Dalam perjalanan spiritual,
manusia tidak hanya diuji oleh besar kecilnya ibadah, tetapi juga oleh cara
hatinya menerima takdir dan memperlakukan sesama. Ada orang yang rajin beramal,
tetapi hatinya mudah protes kepada Allah ketika hidup tidak berjalan sesuai
keinginan. Ada pula orang yang banyak mengetahui ilmu agama, tetapi sulit
memaafkan kesalahan orang lain. Kalam hikmah Syekh Abu Hasan asy-Syadzili, “Ada
dua kebaikan yang tidak dapat dirusak oleh dosa dan keburukan apa pun: ridha
pada ketentuan Allah dan memaafkan kesalahan hamba-Nya,” mengajarkan bahwa
ada dua sikap hati yang sangat agung nilainya, yaitu lapang menerima keputusan
Allah dan lembut dalam memaafkan manusia.
Ridha pada ketentuan Allah
berarti menerima segala keputusan-Nya dengan hati yang tunduk, percaya, dan
tidak berprasangka buruk. Ridha bukan berarti manusia tidak boleh sedih,
menangis, atau merasa berat ketika menghadapi ujian. Ridha adalah keadaan hati
yang tetap yakin bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik, meskipun manusia
belum memahami hikmahnya. Ketika seseorang ridha, ia tidak memberontak kepada
takdir, tidak menyalahkan Allah, dan tidak larut dalam keluhan yang menjauhkan
dirinya dari keimanan. Ia tetap berusaha, tetap berdoa, tetapi hatinya
bersandar kepada kebijaksanaan Allah.
Kebaikan kedua adalah memaafkan
kesalahan hamba Allah. Memaafkan bukan perkara ringan, sebab manusia sering
kali sulit melupakan luka, hinaan, pengkhianatan, atau perlakuan tidak adil
dari orang lain. Namun, orang yang mampu memaafkan menunjukkan keluasan hati
dan kemuliaan akhlak. Ia tidak membiarkan dirinya terus diperbudak oleh dendam.
Dengan memaafkan, hati menjadi lebih bersih, jiwa menjadi lebih tenang, dan
hubungan dengan sesama tidak selalu dikendalikan oleh luka masa lalu. Memaafkan
bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi memilih untuk tidak menjadikan
kebencian sebagai beban hidup.
Dua kebaikan ini disebut tidak dapat dirusak oleh dosa dan keburukan apa pun karena keduanya bersumber dari kedalaman iman dan kebersihan hati. Ridha kepada Allah menunjukkan bahwa seorang hamba mengenal Tuhannya dengan baik: ia percaya pada kasih sayang, keadilan, dan hikmah Allah. Sementara memaafkan kesalahan manusia menunjukkan bahwa seseorang mampu menundukkan ego, amarah, dan keinginan untuk membalas. Dosa biasanya merusak amal karena lahir dari kelalaian, kesombongan, atau hawa nafsu. Namun, ridha dan memaafkan justru menjadi tanda bahwa hati masih hidup, masih lembut, dan masih dekat dengan rahmat Allah.
Oleh karena itu, kalam hikmah ini mengajak kita untuk lebih serius memperbaiki hati. Dalam menghadapi takdir, belajarlah berkata, “Ya Allah, aku percaya kepada ketentuan-Mu,” meskipun hati masih berusaha kuat. Dalam menghadapi kesalahan manusia, belajarlah memaafkan, meskipun prosesnya tidak selalu mudah dan cepat. Orang yang ridha akan hidup lebih tenang karena tidak terus-menerus melawan ketentuan Allah. Orang yang memaafkan akan hidup lebih ringan karena tidak membawa dendam ke mana-mana. Maka, dua kebaikan ini adalah jalan menuju ketenangan batin, kemuliaan akhlak, dan kedekatan yang lebih dalam kepada Allah.
