Dalam tradisi tasawuf dan
dakwah para ulama Hadhramaut, Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad
dikenal sebagai sosok pembaharu hati yang penyampaiannya ringkas namun penuh
hikmah. Melalui kitab Sabilul Iddikar, beliau menghadirkan berbagai nasihat
yang membantu seorang mukmin mengenali penyakit batin yang menghalangi
perjalanan spiritualnya. Di antara kalam hikmahnya adalah penjelasan tentang
penghalang ketaatan, yaitu kebodohan, lemahnya iman, angan-angan panjang yang
kosong, serta konsumsi makanan haram dan syubhat. Hikmah ini mengajarkan bahwa
ketaatan tidak hanya berkaitan dengan amal lahir, tetapi juga kondisi batin dan
lingkungan yang memengaruhi hati.
Penghalang pertama yang disebut
oleh Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad adalah “kebodohan”, yakni
ketidaktahuan tentang kewajiban agama, hak-hak Allah, dan tujuan hidup.
Kebodohan membuat seseorang tidak mampu membedakan kebaikan dari keburukan
sehingga ia tidak terdorong untuk taat. Menurut para ulama, ilmu adalah cahaya,
dan tanpa cahaya itu seseorang mudah terjatuh dalam maksiat. Karena itu,
menuntut ilmu yang bermanfaat menjadi pondasi utama dalam membangun ketaatan,
sebab seseorang tidak akan mampu beramal dengan benar tanpa pengetahuan yang benar.
Penghalang kedua adalah “iman
yang lemah”. Iman yang tidak dipelihara melalui ibadah, zikir, dan muhasabah
akan membuat hati tumpul terhadap kebenaran. Lemahnya iman menyebabkan
seseorang sulit merasakan manisnya ketaatan dan berat untuk meninggalkan maksiat.
Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad menekankan bahwa kekuatan iman
adalah tenaga pendorong bagi seluruh amal, sehingga melemahkan iman sama halnya
dengan melemahkan seluruh sistem ketaatan dalam diri seseorang. Inilah sebabnya
mengapa para ulama sangat menganjurkan memperbanyak amal hati seperti syukur,
khusyuk, dan muraqabah.
Penghalang ketiga adalah “angan-angan panjang yang kosong (ṭūl al-amal)”. Ini adalah sikap batin yang merasa hidup masih panjang sehingga menunda taubat dan ketaatan. Seseorang tenggelam dalam fantasi duniawi yang tidak memiliki nilai akhirat, sehingga melalaikan kewajiban hari ini dengan alasan "nanti". Dalam tasawuf, angan-angan panjang adalah penyakit yang melemahkan semangat ibadah, karena ia membuat seseorang menipu dirinya sendiri dengan rasa aman palsu. Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad mengingatkan bahwa seorang mukmin yang cerdas adalah yang memanfaatkan waktu singkatnya untuk amal, bukan berandai-andai.
Penghalang terakhir adalah “makanan haram dan syubhat”. Hati yang diberi asupan haram akan sulit menerima cahaya hidayah dan ketaatan. Para ulama menjelaskan bahwa makanan menjadi bagian dari darah dan daging manusia, sehingga pengaruhnya sangat besar terhadap perilaku dan kekuatan spiritual. Syubhat pun dapat mengeruhkan hati karena ketidakjelasan status kehalalannya. Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad menegaskan bahwa menjaga makanan adalah salah satu kunci besar dalam menjaga kejernihan hati dan kekuatan iman. Dengan menjauhi penghalang-penghalang ini, seorang hamba dapat memperkuat langkahnya menuju ketaatan dan kedekatan kepada Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar