Ada satu nikmat
yang menjadi pintu bagi seluruh nikmat besar dalam kehidupan umat Islam: diutusnya
Nabi Muhammad Saw. ke dunia sebagai rahmat bagi seluruh alam. Karena
beliau, manusia mengenal jalan tauhid yang sempurna, memahami Al-Qur’an,
mengetahui tata cara shalat, puasa, zakat, haji, serta mengenal makna Idul
Fitri dan Idul Adha. Dari sudut pandang inilah kalam hikmah yang dinisbatkan
kepada As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki dapat direnungkan: “Lebih agung
merayakan hari kelahiran Nabi Saw. dibanding dua hari raya, karena wujudnya
Nabi Saw. ke
dunia adalah sebab adanya Idul Adha, Idul Fitri, Isra’ Mi‘raj, Nuzulul Qur’an,
dan hari-hari besar lainnya.”
Ungkapan tersebut terutama merupakan bahasa mahabbah, syukur, dan pengagungan
terhadap nikmat diutusnya Rasulullah Saw., bukan sekadar perbandingan kemeriahan antara satu perayaan
dengan perayaan yang lain.
Makna mendalam
dari kalam hikmah tersebut terletak pada hubungan antara sebab dan akibat. Idul
Fitri kita kenal karena Rasulullah Saw. mengajarkan syariat puasa Ramadan dan menjelaskan
kebahagiaan setelah menyempurnakannya. Idul Adha kita rayakan karena melalui
beliau Saw. umat
Islam menerima tuntunan tentang haji, kurban, takbir, dan penghayatan terhadap
keteladanan Nabi Ibrahim a.s. Demikian pula Isra’ Mi‘raj menjadi peristiwa
agung karena Allah memperjalankan Rasul-Nya Saw. dan menghadiahkan kewajiban shalat
kepada umat beliau. Maka, bila seluruh syiar tersebut merupakan nikmat yang
kita syukuri, kehadiran Nabi Muhammad Saw. sebagai pembawa dan penjelas syariat tentu merupakan nikmat
yang sangat fundamental, karena melalui risalah beliau semua tuntunan itu
sampai kepada kita.
Demikian pula
dengan Al-Qur’an. Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa yang luar biasa agung
karena Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia, pembeda antara kebenaran dan
kebatilan, serta cahaya kehidupan seorang mukmin. Namun Al-Qur’an diturunkan
kepada Nabi Muhammad Saw., kemudian beliau membacakannya, menjelaskannya,
mengajarkannya, dan mempraktikkan kandungannya dalam kehidupan. Allah
berfirman,
وَمَآ
اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau
(Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya’: 107). Karena
itu, kelahiran Rasulullah Saw. dapat direnungkan sebagai awal hadirnya manusia
pilihan yang kelak menerima wahyu terakhir dan membimbing umat menuju Allah.
Syukur atas kelahiran beliau pada hakikatnya adalah syukur atas hadirnya rahmat
kenabian dan risalah Islam bagi umat manusia.
Kalam hikmah ini
juga mengajarkan bahwa memperingati kelahiran Nabi Saw. semestinya tidak berhenti pada
kemeriahan seremonial. Hakikat cinta kepada Rasulullah Saw. harus melahirkan ittiba’, yaitu
kesungguhan mengikuti sunnah dan akhlak beliau. Apalah arti banyak membaca pujian
kepada Nabi Saw. jika
lisan masih mudah menyakiti orang lain; apalah arti menghadiri majelis maulid
jika shalat masih diabaikan; dan apalah arti mengaku mencintai Rasulullah Saw. jika kejujuran, kasih sayang, amanah,
serta kepedulian kepada fakir miskin tidak tercermin dalam kehidupan. Karena
itu, pembacaan sirah, shalawat, sedekah, pengajian, dan berbagai ekspresi
kegembiraan terhadap kelahiran Rasulullah Saw. memperoleh makna spiritual yang lebih dalam apabila menjadi
jalan untuk memperbarui iman dan meneladani kepribadian beliau.
Pada saat yang sama, ungkapan “lebih agung” tersebut sebaiknya dipahami dalam konteks pengagungan terhadap nikmat keberadaan Rasulullah Saw., bukan sebagai penetapan hari raya syar‘i baru yang menggantikan atau menandingi Idul Fitri dan Idul Adha. Dalam ketentuan syariat, kedua Id tersebut mempunyai hukum, ibadah, dan tata cara khusus. Sementara ungkapan para ulama tentang kemuliaan hari kelahiran Nabi Saw. lebih tepat dibaca sebagai ekspresi bahwa lahirnya Rasulullah Saw. merupakan sebab sampainya umat kepada seluruh syiar agama. Dengan pemahaman demikian, seseorang dapat menumbuhkan kecintaan yang mendalam kepada Nabi Saw. sambil tetap menjaga adab terhadap syariat, menghormati perbedaan pandangan ulama mengenai bentuk peringatan maulid, serta menjauhkan pembahasan ini dari sikap saling mencela di antara sesama Muslim.
Dengan demikian, pesan terbesar dari kalam hikmah yang dinisbatkan kepada As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki tersebut adalah menghidupkan rasa syukur karena Allah menghadirkan Nabi Muhammad Saw. dalam sejarah manusia. Kelahiran beliau bukan sekadar kelahiran seorang tokoh besar, melainkan awal perjalanan seorang Rasul yang membawa manusia dari gelap menuju cahaya, dari kesesatan menuju hidayah, dan dari kehidupan tanpa arah menuju penghambaan kepada Allah. Maka, kegembiraan mengenang kelahiran Rasulullah Saw. akan menjadi lebih indah ketika hati dipenuhi shalawat, rumah dihiasi akhlak beliau, keluarga diperkenalkan kepada sirahnya, dan kehidupan diarahkan kepada sunnahnya. Semoga kecintaan kepada Rasulullah Saw. tidak hanya terdengar dalam lantunan pujian, tetapi menjelma menjadi ketaatan, kelembutan akhlak, kecintaan kepada Al-Qur’an, kepedulian kepada sesama, serta kerinduan untuk memperoleh syafaat dan berkumpul bersama beliau di akhirat. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar