Tulisan ini hadir dalam rangka memperingati
40 hari wafatnya Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani, BA., SH., sosok
ulama dan pendidik yang tidak hanya berjasa dalam dunia pendidikan, tetapi juga
menjadi figur inspiratif dalam menjaga nilai-nilai spiritual dan sosial. Di
tengah kecenderungan pendidikan modern yang sering menitikberatkan aspek
akademik semata, beliau menunjukkan bahwa pembentukan karakter, penguatan
silaturahim, dan konsistensi dalam wirid/zikir merupakan fondasi utama dalam
membangun generasi yang berkualitas. Keteladanan beliau menjadi refleksi
penting bahwa keberhasilan pendidikan sejati terletak pada keseimbangan antara
ilmu, akhlak, dan kedekatan kepada Allah Swt.
Almaghfurlah K.H.
M. Asj’ari Sarbani dikenal sebagai pejuang pendidikan yang membuktikan
dedikasinya melalui pendirian Yayasan Lembaga Pendidikan Ma’arif (LPM)
Walisongo Gempol Pasuruan serta perannya sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan
Pendidikan Almaarif Singosari Malang. Keberadaan beliau menjadi gambaran nyata
bagaimana seorang pendidik mampu memberi kontribusi besar bagi masyarakat
dengan menggabungkan semangat mencerdaskan bangsa dan komitmen terhadap ajaran
agama.
Dalam pandangan beliau, pendidikan merupakan
sarana utama pembentukan karakter. Proses belajar tidak boleh berhenti pada
penguasaan materi pelajaran, melainkan harus menyentuh aspek moral dan
spiritual peserta didik. Ilmu tanpa akhlak dianggap tidak memiliki makna,
karena kecerdasan intelektual harus disertai integritas dan keimanan. Oleh
sebab itu, beliau senantiasa menanamkan pentingnya menjaga hubungan dengan
Allah dan sesama manusia sebagai bagian dari pendidikan yang utuh.
Akhlak menjadi inti ajaran yang beliau
tekankan. Setiap tindakan, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam ibadah,
harus mencerminkan nilai-nilai kebaikan. Beliau mengajarkan bahwa akhlak adalah
manifestasi iman dan menjadi indikator keberhasilan pendidikan. Dengan
membiasakan sikap jujur, rendah hati, dan penuh tanggung jawab, beliau
membentuk murid-muridnya agar memiliki kepribadian yang kokoh dalam menghadapi
tantangan zaman.
Dalam praktik pendidikan, beliau menunjukkan
pendekatan yang penuh kasih sayang. Beliau memahami bahwa setiap murid memiliki
potensi yang berbeda, sehingga pendidik harus mampu menggali dan
mengembangkannya dengan kelembutan dan perhatian. Melalui hubungan yang dekat
dan penuh empati, beliau menciptakan suasana belajar yang kondusif. Pendekatan
personal ini menjadikan proses pendidikan lebih bermakna dan membangun ikatan
batin antara guru dan murid.
Selain pendidikan, beliau juga sangat
menekankan pentingnya silaturahim sebagai penguat ikatan sosial. Salah satu
kebiasaan yang menonjol adalah kesediaan beliau mengunjungi rumah
murid-muridnya untuk memberi dukungan, bertukar pikiran, serta membimbing
mereka. Silaturahim tidak hanya dipahami sebagai pertemuan fisik, tetapi
sebagai cara mempererat hati, menumbuhkan empati, dan menjaga persaudaraan.
Silaturahim merupakan nilai penting lain yang
dijunjung tinggi oleh beliau. Tidak hanya mengajar di ruang kelas, beliau aktif
menjalin hubungan dengan murid dan masyarakat. Kebiasaan mengunjungi murid
untuk berbagi nasihat dan pengalaman menunjukkan kepedulian yang mendalam terhadap
perkembangan mereka. Silaturahim bagi beliau bukan sekadar interaksi sosial,
melainkan cara mempererat hati dan menumbuhkan empati, serta sarana memperkuat
persaudaraan dan membangun jaringan kebaikan.
Nilai silaturahim yang beliau praktikkan
sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang terdapat dalam surat An-Nisa’ ayat 1:
يٰٓاَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ
وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ
وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
“Wahai
manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang
satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah
memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada
Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan
kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
Silaturahim yang dilakukan oleh beliau juga
sejalan dengan sabda Rasulullah Saw.:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ
وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa ingin diluaskan rezekinya
dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim."
(HR. Al-Bukhari)
Hadis ini menunjukkan betapa besar manfaat
silaturahim, baik dalam aspek kehidupan dunia maupun akhirat. Silaturahim
membawa banyak keberkahan, mulai dari peningkatan rezeki hingga umur yang
panjang. Beliau memaknai ajaran tersebut sebagai landasan etis dalam kehidupan
sosial. Dengan menjaga hubungan yang harmonis, seseorang tidak hanya memperoleh
manfaat sosial, tetapi juga keberkahan spiritual.
Selain silaturahim, beliau dikenal istiqamah
dalam menjaga amalan hizb, wirid, atau zikir. Bagi beliau, wirid adalah sarana
membersihkan hati dan memperkuat hubungan dengan Allah, serta zikir yang
dilakukan secara konsisten diyakini mampu menenangkan jiwa serta memberi
keteguhan dalam menghadapi ujian hidup. Beliau mengajarkan bahwa spiritualitas
harus berjalan seiring dengan aktivitas duniawi agar hidup tetap terarah.
Konsistensi menjadi prinsip penting dalam berwirid dan berzikir. Beliau menekankan bahwa amalan yang sederhana sekalipun akan bernilai besar jika dilakukan secara istiqamah dan penuh keikhlasan. Hizb, wirid, dan zikir bukan sekadar rutinitas, melainkan benteng spiritual yang menjaga manusia dari kelalaian dan godaan dunia. Melalui kedekatan dengan Allah, seseorang akan memperoleh ketenangan batin dan kekuatan moral.
Melalui momen ini, Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani memberikan keteladanan bahwa silaturahim dan wirid/zikir adalah dua pilar kehidupan yang saling melengkapi. Silaturahim menjaga harmoni hubungan antarmanusia, sedangkan wirid/zikir memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta. Keteladanan beliau dalam memadukan pendidikan, akhlak, kepedulian sosial, dan spiritualitas menjadi inspirasi berharga bagi generasi muda untuk membangun kehidupan yang seimbang, berintegritas, dan penuh keberkahan. Lahul Fatihah . . .
