Dalam perjalanan hidup, setiap
manusia diberi sejumlah “modal” berupa waktu, kesehatan, akal, kesempatan, dan
berbagai anugerah lain. Ungkapan “Manusia-manusia sukses menjaga modal,
barang, dan bekal mereka. Sehingga mereka tidak menghambur-hamburkannya dan
tidak pula membiarkannya rusak” menegaskan bahwa keberhasilan bukan hanya
berasal dari kerja keras, tetapi juga dari kemampuan mengelola apa yang sudah
dimiliki. Ungkapan ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana orang-orang
sukses mampu mempertahankan dan memaksimalkan potensi yang ada sebelum menuntut
sesuatu yang belum mereka punya.
Makna “modal” dalam ungkapan
tersebut tidak sebatas harta benda, tetapi mencakup seluruh karunia yang Allah
berikan. Orang yang sukses mampu menjaga waktunya agar tidak tersia-siakan oleh
aktivitas yang tidak bermanfaat. Ia memelihara kesehatan fisik dan mentalnya
agar tetap mampu bergerak maju. Ia menjaga amanah, relasi, dan reputasinya karena
itu adalah modal sosial yang sangat berharga. Kesadaran ini membuat mereka
berhati-hati dalam setiap keputusan, sehingga modal yang mereka miliki tidak
terkikis oleh kelalaian.
Selain menjaga modal, orang
sukses juga memperhatikan “barang” dan “bekal” yang ada dalam hidupnya, baik
berupa kemampuan, pengalaman, maupun ilmu. Mereka tidak membiarkan potensi yang
ada dalam diri menjadi sia-sia. Ilmu yang dipelajari dipraktikkan, pengalaman
yang diperoleh digunakan sebagai langkah perbaikan, dan kemampuan terus diasah.
Mereka memahami bahwa keberhasilan lahir bukan dari sesuatu yang muncul
tiba-tiba, melainkan dari konsistensi dalam memelihara dan mengembangkan apa
yang sudah dimiliki.
Ungkapan ini juga mengkritik sifat boros dan ceroboh, baik dalam bentuk menghamburkan harta, meremehkan waktu, atau membiarkan kemampuan layu tanpa digunakan. Banyak orang gagal bukan karena mereka tidak memiliki modal, melainkan karena mereka tidak mampu menjaga dan mengelolanya. Ada yang membuang kesempatan, ada yang membiarkan bakatnya hilang, dan ada pula yang merusak potensi diri dengan kebiasaan buruk. Orang sukses justru sebaliknya: mereka menjauh dari perilaku yang merusak modal diri.
Pada akhirnya, ungkapan ini mengajarkan bahwa kesuksesan lahir dari rasa tanggung jawab terhadap karunia yang telah dimiliki. Seseorang yang mampu menjaga modal hidupnya akan memiliki fondasi yang kuat untuk melangkah jauh. Ia tidak hanya menghindari kerusakan dan pemborosan, tetapi juga memanfaatkan setiap modal sebagai bekal untuk meraih tujuan. Dengan demikian, menjaga modal hidup adalah salah satu kunci utama dalam mencapai keberhasilan duniawi maupun kematangan pribadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar