Ada kelelahan
yang tidak selalu lahir dari beratnya pekerjaan, tetapi dari keinginan agar
setiap pekerjaan diketahui, dihargai, dan mendapatkan pengakuan. Seseorang
mungkin telah melakukan banyak kebaikan, membantu sesama, mengabdikan waktunya
untuk kepentingan orang lain, bahkan mengorbankan sesuatu yang berharga. Namun,
ketika apa yang dilakukannya tidak memperoleh perhatian atau apresiasi
sebagaimana yang diharapkan, muncul perasaan kecewa, tersinggung, bahkan
keinginan untuk berhenti berbuat baik. Keadaan ini memperlihatkan betapa
mudahnya manusia menggantungkan kepuasan batinnya pada penilaian orang lain.
Tanpa disadari, sesuatu yang semula dilakukan atas dasar ketulusan dapat
bergeser menjadi usaha memperoleh pengakuan. Dalam konteks inilah, sebuah kalam
hikmah yang dinisbatkan kepada Al-Habib Umar bin Hafidz mengandung pesan yang
patut direnungkan: كُنْ عَمَلَكَ لِيًصَدِّقَهُ اللهُ، لاَ تَكُنْ
لِيُصَدِّقَهُ الْخَلْقُ yang
dimaknai “Jadikan amal perbuatanmu agar diakui Allah, dan jangan jadikan ia
sebagai alat untuk membuat manusia mengakuinya.” Ungkapan ini mengajak
manusia memeriksa kembali sesuatu yang sering luput dari perhatian ketika
melakukan kebaikan, yakni kepada siapa sesungguhnya amal tersebut ditujukan.
Sebab, tidak semua perbuatan yang terlihat baik di hadapan manusia berangkat
dari niat yang sepenuhnya bersih, sebagaimana tidak semua kebaikan yang luput
dari perhatian manusia kehilangan nilainya di sisi Allah.
Pesan utama
kalam hikmah tersebut terletak pada pentingnya keikhlasan sebagai landasan
dalam beramal, yakni menempatkan keridhaan Allah sebagai tujuan utama, bukan
menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran tertinggi keberhasilan suatu
kebaikan. Pengakuan manusia memiliki keterbatasan karena mereka hanya dapat
menilai sesuatu berdasarkan apa yang terlihat, terdengar, atau diketahui.
Sementara itu, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk niat yang
tersembunyi di balik tindakan seseorang. Oleh karena itu, amal yang tampak
besar belum tentu memiliki kedudukan yang sama dengan besarnya perhatian yang
diperolehnya, sedangkan kebaikan sederhana yang dilakukan dengan ketulusan
dapat memiliki nilai yang sangat berarti di sisi Allah. Prinsip ini sejalan
dengan firman Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 110, yang memerintahkan orang
yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya agar mengerjakan amal saleh dan
tidak mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada-Nya.
قُلْ اِنَّمَآ
اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ
بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ
“Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang
diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan
pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan
apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” Ayat tersebut menegaskan bahwa amal yang diharapkan
diterima Allah harus dilandasi niat yang benar dan dilaksanakan sesuai dengan
tuntunan agama. Dengan demikian, keikhlasan bukan sekadar persoalan
menyembunyikan perbuatan baik, melainkan menjaga agar orientasi batin tetap
tertuju kepada Allah, sekalipun perbuatan tersebut diketahui atau disaksikan banyak
orang. Manusia boleh memberikan penghargaan atas suatu amal, tetapi penghargaan
itu tidak seharusnya menjadi alasan utama mengapa amal tersebut dilakukan.
Dalam kehidupan
sehari-hari, menjaga kemurnian niat bukanlah perkara sederhana karena keinginan
untuk dihargai merupakan bagian dari kecenderungan manusia yang harus dikelola
dengan kesadaran. Seseorang yang mengajar mungkin berharap ilmunya bermanfaat,
tetapi pada saat yang sama dapat tergoda untuk mengukur keberhasilannya melalui
banyaknya pujian yang diterima. Orang yang bersedekah dapat terdorong oleh
kepedulian yang tulus, tetapi juga mungkin merasa perlu memastikan bahwa orang
lain mengetahui kemurahan hatinya. Demikian pula seseorang yang mengabdikan
diri dalam organisasi, lembaga pendidikan, atau kegiatan sosial dapat mengalami
pergeseran orientasi ketika pengakuan pribadi mulai dianggap lebih penting
daripada manfaat yang dihasilkan. Di sinilah muncul bahaya riya, yaitu
memperlihatkan amal dengan tujuan memperoleh pujian atau kedudukan di hadapan
manusia, serta sum'ah, yakni memperdengarkan atau menyebarluaskan amal untuk
mendapatkan pengakuan. Rasulullah Saw. telah memperingatkan bahaya
memperlihatkan dan memperdengarkan amal demi mendapatkan pujian. Namun, kalam
hikmah tersebut tidak berarti bahwa setiap kebaikan harus disembunyikan atau
bahwa menyampaikan hasil pekerjaan kepada publik selalu bertentangan dengan
keikhlasan. Ada kalanya suatu amal perlu diketahui untuk memberikan teladan,
mengajak orang lain berbuat baik, atau memenuhi tanggung jawab dan
transparansi. Perbedaannya terletak pada tujuan yang mendasarinya.
Memperlihatkan kebaikan agar orang lain memperoleh manfaat berbeda dengan
melakukan kebaikan agar diri sendiri memperoleh pujian.
Pada akhirnya,
kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Al-Habib Umar bin Hafidz tersebut
mengajarkan bahwa kematangan spiritual seseorang tidak semata-mata terlihat
dari banyaknya amal yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga niat
ketika amal itu memperoleh pujian, menghadapi kritik, atau bahkan tidak
mendapatkan perhatian sama sekali. Keikhlasan dapat dilatih dengan membiasakan
diri mengajukan pertanyaan sederhana sebelum dan sesudah melakukan kebaikan:
apakah perbuatan ini tetap akan saya lakukan apabila tidak seorang pun
mengetahuinya? Apakah saya masih bersedia melanjutkan pengabdian apabila orang
lain memperoleh penghargaan atas pekerjaan yang telah saya lakukan? Apakah
kritik akan saya terima sebagai kesempatan memperbaiki diri, atau justru saya
anggap sebagai ancaman terhadap citra pribadi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut
tidak dimaksudkan untuk menilai kesucian hati orang lain, melainkan sebagai
sarana muhasabah agar seseorang tidak kehilangan arah dalam perjalanan amalnya.
Allah menggambarkan ketulusan orang-orang yang berbuat baik dalam surat
Al-Insan ayat 9, yakni mereka memberikan makanan karena mengharapkan keridaan
Allah tanpa mengharapkan balasan maupun ucapan terima kasih.
اِنَّمَا
نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا
