Bulan Ramadan memberikan kesempatan bagi umat Islam
untuk merasakan pengalaman yang unik: berpuasa selama 13 hingga 14 jam, menahan
lapar dan dahaga, dan merasakan betapa besar nikmatnya berbuka setelah seharian
penuh berpuasa. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali tidak menyadari
betapa cepatnya waktu berlalu dan betapa singkatnya kenikmatan dunia ini. Puasa
mengajarkan kita untuk menghargai setiap nikmat yang diberikan oleh Allah Swt.,
termasuk nikmat makan dan minum yang sering kali dianggap sepele. Pengalaman
berpuasa menunjukkan betapa cepatnya kenikmatan dunia itu datang dan pergi, dan
seberapa banyak kita harus bersyukur atas setiap detik yang kita nikmati.
Rasa lapar yang dirasakan selama berpuasa seakan
menjadi ujian kesabaran yang mengingatkan kita pada orang-orang yang kurang
beruntung, yang hidupnya serba kekurangan. Ketika kita merasa lapar setelah
berjam-jam, kita mulai menyadari betapa besar nikmat yang Allah Swt. berikan
ketika makanan dan minuman tersedia di hadapan kita. Namun, ketika waktu
berbuka tiba, rasa lapar yang telah lama menahan tubuh seolah menghilang dalam
hitungan detik. Hanya dalam beberapa menit, kita dapat menikmati makanan dan
minuman, dan rasa kenyang pun datang dengan begitu cepat. Kenikmatan ini
mengajarkan kita tentang betapa singkatnya kenikmatan dunia dan betapa kita sering
kali mengabaikan nikmat yang ada di depan mata.
Fenomena ini merupakan pengingat bagi kita bahwa
segala kenikmatan dunia sifatnya sementara. Dalam waktu yang begitu singkat,
segala yang kita anggap sebagai kenikmatan dunia bisa hilang begitu saja. Allah
Swt. mengingatkan kita dalam Al-Qur'an surat Al-Imran ayat 185:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ
يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ
فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari
Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari
neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan
dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehidupan di dunia ini sementara,
begitu juga dengan segala kenikmatan yang kita nikmati. Makanan, minuman, dan
segala hal yang kita anggap sebagai kenikmatan duniawi hanyalah sementara. Oleh
karena itu, kita harus memanfaatkan waktu yang ada untuk beribadah dan
bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan kepada kita, karena
kita tidak pernah tahu kapan kenikmatan itu bisa hilang.
Rasa lapar yang datang setelah berpuasa selama
berjam-jam dan hilang dalam sekejap ketika berbuka mengajarkan kita untuk lebih
menghargai waktu dan kesempatan yang diberikan oleh Allah Swt. Kenikmatan dunia
yang singkat dan cepat berlalu ini seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk
fokus pada amal dan ibadah yang lebih abadi. Dalam surat Al-Mulk ayat 15, Allah
berfirman:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا
وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa segala kenikmatan yang kita nikmati di dunia ini, termasuk makan dan minum, adalah pemberian dari Allah yang harus disyukuri. Namun, kita juga harus ingat bahwa kehidupan dunia ini adalah tempat persinggahan sementara, dan akhirnya kita akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan kita.
Dengan demikian, pengalaman berpuasa yang mengajarkan kita tentang rasa lapar yang begitu panjang dan kenikmatan berbuka yang singkat, seharusnya menjadi pengingat akan betapa singkatnya kenikmatan dunia ini. Semua yang kita nikmati di dunia ini hanyalah sementara, dan hanya amal yang baiklah yang akan membawa kita pada kebahagiaan abadi di akhirat. Oleh karena itu, mari kita manfaatkan setiap detik kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk beribadah, bersyukur, dan meningkatkan kualitas diri agar dapat meraih kebahagiaan yang hakiki di akhirat.
