Di tengah kehidupan yang penuh
hiruk-pikuk, kalam hikmah Gus Abdul Qoyyum Manshur ini terasa sangat menyentuh:
“Membaca Al-Qur’an itu أَعُوْذُ بِاللّٰهِ
مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, sebab setan itu sangat benci dengan orang
yang baca Al-Qur’an. Tapi yang paling dibenci setan itu adalah orang yang
akhlaknya Qur’an.” Kalam hikmah ini mengajak kita memahami bahwa
Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca dengan suara yang indah, tetapi juga untuk
dihidupkan dalam perilaku sehari-hari. Keindahan membaca Al-Qur’an akan menjadi
lebih sempurna apabila ayat-ayatnya memengaruhi cara berpikir, berbicara,
bersikap, dan memperlakukan sesama.
Kalimat أَعُوْذُ بِاللّٰهِ
مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ berarti “Aku berlindung
kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” Bacaan ini disebut ta‘awudz,
yaitu permohonan perlindungan kepada Allah sebelum membaca Al-Qur’an. Allah
Swt. berfirman dalam surat An-Nahl ayat 98:
فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
“Apabila engkau membaca Al-Qur’an,
mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Ayat ini
menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang perlu dimulai dengan
hati yang bersih, rendah diri, dan memohon penjagaan Allah.
Setan sangat tidak menyukai
orang yang membaca Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah petunjuk, cahaya, dan obat
bagi hati. Ketika seseorang membaca Al-Qur’an, hatinya diingatkan kepada Allah,
pikirannya diarahkan kepada kebenaran, dan jiwanya diajak menjauh dari
keburukan. Bacaan Al-Qur’an dapat melembutkan hati yang keras, menenangkan jiwa
yang gelisah, serta mengingatkan manusia agar tidak mengikuti hawa nafsu.
Karena itulah, setan berusaha mengganggu manusia agar malas membaca Al-Qur’an,
tidak memahami maknanya, atau membaca tanpa menghadirkan hati.
Namun, bagian paling dalam dari
kalam hikmah tersebut adalah pernyataan bahwa “yang paling dibenci setan adalah
orang yang akhlaknya Qur’an”. Maksudnya, membaca Al-Qur’an memang mulia, tetapi
menjadikan Al-Qur’an sebagai akhlak jauh lebih kuat pengaruhnya. Orang yang
akhlaknya Qur’an tidak hanya melafalkan ayat, tetapi juga menampilkan
nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan: jujur, sabar, pemaaf, rendah hati,
menjaga lisan, menghormati orang tua, menyayangi sesama, dan menjauhi
kezaliman. Ia menjadi bukti hidup bahwa Al-Qur’an benar-benar membentuk pribadi
yang indah.
Hal ini sejalan dengan hadis
tentang akhlak Rasulullah saw. Ketika Sayyidah Aisyah r.a. ditanya tentang
akhlak Nabi Muhammad Saw., beliau menjawab:
فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ
“Sesungguhnya akhlak Nabi Allah Saw. adalah Al-Qur’an.” Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. adalah teladan sempurna dalam mengamalkan isi Al-Qur’an. Beliau bukan hanya membaca wahyu, tetapi menjadi cerminan nyata dari ajaran wahyu itu sendiri dalam kasih sayang, kejujuran, kesabaran, kelembutan, dan keadilan.
Dengan demikian, kalam hikmah ini mengingatkan kita agar tidak berhenti pada bacaan, tetapi melanjutkannya pada pengamalan. Membaca Al-Qur’an seharusnya membuat lisan lebih terjaga, hati lebih lembut, sikap lebih santun, dan hidup lebih dekat kepada Allah. Orang yang benar-benar dekat dengan Al-Qur’an akan berusaha menjadikan dirinya sumber kebaikan bagi orang lain, bukan sumber luka dan keburukan. Maka, sebaik-baik pembaca Al-Qur’an adalah mereka yang ayat-ayatnya tidak hanya terdengar dari mulutnya, tetapi juga tampak dalam akhlak, keputusan, dan kehidupannya sehari-hari.
