Halaman

Kamis, 13 November 2025

Manisnya Dekat dengan Tuhan, Pahitnya Saat Menjauh

Dalam kehidupan spiritual, hubungan antara manusia dan Tuhan merupakan fondasi yang menentukan kedamaian batin. Banyak orang mencari kebahagiaan dalam hal duniawi, namun kebahagiaan sejati sesungguhnya terletak pada kedekatan dengan Sang Pencipta. Ungkapan “Jika kita sudah merasakan nikmatnya dekat dengan Tuhan, niscaya kita dapat merasakan bagaimana pahitnya jauh dari Tuhan” mengandung makna yang sangat dalam tentang pengalaman spiritual yang membawa seseorang memahami hakikat kebahagiaan dan kehilangan makna hidup. Ungkapan ini bukan hanya kalimat indah, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan agar hidup tetap terarah dan penuh makna.

Dekat dengan Tuhan berarti hidup dengan kesadaran bahwa setiap langkah, ucapan, dan niat berada di bawah pengawasan dan kasih sayang-Nya. Kedekatan ini tercermin melalui ibadah yang khusyuk, hati yang tenang, dan perilaku yang penuh kasih terhadap sesama. Saat seseorang dekat dengan Tuhan, ia merasakan ketenteraman yang tidak bisa diberikan oleh harta, jabatan, atau pujian manusia. Hati yang dipenuhi dengan keimanan akan merasa cukup, damai, dan yakin bahwa setiap ujian memiliki hikmah yang indah. Inilah “nikmat” yang dimaksud dalam ungkapan tersebut — kenikmatan spiritual yang hanya bisa dirasakan oleh jiwa yang benar-benar berserah diri.

Sebaliknya, jauh dari Tuhan berarti hidup tanpa arah yang jelas. Ketika seseorang mulai lalai beribadah, menuruti hawa nafsu, dan melupakan nilai-nilai kebaikan, maka hatinya akan terasa hampa meskipun secara lahiriah ia tampak bahagia. Pahitnya jauh dari Tuhan bukan hanya kesedihan emosional, tetapi juga kegelapan batin yang membuat seseorang kehilangan kedamaian, ketenangan, dan makna hidup. Dalam keadaan ini, dunia terasa sempit, masalah terasa berat, dan hati menjadi gelisah tanpa sebab.

Ungkapan ini mengajarkan bahwa kedekatan dengan Tuhan bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi sebuah pengalaman rohani yang mengubah cara pandang hidup. Seseorang yang pernah merasakan manisnya berzikir, berdoa, dan merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap momen hidupnya akan tahu betapa berharganya hubungan itu. Ia akan menjaga kedekatan itu dengan penuh cinta dan kehati-hatian agar tidak kehilangan rasa damai yang telah dirasakan. Sebaliknya, pengalaman jauh dari Tuhan menjadi pelajaran berharga untuk kembali memperbaiki diri dan memperkuat iman.

Secara keseluruhan, ungkapan “Jika kita sudah merasakan nikmatnya dekat dengan Tuhan, niscaya kita dapat merasakan bagaimana pahitnya jauh dari Tuhan” mengandung pesan moral dan spiritual yang mendalam. Ia mengajak kita untuk selalu menjaga hubungan dengan Tuhan sebagai sumber ketenangan sejati. Nikmat terbesar dalam hidup bukanlah harta atau kekuasaan, melainkan hati yang selalu dekat dengan-Nya. Dengan menjaga kedekatan ini, hidup akan terasa lebih ringan, penuh syukur, dan dipenuhi cahaya kebahagiaan yang hakiki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harmoni Semesta, Harmoni Cinta: Menemukan Arah Bersama dalam Kebersamaan

Ungkapan puitis “ Dengarlah suara burung bersahutan, gelombang laut berkejaran, matahari dan bulan bergiliran. Dari semesta alam raya, kit...