Halaman

Sabtu, 19 September 2026

Bahagia dalam Kesederhanaan, Tenang dalam Rasa Syukur

Di tengah kehidupan yang dipenuhi budaya pamer, perbandingan sosial, dan keinginan untuk terlihat lebih berhasil daripada orang lain, banyak manusia kehilangan kemampuan untuk menikmati nikmat yang sebenarnya telah ada di hadapannya. Kebahagiaan kemudian diukur dari rumah yang besar, kendaraan mewah, pakaian bermerek, atau kehidupan yang tampak sempurna di mata publik. Padahal, ketenteraman tidak selalu tinggal di tempat yang megah, dan penderitaan tidak selalu bersemayam dalam kehidupan yang sederhana. Pesan ini tergambar dalam kalam hikmah yang beredar dan dinisbatkan kepada KH. Baha’uddin Nursalim (Gus Baha’) “Nikmati seadanya, jangan meniru mereka yang punya segalanya. Tidak semua yang terlihat mewah itu bahagia, dan tidak semua yang hidup sederhana itu menderita.” Ungkapan tersebut mengajak manusia untuk hidup dengan rasa syukur, menerima ketentuan Allah, dan tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan diri.

Kalimat “nikmati seadanya” bukanlah ajakan untuk menyerah, malas berusaha, atau menolak kemajuan, melainkan nasihat agar manusia mampu merasakan cukup atas rezeki yang telah Allah berikan. Dalam Islam, sikap ini dekat dengan makna qana’ah, yaitu menerima pemberian Allah dengan lapang hati sambil tetap melakukan ikhtiar yang terbaik. Orang yang memiliki sifat qana’ah tidak berarti berhenti bekerja, tetapi tidak membiarkan keinginan duniawi menguasai hatinya. Ia dapat menikmati makanan sederhana, tempat tinggal yang tidak berlebihan, serta kebersamaan keluarga sebagai nikmat yang patut disyukuri. Ketika hati dipenuhi syukur, sesuatu yang sedikit dapat terasa mencukupi; sebaliknya, tanpa rasa syukur, kekayaan yang melimpah pun tidak akan pernah memberikan kepuasan.

Pesan “jangan meniru mereka yang punya segalanya” mengingatkan bahaya membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Apa yang terlihat dari luar hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang mereka jalani. Seseorang mungkin tampak memiliki kekayaan, jabatan, dan popularitas, tetapi menyimpan kegelisahan, konflik keluarga, kesepian, atau tekanan yang tidak diketahui orang lain. Kebiasaan membandingkan diri dapat melahirkan iri hati, rendah diri, dan ketidakpuasan terhadap takdir Allah. Karena itu, seorang mukmin seharusnya menjadikan kehidupan orang lain sebagai pelajaran, bukan sebagai ukuran mutlak bagi kebahagiaannya. Setiap manusia memiliki jalan hidup, rezeki, ujian, dan waktu keberhasilan yang telah ditentukan dengan penuh hikmah oleh Allah Swt.

Pernyataan “tidak semua yang terlihat mewah itu bahagia, dan tidak semua yang hidup sederhana itu menderita” menegaskan bahwa kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh kondisi materi. Kemewahan dapat menjadi nikmat apabila disyukuri dan digunakan dalam kebaikan, tetapi juga dapat menjadi ujian apabila melahirkan kesombongan, kelalaian, dan kecemasan untuk terus mempertahankannya. Demikian pula, kesederhanaan bukanlah tanda kehinaan. Banyak orang yang hidup terbatas secara materi, tetapi memiliki keluarga yang harmonis, hati yang tenang, kesehatan, dan kedekatan kepada Allah. Dalam pandangan Islam, kekayaan sejati bukan hanya banyaknya harta, melainkan kelapangan jiwa yang membuat seseorang merasa cukup, damai, dan tidak diperbudak oleh keinginan yang tiada habisnya.

Dengan demikian, kalam hikmah tersebut mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar, syukur, dan penerimaan terhadap ketentuan Allah. Manusia tetap diperintahkan bekerja, belajar, dan memperbaiki taraf hidup, tetapi semua itu tidak boleh menjadikannya lupa menikmati nikmat yang telah dimiliki. Kebahagiaan yang hakiki tumbuh ketika hati mampu bersyukur dalam kelapangan, bersabar dalam keterbatasan, dan tetap dekat kepada Allah dalam segala keadaan. Dengan tidak sibuk meniru kehidupan orang lain, seseorang dapat lebih jernih mengenali karunia yang ada dalam hidupnya. Kesederhanaan yang disertai iman, kasih sayang, dan rasa cukup sering kali lebih menenteramkan daripada kemewahan yang dipenuhi kegelisahan dan ketidakpuasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lima Pesan Emas Rasulullah Saw.: Jalan Menuju Pribadi yang Paling Bertakwa, Kaya Hati, dan Mulia Akhlaknya

Dalam perjalanan kehidupan seorang muslim, terdapat nasihat-nasihat Nabi Muhammad Saw. yang memiliki kedalaman makna luar biasa. Sebagian ...