Halaman

Rabu, 01 Juli 2026

Pertemanan Beradab: Nyaman Tanpa Luka

Dalam pertemanan, ukuran kebaikan bukan hanya terlihat dari seberapa sering seseorang hadir, tetapi dari seberapa aman hati orang lain ketika berada di dekatnya. Kalam hikmah Al-Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf ini mengajarkan bahwa adab pertemanan yang paling baik adalah ketika kebersamaan tidak melahirkan gangguan, luka hati, atau rasa tersinggung. Artinya, pertemanan sejati bukan sekadar duduk bersama, bercanda, atau berbicara panjang lebar, melainkan menghadirkan ketenangan bagi satu sama lain. Teman yang beradab adalah teman yang kehadirannya membuat hati lapang, bukan membuat batin tertekan.

Makna dari kalimat “ketika saat duduk bersama, satu dengan yang lain tidak merasa terganggu” menunjukkan pentingnya menjaga kenyamanan dalam pergaulan. Seseorang boleh saja dekat dengan temannya, tetapi kedekatan tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap sembarangan. Kadang seseorang merasa karena sudah akrab, ia bebas berbicara kasar, bercanda berlebihan, atau melakukan sesuatu tanpa memikirkan perasaan temannya. Padahal, semakin dekat hubungan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga adab. Keakraban yang tidak disertai adab dapat berubah menjadi sebab keretakan.

Selanjutnya, kalimat “tidak tersakiti hatinya” mengingatkan bahwa hati manusia sangat lembut dan mudah terluka oleh ucapan maupun perbuatan. Dalam pertemanan, luka hati sering kali bukan disebabkan oleh permusuhan besar, tetapi oleh kalimat kecil yang merendahkan, sindiran halus, candaan yang melewati batas, atau sikap tidak menghargai. Karena itu, teman yang baik bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga pandai menimbang: apakah ucapannya akan menguatkan atau melemahkan, menenangkan atau menyakitkan, membuat bahagia atau justru membuat malu. Inilah pentingnya kelembutan hati dalam menjaga hubungan.

Adapun kalimat “tidak tersinggung dengan ucapan atau perbuatan temannya” mengajarkan dua sisi adab sekaligus. Di satu sisi, seseorang harus menjaga ucapan dan perilakunya agar tidak menyinggung orang lain. Di sisi lain, seseorang juga perlu melatih kelapangan hati agar tidak mudah berprasangka buruk kepada temannya. Pertemanan yang sehat dibangun oleh dua hal: kehati-hatian dalam bersikap dan keluasan hati dalam menerima. Jika keduanya hadir, maka majelis pertemanan akan menjadi tempat yang nyaman, penuh kasih, dan jauh dari permusuhan tersembunyi.

Dengan demikian, kalam hikmah tersebut menegaskan bahwa puncak adab pertemanan adalah menghadirkan rasa aman bagi hati teman. Teman yang baik bukan hanya yang datang ketika senang atau membantu ketika susah, tetapi juga yang mampu menjaga lisan, sikap, candaan, dan perbuatannya agar tidak menjadi sebab luka. Dalam kehidupan sehari-hari, nasihat ini sangat penting karena banyak hubungan rusak bukan karena persoalan besar, melainkan karena kurangnya adab dalam hal-hal kecil. Maka, siapa pun yang ingin menjadi sahabat yang baik hendaknya belajar menenangkan, bukan mengganggu; menjaga, bukan menyakiti; dan menghargai, bukan membuat orang lain tersinggung.

Selasa, 30 Juni 2026

Perpustakaan: Mihrab Sunyi Para Pencari Ilmu

Perpustakaan bukan sekadar ruangan yang dipenuhi rak dan buku, melainkan ruang sunyi tempat manusia menundukkan diri di hadapan keluasan ilmu. Di dalamnya, seseorang belajar bahwa pengetahuan tidak datang kepada hati yang tergesa-gesa, tetapi kepada jiwa yang sabar, tekun, dan rendah hati. Karena itu, menyebut perpustakaan sebagai mihrab ilmu adalah ungkapan yang indah: perpustakaan menjadi tempat seseorang menghadap, merenung, membaca, dan mendekatkan diri kepada cahaya pengetahuan. Di sana, buku-buku berdiri seperti saksi bisu perjalanan akal manusia dari masa ke masa.

Istilah “mihrab” biasanya dipahami sebagai tempat khusus untuk menghadap dalam ibadah, terutama di masjid. Jika makna ini dipinjam untuk menggambarkan perpustakaan, maka perpustakaan dapat dipahami sebagai ruang penghambaan intelektual. Seseorang yang masuk ke perpustakaan seakan sedang memasuki tempat yang menuntut adab: menjaga ketenangan, menghormati ilmu, dan menata niat. Membaca bukan lagi kegiatan biasa, melainkan bentuk kesungguhan untuk memperbaiki diri, memperluas wawasan, dan memahami kehidupan dengan lebih bijaksana.

Sebagai mihrab ilmu, perpustakaan mengajarkan bahwa ilmu membutuhkan kedekatan, bukan sekadar akses. Banyak orang memiliki informasi, tetapi tidak semua memiliki kedalaman pemahaman. Di perpustakaan, seseorang dilatih untuk tidak hanya membaca cepat, tetapi juga merenung, membandingkan gagasan, mencatat, dan menyusun pemahaman secara bertahap. Perpustakaan menjadi tempat yang membentuk ketekunan berpikir, karena ilmu yang matang tidak lahir dari kebisingan, melainkan dari kesabaran dalam menelaah.

Perpustakaan juga menjadi ruang yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Di rak-raknya tersimpan pemikiran para ulama, ilmuwan, sastrawan, pendidik, dan tokoh-tokoh besar yang telah mewariskan gagasan bagi generasi berikutnya. Ketika seseorang membaca di perpustakaan, ia sebenarnya sedang berdialog dengan banyak zaman. Ia belajar dari pengalaman orang-orang terdahulu, memahami persoalan hari ini, lalu menyiapkan bekal untuk menghadapi masa depan. Inilah yang membuat perpustakaan bukan hanya tempat penyimpanan buku, tetapi pusat peradaban.

Dengan demikian, perpustakaan sebagai mihrab ilmu mengandung pesan bahwa ilmu harus didekati dengan adab, kesungguhan, dan ketulusan. Perpustakaan mengajak manusia untuk sejenak menjauh dari hiruk-pikuk dunia, lalu kembali menyusun pikiran dan hati melalui bacaan yang bermakna. Di tempat itu, seseorang belajar menjadi lebih tenang, lebih tajam berpikir, dan lebih bijak dalam bersikap. Maka, siapa pun yang mencintai ilmu semestinya memuliakan perpustakaan, sebab dari ruang sunyi itulah sering lahir gagasan besar yang menerangi kehidupan.

Senin, 29 Juni 2026

Takdir Allah Tidak Pernah Kosong dari Makna

Hidup sering kali membawa manusia pada keadaan yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Ada rencana yang gagal, doa yang belum terjawab, kehilangan yang datang tiba-tiba, dan ujian yang membuat hati bertanya-tanya. Kalam hikmah KH. Baha’uddin Nur Salim atau Gus Baha’ “Belajar tenang, belajar ikhlas, dan belajar percaya bahwa semua yang Allah takdirkan pasti punya hikmah” menjadi nasihat yang lembut sekaligus kuat. Ia mengajarkan bahwa dalam menghadapi takdir, manusia tidak hanya membutuhkan kekuatan pikiran, tetapi juga ketenangan hati, keikhlasan jiwa, dan keyakinan kepada kebijaksanaan Allah.

Makna “belajar tenang” menunjukkan bahwa ketenangan bukan selalu hadir secara otomatis, tetapi perlu dilatih. Ketika masalah datang, manusia sering mudah panik, marah, takut, atau menyalahkan keadaan. Padahal, hati yang tenang akan lebih mampu melihat persoalan dengan jernih. Tenang bukan berarti tidak punya masalah, melainkan tidak membiarkan masalah menguasai seluruh diri. Dengan ketenangan, seseorang dapat berpikir lebih bijak, mengambil keputusan lebih tepat, dan tidak tergesa-gesa menilai takdir Allah sebagai sesuatu yang buruk.

Selanjutnya, “belajar ikhlas” berarti belajar menerima ketentuan Allah tanpa terus-menerus memberontak di dalam hati. Ikhlas bukan berarti tidak boleh sedih, kecewa, atau menangis, sebab semua itu adalah bagian dari fitrah manusia. Namun, ikhlas berarti tidak menjadikan kesedihan sebagai alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah. Orang yang ikhlas memahami bahwa apa yang hilang belum tentu buruk baginya, dan apa yang tidak ia dapatkan mungkin justru bentuk penjagaan Allah. Ikhlas membuat hati lebih ringan karena tidak lagi memaksa semua hal berjalan sesuai kehendak diri.

Adapun “belajar percaya bahwa semua yang Allah takdirkan pasti punya hikmah” adalah puncak dari ketenangan dan keikhlasan. Tidak semua hikmah langsung terlihat saat ujian datang. Kadang seseorang baru memahami kebaikan dari sebuah peristiwa setelah waktu berlalu. Ada kegagalan yang ternyata menyelamatkan, ada kehilangan yang ternyata membuka jalan baru, dan ada keterlambatan yang ternyata membawa seseorang pada waktu terbaik. Karena ilmu manusia terbatas, maka berbaik sangka kepada Allah menjadi jalan agar hati tidak mudah gelisah menghadapi ketentuan-Nya.

Dengan demikian, kalam hikmah Gus Baha’ ini mengajarkan bahwa menghadapi hidup tidak cukup hanya dengan usaha lahir, tetapi juga perlu kedewasaan batin. Tenang membuat kita tidak hancur oleh keadaan, ikhlas membuat kita tidak berat menerima kenyataan, dan percaya kepada hikmah Allah membuat kita tetap kuat melanjutkan perjalanan. Apa pun yang sedang terjadi, seorang hamba diajak untuk tetap berusaha, berdoa, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Sebab takdir Allah tidak pernah kosong dari makna; selalu ada pelajaran, penjagaan, dan kebaikan yang mungkin belum mampu kita pahami saat ini.

Minggu, 28 Juni 2026

Zikir: Air Kehidupan bagi Hati yang Mati

Air adalah salah satu nikmat Allah yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, tetapi sering kali luput dari perenungan. Ketika hujan turun membasahi tanah yang kering, bumi yang sebelumnya tampak mati perlahan kembali hidup: rumput tumbuh, pepohonan menghijau, dan makhluk-makhluk hidup memperoleh harapan baru. Pemandangan ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan juga pelajaran ruhani yang sangat dalam. Sebagaimana air mampu menghidupkan bumi yang mati, zikir memiliki kekuatan untuk menghidupkan hati manusia yang telah kering dari iman, lalai dari Allah, dan jauh dari ketenangan batin.

Bumi yang mati adalah gambaran tanah yang tandus, kering, dan tidak menghasilkan kehidupan. Namun, ketika air turun, tanah itu kembali subur dan mampu menumbuhkan berbagai tanaman. Begitu pula hati manusia. Hati yang jarang mengingat Allah akan menjadi keras, gelisah, dan mudah dikuasai oleh hawa nafsu. Hati seperti ini seakan kehilangan cahaya, sehingga sulit membedakan antara kebaikan dan keburukan. Zikir hadir seperti air hujan yang menyirami kekeringan batin, melembutkan hati, dan menumbuhkan kembali kesadaran spiritual.

Zikir berarti mengingat Allah, baik melalui ucapan, pikiran, maupun perbuatan. Kalimat seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, dan doa-doa lainnya bukan hanya rangkaian kata, tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ketika seseorang membiasakan zikir, ia sedang menghubungkan hatinya dengan sumber ketenangan yang sejati. Dalam keadaan senang, zikir membuat manusia tidak lupa bersyukur. Dalam keadaan sulit, zikir menumbuhkan kesabaran dan keyakinan bahwa Allah selalu dekat. Karena itu, zikir bukan sekadar ibadah lisan, tetapi makanan bagi hati.

