Halaman

Rabu, 26 November 2025

Belajar dari Kesalahan Orang Lain Tanpa Merasa Diri Lebih Mulia

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada berbagai perilaku manusia, ada yang baik, ada yang buruk, dan ada pula yang berada di antara keduanya. Sikap seseorang dalam menilai perilaku orang lain sangat menentukan arah perkembangan spiritual dan moralnya. Ungkapan “Jika melihat orang jahat, jangan anggap kita lebih mulia karena mungkin suatu hari nanti dia akan insaf dan bertobat” adalah nasihat berharga yang mengajarkan kerendahan hati, kewaspadaan terhadap kesombongan, serta pengakuan bahwa hidayah adalah urusan Allah semata. Ucapan ini bukan hanya peringatan agar tidak meremehkan orang lain, tetapi juga pengingat agar kita terus memperbaiki diri.

Ketika seseorang melihat perilaku buruk pada diri orang lain, mudah sekali terbersit rasa lebih suci atau lebih baik. Padahal, perasaan seperti itu dapat menjadi benih kesombongan yang merusak hati. Seseorang yang merasa dirinya lebih mulia mungkin akan terjebak dalam sikap merendahkan, padahal tidak ada jaminan bahwa keadaan dirinya akan selalu lebih baik. Nasihat ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki potensi salah dan potensi berubah, sehingga kita tidak boleh terburu-buru menilai seseorang dari apa yang tampak pada satu waktu tertentu.

Kemungkinan seseorang bertobat adalah hal yang harus selalu kita yakini. Banyak kisah dalam sejarah menunjukkan bahwa orang yang dulunya bergelimang dosa akhirnya menjadi hamba Allah yang paling taat dan mulia. Sebaliknya, ada pula orang yang tampak saleh namun akhirnya tergelincir. Hal ini menegaskan bahwa perjalanan hidup manusia penuh dinamika, dan hidayah Allah bisa turun kapan saja kepada siapa saja. Karena itu, meremehkan orang yang berbuat salah justru menunjukkan ketidaktahuan kita terhadap rahasia Allah dalam membolak-balikkan hati manusia.

Ungkapan tersebut juga mengajarkan pentingnya empati dan kasih sayang terhadap sesama. Alih-alih menghakimi, kita dianjurkan untuk mendoakan orang yang melakukan kesalahan agar mendapatkan petunjuk. Sikap ini lebih mencerminkan akhlak mulia dibanding mencaci atau merasa lebih baik. Dengan demikian, nasihat ini menanamkan nilai bahwa tugas manusia bukan menghakimi, tetapi memperbaiki diri dan membantu sesama menuju jalan kebaikan. Kesadaran ini membuat hati lebih lembut, jauh dari kebencian, dan lebih dekat kepada akhlak Nabi.

Pada akhirnya, ungkapan ini mengarah pada satu pelajaran inti: kerendahan hati adalah pilar penting dalam kehidupan spiritual. Tidak ada manusia yang tahu bagaimana akhirnya perjalanan hidupnya, sehingga tidak sepantasnya kita merasa aman dari dosa atau merasa paling suci. Menjaga hati dari kesombongan dan terus memperbaiki diri adalah sikap yang lebih utama. Dengan memahami nasihat ini, kita akan lebih hati-hati dalam menilai, lebih lembut dalam bersikap, dan lebih dekat dengan sikap tawaduk yang dicintai Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harmoni Semesta, Harmoni Cinta: Menemukan Arah Bersama dalam Kebersamaan

Ungkapan puitis “ Dengarlah suara burung bersahutan, gelombang laut berkejaran, matahari dan bulan bergiliran. Dari semesta alam raya, kit...