Di balik
keberhasilan seorang anak, sering terdapat perjuangan orang tua yang tidak
terlihat oleh mata: sujud panjang pada malam hari, doa yang dipanjatkan dalam
kesunyian, serta lapar dan dahaga yang dijalani dengan penuh keikhlasan.
Ikhtiar batin tersebut dalam tradisi Islam sering disebut sebagai tirakat,
yakni kesungguhan menahan diri dan meningkatkan ibadah demi memohon pertolongan
serta keberkahan dari Allah Swt. Pesan ini tercermin dalam ungkapan yang
beredar dan dinisbatkan kepada KH. Baha’uddin Nursalim atau Gus Baha’ “Tirakat
orang tua dengan shalat berpengaruh pada hati anaknya, tirakat orang tua dengan
doa berpengaruh pada akhlak anaknya, dan tirakat orang tua dengan berpuasa
berpengaruh pada otak anaknya.” Ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai
nasihat spiritual bahwa kesalehan orang tua, apabila disertai pendidikan yang
baik, dapat menghadirkan suasana keberkahan yang mendukung pertumbuhan
kepribadian anak.
Pernyataan
bahwa tirakat orang tua melalui shalat berpengaruh pada hati anak mengandung
makna bahwa kedekatan orang tua dengan Allah dapat memancarkan ketenangan dan
keteladanan dalam keluarga. Shalat mendidik seseorang agar disiplin, rendah
hati, sabar, dan senantiasa mengingat Allah. Orang tua yang menjaga shalat
tidak hanya berdoa bagi anaknya, tetapi juga memperlihatkan contoh nyata
tentang kepatuhan kepada Sang Pencipta. Anak yang tumbuh dalam lingkungan
semacam itu berpeluang lebih besar memiliki hati yang lembut, terbiasa
menghormati waktu ibadah, dan memahami bahwa setiap persoalan harus
dikembalikan kepada Allah. Pengaruh tersebut bukanlah hubungan otomatis,
melainkan buah dari doa, keteladanan, suasana rumah yang religius, dan kehendak
Allah Swt.
Adapun tirakat
melalui doa yang disebut berpengaruh pada akhlak anak menunjukkan betapa besar
harapan orang tua terhadap pembentukan karakter keturunannya. Dalam Islam, doa
bukan sekadar rangkaian kata, tetapi pengakuan bahwa manusia memiliki
keterbatasan dalam mendidik dan membimbing. Orang tua dapat memberikan nasihat,
aturan, serta pendidikan, tetapi Allah-lah yang membolak-balikkan hati dan
memberikan hidayah. Karena itu, orang tua dianjurkan untuk terus memohon agar
anak diberi kejujuran, kesabaran, kesantunan, tanggung jawab, dan kecintaan
kepada kebaikan. Namun, doa perlu disertai keteladanan, sebab anak lebih mudah
belajar akhlak dari perilaku yang disaksikannya setiap hari daripada dari
nasihat yang hanya diucapkan.
Sementara itu, ungkapan bahwa puasa orang tua berpengaruh pada otak anak sebaiknya dipahami sebagai bahasa hikmah tentang keberkahan pengendalian diri, bukan sebagai pernyataan medis yang bersifat langsung. Puasa melatih kesabaran, kejernihan berpikir, pengendalian hawa nafsu, serta kepekaan terhadap keadaan orang lain. Orang tua yang terbiasa berpuasa dengan benar diharapkan memiliki sikap yang lebih tenang, tidak mudah marah, dan lebih bijaksana dalam mendidik. Suasana pengasuhan yang tertib dan penuh kesabaran dapat membantu anak berkembang secara intelektual dan emosional. Meskipun demikian, perkembangan kecerdasan anak tetap membutuhkan pendidikan yang tepat, asupan gizi, kesehatan, stimulasi belajar, serta lingkungan yang mendukung.
Dengan demikian, kalam hikmah tersebut menegaskan bahwa pendidikan anak tidak cukup dilakukan melalui perintah dan larangan, tetapi juga melalui kesalehan, keteladanan, dan munajat orang tua. Shalat mengajarkan ketundukan, doa menumbuhkan harapan kepada Allah, sedangkan puasa melatih pengendalian diri dan kesabaran. Ketiganya dapat menjadi kekuatan spiritual yang menyertai ikhtiar lahiriah dalam membesarkan anak. Orang tua tetap berkewajiban mendidik, mendampingi, memenuhi kebutuhan, serta membangun komunikasi yang penuh kasih sayang. Dengan perpaduan antara tirakat, keteladanan, pendidikan, dan tawakal, orang tua berharap anak tumbuh menjadi pribadi yang berhati bersih, berakhlak mulia, berilmu, dan hidup dalam ridha Allah Swt.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar