Ada satu bentuk
kelelahan yang sering kali tidak disadari manusia, yaitu kelelahan akibat
memikirkan peristiwa yang bahkan belum pernah terjadi. Pikiran terus bergerak
melampaui kenyataan, membayangkan kegagalan yang belum dialami, kehilangan yang
belum datang, atau kesulitan yang belum tentu menjadi bagian dari kehidupannya.
Akibatnya, seseorang dapat kehilangan ketenangan hari ini hanya karena terlalu sibuk
mencemaskan hari esok. Dalam keadaan demikian, kalam hikmah yang dinisbatkan
kepada KH. Baha'uddin Nursalim (Gus Baha') “Jangan terlalu sibuk memikirkan
apa yang belum tentu terjadi. Nikmati saja proses hidup ini, perbaiki diri, dan
dekatkan diri kepada Allah. Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan
kebahagiaan dunia, tapi ridha-Nya” mengandung pesan spiritual yang mendalam
tentang bagaimana manusia seharusnya menempatkan kekhawatiran, harapan, dan
tujuan hidup secara proporsional. Ungkapan ini mengajak manusia menyadari bahwa
tidak semua kemungkinan buruk harus diperlakukan seolah-olah pasti terjadi. Ada
banyak hal yang berada di luar kemampuan manusia untuk mengetahui dan
mengendalikannya. Karena itu, ketenangan bukan diperoleh dengan memastikan bahwa
masa depan akan selalu berjalan sesuai keinginan, melainkan dengan memahami
batas kemampuan diri serta mempercayakan perkara yang belum diketahui kepada
kebijaksanaan Allah Swt.
Dalam perspektif
Islam, terlalu mencemaskan masa depan dapat mencerminkan ketidakseimbangan
antara ikhtiar dan tawakal. Manusia memang diperintahkan untuk merencanakan
kehidupannya, bekerja dengan sungguh-sungguh, mengantisipasi risiko, dan
bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya. Namun, manusia tidak
pernah diberi kemampuan untuk memastikan seluruh hasil dari usaha tersebut.
Allah Swt. berfirman dalam surat At-Talaq ayat 3, yang menegaskan bahwa barang
siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.
وَّيَرْزُقْهُ
مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ
اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“dan
menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang
bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.
Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat
ketentuan bagi setiap sesuatu.” Ayat
ini mengajarkan bahwa tawakal bukanlah sikap menyerah tanpa usaha, melainkan
kesadaran bahwa setelah segala upaya terbaik dilakukan, hasil akhirnya tetap
berada dalam ketetapan Allah Swt. Oleh sebab itu, memikirkan masa depan
merupakan bagian dari tanggung jawab, tetapi membiarkan ketakutan terhadap masa
depan menguasai seluruh kehidupan justru dapat menghilangkan ketenteraman
batin. Seseorang yang memahami makna tawakal akan tetap bekerja tanpa
diperbudak oleh kekhawatiran, tetap berharap tanpa memaksakan kehendak, dan
tetap berusaha meskipun mengetahui bahwa kenyataan tidak selalu mengikuti
rencananya. Ia menyadari bahwa tugas manusia adalah menyempurnakan ikhtiar,
sedangkan menentukan hasil bukanlah kewenangannya.
Pesan untuk
menikmati proses kehidupan, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah
Swt. juga mengandung pemahaman bahwa nilai kehidupan tidak semata-mata
ditentukan oleh keberhasilan mencapai tujuan tertentu. Tidak sedikit manusia
yang menunda kebahagiaannya karena merasa belum cukup berhasil, belum memiliki
kedudukan yang diinginkan, atau belum memperoleh sesuatu yang dianggap dapat
menyempurnakan kehidupannya. Padahal, ketika satu keinginan terpenuhi, sering
kali muncul keinginan baru yang membuat dirinya kembali merasa belum puas.
Dalam konteks inilah nasihat tersebut mengarahkan manusia agar tidak menjadikan
pencapaian duniawi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup. Menikmati
proses bukan berarti berhenti memiliki cita-cita atau mengabaikan tanggung
jawab, melainkan belajar menghargai setiap kesempatan untuk bertumbuh,
mengambil pelajaran dari kesulitan, serta mensyukuri nikmat yang telah
tersedia. Sementara itu, memperbaiki diri berarti berani mengevaluasi
kesalahan, membersihkan niat, menjaga hubungan dengan sesama, dan meningkatkan
kualitas ibadah secara berkelanjutan. Kedekatan kepada Allah tidak cukup
diwujudkan melalui banyaknya aktivitas ritual, tetapi juga harus tercermin
dalam kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, dan kesediaan menerima kenyataan
tanpa kehilangan semangat untuk berusaha. Sebab, kehidupan yang bermakna bukan
hanya tentang seberapa jauh seseorang berhasil mencapai keinginannya, melainkan
juga tentang menjadi pribadi seperti apa dirinya selama berjuang mencapainya.
Puncak dari kalam
hikmah tersebut terletak pada penegasan bahwa tujuan tertinggi kehidupan
seorang mukmin bukanlah sekadar memperoleh kebahagiaan dunia, melainkan
mengharapkan ridha Allah. Pernyataan ini tidak berarti bahwa Islam melarang
manusia menikmati kebahagiaan, kesejahteraan, keberhasilan, ataupun kenyamanan
hidup. Semua itu dapat menjadi nikmat yang patut disyukuri selama diperoleh
melalui jalan yang benar dan tidak menjauhkan manusia dari kewajibannya kepada
Allah. Akan tetapi, kebahagiaan dunia bersifat berubah, sedangkan ridha Allah
merupakan tujuan spiritual yang melampaui keadaan yang silih berganti.
Seseorang mungkin memiliki harta berlimpah, kedudukan terhormat, dan berbagai
pencapaian yang membanggakan, tetapi semua itu belum tentu menghadirkan
kedamaian apabila hatinya terus dikuasai ketakutan, keserakahan, dan
ketidakpuasan. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana dapat merasakan ketenteraman
karena memahami bahwa nilai dirinya di hadapan Allah tidak ditentukan oleh
kemewahan atau pengakuan manusia. Dalam surat At-Taubah ayat 72, Allah Swt.
menegaskan bahwa keridhaan-Nya merupakan karunia yang lebih besar daripada
berbagai kenikmatan yang dijanjikan kepada orang-orang beriman.
وَعَدَ
اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ
خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗوَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ
اَكْبَرُ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ࣖ
