Halaman

Selasa, 18 November 2025

Kisah Murid Saleh yang Didoakan Masuk Surga

Tradisi keilmuan Islam tumbuh subur melalui dedikasi ulama yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga menghormati dan memuliakan karya-karya besar para pendahulu. Salah satu kisah yang menunjukkan penghormatan semacam itu adalah kisah Syekh Ahmad Bakatsir, seorang ulama yang menunjukkan kecintaan luar biasa terhadap kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Kisah ini tidak hanya menunjukkan ketekunan dalam belajar, tetapi juga menggambarkan bagaimana adab terhadap ilmu dapat menjadi jalan meraih doa dan keberkahan dari para guru.

Dikisahkan bahwa Syekh Ahmad Bakatsir menyalin seluruh kitab Ihya’ Ulumiddin dengan tangannya sendiri. Kitab Ihya’ dikenal sebagai karya besar dan tebal yang memadukan aspek fikih, tasawuf, akhlak, dan muamalah. Menyalin kitab setebal itu bukan perkara mudah; butuh waktu yang panjang, ketelitian, dan kesungguhan. Upaya ini mencerminkan cinta beliau terhadap ilmu serta tekad untuk memahami kandungannya secara lebih mendalam, karena menyalin manual adalah salah satu metode para ulama untuk memperkuat hafalan dan pemahaman.

Tidak berhenti sampai di situ, Syekh Ahmad Bakatsir juga menghiasi tulisan tangannya dengan hiasan-hiasan indah. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak hanya menyalin, tetapi memuliakan kitab tersebut dengan sentuhan seni dan estetika. Hiasan tersebut membuat kitab menjadi enak dipandang, sehingga siapa pun yang membacanya merasa nyaman dan betah berlama-lama. Dalam tradisi keilmuan klasik, memperindah kitab bukan sekadar estetika, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap ilmu dan penulisnya.

Perbuatan tersebut diketahui oleh gurunya, Habib Abdullah Al-Akbar Alaydrus, seorang ulama besar dan sufi yang dikenal memiliki kedalaman spiritual. Ketika melihat kesungguhan muridnya dalam memuliakan ilmu, sang guru memberikan pujian dan doa istimewa. Bagi seorang guru, murid yang menunjukkan adab tinggi terhadap ilmu dan kitab para ulama adalah murid yang layak diberi dukungan doa. Hal ini sejalan dengan tradisi para ulama, bahwa keberkahan ilmu banyak diperoleh melalui adab, bukan semata kemampuan intelektual.

Habib Abdullah Al-Akbar Alaydrus kemudian mendoakan Syekh Ahmad Bakatsir agar kelak masuk surga. Doa ini bukan hadiah biasa, tetapi bentuk penghargaan atas ketulusan dan ketekunan yang ditunjukkan Syekh Ahmad Bakatsir dalam memuliakan karya ulama besar. Dalam pandangan sufistik, menghormati ilmu merupakan bagian dari ibadah yang mendekatkan seseorang kepada Allah. Kisah ini menjadi teladan bagi para penuntut ilmu, bahwa adab, kecintaan pada ilmu, dan penghormatan kepada para guru dapat menjadi sebab datangnya doa, keberkahan, dan kemuliaan di sisi Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harmoni Semesta, Harmoni Cinta: Menemukan Arah Bersama dalam Kebersamaan

Ungkapan puitis “ Dengarlah suara burung bersahutan, gelombang laut berkejaran, matahari dan bulan bergiliran. Dari semesta alam raya, kit...