Al-Qur’an
adalah firman Allah Swt. yang diturunkan sebagai petunjuk, rahmat, dan cahaya
bagi seluruh umat manusia. Ia bukan sekadar kitab suci yang dibaca dengan
lisan, dihafalkan dalam ingatan, atau dipelajari maknanya melalui berbagai
majelis ilmu, tetapi Al-Qur’an merupakan pedoman hidup yang harus hadir dalam
setiap sikap, ucapan, dan perilaku seorang hamba. Kalam hikmah KH.
Mu’tashimbillah bin KH. Mufid Mas’ud, “Setelah kita belajar Al-Qur’an kita
juga harus berusaha menjadikan Al-Qur’an sebagai karakter kepribadian kita,
sebagaimana Rasulullah Saw. telah mencontohkannya,” mengandung pesan
mendalam bahwa tujuan utama mempelajari Al-Qur’an bukan hanya untuk memperoleh
pengetahuan, melainkan untuk membentuk manusia yang memiliki akhlak mulia
sesuai dengan kehendak Allah Swt.
Belajar
Al-Qur’an merupakan langkah awal menuju kedekatan seorang hamba dengan Sang
Pencipta. Namun, proses belajar tersebut tidak boleh berhenti pada kemampuan
membaca huruf-hurufnya, memahami hukum tajwidnya, atau menghafalkan ayat-ayatnya
saja. Lebih dari itu, seorang muslim dituntut untuk menggali nilai-nilai
kehidupan yang terkandung dalam Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam keseharian.
Ilmu Al-Qur’an harus melahirkan perubahan dalam diri, dari yang sebelumnya
kurang baik menjadi lebih baik, dari yang lalai menjadi lebih ingat kepada
Allah, serta dari pribadi yang jauh dari nilai-nilai kebaikan menjadi pribadi
yang mencerminkan ajaran Islam.
Kalam hikmah
tersebut juga mengingatkan bahwa Rasulullah Saw. merupakan teladan tertinggi
dalam menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an. Aisyah radhiyallahu ‘anha
pernah menggambarkan akhlak Rasulullah Saw. sebagai Al-Qur’an yang berjalan,
karena seluruh perilaku beliau merupakan wujud nyata dari ajaran yang terdapat
dalam kitab suci. Rasulullah Saw. tidak hanya menyampaikan ayat-ayat Allah
kepada umatnya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana Al-Qur’an diterapkan dalam
kehidupan melalui kejujuran, kasih sayang, kesabaran, ketawadhuan, keadilan,
dan kepedulian terhadap sesama.
Menjadikan
Al-Qur’an sebagai karakter kepribadian berarti menjadikan nilai-nilai ilahiah
sebagai dasar dalam membentuk pola pikir dan perilaku. Seorang yang berkarakter
Qur’ani akan berusaha menjaga lisannya dari perkataan yang menyakiti,
mengendalikan hawa nafsunya, menghormati orang lain, serta senantiasa
mengedepankan kebaikan dalam setiap keadaan. Ketika menghadapi ujian kehidupan,
ia menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ketenangan dan petunjuk, bukan sekadar
sebagai bacaan ritual. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya berada dalam
mushaf yang tersimpan rapi, tetapi juga tertanam dalam hati dan tercermin
melalui akhlaknya.
Pesan KH. Mu’tashimbillah bin KH. Mufid Mas’ud juga mengandung ajakan agar para pembelajar Al-Qur’an memiliki keseimbangan antara ilmu dan amal. Banyaknya pengetahuan tentang ayat-ayat Allah harus diiringi dengan kesungguhan untuk mengamalkannya. Sebab, kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan hanya diukur dari seberapa banyak ayat yang ia ketahui, tetapi sejauh mana Al-Qur’an mampu membimbing dirinya menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Ilmu yang tidak diwujudkan dalam amal ibarat cahaya yang tidak menerangi, sedangkan Al-Qur’an yang diamalkan akan menjadi sumber keberkahan bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Dengan demikian, menjadikan Al-Qur’an sebagai karakter kepribadian adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan, keikhlasan, dan mujahadah. Setiap muslim hendaknya terus berusaha mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, membacanya, memahaminya, merenungkan kandungannya, serta menghadirkan ajarannya dalam kehidupan nyata. Sebagaimana Rasulullah Saw. telah menjadi teladan dalam mengamalkan wahyu Allah, umat Islam juga dipanggil untuk menghadirkan akhlak Qur’ani dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, seorang hamba akan memperoleh cahaya petunjuk yang mengantarkannya menuju keberkahan dan ridha Allah Swt.
