Halaman

Senin, 24 November 2025

Meraih Ketenangan Jiwa dengan Tiga Amalan Mulia

Perkataan para ahli hikmah sering kali lahir dari kedalaman pengalaman spiritual dan ketajaman nurani. Kalimat mereka bukan hanya indah secara bahasa, tetapi juga mengandung petunjuk yang mampu menenangkan jiwa dan meneguhkan hati. Ungkapan ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ تَفْرَحُ الْغَصَصَ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى وَلِقَاءُ أَوْلِيَائِهِ وَكَلاَمُ الْحُكَمَاءِAda tiga hal yang dapat menghilangkan kesusahan, yaitu: mengingat Allah (di manapun dan dengan cara apapun), bertemu dengan wali-wali Allah (ulama dan orang-orang saleh), dan senang mendengarkan nasihat para ahli hikmah (karena ucapan mereka bisa menyegarkan penghidupan kita di dunia dan akhirat)” merupakan salah satu mutiara hikmah yang mengajak manusia kembali kepada sumber ketenangan sejati. Dalam dunia yang penuh kesibukan, tekanan, dan kesedihan, tiga amalan ini menjadi penawar yang lembut namun kuat bagi luka batin.

Hal pertama yang disebutkan adalah “mengingat Allah Ta‘ala”. Zikir kepada Allah bukan hanya berupa lafadz tertentu, tetapi mencakup kesadaran hati yang terus terhubung dengan Sang Pencipta. Ketika seseorang mengingat Allah, ia menghadirkan keyakinan bahwa tidak ada kesulitan yang lebih besar dari kekuasaan-Nya, dan tidak ada kesedihan yang tidak mampu diubah-Nya menjadi ketenangan. Zikir adalah obat hati karena ia mengisi kekosongan jiwa, meredakan kegelisahan, dan menenangkan pikiran yang sibuk dengan urusan dunia. Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

Yang kedua adalah “bertemu dengan wali-wali Allah”, yaitu para ulama, orang-orang saleh, dan mereka yang hidupnya dipenuhi ketaatan kepada Allah. Kehadiran mereka membawa cahaya, karena perilaku dan tutur kata mereka mengingatkan manusia kepada akhirat dan mendorong untuk memperbaiki diri. Dalam tradisi Islam, majelis para ulama disebut sebagai taman-taman surga, karena di sanalah seseorang mendapatkan ilmu yang menghidupkan hati. Pertemuan dengan orang saleh bukan hanya memberikan wawasan, tetapi juga memancarkan ketenangan yang menular, membuat hati yang gundah menjadi kembali stabil dan penuh harapan.

Ketiga adalah “mendengarkan kalam para ahli hikmah”. Nasihat mereka sering kali sederhana, namun sangat dalam dan menyentuh inti masalah manusia. Ucapan yang lahir dari hati yang bersih akan mudah masuk ke dalam hati pendengarnya. Para ahli hikmah memiliki kemampuan melihat hakikat kehidupan melalui sudut pandang yang jernih, sehingga kata-kata mereka sanggup membangunkan jiwa dari kelalaian, menenangkan kesedihan, dan memberi arah bagi orang yang kehilangan tujuan. Nasihat mereka menjadi “penyegar kehidupan” karena menuntun manusia untuk menyadari nilai dunia dan akhirat secara seimbang.

Dari ketiga perkara tersebut, tampak bahwa seluruhnya bermuara pada satu tujuan: menghidupkan hati. Kesusahan dan kegundahan sering kali muncul ketika hati jauh dari Allah, jauh dari lingkungan yang baik, atau terputus dari nasihat yang benar. Dengan menghidupkan kembali hati melalui zikir, bergaul dengan orang saleh, dan mendengarkan hikmah, seseorang akan menemukan kembali ketenangan yang sejati. Kalam ahli hikmah ini mengingatkan bahwa ketenangan bukan berasal dari banyaknya harta atau selesainya urusan dunia, tetapi dari kedekatan dengan Allah dan cahaya yang diberi-Nya melalui hamba-hamba pilihan-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harmoni Semesta, Harmoni Cinta: Menemukan Arah Bersama dalam Kebersamaan

Ungkapan puitis “ Dengarlah suara burung bersahutan, gelombang laut berkejaran, matahari dan bulan bergiliran. Dari semesta alam raya, kit...