Hati yang hidup karena zikir akan memancarkan pengaruh positif dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang hatinya hidup akan lebih mudah bersyukur, lebih tenang menghadapi masalah, lebih berhati-hati dalam bertindak, dan lebih peka terhadap kebaikan. Ia tidak mudah putus asa karena yakin bahwa setiap keadaan berada dalam pengawasan Allah. Sebaliknya, hati yang mati akan mudah diliputi kegelisahan, kesombongan, iri hati, dan kelalaian. Maka, zikir menjadi kebutuhan ruhani yang harus dijaga sebagaimana tubuh membutuhkan air untuk bertahan hidup.

Dengan demikian, ungkapan “Jika air mampu menghidupkan bumi yang mati, maka zikir dapat menghidupkan hati yang mati” mengajarkan bahwa kehidupan sejati bukan hanya kehidupan jasmani, tetapi juga kehidupan ruhani. Air menyuburkan tanah, sedangkan zikir menyuburkan iman. Air menumbuhkan tanaman, sedangkan zikir menumbuhkan ketenangan, kesadaran, dan kedekatan kepada Allah. Oleh sebab itu, manusia hendaknya tidak hanya memperhatikan kebutuhan tubuhnya, tetapi juga merawat hatinya dengan memperbanyak zikir. Sebab, hati yang selalu mengingat Allah akan menjadi hati yang hidup, tenang, dan bercahaya.

Sabtu, 27 Juni 2026

Shalahuddin Al-Ayyubi: Kesatria yang Menang dengan Akhlak

Di tengah kerasnya sejarah Perang Salib, nama Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi tidak hanya dikenang karena keberaniannya di medan perang, tetapi juga karena keluhuran akhlaknya di luar peperangan. Ia dikenal sebagai pemimpin besar yang berhasil membebaskan Baitul Maqdis, namun kebesarannya tidak hanya tampak dari kemenangan militer, melainkan juga dari kemampuannya menjaga nilai kemanusiaan terhadap musuh. Kisah tentang belas kasih Shalahuddin kepada Richard si Hati Singa menjadi teladan bahwa seorang pemimpin sejati tidak kehilangan nurani, sekalipun sedang berhadapan dengan lawan yang kuat.

Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi dan Richard I dari Inggris merupakan dua tokoh besar dalam Perang Salib Ketiga. Keduanya berada pada pihak yang berlawanan: Shalahuddin memimpin pasukan Muslim, sedangkan Richard memimpin pasukan Salib. Perang ini berlangsung dalam suasana yang sangat keras, terutama setelah Shalahuddin merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187 dan pasukan Salib berusaha mengambilnya kembali. Richard dikenal sebagai panglima yang tangguh, sementara Shalahuddin dikenal sebagai penguasa Muslim yang cerdas, sabar, dan berwibawa.

Di luar medan perang, kisah populer menyebutkan bahwa ketika Richard jatuh sakit, Shalahuddin menunjukkan rasa iba dengan mengirimkan bantuan, bahkan dalam beberapa cerita disebut mengirimkan dokter pribadinya untuk mengobati musuhnya itu. Riwayat sejarah yang lebih umum juga menyebutkan bahwa Richard memang pernah sakit berat selama masa Perang Salib, dan sakitnya menjadi salah satu faktor yang mendorongnya menerima perjanjian damai dengan Shalahuddin pada tahun 1192. Dalam sejumlah narasi sejarah populer, Shalahuddin juga dikisahkan mengirim buah-buahan dan salju atau es untuk membantu meringankan demam Richard.

Sikap Shalahuddin ini menunjukkan bahwa permusuhan dalam perang tidak boleh menghapus nilai kemanusiaan. Bagi seorang pemimpin yang berakhlak, musuh tetaplah manusia yang memiliki hak untuk diperlakukan secara bermartabat, terutama ketika berada dalam keadaan lemah dan sakit. Inilah yang membuat Shalahuddin dihormati bukan hanya oleh umat Islam, tetapi juga oleh banyak lawannya. Ia tidak memandang belas kasih sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai bukti kekuatan jiwa. Orang yang kuat bukan hanya mampu mengalahkan musuh, tetapi juga mampu menahan dendam ketika ia memiliki kesempatan untuk membalas.

Dari kisah tersebut, kita belajar bahwa kemenangan yang paling mulia bukan hanya kemenangan atas wilayah, tetapi kemenangan atas ego, kebencian, dan nafsu permusuhan. Shalahuddin Al-Ayyubi mengajarkan bahwa keberanian harus berjalan bersama kasih sayang, kekuasaan harus dikendalikan oleh akhlak, dan perjuangan harus tetap berada dalam batas kemanusiaan. Ketika ia tetap iba kepada Richard yang sedang sakit, ia memperlihatkan bahwa kemuliaan Islam tidak hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga dalam adab memperlakukan sesama. Maka, kisah ini layak dijadikan renungan bahwa manusia yang benar-benar besar adalah mereka yang tetap berbuat baik, bahkan kepada orang yang pernah menjadi lawannya.

Jumat, 26 Juni 2026

Pelajaran Adab Salam dari Kisah Nabi Adam a.s.

Adab salam dalam Islam bukan sekadar ucapan pembuka percakapan, tetapi tanda kelembutan hati, kerendahan diri, dan keinginan menghadirkan keselamatan bagi orang lain. Dalam pembahasan yang dinukil dari Faydhul ‘Allām, dijelaskan bahwa salah satu adab salam adalah orang yang berjalan lebih dianjurkan memulai salam kepada orang yang sedang duduk. Adab ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad Saw.:

يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي، وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ.

Orang yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan, orang yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, dan kelompok yang sedikit memberi salam kepada kelompok yang banyak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Salah satu dalil atau penguat makna tersebut adalah kisah Nabi Adam a.s. ketika berada di surga. Dalam hadis disebutkan bahwa ketika Allah menciptakan Nabi Adam a.s., Allah memerintahkannya untuk pergi kepada sekelompok malaikat yang sedang duduk, lalu mengucapkan salam kepada mereka. Nabi Adam a.s. pun mengucapkan “As-salāmu ‘alaikum”, kemudian para malaikat menjawab dengan tambahan “wa ramatullāh. Peristiwa ini menjadi asal mula salam sebagai penghormatan bagi Nabi Adam a.s. dan keturunannya.

Dari kisah tersebut, tampak bahwa Nabi Adam a.s. berada pada posisi datang atau berjalan menuju para malaikat, sedangkan para malaikat berada dalam posisi duduk. Maka, perintah Allah kepada Nabi Adam a.s. untuk memulai salam kepada malaikat menjadi isyarat bahwa orang yang datang, lewat, atau berjalan dianjurkan lebih dahulu memberi salam kepada orang yang sedang duduk. Ini bukan sekadar aturan lahiriah, melainkan pendidikan adab agar orang yang mendatangi suatu majelis datang dengan membawa keamanan, penghormatan, dan ketenangan.

Hikmah dari anjuran ini sangat indah. Orang yang berjalan atau datang menuju orang yang duduk berada dalam keadaan “mendekati” suatu tempat atau majelis. Karena itu, ia dianjurkan memulai salam agar kehadirannya tidak menimbulkan rasa canggung, curiga, atau terganggu bagi orang yang sedang duduk. Salam menjadi tanda bahwa kedatangannya membawa kebaikan, bukan keburukan; membawa kedamaian, bukan ancaman. Dengan mengucapkan salam lebih dahulu, orang yang berjalan menunjukkan sikap rendah hati dan menghormati orang yang telah lebih dahulu berada di tempat tersebut.

Dengan demikian, penjelasan dalam Faydhul ‘Allām tentang anjuran orang yang berjalan memulai salam kepada orang yang duduk mengajarkan bahwa Islam sangat memperhatikan tata krama sosial. Adab kecil seperti salam ternyata memiliki dasar yang kuat, bahkan dikaitkan dengan kisah Nabi Adam a.s. dan para malaikat. Maka, seorang muslim hendaknya tidak meremehkan salam, karena di dalamnya terdapat doa, penghormatan, kasih sayang, dan penyebaran rasa aman. Ketika seseorang membiasakan diri memulai salam, ia sebenarnya sedang menghidupkan sunnah, menebarkan kedamaian, dan memperindah hubungan antar sesama.

Kamis, 25 Juni 2026

Wisuda dan Harapan Masa Depan Lulusan Berbasis Tarbiyah Nahdliyah Dunia Akhirat (TANADA)

Wisuda sering kali dipahami sebagai akhir dari sebuah perjalanan akademik, namun pada hakikatnya ia merupakan penanda historis yang merekam akumulasi panjang proses pendidikan, pembentukan karakter, serta perjalanan spiritual dan intelektual peserta didik. Dalam konteks Yayasan TANADA (Tarbiyah Nahdliyah Dunia Akhirat) Waru Sidoarjo, wisuda diposisikan bukan sebagai garis akhir, melainkan momentum reflektif yang menghubungkan masa lalu penuh perjuangan dengan masa depan yang penuh harapan. Setiap langkah yang telah dilalui para wisudawan menjadi bagian dari narasi besar pendidikan yang sarat nilai, doa, dan kerja keras.

Perjalanan pendidikan dari jenjang TK, MI, MTs, MA, hingga SMK dalam lingkungan TANADA merupakan sebuah proses panjang yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan spiritualitas. Setiap jenjang memiliki kontribusi signifikan dalam membangun fondasi keilmuan, kedisiplinan, serta akhlak mulia. Dalam proses ini, wisuda menjadi simbol akumulasi dari seluruh tahapan tersebut, yang mencerminkan keberhasilan sinergi antara peserta didik, pendidik, orang tua, dan lingkungan pendidikan.

Filosofi Yayasan TANADA yang merupakan singkatan dari Tarbiyah Nahdliyah Dunia Akhirat menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya diarahkan untuk mencapai kesuksesan duniawi, tetapi juga untuk membangun kesadaran akhirat sebagai orientasi utama kehidupan. Tarbiyah menunjukkan proses pembinaan yang berkelanjutan, Nahdliyah mencerminkan nilai-nilai keislaman yang moderat dan berakar pada tradisi keilmuan, sementara Dunia Akhirat menggambarkan keseimbangan antara pencapaian material dan spiritual. Integrasi nilai ini menjadi dasar dalam setiap proses pendidikan yang berlangsung di lingkungan TANADA.

Dalam konteks pendidikan kekinian, wisuda juga mencerminkan kesiapan lulusan dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Era digitalisasi, revolusi industri, dan transformasi sosial menuntut lulusan yang tidak hanya unggul secara kognitif, tetapi juga adaptif, kreatif, dan memiliki integritas moral yang kuat. Oleh karena itu, lulusan TANADA diharapkan mampu menjadi generasi yang tidak hanya kompeten secara akademik dan vokasional, tetapi juga memiliki karakter yang kokoh dalam menghadapi perubahan zaman.

Perjalanan panjang yang dimulai sejak TK hingga SMK merupakan proses pembentukan identitas diri yang berkelanjutan. Setiap fase pendidikan memberikan pengalaman yang berbeda, mulai dari pembiasaan dasar, penguatan nilai keislaman, pengembangan pengetahuan akademik, hingga pembekalan keterampilan kerja. Dalam setiap tahap tersebut, doa, kerja keras, dan bimbingan guru menjadi elemen penting yang membentuk keberhasilan para wisudawan hingga mencapai titik wisuda sebagai simbol pencapaian kolektif.

Wisuda dalam perspektif TANADA juga mengandung makna penghargaan terhadap seluruh proses perjuangan yang telah dilalui. Ia menjadi momen untuk merefleksikan kembali perjalanan panjang yang penuh tantangan, sekaligus sebagai bentuk apresiasi atas ketekunan dan kesungguhan dalam menempuh pendidikan. Lebih dari itu, wisuda menjadi pengingat bahwa setiap pencapaian tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan komitmen, kesabaran, dan keikhlasan.

Dengan demikian, sebagai alumnus Yayasan TANADA mulai jenjang TK TANADA (1986-1988), MI TANADA (1988-1994), dan MTs TANADA (1994-1997), penulis berpandangan bahwa wisuda di lingkungan Yayasan TANADA Waru Sidoarjo bukanlah akhir dari perjalanan para wisudawan, melainkan awal dari pengabdian yang lebih luas dalam kehidupan nyata. Para wisudawan diharapkan mampu membawa nilai-nilai Tarbiyah Nahdliyah Dunia Akhirat ke dalam setiap langkah kehidupan mereka, menjadi pribadi yang berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan agama. Harapan besar melekat pada mereka untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan manfaat, sehingga wisuda benar-benar menjadi momentum bersejarah yang melahirkan generasi unggul, berkarakter, dan berorientasi pada keberkahan dunia dan akhirat.

Hari Asyura: Refleksi Sejarah Kenabian dan Nilai-Nilai Keimanan

Hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharam menempati posisi istimewa dalam khazanah sejarah dan spiritualitas Islam. Ia tidak hanya dipahami sebagai penanda waktu dalam kalender Hijriah, tetapi juga sebagai momentum refleksi mendalam atas relasi manusia dengan Tuhan melalui rentetan peristiwa besar yang sarat hikmah. Dalam tradisi keislaman, Asyura menjadi ruang pertemuan antara narasi keselamatan, ujian, dan pengorbanan, yang semuanya membentuk kesadaran iman kolektif umat Islam lintas generasi.

Kemuliaan Asyura dalam berbagai riwayat hadis terutama ditunjukkan melalui anjuran puasa pada hari tersebut. Dalam sejumlah riwayat sahih, puasa Asyura memiliki keutamaan berupa penghapusan dosa-dosa kecil selama satu tahun sebelumnya. Praktik ini juga memiliki akar historis pada masa Nabi Muhammad Saw. di Madinah, ketika beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa as. Nabi kemudian menegaskan kesunnahan puasa Asyura bagi umat Islam, serta menganjurkan untuk membedakannya dengan menambah puasa pada hari sebelumnya, yaitu 9 Muharam (Tasu’a).

Dari sisi sejarah kenabian, Asyura sering dikaitkan dengan berbagai peristiwa besar yang menunjukkan pertolongan Allah kepada para nabi-Nya. Di antaranya adalah diselamatkannya Nabi Musa as. dan Bani Israil dari kejaran Firaun melalui terbelahnya Laut Merah, yang menjadi simbol kemenangan iman atas kekuasaan tirani. Dalam beberapa tradisi historiografis Islam, juga disebutkan peristiwa lain seperti berlabuhnya kapal Nabi Nuh as. setelah banjir besar sebagai tanda berakhirnya azab dan dimulainya kehidupan baru. Walaupun derajat dan validitas sebagian riwayat ini diperdebatkan, makna yang terkandung di dalamnya menegaskan tema sentral Asyura sebagai hari pertolongan dan rahmat Ilahi.

Namun, Asyura juga menyimpan dimensi sejarah yang penuh duka, yakni tragedi Karbala pada tahun 61 Hijriah. Pada hari tersebut, Sayyidina Husain bin Ali, cucu Rasulullah Saw., gugur bersama keluarga dan para pendukungnya dalam peristiwa yang menjadi simbol perlawanan terhadap kezaliman. Peristiwa ini meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Islam dan melahirkan berbagai bentuk peringatan serta refleksi moral di kalangan umat Islam. Karbala tidak hanya dipahami sebagai tragedi politik, tetapi juga sebagai narasi etis tentang keteguhan prinsip, keberanian moral, dan pengorbanan demi kebenaran.

Dalam konteks amaliah, Asyura dianjurkan untuk dihidupkan dengan berbagai bentuk ibadah yang bernilai spiritual dan sosial. Yang paling utama adalah puasa Asyura, disertai puasa Tasu’a sebagai bentuk penyempurnaan dan pembeda dari praktik komunitas lain pada masa awal Islam. Selain itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak zikir, doa, dan istighfar sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Swt. Amalan ini mencerminkan dimensi vertikal ibadah yang memperkuat hubungan spiritual antara hamba dan Tuhannya.

Di samping itu, Asyura juga menjadi momentum untuk memperkuat dimensi sosial melalui sedekah, kepedulian terhadap sesama, serta mempererat silaturahim. Sebagian ulama dan tradisi masyarakat Muslim juga menekankan pentingnya memberikan perhatian lebih kepada keluarga dan kaum yang membutuhkan pada hari tersebut. Dengan demikian, Asyura tidak hanya menjadi peristiwa historis yang dikenang, tetapi juga momentum aktualisasi nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sosial. Melalui perpaduan antara refleksi sejarah dan praktik ibadah, Asyura menghadirkan pesan universal tentang ketakwaan, solidaritas, dan penguatan moral umat manusia.

Rabu, 24 Juni 2026

Menerima, Percaya, dan Menikmati Perjalanan

Hidup sering kali kita pahami sebagai medan perjuangan yang menuntut kita untuk terus kuat, terus berlari, dan terus membuktikan sesuatu. Padahal, tidak semua bagian dalam hidup harus dihadapi dengan tenaga yang keras dan ambisi yang menyala-nyala. Ada masa ketika perjuangan terbaik bukan lagi memaksa keadaan berubah, melainkan belajar tenang di tengah keadaan yang belum sesuai harapan. Dalam fase seperti itu, seseorang justru diajak untuk lebih bijak: menerima apa yang terjadi, percaya pada proses, lalu menikmati perjalanan hidup dengan hati yang lebih lapang.

Kalimat “tidak semua episode dalam hidup kita dituntut berjuang” mengajarkan bahwa hidup memiliki banyak musim. Ada musim untuk berusaha keras, mengejar cita-cita, memperbaiki diri, dan mengambil keputusan besar. Namun, ada juga musim untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan membiarkan waktu bekerja. Jika semua hal dipaksakan untuk segera selesai, manusia bisa lelah secara batin. Karena itu, menerima bukan berarti menyerah, tetapi memahami bahwa ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketenangan.

Ada saatnya kita hanya perlu menerima. Menerima bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan berdamai dengan kenyataan yang tidak bisa kita ubah saat itu. Tidak semua keinginan langsung terwujud, tidak semua rencana berjalan sesuai harapan, dan tidak semua orang akan memahami pilihan kita. Dengan menerima, hati menjadi lebih ringan karena tidak terus-menerus melawan keadaan. Penerimaan membuat seseorang mampu melihat hidup dengan lebih jernih, tanpa dikuasai rasa kecewa, marah, atau gelisah berlebihan.

Selain menerima, kita juga perlu percaya. Percaya bahwa setiap perjalanan memiliki waktunya sendiri, setiap kesulitan membawa pelajaran, dan setiap penundaan mungkin sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik. Dalam hidup, tidak semua jawaban datang dengan cepat. Kadang kita baru memahami hikmah suatu kejadian setelah melewati waktu yang panjang. Kepercayaan inilah yang menjaga hati agar tidak mudah putus asa. Saat langkah terasa pelan, percaya membuat kita tetap yakin bahwa hidup tetap bergerak menuju arah yang telah ditetapkan Tuhan.

Dengan demikian, hidup bukan hanya tentang sampai pada tujuan, tetapi juga tentang menikmati perjalanan menuju tujuan itu. Jika kita terlalu sibuk berjuang tanpa henti, kita bisa lupa mensyukuri hal-hal kecil yang sebenarnya indah: keluarga yang mendukung, teman yang peduli, kesehatan, kesempatan belajar, dan pengalaman yang membentuk kedewasaan. Maka, ada saatnya kita tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri. Cukup menerima dengan lapang, percaya dengan tenang, dan menikmati setiap proses dengan syukur. Sebab, beberapa episode hidup tidak hadir untuk dilawan, tetapi untuk dipahami dan dijalani dengan hati yang lebih damai.

Selasa, 23 Juni 2026

Tsaqalān: Manusia dan Jin sebagai Pemikul Amanah

Dalam khazanah keislaman, ada istilah-istilah singkat yang menyimpan makna sangat dalam, salah satunya adalah ثَقَلَانِ (tsaqalān). Kata ini tampak sederhana, tetapi mengandung pelajaran besar tentang kedudukan manusia dan jin sebagai makhluk Allah yang diberi amanah. Manusia tidak hidup hanya untuk makan, bekerja, dan menikmati dunia; begitu pula jin tidak diciptakan tanpa tujuan. Keduanya adalah makhluk yang memikul tanggung jawab besar di hadapan Allah.

Secara bahasa, ثَقَلَانِ (tsaqalān) merupakan bentuk mutsanna atau kata yang menunjukkan dua hal. Akar katanya berkaitan dengan makna berat, berbobot, atau memiliki nilai penting. Dalam istilah keagamaan, tsaqalān dipahami sebagai sebutan untuk dua golongan makhluk, yaitu manusia dan jin. Keduanya disebut demikian karena memiliki kedudukan khusus dibanding banyak makhluk lain: mereka diberi akal, kehendak, kemampuan memilih, serta tanggung jawab untuk menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Manusia dan jin disebut tsaqalān karena keduanya memikul beban syariat (taklīf). Artinya, mereka tidak dibiarkan hidup bebas tanpa aturan, tetapi dikenai kewajiban untuk beriman, beribadah, dan mempertanggungjawabkan amalnya. Manusia diperintah untuk shalat, berpuasa, berzakat, berlaku jujur, menjaga amanah, dan menjauhi maksiat. Jin pun, sesuai keberadaannya sebagai makhluk mukallaf, juga diperintah untuk beriman kepada Allah dan mengikuti kebenaran. Karena itulah, beban yang mereka emban disebut berat, bukan karena syariat itu menyusahkan, tetapi karena ia mengandung tanggung jawab besar di dunia dan akhirat.

Istilah tsaqalān juga mengingatkan bahwa kemuliaan manusia bukan hanya terletak pada bentuk fisik, ilmu, jabatan, atau harta, melainkan pada kemampuannya menjalankan amanah Allah. Semakin besar kemampuan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya. Akal, waktu, kesehatan, ilmu, dan kesempatan hidup bukan sekadar nikmat, tetapi juga titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban. Demikian pula jin, meskipun tidak terlihat oleh manusia, tetap berada dalam kekuasaan Allah dan tidak lepas dari aturan serta hisab-Nya.

Dengan demikian, ثَقَلَانِ (tsaqalān) bukan sekadar istilah untuk menyebut manusia dan jin, tetapi juga pengingat tentang beratnya amanah kehidupan. Manusia dan jin sama-sama diciptakan untuk beribadah kepada Allah, menjalani hidup dengan ketaatan, serta mempersiapkan diri menghadapi hari pertanggungjawaban. Maka, memahami makna tsaqalān seharusnya membuat manusia lebih sadar bahwa hidup ini bukan permainan, melainkan perjalanan amanah. Setiap pilihan, ucapan, dan perbuatan memiliki nilai di sisi Allah, sehingga seorang hamba perlu menjalani hidup dengan iman, kesadaran, dan tanggung jawab.

Senin, 22 Juni 2026

Pelan Bukan Berarti Lemah

Dalam hidup, sering kali kita terlalu sibuk mengagumi mereka yang berlari cepat hingga lupa menghargai mereka yang berjalan perlahan tetapi tidak pernah berhenti. Siput menjadi simbol sederhana namun penuh makna: tubuhnya kecil, geraknya lambat, tetapi ia selalu bergerak maju. Ia tidak memprotes nasibnya, tidak iri pada makhluk lain yang lebih cepat, dan tidak berhenti hanya karena dunia meremehkannya. Dari seekor siput, kita belajar bahwa perjalanan hidup bukan selalu tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang paling kuat bertahan sampai akhir.

Ungkapan siput tidak pernah mundur mengajarkan pentingnya keteguhan hati. Dalam kehidupan, manusia sering menghadapi kegagalan, hinaan, keterbatasan, dan rasa lelah. Namun, seperti siput yang tetap melangkah dengan caranya sendiri, kita juga perlu terus maju meskipun langkah kita kecil. Setiap kemajuan, sekecil apa pun, tetap bernilai selama arahnya menuju kebaikan. Mundur bukanlah pilihan utama ketika kita masih memiliki kesempatan untuk berusaha.

Siput juga tidak marah karena lambat. Ini mengandung pesan bahwa setiap orang memiliki kecepatan dan proses hidup yang berbeda. Ada orang yang cepat berhasil, cepat lulus, cepat mendapatkan pekerjaan, atau cepat mencapai impiannya. Namun, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang. Kelambatan bukan berarti kegagalan. Kadang, proses yang pelan justru membentuk kesabaran, kedewasaan, dan kekuatan batin yang tidak dimiliki oleh mereka yang terbiasa mendapatkan sesuatu dengan mudah.

Ketika siput tetap berjalan meski diremehkan, kita diajak untuk tidak terlalu bergantung pada penilaian orang lain. Dalam hidup, akan selalu ada orang yang meremehkan usaha kita, menertawakan mimpi kita, atau menganggap langkah kita tidak berarti. Namun, nilai perjuangan tidak ditentukan oleh komentar orang lain, melainkan oleh keberanian kita untuk tetap melanjutkan perjalanan. Selama kita konsisten, sabar, dan percaya pada tujuan, maka setiap langkah pelan tetap membawa kita lebih dekat pada keberhasilan.

Dengan demikian, hidup tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang paling cepat, tetapi oleh mereka yang tidak mudah menyerah. Yang pelan belum tentu lemah, dan yang cepat belum tentu mampu bertahan lama. Seperti siput, manusia perlu belajar menerima ritme hidupnya sendiri, tetap tenang dalam proses, dan terus bergerak maju meskipun dunia tidak selalu memberi tepuk tangan. Karena dalam perjalanan hidup, ketahanan, kesabaran, dan konsistensi sering kali menjadi kekuatan terbesar untuk sampai pada tujuan.

Minggu, 21 Juni 2026

Diam Bukan Berarti Tidak Berkarya

Di era digital saat ini, banyak orang merasa bahwa setiap pencapaian harus dipublikasikan agar dianggap nyata. Media sosial sering menjadi tempat untuk menunjukkan keberhasilan, kebahagiaan, perjalanan hidup, bahkan hal-hal pribadi. Namun, ucapan yang dikaitkan dengan aktor Denzel Washington, “Hanya karena kamu tidak memublikasikannya di media sosial, bukan berarti kamu tidak melakukan hal-hal besar. Tetaplah rendah hati, karena privasi adalah segalanya,” memberikan pesan penting bahwa nilai hidup seseorang tidak ditentukan oleh seberapa sering ia terlihat di hadapan publik.

Makna dari ucapan tersebut adalah bahwa pencapaian besar tidak selalu harus diumumkan kepada banyak orang. Ada orang-orang yang bekerja keras dalam diam, memperbaiki diri tanpa sorotan, membantu sesama tanpa publikasi, atau membangun masa depan tanpa perlu pengakuan dari media sosial. Tidak memublikasikan sesuatu bukan berarti seseorang tidak memiliki prestasi. Justru, banyak hal besar lahir dari proses yang tenang, konsisten, dan jauh dari perhatian orang banyak.

Ucapan tersebut juga mengajarkan pentingnya rendah hati dalam menjalani kehidupan. Rendah hati bukan berarti merendahkan kemampuan diri sendiri, tetapi mampu menjaga sikap agar tidak selalu ingin dipuji atau diakui. Seseorang yang rendah hati akan lebih fokus pada kualitas perbuatan daripada tepuk tangan orang lain. Ia memahami bahwa keberhasilan sejati tidak selalu membutuhkan sorakan publik, melainkan cukup dibuktikan melalui tindakan nyata, ketekunan, dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Selain rendah hati, pesan tersebut juga menekankan pentingnya menjaga privasi. Tidak semua hal dalam hidup perlu dibagikan kepada dunia, karena ada bagian-bagian tertentu yang lebih baik disimpan untuk diri sendiri, keluarga, atau orang-orang terdekat. Privasi dapat menjaga ketenangan hati, melindungi seseorang dari komentar negatif, rasa iri, penilaian yang tidak perlu, serta tekanan untuk selalu terlihat sempurna. Dengan menjaga privasi, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih damai dan tidak terlalu bergantung pada validasi orang lain.

Dengan demikian, ucapan tersebut sangat relevan bagi kehidupan masyarakat modern yang dekat dengan media sosial. Media sosial memang dapat digunakan untuk berbagi inspirasi, tetapi tidak boleh menjadi ukuran utama keberhasilan seseorang. Hal-hal besar tetap bernilai meskipun dilakukan secara diam-diam. Yang terpenting adalah ketulusan, konsistensi, kerendahan hati, dan kemampuan menjaga batas antara kehidupan pribadi dan konsumsi publik. Sebab, hidup yang tenang dan bermakna sering kali tidak perlu banyak dipamerkan, melainkan cukup dijalani dengan bijaksana.

Sabtu, 20 Juni 2026

Menapaki Tahun Baru Islam dengan Langkah Ibadah dan Usaha Penuh Berkah

Tahun Baru Islam 1 Muharam 1418 H menjadi momentum yang indah untuk menata kembali arah hidup, memperbarui niat, dan menguatkan hubungan kita dengan Allah Swt. Tema “Semoga setiap langkah bernilai ibadah, setiap usaha berubah berkah, menjadi pribadi yang lebih bertakwa, dalam ridha Allah Yang Maha Kuasa” mengajak kita memahami bahwa hidup bukan sekadar berjalan dari hari ke hari, melainkan perjalanan spiritual menuju keridaan Allah. Setiap detik yang kita lalui dapat menjadi ladang pahala apabila disertai niat yang benar, cara yang halal, dan tujuan yang mulia. Inilah makna mendalam dari Tahun Baru Islam: bukan hanya pergantian waktu, tetapi juga kesempatan untuk berhijrah dari kelalaian menuju ketaatan.

Bulan Muharam adalah salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Allah Swt. berfirman:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗ . . . (الآيَة).

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram . . . . (QS. At-Taubah: 36). Para ulama menjelaskan bahwa Muharam termasuk salah satu dari empat bulan haram tersebut, yaitu bulan yang memiliki kehormatan khusus, sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi dosa. Dengan memahami kemuliaan Muharam, kita diajak untuk memulai tahun baru dengan kesadaran bahwa waktu adalah amanah. Waktu yang digunakan untuk taat akan mendekatkan kita kepada Allah, sedangkan waktu yang diisi dengan maksiat akan menjadi penyesalan.

Agar setiap langkah bernilai ibadah, hal pertama yang harus dijaga adalah niat. Rasulullah Saw. bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . . .

Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan . . .” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa pekerjaan sehari-hari seperti belajar, bekerja, mencari nafkah, membantu keluarga, menuntut ilmu, bahkan tersenyum kepada sesama dapat bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Maka, langkah praktisnya adalah membiasakan diri membaca basmalah sebelum beraktivitas, meluruskan niat sebelum memulai pekerjaan, serta bertanya kepada diri sendiri: apakah yang aku lakukan ini mendekatkan aku kepada Allah atau justru menjauhkan?

Agar setiap usaha berubah menjadi berkah, seorang Muslim perlu menjaga kehalalan cara dan tujuan. Berkah bukan hanya berarti banyaknya hasil, tetapi hadirnya kebaikan, ketenangan, manfaat, dan rida Allah dalam hasil tersebut. Allah Swt. berfirman:

. . . . وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“. . . . Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga (tidak disangka-sangka). Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah-lah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3). Ayat ini mengajarkan bahwa ketakwaan adalah pintu keberkahan. Karena itu, usaha harus dijalankan dengan jujur, disiplin, amanah, tidak menipu, tidak mengambil hak orang lain, serta selalu bersandar kepada Allah melalui doa dan tawakal.

Menjadi pribadi yang lebih bertakwa berarti terus berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik ketika dilihat manusia maupun ketika sendiri. Takwa bukan hanya tampak dalam ibadah ritual seperti shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an, tetapi juga dalam akhlak, ucapan, keputusan, dan cara memperlakukan orang lain. Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”. (QS. Ali Imran: 102). Langkah untuk meraihnya antara lain memperbaiki shalat lima waktu, memperbanyak istighfar, menjaga lisan dari dusta dan ghibah, menjauhi pergaulan yang buruk, serta memilih lingkungan yang mengingatkan kepada kebaikan.

Untuk menjaga agar hidup selalu berada dalam ridha Allah Yang Maha Kuasa, kita perlu membangun kebiasaan muhasabah, yaitu mengevaluasi diri. Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a. pernah menasihati:

حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَزِنُوْا أَعْمَالَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا، فَإِنَّ أَهْوَنَ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا أَنْ تُحَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ اليَوْمَ، وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ، يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُوْنَ، لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ.

Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah amal-amal kalian sebelum amal-amal itu ditimbang. Sebab, akan lebih ringan bagi kalian dalam perhitungan kelak apabila kalian menghisab diri kalian pada hari ini. Dan berhiaslah kalian untuk menghadapi pertemuan agung, pada hari ketika kalian dihadapkan kepada Allah; tidak ada sesuatu pun dari diri kalian yang tersembunyi.” Muhasabah dapat dilakukan setiap hari dengan meninjau kembali apa yang sudah kita ucapkan, lakukan, pikirkan, dan niatkan. Bila ada kesalahan, segera bertobat; bila ada kebaikan, syukuri dan lanjutkan. Tahun Baru Islam menjadi saat yang tepat untuk membuat rencana perbaikan: memperbaiki ibadah, meningkatkan ilmu, mempererat silaturahim, mengurangi dosa yang berulang, dan menetapkan target amal yang realistis namun konsisten.

Cara lain untuk meraih keberkahan dan ketakwaan adalah dengan memperkuat hubungan sosial yang diridhai Allah. Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan pribadi, tetapi juga kesalehan sosial. Rasulullah Saw. bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan lainnya). Maka, setiap langkah menuju kebaikan dapat diwujudkan dengan membantu sesama, menghormati orang tua, menyayangi keluarga, berlaku adil, memaafkan kesalahan orang lain, serta berbagi kepada yang membutuhkan. Ketika hidup kita membawa manfaat, maka usaha kita tidak hanya bernilai duniawi, tetapi juga menjadi bekal akhirat.

Dengan demikian, peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1418 H hendaknya menjadi pengingat bahwa hidup adalah perjalanan hijrah yang terus berlangsung. Kita berhijrah dari malas menuju rajin, dari lalai menuju sadar, dari dosa menuju tobat, dari egoisme menuju kepedulian, dan dari sekadar mengejar dunia menuju mencari ridha Allah. Semoga setiap langkah kita benar-benar bernilai ibadah, setiap usaha yang kita lakukan berubah menjadi berkah, dan diri kita semakin dekat kepada derajat takwa. Dengan niat yang ikhlas, amal yang benar, hati yang bersih, serta doa yang tidak pernah putus, semoga Allah Swt. membimbing kita menjadi hamba yang hidup dalam ketaatan dan wafat dalam husnul khatimah. Aamiin.

Disampaikan pada peringatan Tahun Baru Islam 1448 H di masjid Al-Hidayah Jalan Titan Perumahan Puri Kartika Indah Purwantoro Malang (Sabtu, 20 Juni 2026) 

Pertemanan Beradab: Nyaman Tanpa Luka

Dalam pertemanan, ukuran kebaikan bukan hanya terlihat dari seberapa sering seseorang hadir, tetapi dari seberapa aman hati orang lain ket...