Tradisi keilmuan Islam tumbuh
subur melalui dedikasi ulama yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga
menghormati dan memuliakan karya-karya besar para pendahulu. Salah satu kisah
yang menunjukkan penghormatan semacam itu adalah kisah Syekh Ahmad Bakatsir,
seorang ulama yang menunjukkan kecintaan luar biasa terhadap kitab Ihya’
Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Kisah ini tidak hanya menunjukkan
ketekunan dalam belajar, tetapi juga menggambarkan bagaimana adab terhadap ilmu
dapat menjadi jalan meraih doa dan keberkahan dari para guru.
Dikisahkan bahwa Syekh Ahmad
Bakatsir menyalin seluruh kitab Ihya’ Ulumiddin dengan tangannya
sendiri. Kitab Ihya’ dikenal sebagai karya besar dan tebal yang
memadukan aspek fikih, tasawuf, akhlak, dan muamalah. Menyalin kitab setebal
itu bukan perkara mudah; butuh waktu yang panjang, ketelitian, dan kesungguhan.
Upaya ini mencerminkan cinta beliau terhadap ilmu serta tekad untuk memahami
kandungannya secara lebih mendalam, karena menyalin manual adalah salah satu
metode para ulama untuk memperkuat hafalan dan pemahaman.
Tidak berhenti sampai di situ,
Syekh Ahmad Bakatsir juga menghiasi tulisan tangannya dengan hiasan-hiasan
indah. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak hanya menyalin, tetapi memuliakan
kitab tersebut dengan sentuhan seni dan estetika. Hiasan tersebut membuat kitab
menjadi enak dipandang, sehingga siapa pun yang membacanya merasa nyaman dan
betah berlama-lama. Dalam tradisi keilmuan klasik, memperindah kitab bukan
sekadar estetika, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap ilmu dan penulisnya.
Perbuatan tersebut diketahui oleh gurunya, Habib Abdullah Al-Akbar Alaydrus, seorang ulama besar dan sufi yang dikenal memiliki kedalaman spiritual. Ketika melihat kesungguhan muridnya dalam memuliakan ilmu, sang guru memberikan pujian dan doa istimewa. Bagi seorang guru, murid yang menunjukkan adab tinggi terhadap ilmu dan kitab para ulama adalah murid yang layak diberi dukungan doa. Hal ini sejalan dengan tradisi para ulama, bahwa keberkahan ilmu banyak diperoleh melalui adab, bukan semata kemampuan intelektual.
Habib Abdullah Al-Akbar Alaydrus kemudian mendoakan Syekh Ahmad Bakatsir agar kelak masuk surga. Doa ini bukan hadiah biasa, tetapi bentuk penghargaan atas ketulusan dan ketekunan yang ditunjukkan Syekh Ahmad Bakatsir dalam memuliakan karya ulama besar. Dalam pandangan sufistik, menghormati ilmu merupakan bagian dari ibadah yang mendekatkan seseorang kepada Allah. Kisah ini menjadi teladan bagi para penuntut ilmu, bahwa adab, kecintaan pada ilmu, dan penghormatan kepada para guru dapat menjadi sebab datangnya doa, keberkahan, dan kemuliaan di sisi Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar