Dalam kehidupan sehari-hari,
kita sering melihat orang lain tampak lebih maju dalam urusan dunia: lebih
sukses, lebih kaya, lebih dikenal, atau lebih cepat mencapai sesuatu yang kita
inginkan. Perasaan tersaingi kadang muncul, bahkan bisa berubah menjadi iri
hati jika tidak dikendalikan. Di sinilah kalam hikmah Imam Hasan Al-Bashri, “Ketika
dirimu melihat orang lain menyaingimu dalam urusan dunia, maka saingilah dia
dalam urusan akhirat,” hadir sebagai nasihat yang sangat indah dan
menenangkan. Ungkapan ini mengajak kita mengubah arah pandang: dari mengejar
dunia secara berlebihan menuju perlombaan yang lebih mulia, yaitu berlomba
dalam kebaikan, ibadah, dan amal saleh.
Maksud dari kalam hikmah
tersebut bukanlah melarang manusia untuk bekerja keras, berprestasi, atau
berusaha meraih kehidupan dunia yang baik. Islam tetap menganjurkan umatnya
untuk rajin, mandiri, dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Namun, Imam
Hasan Al-Bashri mengingatkan bahwa urusan dunia tidak seharusnya menjadi sumber
iri, dengki, atau permusuhan. Ketika melihat orang lain lebih unggul dalam
harta, jabatan, popularitas, atau pencapaian duniawi, kita tidak perlu gelisah
secara berlebihan, sebab semua itu bersifat sementara dan akan ditinggalkan.
Sebaliknya, jika ingin
“bersaing”, maka arahkan persaingan itu kepada sesuatu yang bernilai kekal,
yaitu urusan akhirat. Kita boleh merasa terdorong ketika melihat orang lain
lebih rajin shalat berjamaah, lebih banyak membaca Al-Qur’an, lebih ringan
bersedekah, lebih santun akhlaknya, lebih sabar menghadapi ujian, atau lebih
bermanfaat bagi sesama. Persaingan seperti ini bukan persaingan yang merusak,
melainkan persaingan yang menumbuhkan semangat untuk memperbaiki diri. Inilah
bentuk kompetisi yang terpuji, karena membuat hati semakin dekat kepada Allah
dan hidup semakin bermakna.
Nasihat ini juga mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan hati. Banyak orang merasa lelah bukan karena kurang nikmat, tetapi karena terlalu sering membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ketika hati sibuk mengejar dunia orang lain, seseorang mudah lupa mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan kepadanya. Dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, seseorang akan lebih tenang, karena ia memahami bahwa ukuran kemuliaan manusia bukan pada banyaknya harta atau tingginya kedudukan, melainkan pada ketakwaan, keikhlasan, dan amal kebaikannya.
Dengan demikian, kalam hikmah Imam Hasan Al-Bashri ini mengajarkan kita untuk mengubah rasa iri menjadi motivasi yang bernilai ibadah. Jika melihat orang lain sukses dalam dunia, doakan kebaikan untuknya dan jadikan itu sebagai penyemangat untuk berusaha dengan cara yang halal. Namun, jika ingin benar-benar berlomba, berlombalah dalam amal saleh, ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, dan ketaatan kepada Allah. Sebab dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tujuan akhir; siapa yang mempersiapkan akhiratnya dengan sungguh-sungguh, maka ia sedang mengejar kemenangan yang sesungguhnya.
