau kalimat yang setara.

Athaf adalah penghubung antar kata atau kalimat dalam bahasa Arab. Athaf digunakan untuk menghubungkan dua bagian yang memiliki hubungan, baik itu kata, frasa, atau kalimat. Dalam bahasa Indonesia, athaf mirip dengan kata penghubung seperti "dan," "atau," dan "tetapi." Contoh: جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو Telah datang Zaid dan ‘Amr.” Lafadz ‘Amr mengikuti kepada lafadz Zaid yang ditengah-tengahi oleh wawu huruf athaf. Lafadz ‘Amr ma’thuf (diathafkan), sedangkan lafadz Zaid yang di-athaf-inya (ma’thuf ‘alaih). Contoh lain: أَكَلْتُ الرُّزَّ وَاللَّحْمَ Aku telah makan nasi dan daging”, اِشْتَرَيْتُ الدَّفْتَرَ وَالْقَلَمَ Aku telah membeli buku tulis dan pena.”

4. Badal (بَدَل)

Definisi:

Ibnu Malik dalam kitab “Alfiyah Ibn Malik” menjelaskan bahwa badal adalah penggantian kata dengan kata yang memiliki makna yang serupa, sehingga struktur kalimat tetap logis dan jelas.

Badal adalah kata pengganti yang digunakan untuk menggantikan kata lain dalam kalimat. Badal menggantikan kata yang sebelumnya disebutkan tanpa mengubah makna yang dimaksud. Badal biasanya digunakan untuk memberikan klarifikasi atau memperjelas sesuatu yang disebutkan sebelumnya. Contoh: جَاءَ زَيْدٌ أَخُوْهُ "Zaid telah datang saudaranya." أَخُوْهُ adalah badal yang menggantikan Zaid sebagai subjek. Contoh lain: أَكَلْتُ الرَّغِيْفَ ثُلُثَهُ Aku telah makan roti itu sepertiganya (bukan semuanya).”

5. Taukid (تَوْكِيْد)

Definisi:

Ibnu Jinni dalam kitab “Al-Khashāis” menyebutkan bahwa taukid berfungsi untuk menegaskan makna atau pernyataan agar lebih jelas dan pasti.

Taukid adalah penguatan atau penegasan suatu kata atau frasa. Taukid berfungsi untuk memperkuat makna atau memastikan kebenaran dari pernyataan yang diajukan. Taukid adalah tābi’ (lafadz yang mengikuti) yang berfungsi untuk melenyapkan anggapan lain yang berkaitan dengan lafadz yang ditaukidkan. Contoh: جَاءَ زَيْدٌ نَفْسُهُ Zaid telah datang sendiri”. Lafadz نَفْسُهُ berkedudukan sebagai taukid yang mengukuhkan makna Zaidun, sebab kalau tidak memakai نَفْسُهُ, maka ada kemungkinan yang datang itu utusan Zaid, bukan Zaid-nya. Contoh lain: رَأَيْتُ الْقَوْمَ كُلَّهُمْ Aku telah melihat kaum itu semuanya”, مَرَرْتُ بِالْقَوْمِ أَجْمَعِيْنَ Aku telah bertemu dengan seluruh kaum itu”.

Kesimpulan:

Kelima konsep ini (masdar, na'at & man'ūt, athaf, badal, dan taukīd) merupakan bagian penting dalam struktur tata bahasa Arab yang memperkaya makna kalimat. Setiap konsep memiliki fungsi spesifik yang membantu menyampaikan pesan dengan lebih jelas dan tepat. Pemahaman tentang istilah-istilah ini sangat bermanfaat untuk memperdalam penguasaan bahasa Arab dan meningkatkan keterampilan dalam membaca, berbicara, maupun menulis.

Sumber Bacaan

Anwar, Moh. 1996. Ilmu Nahwu: Terjemahan Matan Al-Ajurumiyyah dan ‘Imrithy Berikut Penjelasannya, Cetakan Ketujuh, Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Djupri, Ghaziadin. Ilmu Nahwu Praktis: Terjemahan Matan Al-Ajurumiah Beserta Contoh-Contoh Praktis, Surabaya: Apollo.

