Setiap zaman
memiliki kegelisahannya sendiri. Ada masa ketika manusia resah karena
peperangan, kemiskinan, dan kehilangan rasa aman; ada pula masa ketika manusia
gelisah karena tekanan hidup, derasnya informasi, lemahnya hubungan ruhani, dan
jauhnya hati dari ketenangan. Kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Al-Habib
Umar bin Hafidz “Di setiap zaman itu dipenuhi dengan hal yang membuat hati
resah, dan tidak akan hilang keresahan tersebut terkecuali dengan memperbanyak
menyebut Nabi Muhammad Saw.” menjadi nasihat yang sangat dalam bahwa obat
kegelisahan bukan hanya dicari pada sebab-sebab duniawi, tetapi juga pada hubungan
batin dengan Rasulullah Saw.
Keresahan hati
sering muncul ketika manusia terlalu tenggelam dalam urusan dunia dan lupa
kepada sumber ketenangan sejati, yaitu Allah Swt. Dunia selalu berubah, masalah
datang silih berganti, dan manusia tidak pernah benar-benar bebas dari ujian.
Namun, hati seorang mukmin memiliki jalan untuk kembali tenang, yaitu dengan
menghidupkan zikir, memperbanyak shalawat, dan menghadirkan cinta kepada Nabi
Muhammad Saw. Menyebut Nabi bukan sekadar mengucapkan nama beliau, tetapi mengingat
kemuliaan akhlaknya, perjuangannya, kasih sayangnya kepada umat, dan petunjuk
yang beliau bawa.
Memperbanyak
menyebut Nabi Muhammad Saw. dapat dipahami sebagai memperbanyak shalawat kepada
beliau. Shalawat adalah amalan mulia yang menghubungkan hati seorang muslim
dengan Rasulullah Saw. Ketika seseorang bershalawat, ia sedang menyatakan
cinta, penghormatan, dan kerinduan kepada manusia paling mulia di sisi Allah.
Hati yang semula keras dapat melembut, pikiran yang semula kacau dapat lebih
jernih, dan jiwa yang semula gelisah dapat merasakan keteduhan karena terhubung
dengan sosok pembawa rahmat bagi seluruh alam.
Ketenangan yang lahir dari menyebut Nabi Muhammad Saw. juga berkaitan dengan keteladanan hidup beliau. Rasulullah Saw. menghadapi ujian yang sangat berat, tetapi beliau tetap sabar, tawakal, pemaaf, lembut, dan penuh harapan kepada Allah. Ketika seorang mukmin mengingat Nabi, ia tidak hanya mengingat nama, tetapi juga belajar bagaimana menghadapi kehidupan dengan iman. Dari beliau, umat belajar bahwa keresahan tidak boleh menjauhkan manusia dari Allah, justru harus menjadi jalan untuk semakin dekat kepada-Nya.
Oleh sebab itu, di tengah zaman yang penuh kegelisahan, seorang muslim hendaknya menjadikan shalawat sebagai amalan harian yang tidak ditinggalkan. Saat hati sempit, perbanyaklah menyebut Nabi; saat pikiran berat, basahilah lisan dengan shalawat; saat hidup terasa gelap, ingatlah bahwa Rasulullah Saw. adalah pembawa cahaya petunjuk bagi umat manusia. Keresahan zaman tidak selalu dapat dihapus dengan perubahan keadaan luar, tetapi hati dapat ditenangkan ketika ia kembali kepada Allah melalui cinta, zikir, dan shalawat kepada kekasih-Nya, Nabi Muhammad Saw.
