Halaman

Minggu, 02 November 2025

Suara Manusia, Pesan Tuhan: Menemukan Hikmah dalam Setiap Ucapan

Ungkapan-ungkapan hikmah dalam literatur Islam klasik sering kali mengandung makna yang mendalam dan sarat dengan nilai-nilai spiritual. Salah satu ungkapan yang terkenal terdapat dalam kitab Mirqāt al-Mafātīḥ, syarah dari Mishkāt al-Maṣābīḥ, yaitu perkataan: "أَلْسِنَةُ الْخَلْقِ أَقْلَامُ الْحَقِّ" (Al-sinatu al-khalqi aqlāmu al-ḥaqq), yang berarti “Lisan-lisan makhluk adalah pena-pena Allah.” Ungkapan ini menggambarkan hubungan antara kehendak Ilahi dan perbuatan manusia, khususnya dalam konteks ucapan dan penilaian terhadap sesama.

Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa segala perkataan manusia, baik pujian maupun celaan, hakikatnya berada dalam kehendak dan ketetapan Allah. Dengan kata lain, ketika seseorang memuji atau mencela orang lain, sesungguhnya ia sedang menulis dengan “pena” yang digerakkan oleh kehendak Allah. Hal ini tidak berarti meniadakan kebebasan manusia untuk berbicara, melainkan menegaskan bahwa di balik setiap ucapan terdapat takdir dan hikmah Ilahi yang tersembunyi.

Dalam konteks akhlak, ungkapan ini mengajarkan agar seseorang tidak sombong ketika dipuji dan tidak pula bersedih berlebihan ketika dicela. Karena, pujian dan celaan manusia hanyalah alat “pena” yang digunakan Allah untuk menguji dan menyingkap keadaan hati seseorang. Jika banyak orang memuji seseorang karena kebaikannya, maka itu adalah tanda bahwa Allah menampakkan kemuliaannya di hadapan manusia. Sebaliknya, jika seseorang banyak dicela, bisa jadi itu merupakan peringatan Ilahi agar ia introspeksi dan memperbaiki diri. Dengan demikian, ucapan manusia menjadi cermin yang memantulkan keadaan batin seseorang.

Dari sisi teologis, ungkapan ini menegaskan bahwa Allah-lah yang menjadi pengatur segala hal, termasuk lintasan ucapan di lisan manusia. Ia berkuasa menjadikan lidah seseorang sebagai sarana untuk menyampaikan kebenaran atau keburukan tentang orang lain sesuai dengan hikmah-Nya. Oleh karena itu, setiap pujian yang tulus merupakan bentuk tashdīq (pembenaran) Allah terhadap amal saleh hamba-Nya, sementara celaan yang muncul bisa menjadi bentuk tanbīh (peringatan) agar seseorang tidak terpedaya oleh dirinya sendiri. Dalam hal ini, lisan manusia berfungsi sebagai saluran peringatan dan penghargaan dari Allah.

Ungkapan “أَلْسِنَةُ الْخَلْقِ أَقْلَامُ الْحَقِّmemberikan pelajaran mendalam tentang kesadaran spiritual dalam menghadapi penilaian manusia. Seseorang hendaknya memandang setiap perkataan orang lain sebagai pesan dari Allah, bukan semata-mata hasil opini manusia. Dengan cara pandang ini, seorang mukmin akan senantiasa rendah hati dalam menerima pujian, bersabar dalam menghadapi celaan, dan selalu berusaha memperbaiki diri. Ungkapan ini mengajarkan keseimbangan antara tawakal kepada Allah dan introspeksi terhadap diri, sekaligus menanamkan keyakinan bahwa segala sesuatu, bahkan ucapan manusia, adalah bagian dari ketetapan dan hikmah Ilahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harmoni Semesta, Harmoni Cinta: Menemukan Arah Bersama dalam Kebersamaan

Ungkapan puitis “ Dengarlah suara burung bersahutan, gelombang laut berkejaran, matahari dan bulan bergiliran. Dari semesta alam raya, kit...