Halaman

Senin, 16 Februari 2026

Mendidik dengan Hati, Mengabdi dengan Iman: Warisan Keteladanan Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani

Tulisan ini hadir dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani, BA., SH., sosok ulama dan pendidik yang tidak hanya berjasa dalam dunia pendidikan, tetapi juga menjadi figur inspiratif dalam menjaga nilai-nilai spiritual dan sosial. Di tengah kecenderungan pendidikan modern yang sering menitikberatkan aspek akademik semata, beliau menunjukkan bahwa pembentukan karakter, penguatan silaturahim, dan konsistensi dalam wirid/zikir merupakan fondasi utama dalam membangun generasi yang berkualitas. Keteladanan beliau menjadi refleksi penting bahwa keberhasilan pendidikan sejati terletak pada keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan kedekatan kepada Allah Swt.

Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani dikenal sebagai pejuang pendidikan yang membuktikan dedikasinya melalui pendirian Yayasan Lembaga Pendidikan Ma’arif (LPM) Walisongo Gempol Pasuruan serta perannya sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Almaarif Singosari Malang. Keberadaan beliau menjadi gambaran nyata bagaimana seorang pendidik mampu memberi kontribusi besar bagi masyarakat dengan menggabungkan semangat mencerdaskan bangsa dan komitmen terhadap ajaran agama.

Dalam pandangan beliau, pendidikan merupakan sarana utama pembentukan karakter. Proses belajar tidak boleh berhenti pada penguasaan materi pelajaran, melainkan harus menyentuh aspek moral dan spiritual peserta didik. Ilmu tanpa akhlak dianggap tidak memiliki makna, karena kecerdasan intelektual harus disertai integritas dan keimanan. Oleh sebab itu, beliau senantiasa menanamkan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah dan sesama manusia sebagai bagian dari pendidikan yang utuh.

Akhlak menjadi inti ajaran yang beliau tekankan. Setiap tindakan, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam ibadah, harus mencerminkan nilai-nilai kebaikan. Beliau mengajarkan bahwa akhlak adalah manifestasi iman dan menjadi indikator keberhasilan pendidikan. Dengan membiasakan sikap jujur, rendah hati, dan penuh tanggung jawab, beliau membentuk murid-muridnya agar memiliki kepribadian yang kokoh dalam menghadapi tantangan zaman.

Dalam praktik pendidikan, beliau menunjukkan pendekatan yang penuh kasih sayang. Beliau memahami bahwa setiap murid memiliki potensi yang berbeda, sehingga pendidik harus mampu menggali dan mengembangkannya dengan kelembutan dan perhatian. Melalui hubungan yang dekat dan penuh empati, beliau menciptakan suasana belajar yang kondusif. Pendekatan personal ini menjadikan proses pendidikan lebih bermakna dan membangun ikatan batin antara guru dan murid.

Selain pendidikan, beliau juga sangat menekankan pentingnya silaturahim sebagai penguat ikatan sosial. Salah satu kebiasaan yang menonjol adalah kesediaan beliau mengunjungi rumah murid-muridnya untuk memberi dukungan, bertukar pikiran, serta membimbing mereka. Silaturahim tidak hanya dipahami sebagai pertemuan fisik, tetapi sebagai cara mempererat hati, menumbuhkan empati, dan menjaga persaudaraan.

Silaturahim merupakan nilai penting lain yang dijunjung tinggi oleh beliau. Tidak hanya mengajar di ruang kelas, beliau aktif menjalin hubungan dengan murid dan masyarakat. Kebiasaan mengunjungi murid untuk berbagi nasihat dan pengalaman menunjukkan kepedulian yang mendalam terhadap perkembangan mereka. Silaturahim bagi beliau bukan sekadar interaksi sosial, melainkan cara mempererat hati dan menumbuhkan empati, serta sarana memperkuat persaudaraan dan membangun jaringan kebaikan.

Nilai silaturahim yang beliau praktikkan sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang terdapat dalam surat An-Nisa’ ayat 1:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”

Silaturahim yang dilakukan oleh beliau juga sejalan dengan sabda Rasulullah Saw.:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim." (HR. Al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan betapa besar manfaat silaturahim, baik dalam aspek kehidupan dunia maupun akhirat. Silaturahim membawa banyak keberkahan, mulai dari peningkatan rezeki hingga umur yang panjang. Beliau memaknai ajaran tersebut sebagai landasan etis dalam kehidupan sosial. Dengan menjaga hubungan yang harmonis, seseorang tidak hanya memperoleh manfaat sosial, tetapi juga keberkahan spiritual.

Selain silaturahim, beliau dikenal istiqamah dalam menjaga amalan hizb, wirid, atau zikir. Bagi beliau, wirid adalah sarana membersihkan hati dan memperkuat hubungan dengan Allah, serta zikir yang dilakukan secara konsisten diyakini mampu menenangkan jiwa serta memberi keteguhan dalam menghadapi ujian hidup. Beliau mengajarkan bahwa spiritualitas harus berjalan seiring dengan aktivitas duniawi agar hidup tetap terarah.

Konsistensi menjadi prinsip penting dalam berwirid dan berzikir. Beliau menekankan bahwa amalan yang sederhana sekalipun akan bernilai besar jika dilakukan secara istiqamah dan penuh keikhlasan. Hizb, wirid, dan zikir bukan sekadar rutinitas, melainkan benteng spiritual yang menjaga manusia dari kelalaian dan godaan dunia. Melalui kedekatan dengan Allah, seseorang akan memperoleh ketenangan batin dan kekuatan moral.

Melalui momen ini, Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani memberikan keteladanan bahwa silaturahim dan wirid/zikir adalah dua pilar kehidupan yang saling melengkapi. Silaturahim menjaga harmoni hubungan antarmanusia, sedangkan wirid/zikir memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta. Keteladanan beliau dalam memadukan pendidikan, akhlak, kepedulian sosial, dan spiritualitas menjadi inspirasi berharga bagi generasi muda untuk membangun kehidupan yang seimbang, berintegritas, dan penuh keberkahan. Lahul Fatihah . . .

Mendidik dengan Hati, Mengabdi dengan Iman: Warisan Keteladanan Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani

Tulisan ini hadir dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Almaghfurlah K.H. M. Asj...