Dalam
perjalanan hidup, manusia tidak selalu berhadapan dengan pilihan antara senang
dan susah. Ada kalanya kita harus menerima sesuatu yang sama sekali tidak kita
inginkan, tetapi pada kesempatan lain kita justru harus menahan diri terhadap
sesuatu yang sangat kita dambakan. Di sinilah kesabaran menemukan maknanya yang
lebih dalam. Ungkapan, “Kesabaran itu ada dua macam: sabar atas sesuatu yang
tidak kau inginkan dan sabar atas sesuatu yang kau inginkan,” mengajarkan
bahwa kesabaran bukan sekadar kemampuan bertahan ketika hidup terasa berat.
Kesabaran juga merupakan kemampuan mengendalikan keinginan, menata hati, dan
tetap berjalan pada jalan yang benar meskipun sesuatu yang menarik berada di
hadapan kita. Dengan kata lain, kesabaran adalah kekuatan batin yang menjaga
manusia agar tidak dikendalikan oleh keadaan maupun oleh keinginannya sendiri.
Sabar atas
sesuatu yang tidak kita inginkan adalah
kemampuan menerima kenyataan yang berbeda dari harapan tanpa kehilangan
keimanan, ketenangan, dan semangat untuk berbuat baik. Bentuknya dapat berupa
kesabaran menghadapi kegagalan, kehilangan, penolakan, kesulitan ekonomi,
masalah pekerjaan, sakit, perpisahan, maupun berbagai ujian kehidupan lainnya.
Secara manusiawi, seseorang dapat merasa sedih, kecewa, bahkan menangis ketika
menghadapi keadaan tersebut. Kesabaran bukan berarti tidak boleh merasakan
kesedihan, melainkan tidak membiarkan kesedihan berubah menjadi keputusasaan.
Orang yang sabar tetap berusaha, berdoa, melakukan evaluasi, dan percaya bahwa
tidak semua keadaan yang tidak menyenangkan berakhir dengan keburukan. Sering
kali sebuah kesulitan justru menjadi jalan bagi seseorang untuk tumbuh lebih
kuat, lebih dewasa, dan lebih dekat kepada Allah.
Sementara itu, sabar
atas sesuatu yang kita inginkan sering kali lebih sulit karena berhubungan
dengan pengendalian hawa nafsu dan kemampuan menunda kesenangan. Tidak semua
yang kita inginkan boleh diperoleh dengan cara apa pun, dan tidak semua yang
menyenangkan membawa kebaikan bagi kehidupan kita. Seseorang mungkin sangat
menginginkan harta, jabatan, penghargaan, cinta, kenikmatan, atau keberhasilan,
tetapi ia tetap harus mempertimbangkan apakah cara untuk mendapatkannya benar
dan diridhai Allah. Kesabaran pada keadaan ini berarti mampu berkata, “tidak,”
ketika keinginan mendorong kepada hal yang salah, serta mampu menunggu ketika
waktunya belum tepat. Orang yang memiliki kesabaran seperti ini tidak
menjadikan keinginannya sebagai penguasa atas dirinya. Ia mampu menikmati
sesuatu tanpa diperbudak olehnya dan mampu meninggalkan sesuatu ketika hal itu
dapat menjauhkannya dari nilai-nilai kebaikan.
Kedua bentuk kesabaran tersebut menunjukkan bahwa kehidupan memerlukan keseimbangan antara keteguhan menerima kenyataan dan kemampuan mengendalikan keinginan. Ketika seseorang memperoleh apa yang tidak ia inginkan, ia membutuhkan kesabaran agar tidak tenggelam dalam keluhan. Ketika ia berhadapan dengan sesuatu yang sangat diinginkan, ia membutuhkan kesabaran agar tidak tergesa-gesa, berlebihan, atau melanggar batas. Karena itu, kesabaran sesungguhnya bukan sikap pasif. Kesabaran adalah tindakan sadar untuk tetap memilih respons yang benar meskipun hati sedang terluka ataupun sedang tergoda. Dalam perspektif spiritual, kesabaran juga mencerminkan keyakinan bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas, sedangkan Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Apa yang hari ini terasa sebagai kehilangan dapat menjadi perlindungan, sedangkan apa yang belum kita miliki mungkin sedang ditunda hingga waktu yang lebih baik.
Dengan demikian, orang yang belajar bersabar dalam dua keadaan tersebut akan memiliki jiwa yang lebih tenang dan matang. Ia tidak mudah hancur ketika kehilangan sesuatu, tetapi juga tidak kehilangan kendali ketika memperoleh kesempatan mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Ia memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang mendapatkan semua yang kita inginkan, melainkan tentang menjadi pribadi yang tetap benar dalam menghadapi apa pun yang diberikan kehidupan. Kesabaran mengajarkan kita untuk berkata, “Aku akan tetap bertahan ketika keadaan tidak sesuai harapanku, dan aku akan tetap menjaga diriku ketika keinginanku begitu kuat.” Di situlah letak kemuliaan kesabaran: bukan karena seseorang tidak memiliki luka atau keinginan, tetapi karena ia mampu menempatkan keduanya di bawah kendali iman, akal, dan kebijaksanaan. Sebab terkadang kita diuji melalui sesuatu yang tidak kita inginkan, dan pada waktu yang lain kita justru diuji melalui sesuatu yang paling kita inginkan.
