Segala puji bagi
Allah Swt. yang telah melimpahkan nikmat terbesar kepada umat manusia dengan
diutusnya Nabi Muhammad Saw. sebagai pembawa cahaya risalah, penyempurna
akhlak, dan penuntun menuju jalan keselamatan. Di antara ungkapan ulama yang
menunjukkan kedalaman cinta dan penghormatan kepada Rasulullah Saw. adalah
perkataan Imam Muhammad bin Idris al-Syafi‘i dalam pendahuluan kitab al-Risālah. Kitab ini dikenal
sebagai salah satu karya paling penting dalam sejarah keilmuan Islam, khususnya
dalam bidang usul fikih, karena di dalamnya Imam al-Syafi‘i merumuskan
dasar-dasar memahami hubungan antara Al-Qur’an, Sunnah, dan proses penggalian
hukum Islam. Dalam pendahuluan kitab tersebut, beliau menegaskan bahwa berbagai
nikmat yang dirasakan manusia, baik dalam perkara agama maupun dunia, tidak
dapat dilepaskan dari keberkahan risalah Nabi Muhammad Saw. Beliau menyebut
Rasulullah Saw. sebagai sebab yang Allah jadikan untuk sampainya kebaikan,
petunjuk, dan keselamatan kepada umat manusia.
Perkataan Imam
al-Syafi‘i tersebut menggambarkan kedudukan Rasulullah Saw. sebagai perantara
sampainya rahmat Allah kepada makhluk-Nya. Maksud dari perkataan bahwa Nabi
Muhammad Saw. adalah “sebab” dari berbagai nikmat bukan berarti bahwa
Rasulullah memiliki kekuasaan independen dalam menciptakan manfaat atau menolak
bahaya, karena semua itu semata-mata berada dalam kekuasaan Allah Swt. Akan
tetapi, Allah menjadikan Rasulullah Saw. sebagai jalan yang mengantarkan
manusia kepada kebenaran. Melalui beliau, Allah menyampaikan wahyu, menjelaskan
hukum-hukum agama, menerangkan jalan ibadah, serta membimbing manusia agar
memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan demikian, mencintai dan
memuliakan Rasulullah Saw. merupakan bagian dari bentuk syukur kepada Allah
atas nikmat terbesar berupa hidayah dan risalah Islam.
Imam al-Syafi‘i
memahami bahwa nikmat terbesar yang datang melalui Rasulullah Saw. adalah
nikmat agama. Sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw., manusia berada dalam
berbagai bentuk penyimpangan keyakinan, ketidakadilan sosial, dan kebingungan
dalam memahami tujuan kehidupan. Melalui Rasulullah Saw., Allah memperkenalkan
manusia kepada tauhid, mengajarkan cara beribadah yang benar, menjelaskan halal
dan haram, serta membimbing hati manusia agar mengenal jalan menuju
keridaan-Nya. Rasulullah Saw. tidak hanya menyampaikan wahyu secara lisan,
tetapi juga menjadi teladan hidup yang menerjemahkan ajaran Islam dalam
perilaku nyata. Oleh sebab itu, Al-Qur’an menyatakan bahwa pada diri Rasulullah
terdapat teladan yang baik bagi orang-orang yang berharap kepada Allah dan hari
akhir:
لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ
وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh,
pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta
yang banyak mengingat Allah.” (QS.
al-Ahzab [33]: 21)
Selain memberikan
petunjuk dalam urusan agama, Rasulullah Saw. juga membawa kebaikan dalam
kehidupan dunia. Ajaran beliau membangun fondasi kehidupan yang penuh keadilan,
kasih sayang, amanah, dan tanggung jawab. Melalui sunnah beliau, manusia
diajarkan bagaimana membangun keluarga yang harmonis, melakukan perdagangan
secara jujur, menjaga hubungan sosial, menghormati hak sesama, serta menjauhi
tindakan yang merusak kehidupan manusia. Karena itu, perkataan Imam al-Syafi‘i
mencakup seluruh aspek kehidupan: agama yang menuntun hubungan manusia dengan
Allah dan dunia yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Risalah Nabi
Muhammad Saw. menjadi cahaya yang membimbing manusia agar berbagai kenikmatan
dunia tidak hanya dinikmati secara lahiriah, tetapi juga menjadi sarana
mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Ungkapan Imam al-Syafi‘i juga menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. memiliki peran besar dalam menjaga manusia dari kebinasaan. Beliau bukan hanya seorang pembawa kabar gembira, tetapi juga seorang pemberi peringatan. Rasulullah memperingatkan manusia dari jalan-jalan yang dapat membawa kehancuran, seperti kesyirikan, kezaliman, kesombongan, kebohongan, permusuhan, serta berbagai penyakit hati yang merusak hubungan manusia dengan Allah dan sesama. Nasihat dan peringatan Nabi merupakan bentuk kasih sayang beliau kepada umatnya, sebagaimana seorang yang menunjukkan jalan kepada musafir agar tidak terjatuh ke dalam bahaya. Setiap larangan yang beliau sampaikan bukanlah bentuk pembatasan terhadap kebebasan manusia, melainkan perlindungan agar manusia tidak terjerumus dalam kerugian dunia dan akhirat.
Dengan demikian, perkataan Imam al-Syafi‘i dalam al-Risālah mengajarkan kepada umat Islam bahwa seluruh kebaikan yang kita kenal dalam kehidupan ini memiliki hubungan erat dengan risalah Nabi Muhammad Saw. Beliau adalah manusia pilihan Allah yang melalui dirinya umat manusia mengenal jalan menuju keselamatan, memahami kehendak Allah, dan memperoleh pedoman kehidupan yang sempurna. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah Saw. tidak cukup hanya dengan pengakuan lisan, tetapi harus diwujudkan dengan mengikuti ajaran, menghidupkan sunnah, meneladani akhlak, dan memperbanyak rasa syukur kepada Allah atas nikmat kerasulan beliau. Semakin seseorang mengenal kedudukan Rasulullah Saw., semakin besar pula kecintaannya kepada beliau. Semoga Allah Swt. menjadikan kita termasuk umat yang mendapatkan syafaat Rasulullah Saw., teguh mengikuti petunjuknya, serta dikumpulkan bersama beliau di dalam rahmat dan keridaan Allah. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in. (Senin, 12 Rabi’ul Awal 1448 H)
