Halaman

Selasa, 15 September 2026

Cinta, Syukur, dan Kesetiaan dalam Ikatan Pernikahan

Di tengah kehidupan yang sering mengukur cinta dari rupa, kedudukan, kemapanan, dan berbagai kelebihan yang tampak di hadapan manusia, kita perlu kembali memahami bahwa rumah tangga tidak dibangun hanya dengan kekaguman. Kekaguman dapat tumbuh dalam waktu singkat, tetapi kesetiaan, penerimaan, dan kesabaran harus dirawat sepanjang kehidupan. Pesan tersebut tergambar dalam kalam hikmah yang banyak beredar dan dinisbatkan kepada KH. Baha’uddin Nursalim atau Gus Baha’ “Carilah pasangan yang mencintai rapuhmu, bukan hanya kagum pada indahmu. Sebab pasangan sejati ialah yang mampu menenangkan resahmu, menutup aibmu, dan selalu bersyukur memilikimu.” Ungkapan ini mengandung nasihat religius bahwa pasangan hidup bukan sekadar orang yang menyukai kelebihan kita, melainkan seseorang yang bersedia menerima kekurangan, menjaga kehormatan, dan menemani perjalanan hidup dalam ketaatan kepada Allah Swt.

Kalimat “carilah pasangan yang mencintai rapuhmu” mengajarkan bahwa cinta yang tulus harus mampu menerima sisi lemah manusia. Setiap orang mempunyai kekurangan, kegagalan, ketakutan, luka batin, dan masa lalu yang tidak selalu mudah diceritakan. Dalam kehidupan rumah tangga, sisi-sisi tersebut lambat laun akan terlihat oleh pasangan. Pasangan yang baik tidak menggunakan kelemahan itu sebagai senjata ketika terjadi pertengkaran, melainkan menerimanya sebagai amanah untuk dijaga dan diperbaiki bersama. Dalam pandangan Islam, tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan mutlak hanya milik Allah Swt. Oleh sebab itu, pernikahan bukanlah pertemuan dua manusia tanpa kekurangan, tetapi pertemuan dua insan yang bersedia saling melengkapi dan menolong dalam kebaikan.

Sementara itu, ungkapan “bukan hanya kagum pada indahmu” menjadi peringatan agar cinta tidak hanya didasarkan pada keindahan fisik, harta, jabatan, kecerdasan, atau popularitas. Semua kelebihan duniawi bersifat sementara dan dapat berubah seiring berjalannya waktu. Wajah akan menua, kesehatan dapat melemah, kekayaan mungkin berkurang, dan jabatan pada akhirnya akan ditinggalkan. Apabila cinta hanya dibangun di atas kekaguman terhadap hal-hal lahiriah, maka cinta itu mudah goyah ketika keadaan berubah. Karena itu, Islam menempatkan agama dan akhlak sebagai pertimbangan utama dalam memilih pasangan. Keindahan boleh dikagumi, tetapi iman, kesetiaan, tanggung jawab, dan kemuliaan akhlaklah yang dapat menjaga kehidupan rumah tangga tetap kokoh.

Kalimat “pasangan sejati ialah yang mampu menenangkan resahmu” selaras dengan tujuan pernikahan dalam Islam, yaitu menghadirkan ketenteraman atau sakinah. Pasangan sejati tidak harus selalu mampu menyelesaikan seluruh persoalan, tetapi kehadirannya dapat membuat hati terasa aman dan beban kehidupan menjadi lebih ringan. Ia bersedia mendengarkan kegelisahan tanpa tergesa-gesa menghakimi, menemani saat pasangannya berada dalam kesulitan, dan mengingatkannya agar tetap sabar serta berbaik sangka kepada Allah. Ketenteraman dalam rumah tangga bukan berarti tidak pernah ada masalah, melainkan adanya dua orang yang sepakat menghadapi masalah dengan doa, komunikasi yang lembut, dan sikap saling menguatkan. Dari sinilah tumbuh mawaddah dan rahmah, yaitu cinta dan kasih sayang yang dibimbing oleh keimanan.

Pesan “menutup aibmu” menunjukkan bahwa menjaga kehormatan pasangan merupakan bagian penting dari amanah pernikahan. Suami dan istri akan mengetahui berbagai kekurangan, kesalahan, kebiasaan, dan rahasia pribadi satu sama lain. Semua itu tidak boleh disebarkan kepada keluarga, teman, maupun masyarakat, terutama ketika sedang marah atau berselisih. Menutup aib bukan berarti membenarkan kesalahan atau membiarkan keburukan terus berlangsung, tetapi menasihati pasangan secara pribadi dengan cara yang santun dan tidak merendahkan. Al-Qur’an menggambarkan suami dan istri sebagai pakaian bagi satu sama lain. Sebagaimana pakaian menutup kekurangan, melindungi tubuh, dan memberikan kehangatan, demikian pula pasangan seharusnya saling melindungi, menjaga martabat, dan menghadirkan rasa aman.

Adapun kalimat “selalu bersyukur memilikimu” mengajarkan bahwa cinta harus dipelihara melalui rasa syukur kepada Allah Swt. Orang yang bersyukur tidak terus-menerus membandingkan pasangannya dengan orang lain, tetapi berusaha melihat kebaikan, kesetiaan, perhatian, dan pengorbanan yang telah diberikan. Rasa syukur membuat seseorang lebih mudah menghargai hal-hal sederhana, memaafkan kekurangan, dan menjaga komitmen di tengah perubahan keadaan. Pasangan sejati bukanlah orang yang menganggap pasangannya tidak memiliki cela, melainkan orang yang tetap memilih mencintai, menjaga, dan memperjuangkannya dalam kebaikan. Apabila cinta dibangun atas dasar iman, penerimaan, penjagaan kehormatan, kesabaran, dan rasa syukur, maka pernikahan dapat menjadi jalan menuju kebahagiaan dunia sekaligus sarana untuk bersama-sama meraih ridha Allah dan keselamatan di akhirat.

Cinta, Syukur, dan Kesetiaan dalam Ikatan Pernikahan

Di tengah kehidupan yang sering mengukur cinta dari rupa, kedudukan, kemapanan, dan berbagai kelebihan yang tampak di hadapan manusia, kit...