Semakin bertambah
usia, manusia biasanya semakin memahami bahwa tidak semua perkara dapat
diselesaikan dengan kemampuan, perencanaan, atau kekuatan diri. Ada saatnya
ikhtiar sudah dilakukan, tetapi hasil belum terlihat; ada masa ketika hati
hanya mampu berharap, sementara jalan keluar belum diketahui. Pada titik itulah
doa menjadi tempat kembali yang paling menenangkan. Ungkapan, “Ternyata
semakin dewasa hidup itu isinya hanya doa, mendoakan, dan ingin didoakan.
Karena kita tidak pernah tahu doa mana yang lebih dulu dikabulkan,”
menggambarkan kedewasaan spiritual: semakin seseorang mengenal kehidupan,
semakin ia sadar bahwa dirinya lemah dan Allah-lah yang Mahakuasa atas segala
kemungkinan. Doa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pengakuan bahwa di
balik setiap usaha ada ketetapan Allah yang jauh lebih sempurna daripada
rencana manusia.
Berdoa adalah bentuk penghambaan yang paling
jujur karena di dalamnya terdapat harapan, ketundukan, dan keyakinan kepada
Allah. Ketika seseorang berdoa, sebenarnya ia sedang mengakui bahwa ada
kebutuhan yang tidak mampu ia penuhi sendiri. Allah berfirman,
وَقَالَ
رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ
عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ
“Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah
kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan)’.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku
akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS.
Ghafir: 60). Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak perlu merasa
malu untuk meminta apa pun kepada Allah, baik perkara besar maupun kecil. Namun
terkabulnya doa tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita inginkan atau pada
waktu yang kita tentukan. Bisa jadi Allah segera memberikan apa yang diminta,
menundanya sampai waktu yang paling baik, menggantinya dengan sesuatu yang
lebih bermanfaat, atau menjadikannya sebagai sebab terhindarnya seseorang dari
keburukan. Karena itu, kedewasaan dalam berdoa bukan hanya terletak pada
kemampuan meminta, tetapi juga pada kemampuan percaya kepada cara Allah
menjawab doa.
Lalu ada bagian
yang lebih indah, yaitu mendoakan orang lain. Semakin dewasa, seseorang
mulai memahami bahwa cinta tidak selalu harus diwujudkan dengan kehadiran,
hadiah, atau kata-kata yang panjang. Kadang-kadang bentuk kasih sayang yang
paling tulus justru hadir dalam doa yang tidak diketahui oleh orang yang
didoakan. Rasulullah Saw. menerangkan bahwa doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa
sepengetahuannya merupakan doa yang mustajab; malaikat mendoakan kebaikan yang
serupa bagi orang yang berdoa. Ini mengajarkan bahwa ketika kita menyebut nama
orang lain dalam doa, sebenarnya kita sedang menanam kebaikan yang juga kembali
kepada diri kita. Maka mendoakan orang tua, pasangan, anak, guru, sahabat,
bahkan orang yang pernah menyakiti kita, adalah latihan membersihkan hati dari
ego dan memperluas kasih sayang karena Allah.
Kita pun semakin memahami mengapa ingin didoakan bukanlah tanda kelemahan, melainkan kesadaran bahwa pertolongan Allah dapat datang melalui doa siapa saja. Kita tidak pernah mengetahui dari lisan siapa Allah berkenan mengangkat kesulitan kita. Bisa jadi doa seorang ibu setelah shalat malam, doa ayah yang diam-diam memohonkan kebaikan bagi anaknya, doa guru kepada muridnya, doa sahabat yang tulus, atau bahkan doa seseorang yang pernah kita bantu tanpa kita sadari. Karena itulah jangan meremehkan permintaan, “Doakan saya.” Kalimat sederhana itu sesungguhnya mengandung harapan besar. Kita tidak mengetahui doa mana yang menembus langit lebih dahulu, siapa yang sedang berada dalam keadaan paling ikhlas, dan pada waktu mana Allah membuka pintu ijabah. Hal yang dapat kita lakukan adalah memperbanyak kebaikan agar semakin banyak pula hati yang dengan tulus mengingat kita dalam doanya.
Dengan demikian, semakin dewasa seseorang seharusnya semakin sederhana pula cara ia memandang kehidupan: berusaha semampunya, berdoa sebanyak-banyaknya, mendoakan sesama dengan tulus, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tidak semua yang kita cintai dapat kita jaga dengan tangan, tetapi kita selalu dapat menitipkannya kepada Allah melalui doa. Tidak semua orang dapat terus berada di sisi kita, tetapi nama mereka dapat terus hidup dalam sujud dan munajat kita. Dan ketika kita sendiri sedang lelah untuk berdoa panjang, barangkali ada orang lain yang sedang menyebut nama kita di hadapan Allah. Maka jangan pernah pelit mendoakan kebaikan, sebab kita tidak pernah tahu doa siapa yang lebih dahulu dikabulkan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tidak lelah berdoa, ringan mendoakan orang lain, dikelilingi oleh orang-orang saleh yang tulus mendoakan kita, serta diberi hati yang ridha terhadap setiap jawaban terbaik dari-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar