Ungkapan-ungkapan hikmah dalam
literatur Islam klasik sering kali mengandung makna yang mendalam dan sarat
dengan nilai-nilai spiritual. Salah satu ungkapan yang terkenal terdapat dalam
kitab Mirqāt al-Mafātīḥ, syarah dari Mishkāt al-Maṣābīḥ, yaitu
perkataan: "أَلْسِنَةُ الْخَلْقِ أَقْلَامُ الْحَقِّ"
(Al-sinatu al-khalqi aqlāmu al-ḥaqq), yang berarti “Lisan-lisan makhluk
adalah pena-pena Allah.” Ungkapan ini menggambarkan hubungan antara kehendak
Ilahi dan perbuatan manusia, khususnya dalam konteks ucapan dan penilaian
terhadap sesama.
Ungkapan tersebut menunjukkan
bahwa segala perkataan manusia, baik pujian maupun celaan, hakikatnya berada
dalam kehendak dan ketetapan Allah. Dengan kata lain, ketika seseorang memuji
atau mencela orang lain, sesungguhnya ia sedang menulis dengan “pena” yang
digerakkan oleh kehendak Allah. Hal ini tidak berarti meniadakan kebebasan
manusia untuk berbicara, melainkan menegaskan bahwa di balik setiap ucapan
terdapat takdir dan hikmah Ilahi yang tersembunyi.
Dalam konteks akhlak, ungkapan
ini mengajarkan agar seseorang tidak sombong ketika dipuji dan tidak pula
bersedih berlebihan ketika dicela. Karena, pujian dan celaan manusia hanyalah
alat “pena” yang digunakan Allah untuk menguji dan menyingkap keadaan hati
seseorang. Jika banyak orang memuji seseorang karena kebaikannya, maka itu
adalah tanda bahwa Allah menampakkan kemuliaannya di hadapan manusia.
Sebaliknya, jika seseorang banyak dicela, bisa jadi itu merupakan peringatan
Ilahi agar ia introspeksi dan memperbaiki diri. Dengan demikian, ucapan manusia
menjadi cermin yang memantulkan keadaan batin seseorang.
Dari sisi teologis, ungkapan ini menegaskan bahwa Allah-lah yang menjadi pengatur segala hal, termasuk lintasan ucapan di lisan manusia. Ia berkuasa menjadikan lidah seseorang sebagai sarana untuk menyampaikan kebenaran atau keburukan tentang orang lain sesuai dengan hikmah-Nya. Oleh karena itu, setiap pujian yang tulus merupakan bentuk tashdīq (pembenaran) Allah terhadap amal saleh hamba-Nya, sementara celaan yang muncul bisa menjadi bentuk tanbīh (peringatan) agar seseorang tidak terpedaya oleh dirinya sendiri. Dalam hal ini, lisan manusia berfungsi sebagai saluran peringatan dan penghargaan dari Allah.
Ungkapan “أَلْسِنَةُ الْخَلْقِ أَقْلَامُ الْحَقِّ”memberikan pelajaran mendalam tentang kesadaran spiritual dalam menghadapi penilaian manusia. Seseorang hendaknya memandang setiap perkataan orang lain sebagai pesan dari Allah, bukan semata-mata hasil opini manusia. Dengan cara pandang ini, seorang mukmin akan senantiasa rendah hati dalam menerima pujian, bersabar dalam menghadapi celaan, dan selalu berusaha memperbaiki diri. Ungkapan ini mengajarkan keseimbangan antara tawakal kepada Allah dan introspeksi terhadap diri, sekaligus menanamkan keyakinan bahwa segala sesuatu, bahkan ucapan manusia, adalah bagian dari ketetapan dan hikmah Ilahi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar