Halaman

Selasa, 19 Mei 2026

Mengenang 40 Hari Wafatnya Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M.: Jejak Ilmu, Khidmah, dan Amal Jariyah

Suasana khidmat menyelimuti aula utama Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari pada hari Senin, 18 Mei 2026, mulai pukul 18.00 hingga 19.30 WIB, ketika keluarga besar pesantren, para santri, serta alumni dari para guru yang berdomisili di Singosari berkumpul dalam agenda kirim doa, pembacaan Surat Yasin, dan Tahlil untuk mengenang 40 hari wafatnya Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M putra dari pasangan Almaghfurlah KH. M. Basori Alwi Murtadho dan Almaghfurlaha Ibu Nyai Hj. Qomariyah Abdul Hamid. Kegiatan ini bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan juga menjadi ruang bersama untuk mengenang jasa, keteladanan, dan pengabdian almarhum semasa hidup. Dalam suasana penuh takzim, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan kalimat tahlil menjadi ungkapan cinta, doa, serta penghormatan kepada sosok yang telah memberikan kontribusi besar bagi keluarga, pesantren, dan masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Pengasuh Pesantren Ilmu Al Quran (PIQ) Singosari KH. M. Luthfi Bashori, dan juga KH. A. Faiz Basori, selaku adik almarhum yang didaulat untuk menyampaikan kenangan dan penjelasan mengenai perjalanan hidup Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. dengan penuh haru dan penghormatan. Beliau menggambarkan almarhum sebagai pribadi yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan, keagamaan, dan pesantren yang kuat. Kegiatan kirim doa ini menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa mengenang orang saleh tidak hanya dilakukan dengan menyebut namanya, tetapi juga dengan meneladani perjuangan, meneruskan nilai-nilai kebaikannya, dan mendoakan agar seluruh amalnya diterima oleh Allah Swt.

Dalam penjelasannya, KH. A. Faiz Basori menyampaikan bahwa perjalanan pendidikan Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. dimulai sejak masa kanak-kanak di TK Muslimat 1 Tumapel Singosari. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikan dasar di MI Almaarif 02 Singosari, kemudian menempuh jenjang menengah pertama di SMPN 01 Singosari. Pendidikan beliau berlanjut ke SMA PPSP IKIP Malang, yang dikenal sebagai cikal bakal SMAN 8 Malang. Riwayat pendidikan ini menunjukkan bahwa sejak muda beliau telah menempuh proses belajar yang terarah, bertahap, dan berakar kuat pada lingkungan pendidikan di Malang Raya.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi dengan mengambil S1 Jurusan Teknik Sipil di ITN Malang. Bidang teknik sipil yang beliau tekuni kemudian menjadi bagian penting dari pengabdian beliau dalam dunia pembangunan, khususnya pembangunan lembaga pendidikan dan pesantren. Tidak berhenti di sana, beliau juga melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 Magister Manajemen di salah satu universitas di Surabaya. Perpaduan antara keilmuan teknik dan manajemen ini menjadikan beliau sosok yang tidak hanya memahami desain dan konstruksi bangunan, tetapi juga memiliki wawasan pengelolaan, perencanaan, dan kepemimpinan.

Selain memiliki latar pendidikan formal yang kuat, Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. juga tumbuh dalam tradisi mengaji dan keilmuan agama. Sewaktu kecil, beliau mengaji kepada KH. Abdul Mannan Syukur, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Huda Singosari Malang. Dari lingkungan inilah nilai-nilai Al-Qur’an, adab, ketekunan, serta kecintaan kepada ilmu agama tertanam sejak dini dalam diri beliau. Pendidikan agama yang diperoleh sejak kecil menjadi fondasi spiritual yang kelak mewarnai cara beliau berkhidmat kepada keluarga, pesantren, umat, dan masyarakat luas.

Perjalanan mengaji Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. kemudian berlanjut kepada KH. Mustain Syamsuri di Kauman Singosari. Sebelum kemudian KH. Mustain Syamsuri pindah ke Watugede dan mendirikan Pondok Pesantren Darul Qur’an di Watugede Singosari, almarhum telah menjadi bagian dari mata rantai keilmuan dan keberkahan para kiai tersebut. Selain itu, beliau juga pernah nyantri di pondoknya Mbah Hasan Mangli, Magelang, Jawa Tengah, bersama saudara beliau, KH. M. Rif’at Basori. Pengalaman nyantri ini menjadi bukti bahwa almarhum tidak hanya menempuh pendidikan formal, tetapi juga memiliki ikatan batin yang kuat dengan tradisi pesantren.

Salah satu jasa besar Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. yang sangat nyata dan dapat dirasakan hingga kini adalah keterlibatan beliau dalam desain bangunan dan pembangunan Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari Malang, baik kampus 1 maupun kampus 2. Dari segi perencanaan, desain, hingga proses pembangunan, PIQ Singosari tidak dapat dilepaskan dari karya dan pengabdian beliau. Bangunan pesantren yang berdiri, ruang-ruang belajar yang digunakan, serta fasilitas yang menunjang kegiatan para santri menjadi saksi bisu dari ilmu, tenaga, pikiran, dan ketulusan beliau.

Karya pembangunan yang ditinggalkan almarhum bukan sekadar wujud fisik berupa gedung, ruang, atau fasilitas pesantren. Lebih dari itu, bangunan PIQ Singosari menjadi bagian dari amal jariyah yang terus mengalir selama tempat tersebut digunakan untuk membaca Al-Qur’an, mengaji, belajar, menghafal, beribadah, dan mencetak generasi Qur’ani. Setiap langkah santri menuju majelis ilmu, setiap lantunan ayat yang dibaca, dan setiap ilmu yang diamalkan dari lingkungan pesantren tersebut diharapkan menjadi tambahan doa serta pahala bagi Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. Semoga Allah Swt. menjadikan seluruh karya dan pengabdian beliau sebagai amal saleh yang tidak terputus.

Selain berkhidmat melalui bidang pendidikan dan pembangunan pesantren, Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. juga pernah menjadi salah satu pengurus di PBNU sebagai bentuk pengabdian sosial keagamaan beliau. Hal ini menunjukkan bahwa kiprah beliau tidak terbatas pada keluarga dan pesantren saja, tetapi juga meluas pada organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Pengabdian di lingkungan Nahdlatul Ulama mencerminkan komitmen beliau untuk ikut menjaga, menguatkan, dan mengembangkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, kebersamaan umat, serta pelayanan kepada masyarakat.

Melalui kegiatan kirim doa dalam rangka mengenang 40 hari wafatnya Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M., para santri dan generasi penerus diharapkan tidak hanya mengenang beliau sebagai tokoh yang berjasa, tetapi juga mengambil pelajaran dari jalan hidupnya. Beliau memberi teladan bahwa ilmu umum dan ilmu agama dapat berjalan beriringan, bahwa keahlian profesional dapat menjadi jalan pengabdian, dan bahwa pembangunan fisik pesantren dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk kemaslahatan umat. Semoga para santri PIQ Singosari mampu meneruskan semangat beliau: mencintai Al-Qur’an, menghormati guru dan kiai, tekun belajar, berakhlak mulia, serta kelak menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, pesantren, dan masyarakat. Lahul Fatihah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjaga Tunas Bangsa, Menguatkan Kedaulatan Indonesia

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia diajak untuk menoleh sejenak ke belakang, bukan untuk terjebak pada masa lalu, melainkan untuk men...