Halaman

Minggu, 31 Mei 2026

Ketenangan Dimulai Saat Hati Berserah

Dalam perjalanan hidup, manusia sering merasa lelah bukan hanya karena banyaknya tugas, ujian, atau masalah yang datang, tetapi karena hatinya terus berusaha mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kuasanya. Kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Ibnu Atha’illah As-Sakandari ini mengajak kita merenung bahwa sumber keletihan batin sering kali bukan terletak pada beratnya kehidupan, melainkan pada lemahnya tawakal. Ketika seseorang merasa harus mengatur semua hal sendiri, memastikan semua berjalan sesuai kehendaknya, dan takut jika rencananya gagal, maka hatinya akan mudah gelisah. Padahal, manusia hanya diperintahkan untuk berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah Swt.

Makna “lelahmu bukan karena beratnya hidup” menunjukkan bahwa hidup memang tidak pernah sepenuhnya bebas dari ujian. Setiap orang memiliki beban masing-masing: ada yang diuji dengan keluarga, pekerjaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan, atau perasaan yang tidak mudah dijelaskan. Namun, yang membuat beban itu terasa semakin berat adalah ketika manusia memikulnya sendirian tanpa menghadirkan Allah dalam hatinya. Ia terus berpikir, “Bagaimana jika gagal?”, “Bagaimana jika tidak sesuai rencana?”, atau “Bagaimana jika semua tidak berjalan seperti yang aku harapkan?” Pikiran semacam ini membuat jiwa letih, sebab manusia sedang mencoba mengambil peran yang bukan miliknya, yaitu memastikan takdir berjalan sesuai keinginannya.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surat Ath-Thalaq ayat 3:

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah-lah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” Ayat ini menegaskan bahwa tawakal bukan berarti berhenti berusaha, tetapi menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik. Orang yang bertawakal tetap bekerja, belajar, berdoa, dan memperbaiki diri, tetapi hatinya tidak menggantungkan ketenangan pada hasil yang ia inginkan. Ia yakin bahwa keputusan Allah selalu mengandung hikmah, meskipun tidak selalu segera dipahami.

Bagian kalam hikmah “saat hati berhenti merasa mampu mengatur segalanya” mengajarkan kerendahan hati di hadapan Allah. Manusia sering merasa tenang jika semua hal berada dalam kendalinya, padahal kendali manusia sangat terbatas. Kita bisa merencanakan, tetapi tidak bisa memastikan masa depan. Kita bisa menjaga, tetapi tidak bisa menolak semua musibah. Kita bisa mencintai, tetapi tidak bisa mengatur hati orang lain. Karena itu, ketenangan sejati lahir ketika seseorang sadar bahwa dirinya hamba, bukan pengatur semesta. Kesadaran ini membuat hati lebih ringan, sebab ia tidak lagi memaksa hidup berjalan sesuai kehendaknya, melainkan belajar ridha terhadap ketentuan Allah.

Rasulullah Saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:

 لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا، وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” Hadis ini menunjukkan keseimbangan antara usaha dan tawakal: burung tetap keluar mencari rezeki, tetapi rezekinya datang karena Allah. Maka, pesan utama dari kalam hikmah tersebut adalah agar manusia tetap berikhtiar dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak membiarkan hatinya hancur karena ingin mengatur segalanya. Ketika beban hidup diserahkan kepada Allah dengan penuh percaya, saat itulah ketenangan mulai turun ke dalam hati.

Sabtu, 30 Mei 2026

Perbaikan Kecil, Kesuksesan Besar

Kesuksesan sering kali dipandang sebagai hasil besar yang datang secara tiba-tiba, seolah-olah seseorang berhasil hanya karena bakat, keberuntungan, atau kesempatan yang datang pada waktu yang tepat. Padahal, di balik setiap keberhasilan, biasanya ada proses panjang yang tidak selalu terlihat: latihan, kegagalan, evaluasi, kedisiplinan, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri. Ungkapan “Kesuksesan adalah hasil dari perbaikan diri yang konsisten” mengingatkan kita bahwa keberhasilan sejati tidak dibangun dalam satu malam, melainkan melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus.

Perbaikan diri yang konsisten berarti seseorang memiliki kemauan untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Ia tidak hanya puas dengan keadaan saat ini, tetapi juga tidak terlalu keras menuntut dirinya harus langsung sempurna. Perbaikan diri dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mengatur waktu dengan lebih baik, belajar lebih tekun, memperbaiki cara berkomunikasi, meningkatkan keterampilan, atau membangun kebiasaan positif. Jika dilakukan secara berulang, perubahan kecil tersebut akan menjadi fondasi yang kuat untuk mencapai tujuan besar.

Kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar impian seseorang, tetapi juga oleh seberapa konsisten ia berusaha mewujudkannya. Banyak orang memiliki cita-cita tinggi, tetapi tidak semua mampu bertahan dalam prosesnya. Konsistensi membuat seseorang tetap melangkah meskipun hasil yang diinginkan belum terlihat. Ketika seseorang terus belajar, mencoba, dan memperbaiki kesalahan, ia sedang menyiapkan dirinya untuk meraih keberhasilan yang lebih matang dan bermakna.

Dalam perjalanan menuju sukses, kegagalan bukanlah tanda bahwa seseorang tidak mampu. Kegagalan justru dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki strategi, sikap, dan cara berpikir. Orang yang mau memperbaiki diri akan melihat kesalahan sebagai pelajaran, bukan sebagai alasan untuk berhenti. Dengan sikap seperti ini, setiap pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang sulit, dapat menjadi sarana untuk tumbuh. Semakin sering seseorang mengevaluasi dan memperbaiki diri, semakin besar pula peluangnya untuk mencapai keberhasilan.

Dengan demikian, kesuksesan adalah buah dari proses panjang yang dijalani dengan tekun dan konsisten. Tidak ada pencapaian besar yang benar-benar lepas dari usaha kecil yang dilakukan setiap hari. Oleh karena itu, jangan hanya mengharapkan hasil yang besar, tetapi bangunlah kebiasaan untuk terus memperbaiki diri. Dengan disiplin, kesabaran, dan semangat belajar yang tidak pernah padam, seseorang akan semakin dekat dengan masa depan yang diimpikan. Kesuksesan bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi juga tentang menjadi pribadi yang lebih baik sepanjang perjalanan.

Jumat, 29 Mei 2026

Hari Tasyriq: Saatnya Bersyukur, Berzikir, dan Berbagi

Hari Tasyriq adalah hari-hari istimewa yang datang setelah puncak perayaan Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada hari-hari ini, suasana ibadah, kegembiraan, dan kebersamaan masih terasa kuat. Umat Islam tidak hanya diajak untuk menikmati nikmat Allah melalui makan dan minum, tetapi juga diingatkan agar kegembiraan itu tidak melalaikan hati dari zikir kepada-Nya. Karena itu, Hari Tasyriq bukan sekadar hari lanjutan setelah Idul Adha, melainkan hari yang sarat makna spiritual, sosial, dan kemanusiaan.

Rasulullah Saw. bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَزَادَ فِي رِوَايَةٍ وَذِكْرٍ للهِ.

Hari Tasyriq adalah hari makan, minum (pada riwayat lain), dan hari zikir kepada Allah.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang seimbang. Ibadah tidak selalu dipahami sebagai menahan diri dari kenikmatan dunia, tetapi juga sebagai kemampuan menikmati rezeki Allah dengan penuh syukur. Makan dan minum pada Hari Tasyriq menjadi bagian dari kegembiraan yang dibenarkan, selama dilakukan dengan cara yang halal, tidak berlebihan, dan tetap mengingat Allah.

Salah satu amaliah penting pada Hari Tasyriq adalah memperbanyak zikir kepada Allah. Zikir ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti membaca takbir, tahmid, tahlil, tasbih, istighfar, dan doa-doa kebaikan. Setelah Idul Adha, umat Islam dianjurkan untuk terus menghidupkan kalimat takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah. Takbir bukan hanya ucapan lisan, tetapi juga pernyataan hati bahwa Allah Mahabesar atas segala nikmat, rezeki, kehidupan, dan kesempatan beribadah yang diberikan kepada manusia.

Amaliah berikutnya adalah menikmati makanan dan minuman sebagai wujud syukur, terutama dari hasil penyembelihan hewan kurban. Hari Tasyriq menjadi waktu untuk mempererat hubungan sosial melalui berbagi daging kurban kepada keluarga, tetangga, fakir miskin, dan masyarakat sekitar. Dalam hal ini, makan dan minum bukan sekadar aktivitas jasmani, melainkan bagian dari ibadah sosial. Orang yang mampu berkurban diajak untuk tidak menikmati nikmat sendirian, sedangkan orang yang menerima daging kurban ikut merasakan kebahagiaan Idul Adha.

Selain itu, Hari Tasyriq juga mengajarkan bahwa kegembiraan dalam Islam harus tetap berada dalam bingkai ketaatan. Umat Islam dianjurkan menjaga shalat, memperbanyak doa, mempererat silaturahim, serta menjauhi perbuatan yang sia-sia atau berlebihan. Pada hari-hari ini, berpuasa tidak dianjurkan karena Rasulullah saw. menyebutnya sebagai hari makan dan minum. Larangan berpuasa tersebut menunjukkan bahwa ada waktu tertentu ketika seorang muslim diperintahkan untuk menampakkan rasa syukur melalui kegembiraan yang wajar, bukan dengan menahan diri dari makan dan minum.

Dengan demikian, amaliah di Hari Tasyriq mencakup makan dan minum dengan penuh syukur, memperbanyak zikir, mengumandangkan takbir, berbagi daging kurban, mempererat silaturahim, serta menjaga suasana ibadah setelah Idul Adha. Hadis tersebut mengajarkan bahwa Hari Tasyriq adalah hari kebahagiaan yang tidak boleh kosong dari ingatan kepada Allah. Seorang muslim yang memahami makna Hari Tasyriq akan menjadikannya sebagai momentum untuk bersyukur, berbagi, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui nikmat yang telah diberikan-Nya.

Kamis, 28 Mei 2026

Kurban sebagai Wujud Ketaatan dan Solidaritas Masyarakat

Di balik suasana takbir yang menggema pada Hari Raya Idul Adha, ibadah kurban menghadirkan pesan yang sangat mendalam bagi umat Islam. Kurban bukan sekadar kegiatan menyembelih hewan, melainkan bentuk ketaatan, keikhlasan, dan kepedulian sosial yang diwariskan dari kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. Melalui ibadah ini, umat Islam diajak untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. sekaligus menumbuhkan rasa empati terhadap sesama, terutama kepada masyarakat yang membutuhkan.

Waktu penyembelihan hewan kurban dimulai setelah pelaksanaan shalat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah. Penyembelihan yang dilakukan sebelum salat Id tidak dianggap sebagai ibadah kurban, melainkan hanya penyembelihan biasa. Oleh karena itu, umat Islam perlu memperhatikan ketentuan waktunya agar ibadah kurban menjadi sah sesuai syariat. Selain pada tanggal 10 Dzulhijjah, penyembelihan juga dapat dilakukan pada hari-hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban sebaiknya dilakukan dengan cara yang baik, tertib, dan sesuai tuntunan agama. Hewan yang dikurbankan harus memenuhi syarat, seperti sehat, cukup umur, tidak cacat, dan layak untuk disembelih. Proses penyembelihan juga perlu memperhatikan adab, kebersihan, serta kesejahteraan hewan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengatur aspek ibadah, tetapi juga menekankan nilai kemanusiaan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Dari sisi sosial, ibadah kurban memiliki dampak yang sangat besar bagi masyarakat. Daging kurban yang dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan warga sekitar dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan mereka, terutama bagi keluarga yang jarang mengonsumsi daging. Pembagian daging kurban juga mempererat hubungan antarwarga karena melibatkan kerja sama, gotong royong, dan rasa saling peduli. Dengan demikian, kurban menjadi sarana untuk mengurangi kesenjangan sosial dan menumbuhkan rasa kebersamaan.

Selain memberi manfaat secara ekonomi dan pangan, kurban juga memperkuat nilai solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang mampu berkurban diajak untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga berbagi rezeki dengan orang lain. Sementara itu, masyarakat penerima kurban merasakan kebahagiaan dan perhatian dari sesama. Oleh karena itu, waktu penyembelihan hewan kurban yang telah ditetapkan dalam Islam bukan hanya aturan ibadah, tetapi juga momentum penting untuk membangun masyarakat yang lebih peduli, harmonis, dan penuh kasih sayang.

Rabu, 27 Mei 2026

Idul Adha: Makna Pengorbanan, Ketaatan, dan Kepedulian

Hari Raya Idul Adha adalah salah satu hari besar dan agung dalam Islam, sebuah hari yang mengajarkan bahwa cinta kepada Allah Swt. harus ditempatkan di atas segala kecintaan duniawi. Hari raya ini hadir bukan hanya sebagai perayaan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga sebagai momentum untuk memperbarui keimanan, menumbuhkan kepedulian sosial, dan meneladani ketaatan Nabi Ibrahim a.s. serta keikhlasan Nabi Ismail a.s. Di balik gema takbir yang berkumandang, Idul Adha menyimpan pesan mendalam tentang pengorbanan, kesabaran, kepatuhan, dan kasih sayang antarsesama.

Idul Adha diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah, setelah umat Islam melalui hari-hari utama di bulan Dzulhijjah, terutama Hari Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Bagi jamaah haji, Idul Adha berkaitan dengan rangkaian manasik seperti melempar jumrah, tahallul, dan penyembelihan hadyu (hewan ternak yang disembelih dalam rangkaian ibadah haji sebagai hadiah atau pelengkap ibadah). Sementara bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, Idul Adha dirayakan dengan melaksanakan shalat Id, mendengarkan khutbah, memperbanyak takbir, serta menyembelih hewan kurban bagi yang mampu. Karena itu, Idul Adha sering disebut juga sebagai Hari Raya Kurban, sebab salah satu ibadah utamanya adalah menyembelih hewan kurban sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Swt.

Asal-usul spiritual Idul Adha tidak dapat dilepaskan dari kisah Nabi Ibrahim a.s. yang diperintahkan Allah Swt. melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail a.s. Perintah tersebut merupakan ujian keimanan yang sangat berat, sebab Nabi Ibrahim a.s. sangat mencintai putranya. Namun, beliau menunjukkan ketaatan luar biasa kepada Allah Swt., sedangkan Nabi Ismail a.s. menunjukkan kepasrahan dan kesabaran yang agung. Ketika keduanya telah berserah diri, Allah Swt. mengganti Nabi Ismail a.s. dengan sembelihan yang besar. Peristiwa inilah yang menjadi dasar ibadah kurban, sekaligus simbol bahwa ketaatan kepada Allah Swt. selalu membawa rahmat dan kemuliaan.

Pelajaran utama dari Idul Adha adalah “keikhlasan dalam berkorban”. Berkurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan melatih diri untuk melepaskan sebagian harta yang dicintai demi menaati perintah Allah Swt. Ibadah kurban mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh terikat secara berlebihan pada harta, jabatan, kesenangan, atau kepentingan pribadi. Segala yang dimiliki manusia pada hakikatnya adalah titipan Allah Swt., sehingga harus digunakan untuk kebaikan. Dengan berkurban, seorang Muslim belajar bahwa nilai ibadah tidak hanya terletak pada bentuk lahiriahnya, tetapi pada ketakwaan, ketulusan, dan niat yang bersih.

Selain mengajarkan hubungan seorang hamba dengan Allah Swt., Idul Adha juga mengandung pelajaran sosial yang sangat kuat. Daging kurban dibagikan kepada keluarga, tetangga, fakir miskin, dan masyarakat sekitar, sehingga tercipta suasana kebersamaan dan kepedulian. Orang yang mampu diajak untuk berbagi, sedangkan orang yang membutuhkan ikut merasakan kebahagiaan hari raya. Dengan demikian, Idul Adha memperkuat persaudaraan, mengurangi kesenjangan sosial, dan menanamkan rasa empati. Hari raya ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya dirasakan sendiri, tetapi semakin bermakna ketika dibagikan kepada orang lain.

Dengan demikian, Idul Adha adalah madrasah kehidupan yang mengajarkan ketaatan, kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian. Dari Nabi Ibrahim a.s., kita belajar tentang ketaatan tanpa ragu kepada Allah Swt.; dari Nabi Ismail a.s., kita belajar tentang kesabaran dan kerelaan menerima ketentuan Allah; dari ibadah kurban, kita belajar tentang berbagi dan membersihkan hati dari sifat egois. Oleh karena itu, Idul Adha seharusnya tidak berhenti pada penyembelihan hewan kurban semata, tetapi harus melahirkan pribadi yang lebih taat, lebih dermawan, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah Swt.

Selasa, 26 Mei 2026

Hari Arafah: Puncak Ibadah Haji dan Lautan Ampunan Ilahi

Hari Arafah adalah salah satu hari paling agung dalam kalender Islam; ia hadir seperti puncak kerinduan seorang hamba kepada Allah Swt. Pada hari ini, jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf, sementara umat Islam di berbagai penjuru dunia ikut menghidupkannya dengan doa, zikir, tobat, sedekah, dan puasa sunnah. Hari Arafah jatuh pada 9 Dzulhijjah, sehari sebelum Idul Adha, dan menjadi momen yang sangat istimewa karena di dalamnya terkandung pesan kepasrahan, pengampunan, dan harapan besar kepada rahmat Allah Swt.

Secara syariat, Hari Arafah sangat erat kaitannya dengan ibadah haji. Wukuf di Arafah merupakan salah satu rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan oleh jamaah haji. Wukuf dilakukan dengan hadir atau berdiam diri di wilayah Arafah pada waktu yang telah ditentukan, yaitu sejak tergelincir matahari pada 9 Dzulhijjah sampai terbit fajar pada 10 Dzulhijjah. Karena itulah, Hari Arafah sering disebut sebagai inti atau puncak ibadah haji; tanpa wukuf di Arafah, ibadah haji tidak sah.

Makna spiritual Hari Arafah tidak hanya terbatas bagi jamaah haji, tetapi juga menyentuh seluruh kaum Muslimin. Bagi jamaah haji, Arafah adalah tempat bermunajat, menundukkan diri, memperbanyak doa, dan mengakui kelemahan di hadapan Allah Swt. Bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, Hari Arafah menjadi kesempatan untuk ikut meraih kemuliaannya melalui amal saleh. Pada hari ini, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, bersedekah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama, sebab hari tersebut merupakan bagian dari hari-hari utama pada bulan Dzulhijjah.

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada Hari Arafah adalah puasa sunnah Arafah, khususnya bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji dengan melafalkan niat:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً للهِ تَعَالَى

Saya niat berpuasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.” Puasa ini dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Anjuran tersebut didasarkan pada hadis Nabi Muhammad saw. dari Abu Qatadah r.a.; ketika Rasulullah saw. ditanya tentang puasa Arafah, beliau menjelaskan bahwa puasa tersebut menjadi sebab penghapusan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus (dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim).

Keutamaan puasa Arafah sangat besar karena Allah Swt. menjadikannya sebagai sarana pembersihan dosa. Namun, para ulama termasuk Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi (wafat 1310 H) dalam catatannya menjelaskan bahwa penghapusan dosa yang dimaksud terutama berkaitan dengan dosa-dosa kecil yang tidak berkaitan dengan hak sesama manusia (karena hak manusia harus diselesaikan dengan kerelaan pemilik hak tersebut), sedangkan dosa besar tetap membutuhkan tobat nasuha, yaitu tobat yang sungguh-sungguh dengan meninggalkan dosa, menyesalinya, dan bertekad tidak mengulanginya.

Adapun bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah, para ulama menjelaskan bahwa berpuasa pada hari tersebut hukumnya “khilaf al-aula” atau meninggalkannya lebih utama. Hal ini karena jamaah haji dianjurkan untuk menjaga kekuatan fisik agar lebih maksimal dalam melaksanakan wukuf dan memperbanyak bacaan doa, zikir, dan munajat. Dengan demikian, Hari Arafah mengajarkan bahwa puncak ibadah bukan hanya terletak pada ritual lahiriah, tetapi juga pada ketulusan hati, kesungguhan tobat, dan harapan penuh kepada ampunan Allah Swt.

Senin, 25 Mei 2026

Hari Tarwiyah: Persiapan Air, Kejernihan Iman, dan Jalan Menuju Arafah

Hari Tarwiyah adalah salah satu pintu spiritual menuju puncak haji: hari ketika manusia belajar “bersiap”, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin. Ia jatuh pada 8 Dzulhijjah, sehari sebelum wukuf di Arafah. Keindahan hari ini terletak pada dua makna besar: persiapan bekal perjalanan menuju Arafah dan perenungan iman yang mendalam sebagaimana dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim a.s. Dalam tradisi ibadah, Hari Tarwiyah menjadi momen untuk memperbanyak amal saleh, terutama bagi yang tidak sedang berhaji, salah satunya dengan berpuasa sunnah.

Menurut keterangan yang dinisbatkan kepada Imam an-Nawawi, Hari Tarwiyah berhubungan erat dengan kesiapan jamaah haji sebelum memasuki puncak manasik, yaitu wukuf di Arafah. Dalam keterangan fikih, Tarwiyah adalah hari kedelapan Dzulhijjah; dinamakan demikian karena dahulu para jamaah “membawa dan menyiapkan air dari Makkah menuju Arafah”, sebab Arafah pada masa itu belum tersedia air sebagaimana sekarang.

Makna “persiapan air” ini juga tampak dalam praktik manasik, di mana dijelaskan bahwa pada Hari Tarwiyah, jamaah haji singgah di Mina dan dahulu mereka mengumpulkan bekal air karena Arafah belum memiliki sumber air memadai. Dalam Al-Idhah fi Manasik al-Hajj, Imam an-Nawawi juga menyebutkan kesunnahan bagi jamaah haji untuk singgah di Mina pada 8 Dzulhijjah, melaksanakan shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, bermalam di Mina, lalu shalat Shubuh di sana sebelum menuju Arafah. Namun, beliau menegaskan bahwa amalan tersebut bersifat sunnah, bukan rukun atau wajib haji; jika ditinggalkan, tidak ada dam, hanya terlewat keutamaannya.

Sementara itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq memberikan penjelasan yang lebih reflektif. Beliau menyebut Tarwiyah sebagai hari ketika orang-orang keluar dari Makkah menuju Mina dan “mengambil air Zamzam” dalam jumlah banyak. Lalu beliau menyampaikan pendapat lain: hari itu dinamakan Tarwiyah karena Nabi Ibrahim a.s. pada malamnya bermimpi menyembelih putranya. Ketika pagi tiba, beliau merenung dan bertanya dalam batin: apakah mimpi itu berasal dari “musuh”, yakni setan, atau dari “Yang Maha Pengasih”, yakni Allah Swt.?

Di sinilah Hari Tarwiyah mengajarkan sikap iman yang matang: Nabi Ibrahim a.s. tidak gegabah memahami pengalaman spiritual, tetapi melakukan tarawwi, yaitu berpikir, menimbang, dan memastikan sumber kebenaran. Menurut penjelasan Syekh Abdul Qadir, Nabi Ibrahim a.s. tetap berada dalam keadaan berpikir pada hari itu; barulah pada Hari Arafah beliau mengetahui bahwa perintah itu datang dari Allah Swt., sehingga hari berikutnya dinamakan Arafah karena beliau “mengetahui” kebenaran perintah tersebut. Makna ini menjadikan Tarwiyah bukan sekadar hari historis, tetapi juga simbol kehati-hatian rohani, kejernihan berpikir, dan ketaatan setelah keyakinan.

Adapun bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, Hari Tarwiyah dianjurkan diisi dengan puasa sunnah, zikir, doa, sedekah, dan amal saleh lainnya. Umat Islam dianjurkan melaksanakan puasa Tarwiyah setiap tanggal 8 Dzulhijjah, dan mencantumkan niat:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَة سُنَّةً للهِ تَعَالَى

Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala. Dasar paling aman untuk mengamalkannya adalah keumuman anjuran memperbanyak amal saleh dan puasa pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Dengan demikian, Hari Tarwiyah menggabungkan tiga nilai utama: persiapan bekal, kejernihan berpikir, dan kesungguhan beribadah.

Minggu, 24 Mei 2026

Ditempa Tantangan, Tumbuh Lebih Tangguh

Di dalam kehidupan, tidak ada perjalanan yang benar-benar bebas dari tantangan. Setiap orang pasti pernah menghadapi masa sulit, baik dalam bentuk kegagalan, tekanan, kehilangan, kekecewaan, maupun keadaan yang tidak berjalan sesuai harapan. Namun, tantangan bukan selalu tanda bahwa hidup sedang menjatuhkan kita. Justru, tantangan sering hadir sebagai cara hidup untuk memperlihatkan seberapa kuat, sabar, dan tangguh diri kita sebenarnya. Ungkapan “Tantangan adalah cara hidup menguji kekuatanmu” mengajarkan bahwa kesulitan bukan akhir dari perjalanan, melainkan bagian penting dari proses pembentukan diri.

Tantangan dapat menjadi ujian karena ia memaksa seseorang keluar dari zona nyaman. Ketika hidup berjalan mudah, kita mungkin merasa aman dan tidak terdorong untuk berkembang. Namun, saat masalah datang, kita belajar berpikir lebih matang, mengambil keputusan lebih bijak, dan menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak kita sadari. Dari sinilah seseorang mulai memahami bahwa kekuatan tidak selalu terlihat ketika semuanya baik-baik saja, tetapi justru muncul saat ia mampu bertahan dalam keadaan sulit.

Selain menguji kekuatan, tantangan juga melatih kesabaran dan keteguhan hati. Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan cepat, sehingga seseorang perlu belajar untuk tetap tenang, tidak mudah menyerah, dan percaya bahwa setiap proses memiliki hikmah. Tantangan mengajarkan bahwa keberhasilan membutuhkan perjuangan, sementara ketangguhan lahir dari kemampuan menghadapi hambatan. Semakin sering seseorang melewati tantangan dengan sikap yang baik, semakin kuat pula mental dan karakternya.

Dalam menghadapi tantangan, cara pandang sangat menentukan kekuatan seseorang. Jika tantangan dianggap sebagai beban semata, maka hati akan mudah lelah dan putus asa. Sebaliknya, jika tantangan dipandang sebagai kesempatan untuk belajar, maka seseorang akan lebih siap menghadapinya. Setiap kesulitan dapat menjadi guru yang mengajarkan keberanian, kedisiplinan, keikhlasan, dan rasa percaya diri. Dengan pandangan yang positif, tantangan tidak lagi terasa sebagai penghalang, tetapi sebagai jalan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Dengan demikian, tantangan adalah bagian dari kehidupan yang membantu kita mengenal kekuatan diri sendiri. Tanpa tantangan, seseorang mungkin tidak pernah tahu sejauh mana ia mampu bertahan, berjuang, dan bangkit. Oleh karena itu, jangan takut ketika hidup menghadirkan ujian. Hadapilah dengan hati yang kuat, pikiran yang jernih, dan keyakinan bahwa setiap kesulitan membawa pelajaran berharga. Sebab, dari tantangan itulah seseorang ditempa menjadi lebih tangguh, lebih bijaksana, dan lebih siap menghadapi masa depan.

Sabtu, 23 Mei 2026

Mengurangi Keinginan, Menemukan Ketenangan

Dalam kehidupan, manusia sering kali mengejar banyak hal dengan harapan dapat merasa bahagia. Ada yang mengejar harta, jabatan, pujian, kenyamanan, atau berbagai kesenangan duniawi lainnya. Semua itu sebenarnya wajar, karena setiap manusia memiliki keinginan dan harapan dalam hidupnya. Namun, ungkapan “Jika ingin senang, maka penuhilah keinginanmu. Akan tetapi jika ingin tenang, maka kurangilah keinginanmu” mengajak kita merenung lebih dalam tentang perbedaan antara kesenangan dan ketenangan. Kesenangan sering kali berasal dari terpenuhinya keinginan, sedangkan ketenangan lahir dari kemampuan mengendalikan keinginan itu sendiri.

Kesenangan biasanya muncul ketika seseorang berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Misalnya, seseorang merasa senang saat membeli barang baru, memperoleh prestasi, mendapat pujian, atau mencapai sesuatu yang telah lama diimpikan. Perasaan senang ini dapat memberi semangat dan kepuasan sementara. Namun, kesenangan yang hanya bergantung pada terpenuhinya keinginan sering kali tidak bertahan lama. Setelah satu keinginan terpenuhi, biasanya akan muncul keinginan lain yang lebih besar. Akibatnya, manusia bisa terus-menerus merasa kurang dan tidak pernah benar-benar puas.

Berbeda dengan kesenangan, ketenangan tidak selalu datang dari banyaknya hal yang dimiliki atau banyaknya keinginan yang tercapai. Ketenangan justru lahir ketika seseorang mampu membatasi diri, menerima keadaan, dan tidak terlalu dikuasai oleh hawa nafsu. Mengurangi keinginan bukan berarti berhenti bermimpi atau tidak boleh memiliki cita-cita. Maksudnya adalah belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara hal yang benar-benar penting dan hal yang hanya membuat hati gelisah. Dengan mengurangi keinginan yang berlebihan, seseorang akan lebih mudah merasa cukup dan bersyukur.

Ungkapan tersebut juga mengajarkan pentingnya pengendalian diri dalam menjalani kehidupan. Manusia yang selalu menuruti semua keinginannya bisa saja tampak senang, tetapi belum tentu hatinya tenang. Ia mungkin terus merasa takut kehilangan, cemas karena membandingkan diri dengan orang lain, atau lelah karena mengejar sesuatu tanpa akhir. Sebaliknya, orang yang mampu mengendalikan keinginannya akan lebih mudah hidup sederhana, tidak mudah iri, dan tidak mudah terguncang oleh keadaan. Ia memahami bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu terletak pada memiliki lebih banyak, tetapi pada hati yang mampu merasa cukup.

Dengan demikian, pesan dari ungkapan “Jika ingin senang, maka penuhilah keinginanmu. Akan tetapi jika ingin tenang, maka kurangilah keinginanmu” adalah ajakan untuk hidup lebih bijaksana. Senang dan tenang sama-sama penting, tetapi ketenangan memiliki nilai yang lebih dalam karena berkaitan dengan kedamaian batin. Memenuhi keinginan boleh saja selama tidak berlebihan dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Namun, mengurangi keinginan yang tidak perlu akan membuat hidup terasa lebih ringan, hati lebih damai, dan pikiran lebih jernih. Dengan belajar merasa cukup, manusia dapat menemukan kebahagiaan yang lebih sederhana, tulus, dan bertahan lama.

Jumat, 22 Mei 2026

Amal Kecil, Pintu Besar Menuju Surga

Kebaikan sering kali bekerja dalam diam: tidak selalu terlihat besar, tidak selalu dipuji manusia, bahkan kadang dilakukan lalu segera dilupakan oleh pelakunya. Namun, di sisi Allah Swt., tidak ada amal sekecil apa pun yang hilang. Ungkapan “Kita tidak pernah tahu amal kebaikan apa yang akan membawa kita ke surga” mengingatkan bahwa jalan menuju rahmat Allah bisa datang dari amal yang tampak sederhana: senyum yang menenangkan, bantuan kecil kepada orang yang kesulitan, sedekah yang ikhlas, atau doa tulus untuk sesama. Karena itu, seorang muslim seharusnya tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun.

Pesan pertama, “memberi tanpa mengingat,” mengajarkan keikhlasan. Ketika seseorang memberi, baik berupa harta, waktu, tenaga, ilmu, maupun perhatian, hendaknya ia tidak terus-menerus mengingat jasanya, apalagi mengungkitnya di hadapan orang lain. Kebaikan yang diiringi keinginan untuk dipuji dapat mengurangi nilai ketulusannya. Dalam Islam, pemberian terbaik adalah pemberian yang dilakukan karena Allah, bukan karena ingin dikenang manusia. Orang yang benar-benar ikhlas merasa cukup bahwa Allah mengetahui amalnya.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an tentang besarnya balasan bagi orang yang berinfak di jalan-Nya:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261). Ayat ini menunjukkan bahwa satu kebaikan yang ikhlas dapat Allah lipatgandakan menjadi pahala yang sangat besar.

Pesan kedua, “menerima tanpa melupakan,” mengajarkan rasa syukur dan penghargaan kepada sesama. Ketika kita menerima bantuan, nasihat, kasih sayang, atau kebaikan dari orang lain, jangan mudah melupakannya. Mengingat kebaikan orang bukan berarti bergantung kepada manusia, tetapi merupakan bentuk akhlak mulia. Orang yang pandai mengingat kebaikan orang lain akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, tidak sombong, dan mudah berterima kasih. Ia sadar bahwa banyak nikmat Allah datang melalui perantara manusia di sekitarnya.

Rasulullah Saw. bersabda:

 مَنْ لَا يَشْكُرِ النَّاسَ لَا يَشْكُرِ اللَّهَ

Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi). Hadis ini menegaskan bahwa rasa terima kasih kepada sesama merupakan bagian dari kesyukuran kepada Allah Swt. Maka, ketika seseorang membantu kita, sekecil apa pun bentuknya, jangan lupakan kebaikannya. Ucapkan terima kasih, doakan kebaikan untuknya, dan jadikan bantuan itu sebagai dorongan untuk melakukan kebaikan kepada orang lain.

Dengan demikian, ungkapan tersebut mengajarkan keseimbangan akhlak: ketika memberi, lupakan jasa diri sendiri; ketika menerima, ingatlah kebaikan orang lain. Kita tidak tahu amal mana yang menjadi sebab turunnya rahmat Allah dan membuka pintu surga bagi kita. Mungkin bukan amal yang paling tampak besar di mata manusia, melainkan amal kecil yang dilakukan dengan hati paling tulus. Karena itu, teruslah berbuat baik, jangan menunggu sempurna, jangan menunggu kaya, dan jangan menunggu dipuji. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ringan memberi, tulus beramal, pandai bersyukur, dan tidak mudah melupakan kebaikan sesama.

Kamis, 21 Mei 2026

Cinta Adalah Rasa, Sayang Adalah Bukti

Ada kalimat yang sering terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan nasihat hidup yang sangat dalam: “Carilah yang menyayangi, tidak sekadar mencintai.” Kalimat ini mengajak kita memahami bahwa hubungan yang baik tidak cukup dibangun hanya dengan rasa suka, kagum, atau cinta yang menggebu-gebu. Cinta memang indah, tetapi jika hanya berhenti sebagai perasaan, ia bisa berubah-ubah mengikuti suasana hati. Sementara itu, kasih sayang memiliki makna yang lebih luas karena diwujudkan melalui tindakan nyata yang membuat seseorang merasa aman, dihargai, dan dijaga.

Mencintai sering kali dimulai dari perasaan. Seseorang bisa mencintai karena tertarik pada rupa, sikap, perhatian, atau kenyamanan yang diberikan oleh orang lain. Namun, perasaan seperti ini dapat naik dan turun seiring waktu. Ada saatnya cinta terasa kuat, tetapi ada pula saatnya melemah ketika muncul masalah, perbedaan pendapat, atau kekecewaan. Karena itulah, cinta yang hanya berupa perasaan belum tentu cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan dalam jangka panjang.

Berbeda dengan mencintai, menyayangi adalah bentuk cinta yang dibuktikan melalui perbuatan. Orang yang menyayangi tidak hanya mengatakan “aku cinta”, tetapi juga menunjukkan kepedulian melalui sikap sehari-hari. Ia berusaha menjaga perasaan, menghormati pilihan, mendengarkan ketika ada masalah, dan hadir ketika dibutuhkan. Kasih sayang membuat seseorang tidak hanya ingin memiliki, tetapi juga ingin melihat orang yang dicintainya tumbuh, bahagia, dan merasa tenang.

Menyayangi juga mengajarkan kita untuk “saling menjaga”. Dalam hubungan apa pun, baik keluarga, persahabatan, maupun pasangan, menjaga bukan berarti membatasi secara berlebihan. Menjaga berarti peduli terhadap kebaikan satu sama lain, tidak sengaja menyakiti, dan berusaha menjadi tempat yang aman. Orang yang benar-benar menyayangi akan berhati-hati dalam berbicara dan bertindak karena ia memahami bahwa hati manusia mudah terluka oleh sikap yang kasar, egois, atau tidak peduli.

Selain menjaga, kasih sayang juga mengajarkan kita untuk saling memberi, menerima, dan menghargai. Memberi bukan hanya tentang materi, tetapi juga waktu, perhatian, pengertian, dan dukungan. Menerima berarti memahami bahwa setiap orang memiliki kekurangan, masa lalu, dan cara berpikir yang tidak selalu sama dengan kita. Menghargai berarti tidak merendahkan, tidak memaksakan kehendak, serta mampu melihat keberadaan orang lain sebagai sesuatu yang berharga. Dari sinilah hubungan menjadi lebih dewasa, seimbang, dan tidak hanya berpusat pada keinginan diri sendiri.

Dengan demikian, kalimat tersebut mengingatkan kita agar tidak mudah terlena oleh cinta yang hanya manis di awal, tetapi kosong dalam tindakan. Pilihlah orang yang tidak hanya pandai mengungkapkan cinta, tetapi juga mampu membuktikannya melalui sikap yang tulus dan konsisten. Sebab hubungan yang kuat bukan hanya dibangun dari kata-kata indah, melainkan dari kesediaan untuk saling menjaga, saling memberi, saling menerima, dan saling menghargai. Cinta mungkin membuat hati bergetar, tetapi kasih sayanglah yang membuat hubungan bertahan.

Rabu, 20 Mei 2026

Menjaga Tunas Bangsa, Menguatkan Kedaulatan Indonesia

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia diajak untuk menoleh sejenak ke belakang, bukan untuk terjebak pada masa lalu, melainkan untuk menyalakan kembali api perjuangan yang pernah membangunkan kesadaran sebagai satu bangsa. Hari Kebangkitan Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat rasa cinta tanah air, persatuan, dan tanggung jawab generasi masa kini terhadap masa depan Indonesia. Pada tahun 2026, peringatan ini mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, yang menegaskan bahwa masa depan bangsa berada di tangan generasi muda yang harus dijaga, dibimbing, dan diberdayakan.

Hari Kebangkitan Nasional tidak dapat dilepaskan dari lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Organisasi ini lahir dari semangat kaum terpelajar pribumi, terutama para pelajar STOVIA, untuk memperjuangkan kemajuan masyarakat melalui pendidikan, kebudayaan, dan kesadaran bersama. Boedi Oetomo menjadi salah satu tonggak awal munculnya gerakan modern di Indonesia karena perjuangan tidak lagi hanya dilakukan secara fisik atau kedaerahan, tetapi mulai diarahkan melalui organisasi, pemikiran, dan cita-cita kebangsaan.

Makna kebangkitan nasional terletak pada tumbuhnya kesadaran bahwa rakyat Indonesia memiliki nasib, cita-cita, dan masa depan yang sama. Sebelum masa kebangkitan nasional, banyak perjuangan melawan penjajahan masih bersifat lokal dan terpisah-pisah. Namun setelah munculnya organisasi seperti Boedi Oetomo, semangat persatuan mulai berkembang menjadi kekuatan besar yang kelak melahirkan berbagai organisasi pergerakan nasional lainnya. Dari sinilah bangsa Indonesia belajar bahwa kemerdekaan hanya dapat diraih melalui persatuan, pendidikan, keberanian berpikir, dan kerja sama antargolongan.

Tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” sangat relevan dengan tantangan Indonesia saat ini. “Tunas bangsa” menggambarkan generasi muda sebagai harapan masa depan negara, sedangkan “kedaulatan negara” menunjukkan pentingnya menjaga Indonesia agar tetap mandiri, kuat, dan bermartabat. Menjaga tunas bangsa berarti memberikan pendidikan yang baik, menanamkan karakter, memperkuat nasionalisme, serta membekali generasi muda dengan keterampilan agar mampu menghadapi perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi, arus informasi, dan tantangan global.

Dengan memperingati Hari Kebangkitan Nasional, kita diingatkan bahwa kebangkitan bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi juga tugas yang harus dilanjutkan. Semangat 1908 harus hidup dalam tindakan nyata: belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga persatuan, menghargai keberagaman, menggunakan teknologi secara bijak, dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar. Jika generasi muda mampu tumbuh sebagai pribadi yang cerdas, berkarakter, dan cinta tanah air, maka kedaulatan Indonesia akan tetap terjaga dan cita-cita menuju bangsa yang maju dapat diwujudkan bersama.

Selasa, 19 Mei 2026

Mengenang 40 Hari Wafatnya Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M.: Jejak Ilmu, Khidmah, dan Amal Jariyah

Suasana khidmat menyelimuti aula utama Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari pada hari Senin, 18 Mei 2026, mulai pukul 18.00 hingga 19.30 WIB, ketika keluarga besar pesantren, para santri, serta alumni dari para guru yang berdomisili di Singosari berkumpul dalam agenda kirim doa, pembacaan Surat Yasin, dan Tahlil untuk mengenang 40 hari wafatnya Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M putra dari pasangan Almaghfurlah KH. M. Basori Alwi Murtadho dan Almaghfurlaha Ibu Nyai Hj. Qomariyah Abdul Hamid. Kegiatan ini bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan juga menjadi ruang bersama untuk mengenang jasa, keteladanan, dan pengabdian almarhum semasa hidup. Dalam suasana penuh takzim, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan kalimat tahlil menjadi ungkapan cinta, doa, serta penghormatan kepada sosok yang telah memberikan kontribusi besar bagi keluarga, pesantren, dan masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Pengasuh Pesantren Ilmu Al Quran (PIQ) Singosari KH. M. Luthfi Bashori, dan juga KH. A. Faiz Basori, selaku adik almarhum yang didaulat untuk menyampaikan kenangan dan penjelasan mengenai perjalanan hidup Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. dengan penuh haru dan penghormatan. Beliau menggambarkan almarhum sebagai pribadi yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan, keagamaan, dan pesantren yang kuat. Kegiatan kirim doa ini menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa mengenang orang saleh tidak hanya dilakukan dengan menyebut namanya, tetapi juga dengan meneladani perjuangan, meneruskan nilai-nilai kebaikannya, dan mendoakan agar seluruh amalnya diterima oleh Allah Swt.

Dalam penjelasannya, KH. A. Faiz Basori menyampaikan bahwa perjalanan pendidikan Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. dimulai sejak masa kanak-kanak di TK Muslimat 1 Tumapel Singosari. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikan dasar di MI Almaarif 02 Singosari, kemudian menempuh jenjang menengah pertama di SMPN 01 Singosari. Pendidikan beliau berlanjut ke SMA PPSP IKIP Malang, yang dikenal sebagai cikal bakal SMAN 8 Malang. Riwayat pendidikan ini menunjukkan bahwa sejak muda beliau telah menempuh proses belajar yang terarah, bertahap, dan berakar kuat pada lingkungan pendidikan di Malang Raya.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi dengan mengambil S1 Jurusan Teknik Sipil di ITN Malang. Bidang teknik sipil yang beliau tekuni kemudian menjadi bagian penting dari pengabdian beliau dalam dunia pembangunan, khususnya pembangunan lembaga pendidikan dan pesantren. Tidak berhenti di sana, beliau juga melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 Magister Manajemen di salah satu universitas di Surabaya. Perpaduan antara keilmuan teknik dan manajemen ini menjadikan beliau sosok yang tidak hanya memahami desain dan konstruksi bangunan, tetapi juga memiliki wawasan pengelolaan, perencanaan, dan kepemimpinan.

Selain memiliki latar pendidikan formal yang kuat, Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. juga tumbuh dalam tradisi mengaji dan keilmuan agama. Sewaktu kecil, beliau mengaji kepada KH. Abdul Mannan Syukur, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Huda Singosari Malang. Dari lingkungan inilah nilai-nilai Al-Qur’an, adab, ketekunan, serta kecintaan kepada ilmu agama tertanam sejak dini dalam diri beliau. Pendidikan agama yang diperoleh sejak kecil menjadi fondasi spiritual yang kelak mewarnai cara beliau berkhidmat kepada keluarga, pesantren, umat, dan masyarakat luas.

Perjalanan mengaji Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. kemudian berlanjut kepada KH. Mustain Syamsuri di Kauman Singosari. Sebelum kemudian KH. Mustain Syamsuri pindah ke Watugede dan mendirikan Pondok Pesantren Darul Qur’an di Watugede Singosari, almarhum telah menjadi bagian dari mata rantai keilmuan dan keberkahan para kiai tersebut. Selain itu, beliau juga pernah nyantri di pondoknya Mbah Hasan Mangli, Magelang, Jawa Tengah, bersama saudara beliau, KH. M. Rif’at Basori. Pengalaman nyantri ini menjadi bukti bahwa almarhum tidak hanya menempuh pendidikan formal, tetapi juga memiliki ikatan batin yang kuat dengan tradisi pesantren.

Salah satu jasa besar Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. yang sangat nyata dan dapat dirasakan hingga kini adalah keterlibatan beliau dalam desain bangunan dan pembangunan Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari Malang, baik kampus 1 maupun kampus 2. Dari segi perencanaan, desain, hingga proses pembangunan, PIQ Singosari tidak dapat dilepaskan dari karya dan pengabdian beliau. Bangunan pesantren yang berdiri, ruang-ruang belajar yang digunakan, serta fasilitas yang menunjang kegiatan para santri menjadi saksi bisu dari ilmu, tenaga, pikiran, dan ketulusan beliau.

Karya pembangunan yang ditinggalkan almarhum bukan sekadar wujud fisik berupa gedung, ruang, atau fasilitas pesantren. Lebih dari itu, bangunan PIQ Singosari menjadi bagian dari amal jariyah yang terus mengalir selama tempat tersebut digunakan untuk membaca Al-Qur’an, mengaji, belajar, menghafal, beribadah, dan mencetak generasi Qur’ani. Setiap langkah santri menuju majelis ilmu, setiap lantunan ayat yang dibaca, dan setiap ilmu yang diamalkan dari lingkungan pesantren tersebut diharapkan menjadi tambahan doa serta pahala bagi Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. Semoga Allah Swt. menjadikan seluruh karya dan pengabdian beliau sebagai amal saleh yang tidak terputus.

