Halaman

Senin, 02 November 2026

Jangan Kehilangan Hari Ini karena Mencemaskan Hari Esok

Ada satu bentuk kelelahan yang sering kali tidak disadari manusia, yaitu kelelahan akibat memikirkan peristiwa yang bahkan belum pernah terjadi. Pikiran terus bergerak melampaui kenyataan, membayangkan kegagalan yang belum dialami, kehilangan yang belum datang, atau kesulitan yang belum tentu menjadi bagian dari kehidupannya. Akibatnya, seseorang dapat kehilangan ketenangan hari ini hanya karena terlalu sibuk mencemaskan hari esok. Dalam keadaan demikian, kalam hikmah yang dinisbatkan kepada KH. Baha'uddin Nursalim (Gus Baha') “Jangan terlalu sibuk memikirkan apa yang belum tentu terjadi. Nikmati saja proses hidup ini, perbaiki diri, dan dekatkan diri kepada Allah. Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan kebahagiaan dunia, tapi ridha-Nya” mengandung pesan spiritual yang mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya menempatkan kekhawatiran, harapan, dan tujuan hidup secara proporsional. Ungkapan ini mengajak manusia menyadari bahwa tidak semua kemungkinan buruk harus diperlakukan seolah-olah pasti terjadi. Ada banyak hal yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengetahui dan mengendalikannya. Karena itu, ketenangan bukan diperoleh dengan memastikan bahwa masa depan akan selalu berjalan sesuai keinginan, melainkan dengan memahami batas kemampuan diri serta mempercayakan perkara yang belum diketahui kepada kebijaksanaan Allah Swt.

Dalam perspektif Islam, terlalu mencemaskan masa depan dapat mencerminkan ketidakseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Manusia memang diperintahkan untuk merencanakan kehidupannya, bekerja dengan sungguh-sungguh, mengantisipasi risiko, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya. Namun, manusia tidak pernah diberi kemampuan untuk memastikan seluruh hasil dari usaha tersebut. Allah Swt. berfirman dalam surat At-Talaq ayat 3, yang menegaskan bahwa barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” Ayat ini mengajarkan bahwa tawakal bukanlah sikap menyerah tanpa usaha, melainkan kesadaran bahwa setelah segala upaya terbaik dilakukan, hasil akhirnya tetap berada dalam ketetapan Allah Swt. Oleh sebab itu, memikirkan masa depan merupakan bagian dari tanggung jawab, tetapi membiarkan ketakutan terhadap masa depan menguasai seluruh kehidupan justru dapat menghilangkan ketenteraman batin. Seseorang yang memahami makna tawakal akan tetap bekerja tanpa diperbudak oleh kekhawatiran, tetap berharap tanpa memaksakan kehendak, dan tetap berusaha meskipun mengetahui bahwa kenyataan tidak selalu mengikuti rencananya. Ia menyadari bahwa tugas manusia adalah menyempurnakan ikhtiar, sedangkan menentukan hasil bukanlah kewenangannya.

Pesan untuk menikmati proses kehidupan, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. juga mengandung pemahaman bahwa nilai kehidupan tidak semata-mata ditentukan oleh keberhasilan mencapai tujuan tertentu. Tidak sedikit manusia yang menunda kebahagiaannya karena merasa belum cukup berhasil, belum memiliki kedudukan yang diinginkan, atau belum memperoleh sesuatu yang dianggap dapat menyempurnakan kehidupannya. Padahal, ketika satu keinginan terpenuhi, sering kali muncul keinginan baru yang membuat dirinya kembali merasa belum puas. Dalam konteks inilah nasihat tersebut mengarahkan manusia agar tidak menjadikan pencapaian duniawi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup. Menikmati proses bukan berarti berhenti memiliki cita-cita atau mengabaikan tanggung jawab, melainkan belajar menghargai setiap kesempatan untuk bertumbuh, mengambil pelajaran dari kesulitan, serta mensyukuri nikmat yang telah tersedia. Sementara itu, memperbaiki diri berarti berani mengevaluasi kesalahan, membersihkan niat, menjaga hubungan dengan sesama, dan meningkatkan kualitas ibadah secara berkelanjutan. Kedekatan kepada Allah tidak cukup diwujudkan melalui banyaknya aktivitas ritual, tetapi juga harus tercermin dalam kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, dan kesediaan menerima kenyataan tanpa kehilangan semangat untuk berusaha. Sebab, kehidupan yang bermakna bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang berhasil mencapai keinginannya, melainkan juga tentang menjadi pribadi seperti apa dirinya selama berjuang mencapainya.

Puncak dari kalam hikmah tersebut terletak pada penegasan bahwa tujuan tertinggi kehidupan seorang mukmin bukanlah sekadar memperoleh kebahagiaan dunia, melainkan mengharapkan ridha Allah. Pernyataan ini tidak berarti bahwa Islam melarang manusia menikmati kebahagiaan, kesejahteraan, keberhasilan, ataupun kenyamanan hidup. Semua itu dapat menjadi nikmat yang patut disyukuri selama diperoleh melalui jalan yang benar dan tidak menjauhkan manusia dari kewajibannya kepada Allah. Akan tetapi, kebahagiaan dunia bersifat berubah, sedangkan ridha Allah merupakan tujuan spiritual yang melampaui keadaan yang silih berganti. Seseorang mungkin memiliki harta berlimpah, kedudukan terhormat, dan berbagai pencapaian yang membanggakan, tetapi semua itu belum tentu menghadirkan kedamaian apabila hatinya terus dikuasai ketakutan, keserakahan, dan ketidakpuasan. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana dapat merasakan ketenteraman karena memahami bahwa nilai dirinya di hadapan Allah tidak ditentukan oleh kemewahan atau pengakuan manusia. Dalam surat At-Taubah ayat 72, Allah Swt. menegaskan bahwa keridhaan-Nya merupakan karunia yang lebih besar daripada berbagai kenikmatan yang dijanjikan kepada orang-orang beriman.

وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗوَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ࣖ

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, surga-surga yang sungai-sungai mengalir di bawahnya, mereka kekal di dalamnya, dan tempat-tempat yang baik di surga ‘Adn. Ridha Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” Dengan demikian, pesan utama nasihat ini adalah mengarahkan manusia agar menjalani kehidupan dengan kesungguhan tanpa kehilangan ketenangan, memiliki harapan tanpa diperbudak keinginan, serta menerima ketentuan Allah tanpa berhenti memperbaiki diri. Pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah ketika seluruh keinginan kita berhasil menjadi kenyataan, melainkan ketika setiap usaha, keberhasilan, kegagalan, dan keadaan yang kita alami menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah Swt. Sebab, hidup yang diridhai Allah jauh lebih bernilai daripada kehidupan yang sekadar berhasil memenuhi semua keinginan manusia.

Jangan Kehilangan Hari Ini karena Mencemaskan Hari Esok

Ada satu bentuk kelelahan yang sering kali tidak disadari manusia, yaitu kelelahan akibat memikirkan peristiwa yang bahkan belum pernah te...