Manusia
sering kali menerjemahkan cinta sebagai sebuah transaksi yang menuntut
kesetaraan: kita memberikan yang terbaik dengan ekspektasi menerima balasan
yang sepadan. Namun, jika kita menggunakan parameter transaksional tersebut
untuk menilai hubungan antara Sang Pencipta dan hamba-Nya, logika itu akan
runtuh seketika. Kesadaran pertama yang menghampiri kita saat membuka mata di
pagi hari bukanlah sekadar rutinitas biologis yang dikendalikan oleh jam
sirkadian tubuh. Detik ketika napas kembali berembus masuk ke dalam paru-paru
adalah sebuah proklamasi paling sunyi namun paling dahsyat tentang definisi
cinta yang membongkar seluruh batas nalar dan keangkuhan kemanusiaan kita.
Ungkapan
bahwa "Allah tetap membangunkanmu di pagi hari, padahal Dia tahu hari ini
kau kembali mengecewakan-Nya" secara tajam menelanjangi asimetri dalam
hubungan kita dengan Tuhan. Secara rasional, tidak ada entitas apa pun di dunia
ini yang bersedia terus memberikan napas kehidupan kepada pihak yang sudah
dipastikan akan berkhianat atau abai. Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui;
Dia melihat dengan terang benderang setiap janji perbaikan diri yang akan
kembali kita ingkari hari ini, waktu ibadah yang akan kita kesampingkan demi
ambisi duniawi, hingga penyakit hati yang diam-diam kita rawat. Meskipun
memegang pengetahuan absolut tentang rentetan keburukan kita tersebut, hal itu
sama sekali tidak menahan rahmat-Nya untuk mengembalikan roh ke dalam jasad kita
saat fajar menyingsing.
Kesempatan membuka mata di hari yang baru ini sama sekali bukan sebuah bentuk pembenaran atas dosa dan kelalaian kita, melainkan manifestasi nyata dari hakikat pengampunan dan harapan Ilahiah. Kehidupan yang terus diperpanjang setiap paginya adalah undangan terbuka yang tidak bersyarat agar manusia mau kembali (bertobat). Allah menatap seluruh celah dan kelemahan karakter kita, namun Dia sengaja memilih untuk memberikan waktu ekstra karena menanti secercah penyesalan yang mungkin lahir dari hati kita di penghujung hari nanti. Pagi hari menjadi bukti bahwa kasih sayang Tuhan jauh mendahului dan mengalahkan kemurkaan-Nya; Ia tidak menghukum kita di muka atas kesalahan yang bahkan belum sempat kita lakukan.
Dengan demikian, mencerna realitas cinta yang tak bersyarat ini semestinya meruntuhkan setiap fondasi ego yang bersemayam di dalam dada. Ketika esok hari kesadaran kita kembali pulih dari tidur, hal pertama yang patut merayap dalam benak bukanlah sekadar daftar ambisi yang harus dikejar, melainkan rasa malu sekaligus haru yang mendalam. Kita melangkahkan kaki di atas bumi hari ini bukan karena kita adalah hamba yang taat dan pantas, melainkan karena ada cinta tak bertepi yang menolak untuk menyerah pada kebodohan kita sendiri. Itulah bentuk cinta yang paling murni—cinta yang dengan tulus terus menghidupkan, meskipun berulang kali dikecewakan oleh ia yang dihidupkan.