Selasa, 30 September 2025

Menelisik Peran Amil-Amil yang Masuk pada Mubtada’ dan Khabar

كَانَ وَأَخَوَاتُهَا (Kāna wa Akhwātuhā), إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا (Inna wa Akhawātuhā) dan ظَنَّ وَأَخَوَاتُهَا (Dhanna wa Akhawātuhā) adalah kelompok kata dalam bahasa Arab yang memiliki peran penting dalam struktur kalimat. Ketiga kelompok kata ini merupakan alat bantu yang berfungsi untuk mengubah makna kalimat, terutama dalam hal predikat, waktu, dan penegasan.

1. كَانَ وَأَخَوَاتُهَا (Kāna wa Akhawātuhā)

Definisi:

كَانَ وَأَخَوَاتُهَا adalah fi'il (kata kerja) yang berfungsi untuk mengubah status kata benda (isim) menjadi lebih jelas atau memberikan waktu tertentu. Kata kerja ini berfungsi untuk menyatakan waktu yang lalu, dan kata benda yang datang setelahnya disebut dengan isim yang diberi status oleh kata kerja ini.

Anggota Kāna wa Akhawātuhā:

a. كَانَ (kāna) - menyatakan waktu lampau, contoh: كَانَ الطَّقْسُ جَمِيْلًا (Dahulu cuacanya indah). Dalam contoh ini, كَانَ (kāna) digunakan untuk menyatakan waktu lampau, diikuti oleh kata الطَّقْسُ (al-thaqsu) yang berfungsi isimnya, dan جَمِيْلًا (jamīlan) yang berfungsi sebagai khabarnya.

b.  أَصْبَحَ (aṣbaḥa) - menyatakan bahwa hal yang diberitakan terjadi pada waktu pagi, contoh: أَصْبَحَ الطَّالِبُ نَشِيْطًا (Pada pagi hari peserta didik itu menjadi rajin).

c.  أَضْحَى (adḥa) - menyatakan bahwa hal yang diberitakan terjadi pada waktu dhuha, contoh: أَضْحَى الشَّابُّ طَبِيْبًا (Pada waktu dhuha pemuda itu menjadi dokter).

d.  أَمْسَى (amsā) - menyatakan bahwa hal yang diberitakan terjadi pada waktu sore, contoh: أَمْسَى الرَّجُلُ مُتْعَبًا (Pada sore hari lelaki itu menjadi lelah).

e.  ظَلَّ (ẓalla) - menyatakan keadaan terus menerus atau menyatakan bahwa hal yang diberitakan terjadi pada siang hari, contoh: ظَلَّ الْوَلَدُ مُبْتَسِمًا (Anak laki-laki itu tetap tersenyum).

f.   بَاتَ (bāta) - menyatakan bahwa hal yang diberitakan terjadi pada waktu malam, contoh: بَاتَ الرَّجُلُ مَرِيْضًا (Pada malam hari lelaki itu menjadi sakit).

g.  صَارَ (ṣāra) - menunjukkan perubahan menjadi atau menyatakan perpindahan dari suatu keadaan ke keadaan lain, contoh: صَارَ الْحَدِيْدُ نَارًا (Besi itu berubah menjadi api).

h.    مَا زَالَ (mā zāla), مَا انْفَكَّ (mānfakka), مَا فَتِئَ (mā fatia), مَا بَرِحَ (mā bariha), مَا دَامَ (mā dāma) - menyatakan kelanjutan (selalu, senantiasa, masih), digunakan untuk meniadakan (menafikan), karena harus didahului oleh mā nafī, tetapi maksudnya itsbat (tetap), contoh: مَا زَالَ الطَّالِبُ مُجْتَهِدًا (Peserta didik itu masih rajin), مَا دَامَ زَيْدٌ قَائِمًا (Zaid masih tetap berdiri).

i.   لَيْسَ (laysa) - menunjukkan negasi, contoh: لَيْسَ الْبَحْرُ صَغِيْرًا (Laut itu bukan kecil).

Fungsi:

a.   Kāna wa akhawātuhā berfungsi merafa’kan isim dan menashabkan khabarnya (كَانَ وَأَخَوَاتُهَا تَرْفَعُ الْاِسْمَ وَتَنْصِبُ الْخَبَرَ).

b.  Kāna wa akhawātuhā mengubah kalimat dari kalimat biasa menjadi kalimat yang menjelaskan kondisi waktu atau keadaan yang berlangsung.

c.  Biasanya, kata kerja ini diikuti oleh isim (kata benda) yang menjadi mubtada (subjek) dan khabar (predikat) setelahnya.

d.  Isim dari kāna wa akhawātuhā selalu marfu’ (berharakat dhammah atau yang sejenisnya) dan khabar dari kāna wa akhawātuhā selalu mansub (berharakat fathah atau yang sejenisnya)

2. إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا (Inna wa Akhawātuhā)

Definisi:

إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا adalah huruf yang berfungsi untuk menegaskan kalimat atau memberikan penekanan pada subjek. Kata ini termasuk dalam jenis huruf naṣib (penanda pengaruh terhadap isim) yang mengubah status isim yang datang setelahnya menjadi manṣub.

Anggota Inna wa Akhawātuhā:

a. إِنَّ (inna) - menegaskan kalimat atau mengukuhkan pembicaraan, contoh: إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ (Sesungguhnya Zaid berdiri). Dalam contoh ini, إِنَّ (inna) digunakan untuk menegaskan kalimat, diikuti oleh kata زَيْدًا (Zaidan) yang berfungsi sebagai isimnya, dan قَائِمٌ (qāimun) yang berfungsi sebagai khabarnya.

b. أَنَّ (anna) - digunakan untuk menegaskan/mengukuhkan pembicaraan atau sebagai penghubung kalimat, contoh: أَعْتَقِدُ أَنَّ اللهَ أَحَدٌ (Aku berkeyakinan bahwa Allah Maha Esa),  عَرَفْتُ أَنَّ الْحَقَّ ظَاهِرٌ (Aku mengetahui bahwa kebenaran itu nyata).

c. لٰكِنَّ (lākinna) - digunakan untuk istidrak (susulan) yaitu menyusul perkataan yang lalu dengan perkataan yang ada di belakangnya atau untuk penegasan atau kontras dalam kalimat, contoh: جَاءَ الْقَوْمُ وَلكِنَّ زَيْدًا مُتَأَخِّرٌ (Kaum itu telah datang, tetapi Zaid belakangan), الأُسْتَاذُ حَاضِرٌ لكِنَّ الْكَسْلَانَ غَائِبٌ (Bapak guru hadir tetapi pemalas tidak hadir).

d. كَأَنَّ (kaanna) - digunakan untuk tasybih (menyerupakan), contoh: كَأَنَّ زَيْدًا قَمَرٌ (Zaid bagaikan bulan), كَأَنَّ الْقَمَرَ مِصْبَاحٌ (Bulan itu seakan-akan/seperti lampu).

e. لَيْتَ (layta) - digunakan untuk tamanni (pengharapan yang tidak mungkin/mustahil terjadi), contoh: لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُوْدُ يَوْمًا (Seandainya masa muda dapat kembali pada suatu hari saja), لَيْتَ لِي قِنْطَارًا مِنَ الذَّهَبِ يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ (Seandainya aku mempunyai satu qinthar emas yang turun dari langit).

f.  لَعَلَّ (la’alla) - digunakan untuk tarajji (pengharapan baik yang mungkin terjadi) atau untuk tawaqqu’ (pengharapan buruk yang mungkin terjadi), contoh: لَعَلَّ الْحَبِيْبَ قَادِمٌ (Mudah-mudahan kekasih itu datang), لَعَلَّ الْكِتَابَ رَخِيْصٌ (Mudah-mudahan kitab itu murah), لَعَلَّ الْعَدُوَّ هَالِكٌ (Semoga musuh itu binasa).

Fungsi:

a. Inna wa akhawātuhā berfungsi menashabkan isim dan merafa’kan khabarnya (إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا تَنْصِبُ الْاِسْمَ وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ).

b. Inna wa akhawātuhā digunakan untuk memberikan penekanan atau menegaskan pernyataan dalam kalimat.

c.  Penggunaan inna dan akhawātuhā akan membuat isim yang mengikuti menjadi mansub, yang menandakan adanya perubahan pada struktur kalimat.

d.  Isim dari inna wa akhawātuhā selalu manshub (berharakat fathah atau yang sejenisnya) dan khabar dari inna wa akhawātuhā selalu marfu’ (berharakat dhammah atau yang sejenisnya).

3. ظَنَّ وَأَخَوَاتُهَا (Dhanna wa Akhawātuhā)

Definisi:

ظَنَّ وَأَخَوَاتُهَا adalah huruf yang berfungsi untuk menashabkan mubtada’ dan khabar atas dasar bahwa keduanya adalah maf’ul bih-nya (maf’ul bih awal dan maf’ul bih tsani/kedua). Artinya, ketika digunakan, fi’il ini mengubah jumlah ismiyah (kalimat nomina) menjadi jumlah fi’liyah (kalimat verbal) dengan dua objek.

Anggota Dhanna wa Akhawātuhā:

a. ظَنَنْتُ (dhanantu) – menyangka, mengira, menduga, contoh: ظَنَنْتُ الطَّالِبَ مُجْتَهِدًا (Aku menyangka peserta didik itu rajin). Dalam contoh ini, الطَّالِبَ (al-thāliba) sebagai maf’ul bih awal/pertama, diikuti oleh kata مُجْتَهِدًا (mujtahidan) yang berfungsi sebagai maf’ul bih tsani/kedua.

b.  حَسِبْتُ (hasibtu) – menyangka, menduga, contoh: حَسِبْتُ الْمَطَرَ قَرِيْبًا (Aku menduga hujan itu dekat), حَسِبْتُ التِّلْمِيْذَ نَشِيْطًا (Aku menyangka murid laki-laki itu rajin).

c.   خِلْتُ (khiltu) - mengira, contoh: خِلْتُ الصَّدِيْقَ مُخْلِصًا (Aku mengira temanku tulus), خِلْتُ الْوَلَدَ غَائِبًا (Aku mengira anak laki-laki itu tidak hadir).

d.  زَعَمْتُ (za’amtu) – menyangka, menduga, contoh: زَعَمْتُ الرَّجُلَ غَنِيًّا (Aku menyangka lelaki itu kaya), زَعَمْتُ مُحَمَّدًا ذَاهِبًا (Aku mengira Muhammad pergi).

e.  جَعَلْتُ (ja’altu) – menjadikan, contoh: جَعَلْتُ الْخَشَبَ عِمَادًا (Aku menjadikan kayu itu sebagai tiang), جَعَلْتُ الْبَيْتَ مَسْكَنًا (Aku menjadikan rumah itu sebagai tempat tinggal).

f.  رَأَيْتُ (raaitu) – melihat, yakin, melihat dalam arti “menganggap”, contoh: رَأَيْتُ الْعِلْمَ نُوْرًا (Aku menganggap ilmu itu cahaya), رَأَيْتُ الْمَرِيْضَ نَائِمًا (Aku melihat orang sakit itu tidur).

g.  وَجَدْتُ (wajadtu) menemukan, menganggap, mendapatkan, contoh: وَجَدْتُ الْحَيَاةَ مُمْتِعَةً (Aku mendapati hidup itu mengasyikkan), وَجَدْتُ الْكِتَابَ صَغِيْرًا (Aku mendapatkan kitab itu kecil).

h.  عَلِمْتُ (‘alimtu) mengetahui, tahu benar, contoh: عَلِمْتُ الْعَرَبِيَّةَ سَهْلَةً (Aku mengetahui bahasa Arab itu mudah), عَلِمْتُ الْعِلْمَ نَافِعًا (Aku tahu benar ilmu itu bermanfaat).

i.   اِتَّخَذْتُ (ittakhadztu) menjadikan, contoh: اِتَّخَذْتُ الأُسْتَاذَ نَاصِحًا (Aku menjadikan bapak guru itu sebagai penasihat).

j.  سَمِعْتُ (sami’tu) mendengar, contoh: سَمِعْتُ الْمُدَرِّسَ قَائِلًا (Aku mendengar bapak guru berkata).

Fungsi:

a.  Dhanna wa akhawātuhā berfungsi menashabkan mubtada’ dan khabar yang kedua-duanya menjadi maf’ul bih-nya (ظَنَّ وَأَخَوَاتُهَا تَنْصِبُ الْمُبْتَدَأَ وَالْخَبَرَ عَلَى أَنَّهُمَا مَفْعُوْلَانِ لَهَا).

Sumber Bacaan:

Anwar, Moh. 1996. Ilmu Nahwu: Terjemahan Matan Al-Ajurumiyyah dan ‘Imrithy Berikut Penjelasannya, Cetakan Ketujuh, Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Djupri, Ghaziadin. Ilmu Nahwu Praktis: Terjemahan Matan Al-Ajurumiah Beserta Contoh-Contoh Praktis, Surabaya: Apollo.

Harapan kepada Allah, Jalan Menuju Ketenangan Hati

Di dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti pernah merasakan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Ada kalanya seseorang berhara...