Ada perempuan yang bahkan
sebelum matahari terbit telah memikirkan begitu banyak hal: makanan yang harus
disiapkan, anak-anak yang membutuhkan perhatian, pekerjaan yang menunggu
diselesaikan, dan berbagai urusan keluarga yang tidak boleh terabaikan. Ketika
malam tiba, tubuhnya mungkin telah beristirahat, tetapi pikirannya masih sibuk
mengingat pekerjaan yang belum selesai dan harapan orang lain yang belum
terpenuhi. Di tengah kehidupan modern, perempuan seolah dituntut memiliki
kemampuan tanpa batas. Ia harus menjadi istri yang menyenangkan, ibu yang penuh
perhatian, sekaligus pribadi yang selalu sabar, cantik, sehat, dan bahagia.
Ironisnya, ketika perempuan berhasil menjalankan semua peran tersebut,
keberhasilannya sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Namun, ketika salah
satu peran tidak berjalan sebagaimana diharapkan, kritik dan penilaian dengan
mudah diarahkan kepadanya. Di sinilah muncul persoalan yang patut direnungkan:
apakah seluruh tuntutan itu benar-benar berasal dari ajaran agama, atau
sebagian justru merupakan harapan manusia yang tanpa disadari telah dibebankan
secara berlebihan kepada perempuan?
Dalam kehidupan masyarakat,
perempuan sering dihadapkan pada berbagai ukuran tentang bagaimana seharusnya
perempuan yang baik menjalani kehidupannya. Istri yang baik dianggap tidak
boleh mengecewakan suami, dan ibu yang baik dianggap harus selalu berhasil
mendidik anak. Bahkan, perempuan yang memilih berfokus pada keluarga terkadang
dianggap kurang produktif, sementara perempuan yang mengejar pendidikan dan
karier justru dapat dinilai mengabaikan tanggung jawab domestiknya. Akibatnya,
apa pun pilihan hidupnya, perempuan tetap menghadapi penilaian. Padahal, Islam
tidak menjadikan kesempurnaan dalam memenuhi seluruh harapan sosial sebagai
ukuran utama kemuliaan seseorang. Allah Swt. dalam surat Al-Ahzab [33]: 35
menyebut laki-laki dan perempuan secara beriringan dalam berbagai sifat
keimanan, ketaatan, kejujuran, kesabaran, dan ketakwaan, serta menjanjikan
ampunan dan pahala yang besar bagi mereka.
اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ
وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰبِرٰتِ
وَالْخٰشِعِيْنَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصَّاۤىِٕمِيْنَ
وَالصّٰۤىِٕمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ
كَثِيْرًا وَّالذّٰكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
“Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat,
laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar,
laki-laki dan perempuan penyabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk,
laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa,
laki-laki dan perempuan yang memelihara kemaluannya, laki-laki dan perempuan
yang banyak menyebut (nama) Allah, untuk mereka Allah telah menyiapkan ampunan
dan pahala yang besar.” Ayat
ini menegaskan bahwa nilai seorang perempuan di hadapan Allah tidak ditentukan
oleh banyaknya peran sosial yang berhasil ia jalankan, melainkan oleh kualitas
iman, ketakwaan, dan amal kebaikannya. Dengan demikian, menjadi perempuan
salehah tidak sama dengan menjadi perempuan yang tidak pernah melakukan
kesalahan atau tidak pernah mengalami keterbatasan.
Salah satu tekanan yang cukup
besar dalam kehidupan perempuan muncul dari pandangan bahwa keberhasilan rumah
tangga terutama bergantung pada kemampuan istri menjaga keharmonisan keluarga.
