Halaman

Jumat, 01 Mei 2026

Ilmu Agama: Warisan Terbesar Orang Tua untuk Anak

Di tengah derasnya perubahan zaman, orang tua sering kali sangat memperhatikan masa depan duniawi anak-anaknya: pendidikan formal, pekerjaan, keterampilan, prestasi, dan kecukupan materi. Semua itu tentu penting sebagai bekal kehidupan. Namun, ada bekal yang jauh lebih mendasar dan menentukan keselamatan hidup anak, yaitu “ilmu agama”. Kalam hikmah Al-Habib Abdullah Al-Akbar Alaydrus:

إِنَّ كَثِيْرًا مِنَ الْآبَاءِ مَنْ يَكُوْنُ هَلَاكَ أَبْنَائِهِمْ وَبَنَاتِهِمْ بِأَيْدِيْهِمْ

Banyak orang tua yang menjadi sebab celakanya anak-anak mereka”, menjadi peringatan lembut sekaligus tegas agar orang tua tidak lalai dalam membimbing anak menuju jalan Allah.

Maksud dari kalam tersebut bukanlah untuk menyalahkan orang tua secara kasar, tetapi untuk mengingatkan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar terhadap keselamatan agama anak-anaknya. Anak adalah amanah, bukan sekadar keturunan biologis atau kebanggaan keluarga. Ketika orang tua hanya memberi makan, pakaian, sekolah, dan fasilitas hidup, tetapi tidak mengenalkan anak kepada Allah, Rasulullah, Al-Qur’an, adab, halal-haram, serta kewajiban ibadah, maka ada bagian penting dari amanah itu yang terabaikan. Kelalaian inilah yang dapat menjadi sebab kerusakan dan celakanya anak, baik dalam akhlak, pergaulan, maupun arah hidupnya.

Banyak anak tumbuh cerdas secara akademik, mahir dalam teknologi, dan berhasil secara duniawi, tetapi kosong dari tuntunan agama. Akibatnya, mereka mudah kehilangan arah ketika menghadapi godaan, tekanan hidup, atau lingkungan yang buruk. Ilmu agama berfungsi sebagai cahaya yang membimbing hati, akal, dan perilaku. Tanpa cahaya itu, anak mungkin mampu mengejar dunia, tetapi tidak memiliki pegangan yang kuat untuk membedakan mana yang diridhai Allah dan mana yang mengundang murka-Nya. Di sinilah orang tua perlu sadar bahwa keberhasilan anak tidak cukup diukur dari nilai, gelar, pekerjaan, atau harta, tetapi juga dari iman, adab, ibadah, dan akhlaknya.

Mengajarkan ilmu agama kepada anak tidak selalu harus dimulai dari hal yang berat. Orang tua dapat memulainya dari kebiasaan sederhana, seperti mengajarkan shalat, membaca doa harian, mengenalkan kisah Nabi, membiasakan membaca Al-Qur’an, mengajak anak ke majelis ilmu, dan memberi teladan dalam ucapan serta perbuatan. Anak lebih mudah menerima agama ketika ia melihat orang tuanya sendiri menghormati agama. Nasihat akan lebih kuat jika didukung oleh contoh nyata. Karena itu, orang tua bukan hanya diperintah untuk menyuruh anak berbuat baik, tetapi juga menjadi contoh kebaikan di hadapan anak-anaknya.

Dengan demikian, kalam hikmah Al-Habib Abdullah Al-Akbar Alaydrus ini mengandung pesan yang sangat mendalam: jangan sampai cinta orang tua kepada anak justru hanya berhenti pada urusan dunia, sementara keselamatan akhiratnya terabaikan. Orang tua yang benar-benar mencintai anaknya adalah orang tua yang berusaha menyelamatkan iman, akhlak, dan agamanya. Mewariskan ilmu agama adalah salah satu bentuk kasih sayang terbesar, karena manfaatnya tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga menjadi sebab keselamatan di akhirat. Maka, mendidik anak dengan ilmu agama bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab suci yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

48 Tahun PIQ Singosari: Dari Doa Waliyullah Menuju Cahaya Kebermanfaatan

Hari ini, 1 Mei 2026, Pesantren Ilmu Al Quran (PIQ) Singosari Malang menapaki usia yang penuh berkah: 48 tahun perjalanan pengabdian, seja...