Selain berkhidmat melalui bidang pendidikan dan pembangunan pesantren, Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M. juga pernah menjadi salah satu pengurus di PBNU sebagai bentuk pengabdian sosial keagamaan beliau. Hal ini menunjukkan bahwa kiprah beliau tidak terbatas pada keluarga dan pesantren saja, tetapi juga meluas pada organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Pengabdian di lingkungan Nahdlatul Ulama mencerminkan komitmen beliau untuk ikut menjaga, menguatkan, dan mengembangkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, kebersamaan umat, serta pelayanan kepada masyarakat.

Melalui kegiatan kirim doa dalam rangka mengenang 40 hari wafatnya Gus Ir. H. Nukman Basori, M.M., para santri dan generasi penerus diharapkan tidak hanya mengenang beliau sebagai tokoh yang berjasa, tetapi juga mengambil pelajaran dari jalan hidupnya. Beliau memberi teladan bahwa ilmu umum dan ilmu agama dapat berjalan beriringan, bahwa keahlian profesional dapat menjadi jalan pengabdian, dan bahwa pembangunan fisik pesantren dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk kemaslahatan umat. Semoga para santri PIQ Singosari mampu meneruskan semangat beliau: mencintai Al-Qur’an, menghormati guru dan kiai, tekun belajar, berakhlak mulia, serta kelak menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, pesantren, dan masyarakat. Lahul Fatihah.

Hujan Tidak Selalu Harus Berhenti untuk Kita Melangkah

Dalam kehidupan, ada banyak kalimat sederhana yang mampu memberi kekuatan besar, salah satunya adalah “Payung tidak akan membuat hujan berhenti, tapi membuat kita tetap berjalan melewatinya sampai ke tujuan.” Kalimat ini bukan sekadar perumpamaan tentang hujan dan payung, melainkan nasihat tentang cara manusia menghadapi masalah. Hujan dapat dimaknai sebagai ujian, kesedihan, kegagalan, atau tekanan hidup yang datang tanpa selalu bisa kita cegah. Sementara payung melambangkan bekal, kekuatan, kesabaran, doa, ilmu, dukungan, dan sikap bijak yang membantu kita tetap bertahan.

Dalam hidup, kita tidak selalu memiliki kuasa untuk menghentikan masalah yang datang. Ada keadaan yang terjadi di luar kendali kita, seperti kehilangan, kekecewaan, kegagalan, perubahan rencana, atau perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain. Sama seperti hujan yang turun tanpa meminta izin, masalah pun kadang hadir secara tiba-tiba. Namun, yang paling penting bukanlah selalu bagaimana menghentikan masalah itu secepat mungkin, melainkan bagaimana kita mampu menghadapinya dengan hati yang kuat dan pikiran yang jernih.

Payung dalam perumpamaan tersebut mengajarkan bahwa manusia membutuhkan perlindungan dan pegangan agar tidak mudah menyerah. Perlindungan itu bisa berupa keimanan, keluarga, sahabat, pengalaman, pengetahuan, atau kemampuan mengendalikan diri. Semua itu mungkin tidak langsung menghapus kesulitan, tetapi dapat membuat kita lebih siap untuk melangkah. Ketika seseorang memiliki “payung” dalam hidupnya, ia tidak akan mudah hancur oleh keadaan, karena ia tahu bahwa setiap kesulitan bisa dilalui sedikit demi sedikit.

Kalimat ini juga mengingatkan bahwa tujuan hidup tidak akan tercapai jika kita berhenti hanya karena keadaan sedang tidak nyaman. Hujan memang membuat perjalanan lebih berat, jalan menjadi licin, dan pandangan menjadi terbatas. Begitu pula dalam kehidupan, masalah sering membuat kita lelah, takut, atau ragu. Namun, selama kita tetap berjalan dengan sabar dan berusaha, kita akan semakin dekat dengan tujuan. Kesulitan bukanlah tanda bahwa kita harus berhenti, melainkan bagian dari perjalanan yang membentuk ketangguhan diri.

Dengan demikian, payung bukanlah alat untuk menghentikan hujan, tetapi alat untuk membantu kita bertahan dan terus melangkah. Begitu juga dalam kehidupan, tidak semua masalah dapat langsung selesai, tetapi kita selalu bisa mencari cara untuk menghadapinya. Kita perlu belajar menerima keadaan, memperkuat diri, meminta pertolongan ketika diperlukan, dan tetap percaya bahwa setiap perjalanan memiliki akhir. Selama kita tidak menyerah, hujan kehidupan akan bisa dilewati, dan tujuan yang kita harapkan tetap mungkin untuk dicapai.

Senin, 18 Mei 2026

Impian Besar, Langkah Nyata

Di dalam kehidupan, setiap orang membutuhkan arah agar langkahnya tidak berjalan tanpa tujuan. Arah itu sering kali hadir dalam bentuk impian, yaitu harapan besar yang ingin diwujudkan di masa depan. Impian membuat seseorang memiliki alasan untuk berusaha, bangkit dari kegagalan, dan terus memperbaiki diri. Ungkapan “Impian adalah peta menuju masa depan yang lebih baik” menggambarkan bahwa impian bukan sekadar angan-angan, melainkan penunjuk jalan yang membantu kita menentukan tujuan, memilih langkah, dan membangun kehidupan yang lebih bermakna.

Impian dapat diibaratkan seperti peta karena ia memberikan gambaran tentang tempat yang ingin kita tuju. Tanpa impian, seseorang mungkin tetap menjalani hidup, tetapi mudah kehilangan arah dan semangat. Dengan memiliki impian, kita dapat mengetahui apa yang ingin dicapai, bidang apa yang perlu dikembangkan, serta usaha apa yang harus dilakukan. Impian membantu kita menyusun prioritas sehingga waktu, tenaga, dan pikiran tidak terbuang untuk hal-hal yang tidak mendukung masa depan.

Namun, impian tidak akan membawa perubahan jika hanya disimpan dalam pikiran tanpa tindakan nyata. Sebuah peta hanya berguna jika digunakan untuk melangkah, begitu pula impian harus diikuti dengan usaha, disiplin, dan keberanian untuk memulai. Seseorang yang ingin meraih masa depan lebih baik perlu membuat rencana, belajar dengan sungguh-sungguh, mengembangkan keterampilan, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi hambatan. Dengan langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, impian yang awalnya tampak jauh dapat perlahan menjadi kenyataan.

Dalam perjalanan menuju impian, kegagalan dan kesulitan adalah hal yang wajar. Kadang-kadang jalan yang ditempuh tidak selalu lurus, bahkan mungkin penuh rintangan, keraguan, dan rasa lelah. Namun, impian yang kuat dapat menjadi pengingat agar kita tidak berhenti di tengah jalan. Ketika seseorang memahami tujuan hidupnya, ia akan lebih mampu bertahan menghadapi masalah karena ia tahu bahwa setiap proses memiliki arti. Hambatan bukanlah akhir perjalanan, melainkan bagian dari pembelajaran untuk menjadi lebih tangguh dan bijaksana.

Dengan demikian, impian adalah kekuatan yang membantu manusia melihat masa depan dengan harapan. Ia menjadi peta yang menuntun kita untuk memilih jalan, mengambil keputusan, dan terus bergerak menuju kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, jangan takut untuk memiliki impian yang besar, tetapi iringilah dengan usaha yang nyata dan sikap pantang menyerah. Masa depan yang baik tidak datang begitu saja; ia dibangun dari impian yang jelas, rencana yang matang, dan langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan penuh keyakinan.

