Halaman

Jumat, 01 Mei 2026

48 Tahun PIQ Singosari: Dari Doa Waliyullah Menuju Cahaya Kebermanfaatan

Hari ini, 1 Mei 2026, Pesantren Ilmu Al Quran (PIQ) Singosari Malang menapaki usia yang penuh berkah: 48 tahun perjalanan pengabdian, sejak berdiri pada 1 Mei 1978. Hampir setengah abad bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah lembaga pesantren untuk terus istiqamah menjaga, mengajarkan, dan menyebarkan cahaya Al-Qur’an. Hari lahir ke-48 ini menjadi momentum yang sangat istimewa, bukan hanya untuk mengenang sejarah berdirinya PIQ, tetapi juga untuk meneguhkan kembali komitmen besar pesantren dalam membentuk generasi Qur’ani yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi umat.

PIQ Singosari didirikan oleh Almaghfurlah K.H. M. Basori Alwi Murtadho, seorang ulama yang memiliki kecintaan mendalam kepada Al-Qur’an dan pengabdian besar terhadap pendidikan umat. Beliau tidak hanya mendirikan pesantren sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai pusat pembinaan ruhani, akhlak, dan keilmuan. Dari tangan, doa, perjuangan, dan keteladanan beliau, PIQ tumbuh menjadi lembaga yang memadukan tradisi pesantren, kedalaman ilmu Al-Qur’an, serta semangat pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, hari lahir PIQ bukan sekadar peringatan administratif, melainkan perayaan atas warisan perjuangan seorang ulama yang menanamkan nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan santri dan masyarakat.

Kiranya tema “Menebar Cahaya Al-Qur’an” sangat tepat untuk menggambarkan jati diri PIQ Singosari. Al-Qur’an adalah cahaya yang membimbing manusia dari kegelapan menuju petunjuk, dari kebingungan menuju keyakinan, dan dari kehidupan yang kosong menuju kehidupan yang bermakna. Selama 48 tahun, PIQ telah menjadi salah satu tempat bersemainya cahaya itu: cahaya ilmu, cahaya akhlak, cahaya ibadah, dan cahaya pengabdian. Para santri yang belajar di dalamnya diharapkan tidak hanya mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memahami, menghayati, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata.

Perjalanan berdirinya PIQ Singosari juga memiliki fondasi spiritual yang sangat kuat, yaitu doa dari seorang waliyullah, K.H. Abdul Hamid Pasuruan. Ketika K.H. M. Basori Alwi Murtadho sowan kepada beliau untuk memohon doa restu sebelum mendirikan PIQ, terucap doa yang sangat indah dan mendalam: لِلنَّفْعِ وَالْقَبُوْلِ وَالْجَمَالِ وَالْكَمَالِ (Lin naf’i wal qabūl wal jamāl wal kamāl), yang berarti untuk kemanfaatan, penerimaan, keindahan, dan kesempurnaan. Doa ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan arah perjuangan dan ruh pengabdian PIQ. Di dalamnya terkandung harapan agar PIQ selalu membawa manfaat, diterima oleh Allah dan masyarakat, memancarkan keindahan akhlak serta ilmu, dan terus bergerak menuju kesempurnaan dalam pengabdian.

Makna “lin naf’i” mengingatkan bahwa keberadaan PIQ harus senantiasa membawa manfaat seluas-luasnya. Manfaat itu hadir melalui pendidikan santri, dakwah kepada masyarakat, pengajaran Al-Qur’an, pembinaan akhlak, serta lahirnya kader-kader yang siap mengabdi. Sementara “wal qabūl” mengandung harapan agar seluruh amal, ilmu, dan perjuangan yang dilakukan di PIQ mendapatkan penerimaan dari Allah Swt. serta diterima dengan baik oleh umat. Sebuah lembaga pendidikan Islam tidak cukup hanya besar secara fisik, tetapi juga harus diterima karena keikhlasan, ketulusan, dan keberkahannya.

Adapun “wal jamāl wal kamāl” memberikan pesan bahwa perjuangan PIQ hendaknya senantiasa dihiasi dengan keindahan dan diarahkan menuju kesempurnaan. Keindahan itu tampak dalam adab santri, kemuliaan akhlak guru, suasana keilmuan yang teduh, bacaan Al-Qur’an yang merdu, serta hubungan penuh hormat antara murid dan kiai. Kesempurnaan bukan berarti tanpa kekurangan, melainkan semangat untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat spiritualitas, dan menjaga amanah para pendiri. Dengan demikian, PIQ tidak hanya menjadi tempat belajar Al-Qur’an, tetapi juga menjadi taman ruhani yang menumbuhkan jiwa-jiwa yang dekat dengan Allah.

Pada Hari Lahir ke-48 PIQ Singosari, marilah kita hadiahkan surat Al-Fatihah untuk Almaghfurlah K.H. M. Basori Alwi Murtadho, Almaghfurlah K.H. Abdul Hamid Pasuruan, para masyayikh, guru, pengasuh, serta seluruh pejuang Al-Qur’an yang telah berjasa dalam perjalanan pesantren ini. Semoga PIQ Singosari senantiasa istiqamah menebar cahaya Al-Qur’an, melahirkan generasi yang membawa manfaat, mendapatkan penerimaan, memancarkan keindahan, dan terus menuju kesempurnaan dalam pengabdian. Semoga usia 48 tahun ini menjadi pintu keberkahan baru untuk masa depan PIQ yang semakin gemilang, semakin luas manfaatnya, dan semakin kokoh sebagai pesantren penjaga cahaya Al-Qur’an. Al-Fatihah.

Ilmu Agama: Warisan Terbesar Orang Tua untuk Anak

Di tengah derasnya perubahan zaman, orang tua sering kali sangat memperhatikan masa depan duniawi anak-anaknya: pendidikan formal, pekerjaan, keterampilan, prestasi, dan kecukupan materi. Semua itu tentu penting sebagai bekal kehidupan. Namun, ada bekal yang jauh lebih mendasar dan menentukan keselamatan hidup anak, yaitu “ilmu agama”. Kalam hikmah Al-Habib Abdullah Al-Akbar Alaydrus:

إِنَّ كَثِيْرًا مِنَ الْآبَاءِ مَنْ يَكُوْنُ هَلَاكَ أَبْنَائِهِمْ وَبَنَاتِهِمْ بِأَيْدِيْهِمْ

Banyak orang tua yang menjadi sebab celakanya anak-anak mereka”, menjadi peringatan lembut sekaligus tegas agar orang tua tidak lalai dalam membimbing anak menuju jalan Allah.

Maksud dari kalam tersebut bukanlah untuk menyalahkan orang tua secara kasar, tetapi untuk mengingatkan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar terhadap keselamatan agama anak-anaknya. Anak adalah amanah, bukan sekadar keturunan biologis atau kebanggaan keluarga. Ketika orang tua hanya memberi makan, pakaian, sekolah, dan fasilitas hidup, tetapi tidak mengenalkan anak kepada Allah, Rasulullah, Al-Qur’an, adab, halal-haram, serta kewajiban ibadah, maka ada bagian penting dari amanah itu yang terabaikan. Kelalaian inilah yang dapat menjadi sebab kerusakan dan celakanya anak, baik dalam akhlak, pergaulan, maupun arah hidupnya.

Banyak anak tumbuh cerdas secara akademik, mahir dalam teknologi, dan berhasil secara duniawi, tetapi kosong dari tuntunan agama. Akibatnya, mereka mudah kehilangan arah ketika menghadapi godaan, tekanan hidup, atau lingkungan yang buruk. Ilmu agama berfungsi sebagai cahaya yang membimbing hati, akal, dan perilaku. Tanpa cahaya itu, anak mungkin mampu mengejar dunia, tetapi tidak memiliki pegangan yang kuat untuk membedakan mana yang diridhai Allah dan mana yang mengundang murka-Nya. Di sinilah orang tua perlu sadar bahwa keberhasilan anak tidak cukup diukur dari nilai, gelar, pekerjaan, atau harta, tetapi juga dari iman, adab, ibadah, dan akhlaknya.

Mengajarkan ilmu agama kepada anak tidak selalu harus dimulai dari hal yang berat. Orang tua dapat memulainya dari kebiasaan sederhana, seperti mengajarkan shalat, membaca doa harian, mengenalkan kisah Nabi, membiasakan membaca Al-Qur’an, mengajak anak ke majelis ilmu, dan memberi teladan dalam ucapan serta perbuatan. Anak lebih mudah menerima agama ketika ia melihat orang tuanya sendiri menghormati agama. Nasihat akan lebih kuat jika didukung oleh contoh nyata. Karena itu, orang tua bukan hanya diperintah untuk menyuruh anak berbuat baik, tetapi juga menjadi contoh kebaikan di hadapan anak-anaknya.

Dengan demikian, kalam hikmah Al-Habib Abdullah Al-Akbar Alaydrus ini mengandung pesan yang sangat mendalam: jangan sampai cinta orang tua kepada anak justru hanya berhenti pada urusan dunia, sementara keselamatan akhiratnya terabaikan. Orang tua yang benar-benar mencintai anaknya adalah orang tua yang berusaha menyelamatkan iman, akhlak, dan agamanya. Mewariskan ilmu agama adalah salah satu bentuk kasih sayang terbesar, karena manfaatnya tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga menjadi sebab keselamatan di akhirat. Maka, mendidik anak dengan ilmu agama bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab suci yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

48 Tahun PIQ Singosari: Dari Doa Waliyullah Menuju Cahaya Kebermanfaatan

Hari ini, 1 Mei 2026, Pesantren Ilmu Al Quran (PIQ) Singosari Malang menapaki usia yang penuh berkah: 48 tahun perjalanan pengabdian, seja...