Halaman

Jumat, 07 November 2025

Hadiah dari Ghibah: Pelajaran Akhlak dari Imam Hasan Al-Bashri

Setiap insan yang beriman tentu memahami betapa pentingnya menjaga lisan dari ucapan yang dapat menyakiti orang lain. Ghibah atau membicarakan keburukan orang lain tanpa hak adalah salah satu penyakit hati yang sering kali menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar. Namun, dalam sejarah kehidupan para ulama salaf, kita menemukan teladan luar biasa tentang bagaimana mereka menyikapi perbuatan buruk orang lain dengan penuh kebijaksanaan dan kebaikan hati. Salah satu kisah yang sangat terkenal dan penuh hikmah adalah peristiwa yang dialami oleh Imam Hasan Al-Bashri, sebagaimana disebutkan dalam kitab Risalatul Qusyairiyah karya Imam Al-Qusyairi.

Dalam kisah tersebut, Imam Hasan Al-Bashri mendengar kabar bahwa ada seseorang yang telah menggibahinya, yakni membicarakan dirinya dengan sesuatu yang tidak baik di belakangnya. Mendengar hal itu, beliau tidak menunjukkan kemarahan ataupun rasa dendam. Sebaliknya, beliau menunjukkan akhlak yang sangat mulia dan mencerminkan keluhuran budi seorang alim yang sejati. Dengan penuh ketenangan, beliau menyiapkan sebuah kue dan datang menemui orang yang telah menggibahinya. Perbuatan ini mengandung pelajaran mendalam tentang bagaimana seorang mukmin sejati membalas keburukan dengan kebaikan.

Ketika bertemu dengan orang tersebut, Imam Hasan Al-Bashri berkata dengan penuh kelembutan, “Telah sampai kepadaku bahwa engkau telah menghadiahkan kebaikan kepadaku. Maka, aku datang kepadamu untuk memberikan imbalan atas hadiah itu.” Ungkapan ini mengandung makna yang sangat dalam. Dalam pandangan beliau, ghibah yang dilakukan seseorang justru berpahala bagi orang yang digibahi, karena dosa si penggibah akan dipindahkan kepadanya, sementara kebaikan amal orang yang menggibah akan berpindah kepada orang yang digibahi. Dengan kata lain, ghibah menjadi “hadiah amal” yang tidak disadari oleh pelakunya.

Sikap Imam Hasan Al-Bashri tersebut menggambarkan tingkat ketulusan hati dan kesempurnaan akhlak yang sangat tinggi. Beliau tidak hanya menahan diri dari marah, tetapi juga mengubah peristiwa negatif menjadi ladang pahala dan pelajaran akhlak bagi orang lain. Beliau memahami dengan mendalam firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 12 yang melarang ghibah dan menyamakannya dengan memakan daging saudara sendiri yang sudah mati. Namun, beliau memilih untuk menanggapi perbuatan tersebut dengan kelembutan, menunjukkan bahwa kekuatan iman bukanlah pada balasan amarah, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri dan membalas dengan kebaikan.

Dari kisah ini, umat Islam dapat mengambil banyak pelajaran berharga. Pertama, jangan mudah tersulut emosi ketika difitnah atau digibahi, karena setiap keburukan yang ditujukan kepada kita akan menjadi kebaikan apabila kita bersabar. Kedua, memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk adalah bentuk ibadah yang tinggi nilainya di sisi Allah. Ketiga, kisah ini menunjukkan bahwa ilmu sejati harus disertai akhlak mulia, sebagaimana yang dicontohkan oleh para ulama terdahulu. Dengan demikian, peristiwa Imam Hasan Al-Bashri ini bukan sekadar kisah klasik, melainkan teladan abadi tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin menyikapi ujian berupa ucapan buruk orang lain dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harmoni Semesta, Harmoni Cinta: Menemukan Arah Bersama dalam Kebersamaan

Ungkapan puitis “ Dengarlah suara burung bersahutan, gelombang laut berkejaran, matahari dan bulan bergiliran. Dari semesta alam raya, kit...