Di tengah arus informasi yang
deras dan serba cepat, kemampuan manusia untuk menyerap, mengolah, dan
mengekspresikan gagasan menjadi kunci utama kemajuan peradaban. Dalam konteks
inilah ucapan Anies Rasyid Baswedan, “Membaca itu baik, dan menulis lebih
baik”, menjadi refleksi yang dalam sekaligus relevan. Pernyataan ini bukan
sekadar slogan literasi, melainkan ajakan untuk membangun kebiasaan intelektual
yang utuh: tidak berhenti pada konsumsi pengetahuan, tetapi berlanjut pada
produksi gagasan yang bermakna.
Membaca disebut “baik” karena
melalui membaca seseorang membuka jendela dunia. Aktivitas ini memperluas
wawasan, memperkaya kosakata, serta melatih kemampuan berpikir kritis. Dengan
membaca, individu dapat memahami berbagai sudut pandang, sejarah pemikiran,
serta perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya. Membaca juga membentuk dasar
intelektual yang kuat, karena seseorang tidak mungkin berpikir mendalam tanpa
terlebih dahulu memiliki bahan pemikiran yang cukup.
Namun, Anies menekankan bahwa
menulis adalah “lebih baik” karena menulis merupakan tahap lanjut dari proses
berpikir. Saat menulis, seseorang dipaksa untuk mengolah informasi, menyusun
logika, dan merumuskan gagasan secara sistematis. Menulis bukan hanya
menyampaikan apa yang telah dibaca, tetapi juga menafsirkan, mengkritisi, dan
bahkan melahirkan ide baru. Dengan demikian, menulis adalah bentuk aktualisasi
intelektual yang lebih aktif dibandingkan membaca yang cenderung bersifat
reseptif.
Selain itu, menulis memiliki dampak sosial yang lebih luas. Gagasan yang ditulis dapat dibaca, dipelajari, dan dimanfaatkan oleh orang lain lintas ruang dan waktu. Jika membaca memperkaya diri sendiri, maka menulis berpotensi memperkaya masyarakat. Dalam dunia pendidikan, kebiasaan menulis melatih peserta didik untuk bertanggung jawab atas pikirannya sendiri serta berani menyumbangkan pandangan secara rasional dan terstruktur.
Dengan demikian, ucapan “Membaca itu baik, dan menulis lebih baik” dapat dipahami sebagai ajakan untuk membangun budaya literasi yang lengkap dan berkelanjutan. Membaca menjadi fondasi, sedangkan menulis adalah puncak dari proses belajar. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Melalui membaca kita belajar memahami dunia, dan melalui menulis kita ikut berperan membentuknya.
