Hari Tarwiyah adalah salah satu
pintu spiritual menuju puncak haji: hari ketika manusia belajar “bersiap”,
bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin. Ia jatuh pada 8 Dzulhijjah,
sehari sebelum wukuf di Arafah. Keindahan hari ini terletak pada dua makna
besar: persiapan bekal perjalanan menuju Arafah dan perenungan iman yang
mendalam sebagaimana dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim a.s. Dalam tradisi
ibadah, Hari Tarwiyah menjadi momen untuk memperbanyak amal saleh, terutama
bagi yang tidak sedang berhaji, salah satunya dengan berpuasa sunnah.
Menurut keterangan yang
dinisbatkan kepada Imam an-Nawawi, Hari Tarwiyah berhubungan erat dengan
kesiapan jamaah haji sebelum memasuki puncak manasik, yaitu wukuf di Arafah.
Dalam keterangan fikih, Tarwiyah adalah hari kedelapan Dzulhijjah; dinamakan
demikian karena dahulu para jamaah “membawa dan menyiapkan air dari Makkah
menuju Arafah”, sebab Arafah pada masa itu belum tersedia air sebagaimana
sekarang.
Makna “persiapan air” ini juga
tampak dalam praktik manasik, di mana dijelaskan bahwa pada Hari Tarwiyah,
jamaah haji singgah di Mina dan dahulu mereka mengumpulkan bekal air karena
Arafah belum memiliki sumber air memadai. Dalam Al-Idhah fi Manasik al-Hajj,
Imam an-Nawawi juga menyebutkan kesunnahan bagi jamaah haji untuk singgah di
Mina pada 8 Dzulhijjah, melaksanakan shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya,
bermalam di Mina, lalu shalat Shubuh di sana sebelum menuju Arafah. Namun,
beliau menegaskan bahwa amalan tersebut bersifat sunnah, bukan rukun atau wajib
haji; jika ditinggalkan, tidak ada dam, hanya terlewat keutamaannya.
Sementara itu, Syekh Abdul
Qadir al-Jailani dalam Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq memberikan
penjelasan yang lebih reflektif. Beliau menyebut Tarwiyah sebagai hari ketika
orang-orang keluar dari Makkah menuju Mina dan “mengambil air Zamzam” dalam
jumlah banyak. Lalu beliau menyampaikan pendapat lain: hari itu dinamakan
Tarwiyah karena Nabi Ibrahim a.s. pada malamnya bermimpi menyembelih putranya.
Ketika pagi tiba, beliau merenung dan bertanya dalam batin: apakah mimpi itu
berasal dari “musuh”, yakni setan, atau dari “Yang Maha Pengasih”, yakni Allah
Swt.?
Di sinilah Hari Tarwiyah
mengajarkan sikap iman yang matang: Nabi Ibrahim a.s. tidak gegabah memahami
pengalaman spiritual, tetapi melakukan tarawwi, yaitu berpikir,
menimbang, dan memastikan sumber kebenaran. Menurut penjelasan Syekh Abdul
Qadir, Nabi Ibrahim a.s. tetap berada dalam keadaan berpikir pada hari itu;
barulah pada Hari Arafah beliau mengetahui bahwa perintah itu datang dari Allah
Swt., sehingga hari berikutnya dinamakan Arafah karena beliau “mengetahui”
kebenaran perintah tersebut. Makna ini menjadikan Tarwiyah bukan sekadar hari
historis, tetapi juga simbol kehati-hatian rohani, kejernihan berpikir, dan
ketaatan setelah keyakinan.
Adapun bagi umat Islam yang
tidak sedang berhaji, Hari Tarwiyah dianjurkan diisi dengan puasa sunnah,
zikir, doa, sedekah, dan amal saleh lainnya. Umat Islam dianjurkan melaksanakan
puasa Tarwiyah setiap tanggal 8 Dzulhijjah, dan mencantumkan niat:
نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَة سُنَّةً للهِ تَعَالَى
Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala. Dasar paling aman untuk mengamalkannya adalah keumuman anjuran memperbanyak amal saleh dan puasa pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Dengan demikian, Hari Tarwiyah menggabungkan tiga nilai utama: persiapan bekal, kejernihan berpikir, dan kesungguhan beribadah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar