Masjid adalah
rumah Allah yang menjadi pusat ketenangan hati, tempat bersujud, tempat
belajar, dan tempat tumbuhnya persaudaraan umat Islam. Di tengah kesibukan
hidup, masjid hadir sebagai pengingat bahwa manusia tidak hanya membutuhkan
pekerjaan, harta, dan urusan dunia, tetapi juga membutuhkan hubungan yang kuat
dengan Allah Swt. Karena itu, memakmurkan masjid merupakan amal mulia yang
menunjukkan kecintaan seorang muslim kepada agama, lingkungan, dan masyarakat
sekitarnya.
Memakmurkan masjid
tidak hanya berarti membangun atau memperindah bangunannya. Makna yang lebih
luas adalah “menghidupkan masjid dengan ibadah, ilmu, zikir, kepedulian, dan
kegiatan yang bermanfaat”. Seseorang dapat memakmurkan masjid dengan rajin shalat
berjamaah, membaca Al-Qur’an, menghadiri kajian, membantu menjaga kebersihan,
mendukung kegiatan anak-anak dan remaja masjid, ikut bermusyawarah dalam
program keumatan, serta menyumbangkan tenaga, pikiran, atau harta sesuai
kemampuan. Masjid yang makmur bukan hanya masjid yang megah, tetapi masjid yang
hidup dengan jamaah dan amal kebaikan.
Allah Swt.
berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 18:
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ
اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ
يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
“Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan
masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun)
selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang
mendapat petunjuk.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa
memakmurkan masjid adalah salah satu tanda keimanan. Orang yang dekat dengan
masjid biasanya memiliki hati yang lembut terhadap ibadah, mudah tergerak untuk
melakukan kebaikan, serta peduli terhadap keadaan masyarakat di sekitarnya. Dengan
hadir di masjid, seorang muslim tidak hanya memperkuat hubungannya dengan
Allah, tetapi juga mempererat hubungan sosial dengan tetangga dan sesama
jamaah. Dari masjid, ukhuwah Islamiyah dapat tumbuh melalui shalat berjamaah,
pengajian, santunan, musyawarah, dan kegiatan sosial.
Rasulullah Saw.
juga menjelaskan keutamaan orang yang hatinya terpaut dengan masjid. Dalam
hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Saw.
bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ
اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ
نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ،
وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ
دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ
تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ،
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.
“Ada tujuh golongan yang akan Allah
naungi dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya:
(1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, (3)
seseorang yang hatinya selalu terpaut/terikat dengan masjid, (4) dua orang
yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah
karena-Nya, (5) seorang lelaki yang digoda oleh wanita bangsawan lagi cantik,
namun ia berkata: “Aku takut kepada Allah”, (6) seseorang yang bersedekah
dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan
tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berzikir kepada Allah dalam
kesendirian/keadaan sepi hingga meneteskan air mata”
Di antara penjelasan dalam hadis ini
(pada poin 3), ada pemberian motivasi besar bahwa mencintai masjid bukanlah
perkara sederhana. Orang yang hatinya terpaut dengan masjid akan merasa rindu
untuk beribadah, senang berkumpul dalam majelis kebaikan, dan terdorong untuk
menjaga kehormatan rumah Allah. Ia tidak hanya datang ketika ada keperluan
tertentu, tetapi menjadikan masjid sebagai bagian dari kehidupan hariannya.
Semakin dekat seseorang dengan masjid, semakin besar pula peluangnya untuk
terbiasa dalam lingkungan yang menguatkan iman.
Memakmurkan masjid
juga memiliki nilai sosial yang sangat penting. Masjid dapat menjadi pusat
pendidikan, tempat pembinaan akhlak generasi muda, tempat membantu fakir
miskin, tempat menyelesaikan persoalan masyarakat, serta tempat menumbuhkan
budaya gotong royong. Ketika masyarakat aktif memakmurkan masjid, lingkungan
sekitar akan menjadi lebih hidup, rukun, dan religius. Anak-anak mengenal
ibadah sejak kecil, remaja memiliki ruang kegiatan positif, orang tua mendapat
tempat memperdalam ilmu, dan masyarakat memiliki pusat kebersamaan yang membawa
keberkahan.
Oleh karena itu,
memakmurkan masjid hendaknya dimulai dari langkah sederhana tetapi istiqamah.
Datanglah untuk shalat berjamaah, biasakan membaca Al-Qur’an di masjid, bantu
menjaga kebersihan, dukung kegiatan keagamaan, dan ikut berkontribusi sesuai
kemampuan. Tidak semua orang harus menjadi pengurus masjid, tetapi setiap
muslim dapat menjadi bagian dari kemakmuran masjid. Ada yang berperan dengan
hartanya, ada yang membantu dengan tenaganya, ada yang menyumbang pemikirannya,
dan ada pula yang menghidupkan masjid dengan kehadiran serta doanya.
Dengan demikian,
memakmurkan masjid bukan hanya tugas takmir atau pengurus, melainkan tanggung
jawab bersama seluruh umat Islam. Masjid yang makmur akan melahirkan
pribadi-pribadi yang dekat kepada Allah, masyarakat yang saling peduli, dan
lingkungan yang penuh keberkahan. Semoga Allah Swt. menjadikan hati kita selalu
terpaut dengan masjid, meringankan langkah kita menuju rumah-Nya, serta
memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba yang mendapat petunjuk dan
naungan-Nya.
Disampaikan dalam kajian shubuh di masjid Al-Hidayah Jalan Titan Utara Purwantoro Blimbing Kota Malang (Ahad, 17 Mei 2026)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar