Dalam tradisi para ulama dan
salihin, kalam-kalam hikmah tidak sekadar permainan kata, tetapi merupakan
cermin dari pengalaman spiritual yang mendalam dan pendidikan ruhani yang
halus. Salah satu kalam hikmah yang masyhur dan sarat makna datang dari seorang
ulama besar, Al-Habib Abdurrahman Assegaf, yang berkata: "مَنْ لَا لَهُ وِرْدٌ
فَهُوَ قِرْدٌ. مَنْ لَمْ يُطَالِعِ الإِحْيَاءَ مَا فِيْهِ حَيَاءٌ"
(Man lā lahu wirdun fahuwa qirdun, man lam yuṭāli‘il Iḥyā’a mā fīhi ḥayā’),
yang artinya: “Barang siapa tidak memiliki wirid, maka ia seperti kera. Dan barang
siapa tidak pernah membaca kitab Ihya’ (Ihya’ ‘Ulum al-Din karya Imam
al-Ghazali), maka ia tidak memiliki rasa malu.” Kalam hikmah ini
menggambarkan pentingnya kesinambungan ibadah dan pencarian ilmu dalam
membentuk kepribadian spiritual seorang muslim.
Bagian pertama dari kalam
hikmah tersebut, “Barang siapa tidak memiliki wirid, maka ia seperti kera”,
memiliki makna simbolis yang sangat dalam. Wirid adalah zikir atau amalan rutin
yang menghubungkan hati dengan Allah, menjaga kelestarian kesadaran spiritual
manusia. Ketika seseorang tidak memiliki wirid, kehidupannya kehilangan arah
ruhani, dan perilakunya menjadi seperti kera, yang bergerak tanpa arah,
mengikuti naluri tanpa kesadaran. Dalam pandangan para ulama tasawuf, wirid
bukan sekadar bacaan, tetapi merupakan “nafas ruhani” yang menghidupkan hati,
menjaga dari kelalaian, dan menghubungkan makhluk dengan Sang Pencipta.
Bagian kedua, “Barang siapa
tidak membaca Ihya’, ia tidak punya rasa malu”, menekankan pentingnya ilmu
akhlak dan spiritualitas dalam kehidupan seorang muslim. Kitab Ihya’ ‘Ulum
al-Din karya Imam al-Ghazali adalah ensiklopedia adab, akhlak, dan
penyucian jiwa yang mendidik manusia agar mengenal dirinya dan Tuhannya. Dengan
tidak mempelajarinya (atau ilmu sejenisnya) seseorang akan kehilangan ḥayā’
(rasa malu), yang merupakan bagian dari iman. “Malu” di sini bukan sekadar
sifat sosial, melainkan kesadaran batin untuk menjaga diri dari dosa dan
perbuatan tercela. Membaca Ihya’ berarti menghidupkan hati dengan ilmu,
sementara meninggalkannya berarti membiarkan hati mati oleh kebodohan dan
kesombongan.
Kalam hikmah ini menegaskan bahwa seorang mukmin sejati harus menjaga keseimbangan antara zikir dan fikir, antara amalan ruhani (wirid) dan pencarian ilmu (muthāla‘ah). Keduanya bagaikan dua sayap yang membuat manusia dapat “terbang” menuju kedekatan dengan Allah. Tanpa wirid, amal kehilangan ruh; tanpa ilmu, ibadah kehilangan arah. Al-Habib Abdurrahman Assegaf dengan tegas menyindir kondisi manusia yang lalai: sibuk secara fisik, tetapi hampa secara batin. Seorang yang tidak berzikir tidak berbeda dengan kera yang hanya meniru gerakan tanpa makna, dan yang tidak menuntut ilmu bagaikan tubuh tanpa jiwa.
Kalam hikmah Al-Habib Abdurrahman Assegaf ini adalah panggilan untuk menata kembali kehidupan spiritual. Ia mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah tidak bisa dicapai hanya dengan pengetahuan atau amal semata, melainkan perpaduan keduanya: wirid yang istiqamah dan ilmu yang menuntun. Melalui wirid, hati menjadi hidup; melalui ilmu, akal menjadi terang. Dan ketika keduanya bersatu, lahirlah pribadi yang penuh ḥayā’, beradab, dan bercahaya. Dengan demikian, nasihat beliau bukan sekadar teguran, tetapi juga undangan menuju kehidupan ruhani yang seimbang dan bermakna, kehidupan yang berporos pada Allah, berlandaskan zikir, dan diterangi oleh ilmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar