Halaman

Senin, 14 September 2026

Bergeraklah Meski Selangkah: Jangan Biarkan Putus Asa Mengalahkan Tawakal

Dalam perjalanan hidup, sering kali manusia tidak gagal karena tidak memiliki kemampuan, tetapi karena terlalu lama berhenti di hadapan rasa takut, ragu, dan putus asa. Padahal, dalam pandangan Islam, langkah kecil yang dilakukan dengan niat baik jauh lebih mulia daripada angan-angan besar yang tidak pernah dimulai. Kalam hikmah Abuya Al-Habib Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Baharun ini sangat indah untuk direnungkan:

 تَحَرَّكْ وَلَوْ بِخُطْوَةٍ بَسِيْطَةٍ، وَثِقْ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سَيُعْطِيْكَ، وَإِيَّاكَ وَالْيَأْسَ، فَإِنَّ الْيَأْسَ مَذْهَبُ الشَّيْطَانِ

Bergeraklah walaupun dengan langkah sederhana, dan yakinlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta‘ala akan memberimu (jalan dan petunjuk). Jangan sekali-kali kamu berputus asa, karena keputusasaan adalah jalan yang disediakan oleh setan.”

Ungkapan “تَحَرَّكْ وَلَوْ بِخُطْوَةٍ بَسِيْطَةٍ” mengajarkan bahwa perubahan tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Dalam kehidupan seorang Muslim, langkah kecil yang istiqamah sering kali lebih bernilai daripada semangat besar yang hanya sesaat. Seseorang yang ingin memperbaiki hidupnya dapat memulai dari hal sederhana: memperbaiki shalat, membaca Al-Qur’an meski beberapa ayat, belajar sedikit demi sedikit, meminta maaf, bersedekah semampunya, atau mulai menata kembali kewajiban yang selama ini tertunda. Yang paling penting adalah bergerak, karena keberkahan sering kali turun setelah seorang hamba menunjukkan kesungguhan dalam ikhtiar.

Kalimat “وَثِقْ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سَيُعْطِيكَ” menanamkan keyakinan bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Kepercayaan kepada Allah bukan berarti seseorang duduk diam tanpa berbuat apa-apa, tetapi menggabungkan ikhtiar lahir dengan tawakal batin. Seorang Muslim diperintahkan untuk berusaha sesuai kemampuannya, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang ridha. Bisa jadi Allah memberi sesuai yang diminta, atau menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, atau menundanya hingga waktu yang paling tepat. Dalam semua keadaan itu, Allah tetap Maha Mengetahui apa yang paling maslahat bagi hamba-Nya.

Nasihat “وَإِيَّاكَ وَالْيَأْسَ” merupakan peringatan agar seorang hamba tidak membiarkan putus asa menguasai hati. Putus asa sering kali membuat seseorang berhenti berdoa, berhenti berusaha, dan merasa seolah-olah pintu rahmat Allah telah tertutup. Padahal, sebesar apa pun masalah yang dihadapi manusia, rahmat Allah jauh lebih besar. Kesulitan ekonomi, kegagalan, sakit, kehilangan, keterlambatan dalam meraih cita-cita, atau beratnya ujian keluarga tidak boleh membuat seorang Muslim kehilangan harapan kepada Allah. Selama masih ada iman, doa, dan kesempatan untuk memperbaiki diri, selalu ada jalan yang dapat Allah bukakan.

Adapun kalimat “فَإِنَّ الْيَأْسَ مَذْهَبُ الشَّيْطَانِ” menegaskan bahwa keputusasaan adalah jalan yang disukai setan. Setan berusaha membuat manusia merasa tidak layak diampuni, tidak mungkin berubah, tidak mampu bangkit, dan tidak ada gunanya lagi berbuat baik. Jika bisikan ini diikuti, seseorang akan semakin jauh dari Allah dan semakin lemah dalam menjalani hidup. Karena itu, seorang Muslim harus melawan putus asa dengan istighfar, doa, zikir, ilmu, lingkungan yang baik, dan keberanian untuk memulai kembali. Kegagalan bukan akhir dari perjalanan, selama hati masih mau kembali kepada Allah.

Dengan demikian, kalam hikmah ini mengajarkan keseimbangan antara gerak, keyakinan, dan harapan. Bergeraklah meskipun perlahan, karena diam dalam ketakutan hanya akan memperpanjang kegelisahan. Percayalah kepada Allah, karena Dia Maha Pemberi, Maha Menolong, dan Maha Mengetahui kebutuhan hamba-Nya. Jauhilah putus asa, sebab ia melemahkan iman dan membuka jalan bagi bisikan setan. Seorang Muslim yang benar-benar bertawakal tidak menunggu keadaan sempurna untuk memulai, tetapi mengambil satu langkah kecil dengan hati yang yakin bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi hamba yang bersungguh-sungguh.

Bergeraklah Meski Selangkah: Jangan Biarkan Putus Asa Mengalahkan Tawakal

Dalam perjalanan hidup, sering kali manusia tidak gagal karena tidak memiliki kemampuan, tetapi karena terlalu lama berhenti di hadapan ra...