Halaman

Selasa, 25 Agustus 2026

Rasulullah Saw. sebagai Jalan Hidayah dan Kebaikan

Segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan nikmat terbesar kepada umat manusia dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw. sebagai pembawa cahaya risalah, penyempurna akhlak, dan penuntun menuju jalan keselamatan. Di antara ungkapan ulama yang menunjukkan kedalaman cinta dan penghormatan kepada Rasulullah Saw. adalah perkataan Imam Muhammad bin Idris al-Syafi‘i dalam pendahuluan kitab al-Risālah. Kitab ini dikenal sebagai salah satu karya paling penting dalam sejarah keilmuan Islam, khususnya dalam bidang usul fikih, karena di dalamnya Imam al-Syafi‘i merumuskan dasar-dasar memahami hubungan antara Al-Qur’an, Sunnah, dan proses penggalian hukum Islam. Dalam pendahuluan kitab tersebut, beliau menegaskan bahwa berbagai nikmat yang dirasakan manusia, baik dalam perkara agama maupun dunia, tidak dapat dilepaskan dari keberkahan risalah Nabi Muhammad Saw. Beliau menyebut Rasulullah Saw. sebagai sebab yang Allah jadikan untuk sampainya kebaikan, petunjuk, dan keselamatan kepada umat manusia.

Perkataan Imam al-Syafi‘i tersebut menggambarkan kedudukan Rasulullah Saw. sebagai perantara sampainya rahmat Allah kepada makhluk-Nya. Maksud dari perkataan bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah “sebab” dari berbagai nikmat bukan berarti bahwa Rasulullah memiliki kekuasaan independen dalam menciptakan manfaat atau menolak bahaya, karena semua itu semata-mata berada dalam kekuasaan Allah Swt. Akan tetapi, Allah menjadikan Rasulullah Saw. sebagai jalan yang mengantarkan manusia kepada kebenaran. Melalui beliau, Allah menyampaikan wahyu, menjelaskan hukum-hukum agama, menerangkan jalan ibadah, serta membimbing manusia agar memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan demikian, mencintai dan memuliakan Rasulullah Saw. merupakan bagian dari bentuk syukur kepada Allah atas nikmat terbesar berupa hidayah dan risalah Islam.

Imam al-Syafi‘i memahami bahwa nikmat terbesar yang datang melalui Rasulullah Saw. adalah nikmat agama. Sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw., manusia berada dalam berbagai bentuk penyimpangan keyakinan, ketidakadilan sosial, dan kebingungan dalam memahami tujuan kehidupan. Melalui Rasulullah Saw., Allah memperkenalkan manusia kepada tauhid, mengajarkan cara beribadah yang benar, menjelaskan halal dan haram, serta membimbing hati manusia agar mengenal jalan menuju keridaan-Nya. Rasulullah Saw. tidak hanya menyampaikan wahyu secara lisan, tetapi juga menjadi teladan hidup yang menerjemahkan ajaran Islam dalam perilaku nyata. Oleh sebab itu, Al-Qur’an menyatakan bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi orang-orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. al-Ahzab [33]: 21)

Selain memberikan petunjuk dalam urusan agama, Rasulullah Saw. juga membawa kebaikan dalam kehidupan dunia. Ajaran beliau membangun fondasi kehidupan yang penuh keadilan, kasih sayang, amanah, dan tanggung jawab. Melalui sunnah beliau, manusia diajarkan bagaimana membangun keluarga yang harmonis, melakukan perdagangan secara jujur, menjaga hubungan sosial, menghormati hak sesama, serta menjauhi tindakan yang merusak kehidupan manusia. Karena itu, perkataan Imam al-Syafi‘i mencakup seluruh aspek kehidupan: agama yang menuntun hubungan manusia dengan Allah dan dunia yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Risalah Nabi Muhammad Saw. menjadi cahaya yang membimbing manusia agar berbagai kenikmatan dunia tidak hanya dinikmati secara lahiriah, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Ungkapan Imam al-Syafi‘i juga menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. memiliki peran besar dalam menjaga manusia dari kebinasaan. Beliau bukan hanya seorang pembawa kabar gembira, tetapi juga seorang pemberi peringatan. Rasulullah memperingatkan manusia dari jalan-jalan yang dapat membawa kehancuran, seperti kesyirikan, kezaliman, kesombongan, kebohongan, permusuhan, serta berbagai penyakit hati yang merusak hubungan manusia dengan Allah dan sesama. Nasihat dan peringatan Nabi merupakan bentuk kasih sayang beliau kepada umatnya, sebagaimana seorang yang menunjukkan jalan kepada musafir agar tidak terjatuh ke dalam bahaya. Setiap larangan yang beliau sampaikan bukanlah bentuk pembatasan terhadap kebebasan manusia, melainkan perlindungan agar manusia tidak terjerumus dalam kerugian dunia dan akhirat.

Dengan demikian, perkataan Imam al-Syafi‘i dalam al-Risālah mengajarkan kepada umat Islam bahwa seluruh kebaikan yang kita kenal dalam kehidupan ini memiliki hubungan erat dengan risalah Nabi Muhammad Saw. Beliau adalah manusia pilihan Allah yang melalui dirinya umat manusia mengenal jalan menuju keselamatan, memahami kehendak Allah, dan memperoleh pedoman kehidupan yang sempurna. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah Saw. tidak cukup hanya dengan pengakuan lisan, tetapi harus diwujudkan dengan mengikuti ajaran, menghidupkan sunnah, meneladani akhlak, dan memperbanyak rasa syukur kepada Allah atas nikmat kerasulan beliau. Semakin seseorang mengenal kedudukan Rasulullah Saw., semakin besar pula kecintaannya kepada beliau. Semoga Allah Swt. menjadikan kita termasuk umat yang mendapatkan syafaat Rasulullah Saw., teguh mengikuti petunjuknya, serta dikumpulkan bersama beliau di dalam rahmat dan keridaan Allah. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in. (Senin, 12 Rabi’ul Awal 1448 H)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rasulullah Saw. sebagai Jalan Hidayah dan Kebaikan

Segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan nikmat terbesar kepada umat manusia dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw. sebagai pembawa...