Halaman

Minggu, 09 November 2025

Ketika Diri Terlalu Berharga: Rahasia Hilangnya Tawadhu’ Menurut Imam Fudhail bin ‘Iyadh

Dalam tradisi tasawuf, kalam hikmah para salaf bukan sekadar untaian kata indah, melainkan “peta batin” yang menuntun pejalan ruhani agar selamat dari jebakan nafsu. Salah satu kalam yang sangat dalam datang dari Imam Fudhail bin ‘Iyadh dalam kitab Risalatul Qusyairiyah: “Barang siapa melihat dirinya berharga, maka ia tidak akan mendapatkan bagian tawadhu’.” Ungkapan ringkas ini mengoreksi cara pandang kita terhadap diri: apakah kita memusat pada keakuan (ego) atau pada keagungan Allah. Ia mengajarkan bahwa akhlak rendah hati bukan lahir dari teknik sosial, melainkan dari teologi hati, kesadaran akan kefakiran hamba di hadapan Rabb-nya.

Makna pokok kalam ini adalah: selama seseorang menaruh nilai berlebih pada dirinya (merasa istimewa, lebih mulia, lebih pantas) maka pintu tawadhu’ tertutup. “Melihat diri berharga” bukan berarti mengenali nikmat Allah atau amanah yang kita bawa; yang ditolak adalah pengagungan diri (ta’zhim al-nafs) yang melahirkan ‘ujub (bangga diri) dan kibr (sombong). Dalam keadaan ini, lisan bisa saja merendah, tetapi hati menuntut penghormatan, tidak tahan dikritik, dan mudah terluka ketika tidak dipuji. Itulah tanda bahwa seseorang sedang memelihara mahkota semu di kepalanya.

Secara ruhani, ‘ujub mengalihkan pusat perhatian dari Allah sebagai Pemilik semua kebaikan, menjadi diri sebagai “sumber” prestasi. Akibatnya, amal tak lagi murni, doa kehilangan khusyu’, dan nasihat terasa pahit. Di level sosial, memandang diri “berharga” memproduksi hierarki batin: kita menilai orang lain lebih rendah, lalu mengukur mereka dengan standar diri. Inilah yang membuat tawadhu’ mustahil: bagaimana mungkin hati menunduk jika ia yakin berada di puncak? Karena itu, Imam Fudhail tidak berkata “tawadhu’-nya berkurang,” tetapi “tidak mendapat bagian”, seakan-akan tawadhu’ adalah rezeki yang gugur ketika ego diagungkan.

Namun, kalam ini tidak mengajak pada minder atau merendahkan diri secara artifisial. Islam membedakan antara ma’rifah bi ni’amillah (mengenali nikmat Allah pada diri) dan ta’zhim al-nafs. Kita boleh (bahkan perlu) mengenali potensi, tanggung jawab, dan peran, tetapi semuanya disandarkan kepada Pemberi Nikmat, dikelola dengan amanah, dan dipakai untuk melayani. Ukuran sehatnya: apakah keberhasilan menambah syukur atau menambah klaim? Apakah pujian membuat hati menafikan perantara kebaikan (guru, tim, kondisi), atau justru makin takut kepada Allah karena amanah bertambah?

Bagaimana menempuh tawadhu’? Pertama, biasakan muhasabah: menimbang aib diri lebih banyak daripada kelebihan. Kedua, latih hati menisbatkan setiap kebaikan kepada Allah, ucapkan dan rasakan “ini titipan, bukan milik.” Ketiga, cari posisi “pelayan”: bantu tanpa perlu diketahui; terima kritik yang benar meski pahit. Keempat, ingat kefanaan: apa yang kita banggakan akan pergi bersama waktu. Dengan disiplin hati seperti ini, “harga diri semu” pelan-pelan luruh, dan seseorang kembali layak mendapat “bagian” tawadhu’, yakni tenang, tidak tersaingi oleh pujian, tidak runtuh oleh celaan, dan selalu dekat kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harmoni Semesta, Harmoni Cinta: Menemukan Arah Bersama dalam Kebersamaan

Ungkapan puitis “ Dengarlah suara burung bersahutan, gelombang laut berkejaran, matahari dan bulan bergiliran. Dari semesta alam raya, kit...