Minggu, 17 Mei 2026

Belajar dari Kemarin, Bertumbuh Hari Ini

Dalam kehidupan, perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah yang luar biasa. Sering kali, perubahan justru lahir dari usaha kecil yang dilakukan dengan konsisten setiap hari. Ungkapan “Jadilah lebih baik hari ini daripada kemarin” mengajarkan bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk memperbaiki diri, memperkuat kebiasaan baik, dan meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat. Kita tidak harus langsung menjadi sempurna, tetapi cukup berusaha menjadi versi diri yang sedikit lebih baik dari hari sebelumnya.

Menjadi lebih baik hari ini berarti memiliki kesadaran untuk belajar dari pengalaman kemarin. Jika kemarin kita melakukan kesalahan, hari ini kita dapat memperbaikinya. Jika kemarin kita kurang disiplin, hari ini kita dapat mencoba lebih teratur. Jika kemarin kita mudah menyerah, hari ini kita bisa melatih diri untuk lebih kuat dan sabar. Dengan cara ini, masa lalu tidak menjadi beban, tetapi menjadi pelajaran yang membantu kita berkembang.

Prinsip ini juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki perjalanan, kemampuan, dan tantangan yang berbeda. Membandingkan diri secara berlebihan dapat membuat kita merasa rendah, iri, atau tidak pernah cukup. Sebaliknya, membandingkan diri dengan diri sendiri di hari kemarin akan membuat kita lebih fokus pada pertumbuhan pribadi. Ukuran keberhasilan bukan lagi tentang siapa yang paling cepat atau paling hebat, melainkan tentang apakah kita terus bergerak maju.

Dalam kehidupan sehari-hari, menjadi lebih baik dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana. Misalnya, belajar lebih tekun, berbicara lebih sopan, mengatur waktu dengan lebih baik, menjaga kesehatan, membantu orang lain, atau lebih sabar menghadapi masalah. Perubahan kecil seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan terus-menerus akan membentuk karakter yang kuat. Kebiasaan baik yang dibangun sedikit demi sedikit akan membawa dampak besar bagi masa depan.

Dengan demikian, “menjadi lebih baik hari ini daripada kemarin” adalah ajakan untuk terus bertumbuh tanpa harus menuntut diri menjadi sempurna. Setiap hari memberi kita peluang untuk memperbaiki langkah, memperluas pengetahuan, memperbaiki sikap, dan memperkuat hati. Selama kita mau belajar, berusaha, dan tidak berhenti memperbaiki diri, maka kita sedang berjalan menuju kehidupan yang lebih bermakna. Maka, jadikan hari ini sebagai kesempatan untuk melangkah lebih baik, sekecil apa pun perubahan itu, karena kemajuan kecil yang konsisten akan membawa hasil besar di kemudian hari.

Sabtu, 16 Mei 2026

Hati Terpaut Masjid, Hidup Penuh Berkah

Masjid adalah rumah Allah yang menjadi pusat ketenangan hati, tempat bersujud, tempat belajar, dan tempat tumbuhnya persaudaraan umat Islam. Di tengah kesibukan hidup, masjid hadir sebagai pengingat bahwa manusia tidak hanya membutuhkan pekerjaan, harta, dan urusan dunia, tetapi juga membutuhkan hubungan yang kuat dengan Allah Swt. Karena itu, memakmurkan masjid merupakan amal mulia yang menunjukkan kecintaan seorang muslim kepada agama, lingkungan, dan masyarakat sekitarnya.

Memakmurkan masjid tidak hanya berarti membangun atau memperindah bangunannya. Makna yang lebih luas adalah “menghidupkan masjid dengan ibadah, ilmu, zikir, kepedulian, dan kegiatan yang bermanfaat”. Seseorang dapat memakmurkan masjid dengan rajin shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, menghadiri kajian, membantu menjaga kebersihan, mendukung kegiatan anak-anak dan remaja masjid, ikut bermusyawarah dalam program keumatan, serta menyumbangkan tenaga, pikiran, atau harta sesuai kemampuan. Masjid yang makmur bukan hanya masjid yang megah, tetapi masjid yang hidup dengan jamaah dan amal kebaikan.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 18:

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ

“Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa memakmurkan masjid adalah salah satu tanda keimanan. Orang yang dekat dengan masjid biasanya memiliki hati yang lembut terhadap ibadah, mudah tergerak untuk melakukan kebaikan, serta peduli terhadap keadaan masyarakat di sekitarnya. Dengan hadir di masjid, seorang muslim tidak hanya memperkuat hubungannya dengan Allah, tetapi juga mempererat hubungan sosial dengan tetangga dan sesama jamaah. Dari masjid, ukhuwah Islamiyah dapat tumbuh melalui shalat berjamaah, pengajian, santunan, musyawarah, dan kegiatan sosial.

Rasulullah Saw. juga menjelaskan keutamaan orang yang hatinya terpaut dengan masjid. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Saw. bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.

“Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya: (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, (3) seseorang yang hatinya selalu terpaut/terikat dengan masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang lelaki yang digoda oleh wanita bangsawan lagi cantik, namun ia berkata: “Aku takut kepada Allah”, (6) seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian/keadaan sepi hingga meneteskan air mata

Di antara penjelasan dalam hadis ini (pada poin 3), ada pemberian motivasi besar bahwa mencintai masjid bukanlah perkara sederhana. Orang yang hatinya terpaut dengan masjid akan merasa rindu untuk beribadah, senang berkumpul dalam majelis kebaikan, dan terdorong untuk menjaga kehormatan rumah Allah. Ia tidak hanya datang ketika ada keperluan tertentu, tetapi menjadikan masjid sebagai bagian dari kehidupan hariannya. Semakin dekat seseorang dengan masjid, semakin besar pula peluangnya untuk terbiasa dalam lingkungan yang menguatkan iman.

Memakmurkan masjid juga memiliki nilai sosial yang sangat penting. Masjid dapat menjadi pusat pendidikan, tempat pembinaan akhlak generasi muda, tempat membantu fakir miskin, tempat menyelesaikan persoalan masyarakat, serta tempat menumbuhkan budaya gotong royong. Ketika masyarakat aktif memakmurkan masjid, lingkungan sekitar akan menjadi lebih hidup, rukun, dan religius. Anak-anak mengenal ibadah sejak kecil, remaja memiliki ruang kegiatan positif, orang tua mendapat tempat memperdalam ilmu, dan masyarakat memiliki pusat kebersamaan yang membawa keberkahan.

Oleh karena itu, memakmurkan masjid hendaknya dimulai dari langkah sederhana tetapi istiqamah. Datanglah untuk shalat berjamaah, biasakan membaca Al-Qur’an di masjid, bantu menjaga kebersihan, dukung kegiatan keagamaan, dan ikut berkontribusi sesuai kemampuan. Tidak semua orang harus menjadi pengurus masjid, tetapi setiap muslim dapat menjadi bagian dari kemakmuran masjid. Ada yang berperan dengan hartanya, ada yang membantu dengan tenaganya, ada yang menyumbang pemikirannya, dan ada pula yang menghidupkan masjid dengan kehadiran serta doanya.

Dengan demikian, memakmurkan masjid bukan hanya tugas takmir atau pengurus, melainkan tanggung jawab bersama seluruh umat Islam. Masjid yang makmur akan melahirkan pribadi-pribadi yang dekat kepada Allah, masyarakat yang saling peduli, dan lingkungan yang penuh keberkahan. Semoga Allah Swt. menjadikan hati kita selalu terpaut dengan masjid, meringankan langkah kita menuju rumah-Nya, serta memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba yang mendapat petunjuk dan naungan-Nya.

Disampaikan dalam kajian shubuh di masjid Al-Hidayah Jalan Titan Utara Purwantoro Blimbing Kota Malang (Ahad, 17 Mei 2026)

Menutup Tahun dengan Istighfar, Membuka Tahun dengan Harapan

Pergantian tahun Hijriah merupakan momen yang sangat berharga bagi umat Islam untuk melakukan refleksi diri dan memperbarui tekad dalam me...