Di antara amanah terbesar yang Allah titipkan
kepada orang tua adalah anak. Anak bisa menjadi penyejuk mata, sumber pahala,
dan penerus kebaikan keluarga. Namun, anak juga bisa menjadi ujian besar
apabila dibiarkan tumbuh tanpa pendidikan agama, tanpa adab, tanpa mengenal
Allah, dan tanpa arahan menuju ketaatan. Karena itu, ungkapan “Anak yang
tidak dididik agama, hakikatnya adalah musuh dalam selimut” bukanlah
kalimat untuk membenci anak, melainkan peringatan keras agar orang tua tidak
lalai terhadap keselamatan iman dan akhirat anak-anaknya. Cinta kepada anak
tidak cukup dibuktikan dengan memberi makan, pakaian, sekolah, dan fasilitas
duniawi, tetapi harus disempurnakan dengan membimbing mereka menuju jalan
Allah.
Allah Ta‘ala telah mengingatkan dalam
Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا
اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا
مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ
مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak
durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Perintah ini menunjukkan bahwa tanggung jawab
orang tua bukan hanya menjaga anak dari bahaya dunia, seperti kelaparan, sakit,
atau kemiskinan, tetapi juga menjaga mereka dari bahaya yang jauh lebih besar,
yaitu siksa neraka. Maka, pendidikan agama bukan pelengkap, melainkan kebutuhan
pokok bagi anak, sebagaimana makanan dibutuhkan oleh jasad.
Maksud dari ungkapan “musuh dalam selimut”
adalah bahwa anak yang tidak diarahkan kepada agama dapat menjadi sebab
kesusahan bagi orang tuanya, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, anak
yang jauh dari agama bisa menyakiti hati orang tua dengan akhlak buruk,
durhaka, tidak menghormati keluarga, terjerumus dalam pergaulan bebas, atau
hidup tanpa pedoman halal dan haram. Di akhirat, kelalaian orang tua dalam
mendidik agama anak dapat menjadi perkara yang dimintai pertanggungjawaban di
hadapan Allah. Anak bisa menuntut orang tuanya karena tidak dikenalkan kepada
shalat, Al-Qur’an, adab, tauhid, dan kewajiban agama. Inilah makna bahwa anak
dapat “menyeret” orang tuanya ke hadapan mahkamah Allah Ta‘ala.
Namun, peringatan ini harus dipahami dengan bijak. Anak tidak serta-merta menjadi buruk karena dirinya sendiri, sebab pada masa kecil ia sangat bergantung pada pendidikan, teladan, dan lingkungan yang dibangun oleh orang tuanya. Jika orang tua sibuk mengejar dunia tetapi lupa mengajarkan agama, maka anak akan tumbuh dengan ukuran keberhasilan yang pincang. Ia mungkin pintar, sukses, dan kaya, tetapi tidak mengenal kewajiban kepada Allah. Sebaliknya, anak yang dibekali agama akan memiliki kompas hidup: ia tahu kepada siapa harus menyembah, bagaimana menghormati orang tua, bagaimana menjaga diri, dan bagaimana menghadapi kehidupan dengan iman.
Dengan demikian, mendidik anak dengan agama adalah bentuk kasih sayang paling besar dari orang tua. Orang tua yang benar-benar mencintai anaknya tidak hanya memikirkan masa depan sekolah, pekerjaan, dan hartanya, tetapi juga memikirkan keselamatan akhiratnya. Ajarkan anak shalat, membaca Al-Qur’an, mencintai Rasulullah, menghormati guru, beradab kepada orang tua, serta mengenal halal dan haram sejak dini. Sebab, anak yang dididik dengan agama dapat menjadi penolong orang tuanya menuju surga, sedangkan anak yang dibiarkan tanpa agama dapat menjadi sebab penyesalan di akhirat. Maka, jangan hanya membesarkan tubuh anak, tetapi besarkan pula iman, akhlak, dan cintanya kepada Allah.
