Halaman

Minggu, 03 Mei 2026

Saksi Hidup Sejarah PIQ: Ustadz Muhammad Roziqin Kenang Masa Awal Mondok

Dalam suasana penuh kehangatan, agenda “Sowan Nasional” di Aula PIQ 2 pada hari Ahad, 3 Mei 2026, menjadi ruang perjumpaan yang bukan hanya mempertemukan para hadirin dengan sosok alumni sepuh, tetapi juga membuka kembali lembaran sejarah awal berdirinya Pesantren Ilmu Al Qur’an (PIQ) Singosari Malang. Sejak pukul 08.00 hingga 14.00 WIB, suasana majelis terasa khidmat ketika Ustadz Muhammad Roziqin, lelaki kelahiran Malang, 11 Agustus 1957, asal Pakis Malang, hadir dan menyampaikan kisah nostalgia sebagai santri pertama PIQ Singosari Malang.

Kehadiran Ustadz Muhammad Roziqin memberi kesan mendalam bagi para peserta. Beliau bukan sekadar tamu dalam acara tersebut, melainkan saksi hidup perjalanan awal sebuah pesantren yang kini dikenal luas sebagai pusat ilmu Al-Qur’an. Dengan tutur kata yang tenang dan penuh kenangan, beliau mengisahkan masa-masa awal ketika Almaghfurlah K.H. M. Basori Alwi Murtadho mendirikan PIQ pada 1 Mei 1978, saat pesantren itu bahkan belum memiliki nama pondok dan tempat yang mapan.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Muhammad Roziqin menyampaikan bahwa perjalanan beliau mondok di PIQ Singosari tidak lepas dari isyarat dan arahan guru mengajinya di kampung, yaitu Kiai Ihsan. Atas petunjuk itulah beliau bersama temannya, Bapak Ridwan Barnawi, kemudian menuju Singosari untuk menimba ilmu kepada Almaghfurlah K.H. M. Basori Alwi Murtadho. Kisah ini memperlihatkan betapa kuatnya peran guru kampung dalam mengarahkan santri menuju jalan ilmu dan keberkahan.

Beliau juga mengenang kehidupan selama menjadi santri dengan penuh rasa syukur. Selain belajar, Ustadz Muhammad Roziqin turut berkhidmat dan bekerja di percetakan yang mencetak kitab berbahasa Arab “Madarij al-Durus al-Arabiyah”, karya Almaghfurlah K.H. M. Basori Alwi Murtadho. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan beliau, karena khidmah di pesantren tidak hanya membentuk kecakapan, tetapi juga menanamkan kedisiplinan, ketekunan, dan kecintaan kepada ilmu.

Kenangan lain yang turut beliau sampaikan adalah kebersamaannya dengan Almaghfurlah K.H. M. Basori Alwi Murtadho ketika sering diajak pada hari Senin malam untuk mengikuti pengajian beliau di Kepanjen Malang. Cerita ini memberikan gambaran kedekatan seorang santri dengan kiai, sekaligus menunjukkan bagaimana proses pendidikan pesantren berlangsung bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga melalui perjalanan, pendampingan, pengabdian, dan keteladanan langsung dari seorang guru kepada muridnya.

Agenda “Sowan Nasional” ini berlangsung bersama Pengasuh PIQ saat ini, K.H. M. Luthfi Bashori, yang menjadi penerus perjuangan keilmuan dan dakwah di lingkungan pesantren. Pertemuan tersebut menghadirkan suasana silaturahim lintas generasi: antara santri awal yang menyaksikan lahirnya PIQ, pengasuh yang melanjutkan amanah pesantren, serta para hadirin yang mendapatkan pelajaran sejarah secara langsung. Setelah menikah, Ustadz Muhammad Roziqin diketahui berdomisili di Randuagung Singosari Malang, mengikuti tempat asal istri beliau.

Kisah Ustadz Muhammad Roziqin memberi inspirasi bahwa kebesaran sebuah lembaga pendidikan tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan dibangun dari ketulusan para pendiri, keikhlasan para santri, serta khidmah yang dilakukan dengan penuh cinta. Dari cerita beliau, para hadirin belajar bahwa menjadi santri bukan hanya tentang menuntut ilmu, tetapi juga tentang menjaga adab, berkhidmah kepada guru, merawat sejarah, dan meneruskan cahaya ilmu kepada generasi berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saksi Hidup Sejarah PIQ: Ustadz Muhammad Roziqin Kenang Masa Awal Mondok

Dalam suasana penuh kehangatan, agenda “Sowan Nasional” di Aula PIQ 2 pada hari Ahad, 3 Mei 2026, menjadi ruang perjumpaan yang bukan hany...