Di tengah
derasnya arus zaman, kebaikan tidak cukup hanya disimpan sebagai kesalehan
pribadi, tetapi juga perlu dihadirkan sebagai cahaya yang menerangi ruang
sosial. Kalam hikmah yang dinisbatkan kepada KH. Baha’uddin Nur Salim atau Gus
Baha’ “Sekarang ini adalah zaman yang mengharuskan amal
baikmu untuk ditunjukkan, karena jika tidak demikian, maka yang akan tampak
dominan adalah hal-hal yang tidak baik. Urusan hati, tinggal diolah dengan
meluruskan niat syiar karena Allah” mengingatkan bahwa setiap masa memiliki tantangannya
sendiri. Pada zaman ketika keburukan begitu mudah dipertontonkan, disebarkan,
bahkan dianggap biasa, umat Islam dituntut untuk tidak pasif dalam menampilkan
wajah kebaikan. Amal saleh yang ditampakkan bukan untuk mencari pujian manusia,
melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab syiar agar nilai-nilai Islam tetap
hidup, terlihat, dan memberi pengaruh baik di tengah masyarakat.
Pernyataan
“sekarang ini adalah zaman yang mengharuskan amal baikmu untuk ditunjukkan”
mengandung pesan dakwah yang sangat relevan. Dalam ajaran Islam, menyembunyikan
amal memang memiliki keutamaan, terutama untuk menjaga keikhlasan dan
menjauhkan diri dari riya’. Namun, pada keadaan tertentu, menampakkan amal juga
dapat bernilai ibadah apabila bertujuan memberi teladan, mengajak kepada
kebaikan, dan menguatkan semangat orang lain. Sedekah, kepedulian sosial,
majelis ilmu, penghormatan kepada ulama, serta berbagai bentuk amal saleh dapat
menjadi inspirasi apabila ditampilkan dengan adab dan niat yang benar.
Kalimat “jika
tidak demikian, maka yang akan tampak dominan adalah hal-hal yang tidak baik”
menunjukkan adanya kesadaran terhadap realitas sosial. Ketika ruang publik,
media sosial, dan percakapan masyarakat lebih sering dipenuhi oleh kemaksiatan,
kesombongan, fitnah, gaya hidup berlebihan, atau perkara yang menjauhkan
manusia dari Allah, maka kebaikan perlu hadir sebagai penyeimbang. Jika
orang-orang saleh terlalu menarik diri dari ruang sosial, maka masyarakat bisa
kehilangan contoh nyata tentang akhlak, ilmu, ibadah, dan kepedulian. Karena
itu, menampakkan amal baik dapat menjadi bentuk amar ma’ruf yang lembut, bukan
dengan mencela, melainkan dengan menghadirkan alternatif yang lebih mulia.
Adapun “urusan hati, tinggal diolah dengan meluruskan niat syiar karena Allah” menjadi kunci utama dari seluruh pesan tersebut. Dalam Islam, nilai amal sangat bergantung pada niat. Amal yang tampak besar bisa menjadi kecil apabila dikotori oleh kesombongan, tetapi amal yang sederhana bisa menjadi agung apabila dilakukan dengan ikhlas karena Allah. Maka, ketika seseorang menampakkan amal baik, ia harus terus bermuhasabah: apakah ia ingin dipuji, dianggap saleh, atau benar-benar ingin mengajak manusia kepada kebaikan? Meluruskan niat adalah pekerjaan batin yang harus dijaga terus-menerus, sebab hati manusia mudah berubah dan sangat halus godaannya.
Dengan demikian, hikmah ini tidak mengajarkan pamer ibadah, melainkan mengajarkan keberanian untuk menjadikan kebaikan sebagai syiar. Seorang Muslim hendaknya tidak malu menunjukkan akhlak baik, semangat belajar agama, kepedulian terhadap sesama, kecintaan kepada masjid, dan penghormatan terhadap nilai-nilai Islam. Selama niatnya dijaga karena Allah, amal yang tampak dapat menjadi dakwah yang menyejukkan dan inspirasi bagi banyak orang. Inilah keseimbangan yang indah dalam beragama: hati tetap ikhlas di hadapan Allah, sementara perilaku tetap memberi manfaat dan teladan di hadapan manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar