Halaman

Sabtu, 16 Mei 2026

Hati Terpaut Masjid, Hidup Penuh Berkah

Masjid adalah rumah Allah yang menjadi pusat ketenangan hati, tempat bersujud, tempat belajar, dan tempat tumbuhnya persaudaraan umat Islam. Di tengah kesibukan hidup, masjid hadir sebagai pengingat bahwa manusia tidak hanya membutuhkan pekerjaan, harta, dan urusan dunia, tetapi juga membutuhkan hubungan yang kuat dengan Allah Swt. Karena itu, memakmurkan masjid merupakan amal mulia yang menunjukkan kecintaan seorang muslim kepada agama, lingkungan, dan masyarakat sekitarnya.

Memakmurkan masjid tidak hanya berarti membangun atau memperindah bangunannya. Makna yang lebih luas adalah “menghidupkan masjid dengan ibadah, ilmu, zikir, kepedulian, dan kegiatan yang bermanfaat”. Seseorang dapat memakmurkan masjid dengan rajin shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, menghadiri kajian, membantu menjaga kebersihan, mendukung kegiatan anak-anak dan remaja masjid, ikut bermusyawarah dalam program keumatan, serta menyumbangkan tenaga, pikiran, atau harta sesuai kemampuan. Masjid yang makmur bukan hanya masjid yang megah, tetapi masjid yang hidup dengan jamaah dan amal kebaikan.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 18:

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ

“Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa memakmurkan masjid adalah salah satu tanda keimanan. Orang yang dekat dengan masjid biasanya memiliki hati yang lembut terhadap ibadah, mudah tergerak untuk melakukan kebaikan, serta peduli terhadap keadaan masyarakat di sekitarnya. Dengan hadir di masjid, seorang muslim tidak hanya memperkuat hubungannya dengan Allah, tetapi juga mempererat hubungan sosial dengan tetangga dan sesama jamaah. Dari masjid, ukhuwah Islamiyah dapat tumbuh melalui shalat berjamaah, pengajian, santunan, musyawarah, dan kegiatan sosial.

Rasulullah Saw. juga menjelaskan keutamaan orang yang hatinya terpaut dengan masjid. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Saw. bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

“Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya: (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, (3) seseorang yang hatinya selalu terpaut/terikat dengan masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang lelaki yang digoda oleh wanita bangsawan lagi cantik, namun ia berkata: “Aku takut kepada Allah”, (6) seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian/keadaan sepi hingga meneteskan air mata

Di antara penjelasan dalam hadis ini (pada poin 3), ada pemberian motivasi besar bahwa mencintai masjid bukanlah perkara sederhana. Orang yang hatinya terpaut dengan masjid akan merasa rindu untuk beribadah, senang berkumpul dalam majelis kebaikan, dan terdorong untuk menjaga kehormatan rumah Allah. Ia tidak hanya datang ketika ada keperluan tertentu, tetapi menjadikan masjid sebagai bagian dari kehidupan hariannya. Semakin dekat seseorang dengan masjid, semakin besar pula peluangnya untuk terbiasa dalam lingkungan yang menguatkan iman.

Memakmurkan masjid juga memiliki nilai sosial yang sangat penting. Masjid dapat menjadi pusat pendidikan, tempat pembinaan akhlak generasi muda, tempat membantu fakir miskin, tempat menyelesaikan persoalan masyarakat, serta tempat menumbuhkan budaya gotong royong. Ketika masyarakat aktif memakmurkan masjid, lingkungan sekitar akan menjadi lebih hidup, rukun, dan religius. Anak-anak mengenal ibadah sejak kecil, remaja memiliki ruang kegiatan positif, orang tua mendapat tempat memperdalam ilmu, dan masyarakat memiliki pusat kebersamaan yang membawa keberkahan.

Oleh karena itu, memakmurkan masjid hendaknya dimulai dari langkah sederhana tetapi istiqamah. Datanglah untuk shalat berjamaah, biasakan membaca Al-Qur’an di masjid, bantu menjaga kebersihan, dukung kegiatan keagamaan, dan ikut berkontribusi sesuai kemampuan. Tidak semua orang harus menjadi pengurus masjid, tetapi setiap muslim dapat menjadi bagian dari kemakmuran masjid. Ada yang berperan dengan hartanya, ada yang membantu dengan tenaganya, ada yang menyumbang pemikirannya, dan ada pula yang menghidupkan masjid dengan kehadiran serta doanya.

Dengan demikian, memakmurkan masjid bukan hanya tugas takmir atau pengurus, melainkan tanggung jawab bersama seluruh umat Islam. Masjid yang makmur akan melahirkan pribadi-pribadi yang dekat kepada Allah, masyarakat yang saling peduli, dan lingkungan yang penuh keberkahan. Semoga Allah Swt. menjadikan hati kita selalu terpaut dengan masjid, meringankan langkah kita menuju rumah-Nya, serta memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba yang mendapat petunjuk dan naungan-Nya.

Disampaikan dalam kajian shubuh di masjid Al-Hidayah Jalan Titan Utara Purwantoro Blimbing Kota Malang (Ahad, 17 Mei 2026)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hati Terpaut Masjid, Hidup Penuh Berkah

Masjid adalah rumah Allah yang menjadi pusat ketenangan hati, tempat bersujud, tempat belajar, dan tempat tumbuhnya persaudaraan umat Isla...