Dalam tradisi tasawuf, kalam
hikmah para salaf bukan sekadar untaian kata indah, melainkan “peta batin” yang
menuntun pejalan ruhani agar selamat dari jebakan nafsu. Salah satu kalam yang
sangat dalam datang dari Imam Fudhail bin ‘Iyadh dalam kitab Risalatul
Qusyairiyah: “Barang siapa melihat dirinya berharga, maka ia tidak akan
mendapatkan bagian tawadhu’.” Ungkapan ringkas ini mengoreksi cara pandang
kita terhadap diri: apakah kita memusat pada keakuan (ego) atau pada keagungan
Allah. Ia mengajarkan bahwa akhlak rendah hati bukan lahir dari teknik sosial,
melainkan dari teologi hati, kesadaran akan kefakiran hamba di hadapan
Rabb-nya.
Makna pokok kalam ini adalah:
selama seseorang menaruh nilai berlebih pada dirinya (merasa istimewa, lebih
mulia, lebih pantas) maka pintu tawadhu’ tertutup. “Melihat diri berharga”
bukan berarti mengenali nikmat Allah atau amanah yang kita bawa; yang ditolak
adalah pengagungan diri (ta’zhim al-nafs) yang melahirkan ‘ujub
(bangga diri) dan kibr (sombong). Dalam keadaan ini, lisan bisa saja
merendah, tetapi hati menuntut penghormatan, tidak tahan dikritik, dan mudah
terluka ketika tidak dipuji. Itulah tanda bahwa seseorang sedang memelihara
mahkota semu di kepalanya.
Secara ruhani, ‘ujub
mengalihkan pusat perhatian dari Allah sebagai Pemilik semua kebaikan, menjadi
diri sebagai “sumber” prestasi. Akibatnya, amal tak lagi murni, doa kehilangan
khusyu’, dan nasihat terasa pahit. Di level sosial, memandang diri “berharga”
memproduksi hierarki batin: kita menilai orang lain lebih rendah, lalu mengukur
mereka dengan standar diri. Inilah yang membuat tawadhu’ mustahil: bagaimana
mungkin hati menunduk jika ia yakin berada di puncak? Karena itu, Imam Fudhail
tidak berkata “tawadhu’-nya berkurang,” tetapi “tidak mendapat bagian”, seakan-akan
tawadhu’ adalah rezeki yang gugur ketika ego diagungkan.
Namun, kalam ini tidak mengajak pada minder atau merendahkan diri secara artifisial. Islam membedakan antara ma’rifah bi ni’amillah (mengenali nikmat Allah pada diri) dan ta’zhim al-nafs. Kita boleh (bahkan perlu) mengenali potensi, tanggung jawab, dan peran, tetapi semuanya disandarkan kepada Pemberi Nikmat, dikelola dengan amanah, dan dipakai untuk melayani. Ukuran sehatnya: apakah keberhasilan menambah syukur atau menambah klaim? Apakah pujian membuat hati menafikan perantara kebaikan (guru, tim, kondisi), atau justru makin takut kepada Allah karena amanah bertambah?
Bagaimana menempuh tawadhu’? Pertama, biasakan muhasabah: menimbang aib diri lebih banyak daripada kelebihan. Kedua, latih hati menisbatkan setiap kebaikan kepada Allah, ucapkan dan rasakan “ini titipan, bukan milik.” Ketiga, cari posisi “pelayan”: bantu tanpa perlu diketahui; terima kritik yang benar meski pahit. Keempat, ingat kefanaan: apa yang kita banggakan akan pergi bersama waktu. Dengan disiplin hati seperti ini, “harga diri semu” pelan-pelan luruh, dan seseorang kembali layak mendapat “bagian” tawadhu’, yakni tenang, tidak tersaingi oleh pujian, tidak runtuh oleh celaan, dan selalu dekat kepada Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar