Halaman

Selasa, 27 Oktober 2026

Menitipkan Ilmu kepada Waktu

Ada banyak hal berharga yang pernah singgah dalam pikiran kita, tetapi tidak semuanya berhasil tinggal. Nasihat seorang guru yang begitu menyentuh, gagasan yang muncul ketika merenung, pelajaran hidup yang diperoleh melalui pengalaman, atau pemahaman mendalam yang tiba-tiba hadir saat membaca, sering kali terasa begitu jelas ketika pertama kali kita menerimanya. Namun, beberapa waktu kemudian, sebagian darinya perlahan memudar, bahkan hilang tanpa meninggalkan jejak. Bukan karena pengetahuan tersebut tidak berharga, melainkan karena manusia memiliki keterbatasan dalam menjaga apa yang tersimpan dalam ingatannya. Kenyataan inilah yang tercermin dalam sebuah kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi: مَا كُتِبَ قَرَّ وَمَا حُفِظَ فَرَّ yang berarti, “Apa yang ditulis akan menetap, sedangkan apa yang hanya dihafal dapat terlepas.” Ungkapan yang singkat ini mengandung pesan mendalam tentang pentingnya menjaga ilmu, menghargai pengetahuan, dan menyadari bahwa sesuatu yang dianggap telah dikuasai belum tentu dapat dipertahankan selamanya dalam ingatan.

Secara kebahasaan, kata qarra (قَرَّ) mengandung makna menetap, kukuh, atau berada pada tempatnya, sedangkan kata farra (فَرَّ) berarti melarikan diri atau terlepas. Kedua kata tersebut menggambarkan perbedaan antara pengetahuan yang telah diikat melalui tulisan dan pengetahuan yang semata-mata bergantung pada daya ingat. Menulis merupakan usaha untuk memberikan tempat yang lebih tetap bagi pengetahuan agar dapat ditemukan, dipelajari, dan dimanfaatkan kembali ketika diperlukan. Sementara itu, mengandalkan hafalan tanpa pencatatan menghadirkan risiko bahwa pengetahuan tersebut akan terlupakan karena perjalanan waktu, bertambahnya kesibukan, atau melemahnya kemampuan mengingat. Dalam tradisi keilmuan Islam, ungkapan ini juga dikenal sebagai pepatah yang telah tercatat dalam literatur adab menuntut ilmu. Hal tersebut memperlihatkan bahwa pesan tentang pentingnya menulis telah lama menjadi bagian dari kesadaran intelektual para ulama. Dengan demikian, kalam hikmah tersebut bukan sekadar anjuran untuk rajin mencatat, melainkan pengingat bahwa ilmu merupakan amanah yang harus dipelihara dengan kesungguhan, bukan hanya diterima dan dibiarkan bergantung pada ingatan.

Lebih jauh, hikmah tersebut mengajarkan bahwa menulis bukan hanya kegiatan menyimpan pengetahuan, melainkan juga proses memperdalam pemahaman. Ketika seseorang mendengarkan penjelasan, membaca kitab, atau mengikuti sebuah majelis ilmu, ia mungkin merasa telah memahami seluruh pembahasan yang disampaikan. Akan tetapi, ketika berusaha menuangkannya kembali ke dalam tulisan, barulah terlihat bagian mana yang benar-benar dipahami dan bagian mana yang masih memerlukan penjelasan. Menulis menuntut seseorang untuk memilih gagasan utama, menyusun hubungan antarpemikiran, membedakan hal yang penting dari yang sekunder, serta merumuskan kembali pengetahuan dengan bahasa yang lebih teratur. Melalui proses tersebut, sesuatu yang semula hanya diterima secara pasif berubah menjadi pemahaman yang diolah secara sadar. Tidak mengherankan apabila para ulama terdahulu memiliki tradisi pencatatan yang kuat, baik melalui penulisan kitab, penyusunan syarah, maupun penghimpunan berbagai faedah yang diperoleh dari guru-guru mereka. Mereka memahami bahwa ilmu yang tidak dijaga berisiko menghilang bersama berlalunya waktu, sedangkan ilmu yang terdokumentasi memiliki kesempatan lebih besar untuk terus dikaji, dikritisi, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

Meskipun demikian, kalam hikmah ini tidak boleh dipahami sebagai penolakan terhadap pentingnya hafalan. Dalam khazanah pendidikan Islam, hafalan justru menempati kedudukan yang sangat terhormat, terutama dalam pemeliharaan Al-Qur'an, hadis, dan berbagai disiplin ilmu keagamaan. Banyak ulama memiliki kekuatan hafalan yang luar biasa dan menjadikannya sebagai landasan untuk memahami serta mengembangkan ilmu. Persoalan yang hendak ditekankan dalam ungkapan tersebut bukanlah kelemahan hafalan sebagai metode belajar, melainkan keterbatasan manusia apabila hanya menggantungkan pemeliharaan pengetahuan pada satu kemampuan. Hafalan menjaga ilmu agar senantiasa hadir dalam diri seseorang, sedangkan tulisan menyediakan sarana untuk menelusuri dan memeriksanya kembali. Keduanya bukan dua jalan yang saling bertentangan, melainkan dua cara yang dapat saling menguatkan. Bahkan pada masa ketika teknologi memungkinkan manusia menyimpan jutaan informasi dalam perangkat digital, pesan ini tetap relevan. Kemudahan menyimpan informasi perlu disertai kebiasaan mengorganisasikan catatan, memeriksa ketepatannya, serta membacanya kembali. Sebab, banyaknya informasi yang tersimpan tidak serta-merta menunjukkan kedalaman pemahaman seseorang terhadap ilmu yang dimilikinya.

Pada akhirnya, kalam hikmah مَا كُتِبَ قَرَّ وَمَا حُفِظَ فَرَّ mengajak kita memandang kegiatan menulis sebagai bentuk tanggung jawab intelektual sekaligus penghargaan terhadap ilmu. Tidak setiap orang harus menjadi penulis buku, melahirkan karya ilmiah, atau menghasilkan pemikiran besar untuk mengamalkan pesan tersebut. Mencatat pelajaran dari seorang guru, menuliskan hikmah dari pengalaman hidup, merangkum isi bacaan, atau mendokumentasikan pengetahuan yang bermanfaat merupakan langkah sederhana yang memiliki nilai penting. Catatan yang hari ini tampak biasa mungkin suatu saat menjadi jawaban atas persoalan yang kita hadapi, menjadi pengingat ketika pemahaman mulai memudar, atau menjadi sumber pengetahuan bagi orang lain. Namun, tulisan pun tidak otomatis abadi; ia tetap memerlukan pemeliharaan, pengkajian, dan pewarisan agar manfaatnya bertahan. Di sinilah letak kedalaman pesan yang dapat direnungkan dari hikmah tersebut: ilmu yang hanya disimpan dalam ingatan memiliki batas pada kemampuan seseorang mengingatnya, sedangkan ilmu yang dituliskan memperoleh kesempatan untuk hidup melampaui pengalaman dan usia penulisnya. Manusia tidak selalu mampu mempertahankan setiap hal yang pernah diketahuinya, tetapi melalui tulisan, ia dapat meninggalkan jejak pemikiran yang tetap memberi manfaat bahkan ketika dirinya tidak lagi hadir untuk menjelaskannya.

Menitipkan Ilmu kepada Waktu

Ada banyak hal berharga yang pernah singgah dalam pikiran kita, tetapi tidak semuanya berhasil tinggal. Nasihat seorang guru yang begitu m...