Pernahkah kita merenungkan
betapa berbahayanya ketika suatu masyarakat mulai kehilangan keberanian untuk
mengatakan yang benar dan menolak yang salah? Ketika orang-orang zalim justru
mendapatkan perlindungan, para pendusta memperoleh pembenaran, sementara mereka
yang memperjuangkan keadilan malah disingkirkan dan dibungkam? Sesungguhnya,
kehancuran suatu masyarakat tidak selalu diawali oleh banyaknya orang yang
berbuat jahat, tetapi dapat terjadi ketika kejahatan dibiarkan tumbuh,
kebohongan dianggap sebagai kebenaran, dan kezaliman dipertahankan demi
kepentingan pribadi, kelompok, maupun kekuasaan. Dalam keadaan demikian,
orang-orang yang seharusnya menjadi penjaga keadilan justru dapat berubah
menjadi pelindung ketidakadilan. Mereka mengetahui adanya kesalahan, tetapi
memilih diam karena takut kehilangan jabatan, kedudukan, kekayaan, atau
hubungan dengan pihak yang berkuasa. Padahal, membela orang yang melakukan
kezaliman bukanlah bentuk kesetiaan yang mulia, melainkan tindakan yang dapat
memperpanjang penderitaan orang-orang yang tidak bersalah. Jangan sampai kita
baru menyadari besarnya bahaya kezaliman setelah kerusakannya meluas dan tidak
lagi mudah dihentikan. Sebab, ketika kebohongan terus dipelihara dan kebenaran
sengaja dikorbankan, sesungguhnya manusia sedang membuka jalan bagi datangnya
berbagai bentuk penderitaan yang dapat menghancurkan kehidupan bersama.
Allah Swt. telah memberikan
peringatan yang sangat mendalam dalam Al-Qur'an surat Al-Anfal ayat 25,
وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً
ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa
orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah Maha Keras
hukuman-Nya.” Ayat ini mengingatkan bahwa kerusakan akibat
kezaliman dan kemungkaran yang dibiarkan dapat membawa dampak luas, bahkan
kepada mereka yang tidak terlibat secara langsung dalam perbuatan tersebut.
Ketika korupsi dilindungi, masyarakat kehilangan haknya atas kesejahteraan.
Ketika kebohongan dipertahankan, kepercayaan dan kejujuran dalam kehidupan
sosial menjadi rusak. Ketika penyalahgunaan kekuasaan dibiarkan, rakyat kecil
sering kali menjadi pihak yang paling menderita. Bahkan, anak-anak dan generasi
mendatang dapat mewarisi berbagai persoalan yang ditimbulkan oleh kesalahan
orang-orang yang berkuasa pada masa sebelumnya. Inilah sebabnya setiap manusia
harus memiliki kepedulian terhadap tegaknya keadilan, bukan hanya untuk
melindungi dirinya sendiri, tetapi juga untuk menjaga keselamatan kehidupan
bersama. Namun, tidak setiap musibah dapat langsung dinyatakan sebagai azab
Allah, sebab hanya Allah yang mengetahui hakikat dan hikmah di balik setiap
peristiwa. Pesan pentingnya adalah jangan merasa aman hanya karena kita tidak
ikut melakukan kezaliman, sementara kita membiarkan kezaliman berkembang dan
merusak kehidupan orang banyak. Sebab, dampak kerusakan sosial tidak selalu
membedakan antara mereka yang bersalah dan mereka yang tidak bersalah.
Dalam surat Hud ayat 113, Allah
Swt. memperingatkan agar manusia tidak cenderung kepada orang-orang zalim,
karena keberpihakan terhadap kezaliman dapat membawa akibat yang sangat berat.
وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا
لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ
“Janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim sehingga menyebabkan api neraka menyentuhmu, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” Peringatan ini seharusnya menjadi bahan perenungan bagi siapa pun yang memiliki kekuasaan, jabatan, pengaruh, maupun kedekatan dengan pihak yang melakukan ketidakadilan. Jangan sampai hubungan keluarga, persahabatan, kesamaan kelompok, kepentingan politik, atau keuntungan duniawi menjadikan seseorang kehilangan keberanian untuk membedakan antara kebenaran dan kebohongan. Betapa banyak ketidakadilan yang terus berlangsung bukan semata-mata karena kuatnya pelaku kezaliman, melainkan juga karena adanya orang-orang yang bersedia membela, menutupi, dan melindungi kesalahannya. Mereka mengubah kebohongan menjadi pembenaran, memutarbalikkan kenyataan, bahkan menyalahkan orang-orang yang sebenarnya menjadi korban. Padahal, kekuasaan tidak dapat mengubah kesalahan menjadi kebenaran, dan kedudukan tidak menjadikan seseorang terbebas dari pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Meskipun demikian, menegakkan keadilan juga mengharuskan kita memeriksa fakta secara jujur dan tidak sembarangan menuduh seseorang sebagai pendusta atau pelaku kezaliman tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Kesetiaan yang benar bukanlah membela seseorang dalam segala keadaan, tetapi berani mengingatkannya ketika melakukan kesalahan. Sebab, siapa pun yang membantu menutupi kezaliman sesungguhnya sedang ikut membuka jalan bagi berlanjutnya ketidakadilan. Oleh karena itu, jangan pernah menjual hati nurani demi keuntungan sesaat, karena segala yang diperoleh melalui pembelaan terhadap kebatilan tidak sebanding dengan tanggung jawab moral dan pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.
Dengan demikian, peringatan tentang bahaya membela dan melindungi orang-orang zalim serta pendusta mengajarkan bahwa menjaga keselamatan masyarakat merupakan tanggung jawab moral bersama. Rasulullah Saw. pernah memberikan perumpamaan tentang sekelompok orang yang berada dalam satu kapal. Ketika sebagian penumpangnya hendak melubangi kapal, keselamatan seluruh penumpang bergantung pada kesediaan mereka untuk mencegah tindakan tersebut. Jika dibiarkan, seluruh penumpang dapat tenggelam, termasuk mereka yang tidak pernah ikut merusak kapal. Perumpamaan dalam hadis riwayat al-Bukhari ini menunjukkan bahwa kezaliman yang dibiarkan dapat membahayakan kehidupan bersama. Oleh karena itu, jangan menunggu datangnya penderitaan untuk menyadari pentingnya kejujuran. Jangan menunggu masyarakat kehilangan keadilan untuk mulai berani menolak kebohongan. Jangan pula menunggu orang-orang yang tidak bersalah menjadi korban sebelum menyadari bahwa melindungi pelaku kezaliman merupakan tindakan yang sangat berbahaya. Selama masih diberikan kesempatan, tegakkanlah kebenaran dengan cara yang adil, damai, dan bertanggung jawab, sekalipun harus berhadapan dengan kepentingan pribadi maupun kekuasaan. Ingatlah bahwa jabatan akan berakhir, kekayaan dapat lenyap, kekuasaan dapat runtuh, dan manusia pada akhirnya akan kembali menghadap Allah Swt. untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. “Jangan menunggu Allah menurunkan azab-Nya untuk menyadari bahwa membela kezaliman dan melindungi kebohongan adalah kesalahan besar. Sebab, ketika kezaliman telah merusak kehidupan bersama, orang-orang yang tidak berdosa pun dapat menanggung akibatnya.” Maka, janganlah menjadi bagian dari mereka yang melubangi kapal kehidupan, terlebih menjadi pelindung bagi orang-orang yang merusaknya. Jadilah penjaga kebenaran, pembela keadilan, dan pelindung mereka yang lemah. Sebab, lebih baik kehilangan keuntungan dunia karena mempertahankan kebenaran daripada memperoleh segala kemewahan dengan mengorbankan keadilan dan mengkhianati amanah Allah Swt.
