Kalam hikmah “Sedekah yang
paling utama adalah mengajari orang yang bodoh” mengandung pesan mendalam
tentang keutamaan ilmu dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan manusia. Sejak
dahulu, para ulama dan orang bijak menempatkan ilmu sebagai cahaya yang mampu
mengubah kebodohan menjadi pemahaman, serta kelemahan menjadi kekuatan. Kalam
hikmah ini mengajak kita untuk memaknai sedekah tidak hanya sebatas pemberian
materi, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian intelektual dan moral yang
berdampak jangka panjang bagi individu maupun masyarakat.
Pada umumnya, sedekah dipahami
sebagai pemberian harta, makanan, atau bantuan fisik lainnya. Namun, kalam
hikmah ini memperluas makna sedekah ke ranah nonmateri, khususnya pemberian
ilmu. Mengajarkan orang yang belum tahu merupakan sedekah yang istimewa karena
ilmu tidak akan habis ketika dibagikan. Justru, semakin ilmu itu diajarkan,
semakin bertambah keberkahan dan manfaatnya, baik bagi pemberi maupun penerima.
Keutamaan mengajarkan orang
yang bodoh terletak pada dampak transformasinya. Dengan ilmu, seseorang mampu
membedakan yang benar dan yang salah, mengambil keputusan yang bijak, serta
meningkatkan kualitas hidupnya. Satu pengetahuan yang diajarkan dapat membuka
pintu perubahan besar, tidak hanya bagi individu tersebut, tetapi juga bagi
keluarga dan lingkungannya. Inilah sebabnya mengapa sedekah ilmu dinilai lebih
utama dibandingkan sedekah yang hanya bersifat sementara.
Selain itu, kalam hikmah ini menanamkan nilai tanggung jawab sosial bagi orang yang berilmu. Ilmu bukanlah untuk disimpan demi kebanggaan pribadi, melainkan amanah yang harus disampaikan. Mengabaikan orang yang membutuhkan ilmu sama halnya dengan membiarkan kebodohan terus berkembang. Oleh karena itu, mengajar menjadi bentuk kepedulian, empati, dan ibadah yang mencerminkan keluhuran akhlak seorang berilmu.
Dengan demikian, kalam hikmah tersebut mengajarkan bahwa sedekah terbaik adalah sedekah yang memberdayakan. Mengajarkan orang yang bodoh berarti membantu mereka berdiri mandiri, berpikir kritis, dan menjalani hidup dengan lebih bermakna. Sedekah ilmu tidak hanya mengangkat derajat penerimanya, tetapi juga memuliakan pemberinya. Dengan demikian, berbagi ilmu menjadi investasi kebaikan yang pahalanya terus mengalir dan manfaatnya melampaui batas waktu.