Seorang istri sering diharapkan mampu memahami keadaan suami, mengendalikan
emosi, melayani kebutuhan keluarga, serta menjaga suasana rumah tetap
menyenangkan, bahkan ketika dirinya sedang menghadapi persoalan. Tentu saja,
menjaga keharmonisan rumah tangga merupakan bagian penting dari tanggung jawab
perkawinan. Namun, Islam tidak menempatkan ketenteraman keluarga sebagai
kewajiban sepihak yang hanya harus diwujudkan oleh perempuan. Allah Swt.
berfirman dalam surat Ar-Rum [30]: 21 bahwa Dia menciptakan pasangan agar
manusia memperoleh ketenteraman dan menjadikan di antara mereka cinta serta
kasih sayang.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا
اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ
لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Di
antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan
pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram
kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi
kaum yang berpikir.” Prinsip
ini diperkuat oleh surat An-Nisa' [4]: 19 yang memerintahkan suami mempergauli
istrinya secara ma'ruf, yaitu dengan cara yang patut.
. . . وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ. . .
“ . . . Pergaulilah mereka dengan cara yang patut . . .” Karena
itu, rumah tangga yang Islami semestinya menjadi ruang tempat suami dan istri
saling memahami, menghargai, membantu, dan menjaga martabat masing-masing.
Kesabaran seorang istri merupakan akhlak yang mulia, tetapi tidak dapat
dijadikan alasan untuk membenarkan pengabaian hak, perlakuan yang merendahkan,
apalagi kekerasan. Rumah tangga yang sakinah bukanlah rumah yang hanya membuat
satu pihak merasa nyaman, sementara pihak lainnya harus terus menyembunyikan
kelelahan.
Tekanan berikutnya muncul
ketika perempuan menjalankan perannya sebagai ibu. Dalam masyarakat modern,
keberhasilan seorang anak sering dijadikan ukuran keberhasilan ibunya. Ketika
anak memperoleh prestasi, ibunya dipuji karena dianggap berhasil mendidik.
Sebaliknya, ketika anak mengalami kesulitan belajar, memiliki persoalan
perilaku, atau mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan harapan keluarga, ibu
sering menjadi pihak pertama yang dipersalahkan. Kondisi tersebut dapat
menumbuhkan perasaan bersalah yang berkepanjangan, seolah setiap persoalan anak
merupakan bukti kegagalan dirinya. Padahal, Islam mengajarkan penghormatan yang
besar terhadap perjuangan seorang ibu. Dalam surat Luqman [31]: 14, Allah
mengingatkan beratnya perjuangan ibu yang mengandung dalam keadaan semakin
lemah, sekaligus memerintahkan manusia bersyukur kepada kedua orang tuanya.
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى
وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
“Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada
kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah
kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.” Pengakuan Al-Qur'an
terhadap pengorbanan ibu seharusnya melahirkan penghargaan dan dukungan, bukan
menjadi alasan untuk menambahkan tuntutan tanpa batas. Pengasuhan dan
pendidikan anak juga merupakan tanggung jawab keluarga, termasuk ayah,
sebagaimana prinsip menjaga diri dan keluarga dalam surat At-Tahrim [66]: 6
yang ditujukan kepada orang-orang beriman.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا
يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah
malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah
terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” Anak
bukanlah proyek kesempurnaan orang tuanya, melainkan amanah yang harus
didampingi dengan ilmu, kesabaran, kasih sayang, dan keteladanan. Seorang ibu
tidak harus mengetahui jawaban atas setiap persoalan anaknya, tetapi perlu
terus belajar, mendampingi, dan mengupayakan yang terbaik sesuai kemampuannya.
Tekanan terhadap perempuan
semakin kompleks ketika media sosial menghadirkan gambaran kehidupan yang
tampak selalu ideal. Melalui layar telepon genggam, seseorang dapat menyaksikan
perempuan lain yang terlihat berhasil membangun keluarga harmonis, memiliki
anak berprestasi, mengembangkan karier, menjaga penampilan, dan tetap aktif
dalam berbagai kegiatan keagamaan. Tanpa disadari, potongan kehidupan yang
ditampilkan tersebut berubah menjadi ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.
Seorang ibu mulai merasa gagal karena rumahnya tidak serapi rumah orang lain,
seorang istri merasa kurang beruntung karena kehidupan perkawinannya tidak
seromantis yang terlihat di media sosial, sedangkan perempuan bekerja merasa tertinggal
ketika membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. Padahal, apa yang
ditampilkan di ruang digital tidak selalu menggambarkan keseluruhan kenyataan.
Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta
benda kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatan kalian” (HR.
Muslim No. 2564). Hadis ini memberikan pelajaran penting bahwa kemuliaan
manusia tidak ditentukan oleh penampilan luar, kemewahan, atau pengakuan
sosial. Karena itu, perempuan Muslim perlu membangun kesadaran bahwa kehidupan
bukanlah perlombaan untuk terlihat paling berhasil di hadapan manusia. Tidak
semua keberhasilan harus dipamerkan, tidak semua kesulitan harus disembunyikan,
dan tidak semua kebahagiaan membutuhkan pengakuan orang lain.
Di tengah berbagai tuntutan tersebut, perempuan perlu memahami bahwa kesungguhan menjalankan tanggung jawab tidak berarti harus mengabaikan kondisi fisik, kesehatan batin, dan kebutuhan spiritualnya sendiri. Ada kalanya perempuan merasa bersalah ketika beristirahat karena menganggap masih terlalu banyak pekerjaan yang belum diselesaikan. Ada pula yang enggan meminta bantuan karena khawatir dianggap tidak mampu mengurus keluarga. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Allah Swt. berfirman dalam surat Al-Baqarah [2]: 286, “Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā,” yang berarti, “Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya.” Ayat ini tidak berarti setiap beban sosial yang diberikan manusia pasti adil atau harus diterima tanpa keberatan. Sebaliknya, ayat tersebut mengingatkan pentingnya memahami kemampuan dan keterbatasan diri ketika menjalankan tanggung jawab. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. membenarkan nasihat Salman kepada Abu Darda bahwa Allah, diri sendiri, dan keluarga masing-masing memiliki hak yang perlu ditunaikan (HR. Bukhari No. 1968). Pesan ini mengajarkan keseimbangan antara ibadah, tanggung jawab, dan pemeliharaan diri. Maka, beristirahat ketika lelah, mencari pertolongan ketika menghadapi kesulitan, membicarakan pembagian tugas dengan keluarga, atau memperoleh dukungan ketika mengalami tekanan emosional bukanlah bentuk kelemahan iman. Semua itu dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga amanah kehidupan secara bertanggung jawab.
Dengan demikian, tantangan terbesar perempuan masa kini bukan semata-mata terletak pada banyaknya peran yang harus dijalankan, melainkan pada anggapan bahwa seluruh peran itu harus berhasil dilaksanakan secara sempurna dan bersamaan. Karena itu, diperlukan perubahan cara pandang, baik dari perempuan sendiri, keluarga, maupun lingkungan masyarakat. Perempuan perlu belajar membedakan kewajiban agama dengan tuntutan sosial yang terkadang berlebihan, menentukan prioritas, menjaga hubungan dengan Allah, serta menerima bahwa setiap tahap kehidupan memiliki tantangan yang berbeda. Suami perlu menjadi mitra yang menghadirkan ketenteraman, anak-anak perlu dibimbing untuk menghargai perjuangan orang tuanya, sedangkan masyarakat dan lingkungan majelis taklim semestinya menjadi ruang yang saling menguatkan, bukan tempat memperberat kehidupan perempuan melalui penilaian yang tidak perlu. Kesalehan tidak seharusnya diukur dari kemampuan seorang perempuan menyembunyikan seluruh kesulitannya, tetapi dari kesungguhannya untuk terus mendekat kepada Allah dan menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Perempuan boleh memiliki cita-cita, boleh merasakan kelelahan, boleh membutuhkan bantuan, dan boleh mengakui keterbatasannya tanpa harus kehilangan martabat. Sebab, yang Allah kehendaki dari hamba-Nya bukanlah kesempurnaan yang mustahil dicapai manusia, melainkan keimanan, ketaatan, keikhlasan, dan kesungguhan untuk terus memperbaiki diri. Maka, di tengah zaman yang terus menuntut perempuan menjadi segalanya, ada satu pertanyaan yang patut direnungkan: jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk berusaha menjadi perempuan yang sempurna menurut pandangan manusia, hingga lupa membangun diri menjadi hamba yang semakin dekat kepada Allah.
