Dalam
perjalanan seorang hamba menuju Allah, amal kebaikan bukan hanya dinilai dari
bentuk lahiriahnya, tetapi juga dari rahasia batin yang mengiringinya.
Seseorang mungkin tampak banyak berbuat baik di hadapan manusia, tetapi nilai
amal itu sangat bergantung pada niat yang tersembunyi di dalam hati. Karena
itu, kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Al-Habib Umar bin Hafidz “Jika
engkau melakukan kebaikan lalu engkau ingin orang lain mengetahuinya, maka
ketahuilah bahwa keikhlasanmu sedang berada dalam bahaya” menjadi pengingat
yang sangat dalam agar setiap amal tidak kehilangan ruhnya.
Ikhlas adalah
inti dari setiap ibadah dan kebaikan. Amal yang kecil dapat menjadi besar di sisi
Allah apabila dilakukan dengan niat yang murni, sedangkan amal yang besar dapat
menjadi ringan nilainya apabila tercampur keinginan untuk dipuji, dikenal, atau
dianggap saleh oleh manusia. Dalam Islam, seorang hamba diajarkan untuk
menjadikan Allah sebagai tujuan utama, bukan pandangan manusia. Ketika hati
mulai berharap agar amal diketahui orang lain, saat itulah seorang hamba perlu
segera memeriksa kembali niatnya.
Keinginan agar
kebaikan dilihat manusia dapat membuka pintu riya, yaitu melakukan amal demi
memperoleh perhatian, pujian, atau kedudukan di mata orang lain. Riya termasuk
penyakit hati yang halus, karena sering datang tanpa disadari. Seseorang bisa
saja awalnya berniat baik, tetapi setelah beramal, muncul dorongan dalam hati
agar orang lain mengetahui kebaikannya. Jika dorongan ini dibiarkan, maka
keikhlasan menjadi lemah dan amal yang seharusnya menjadi jalan mendekat kepada
Allah justru berubah menjadi alat mencari penghargaan manusia.
Namun, kalam hikmah ini bukan berarti melarang semua kebaikan yang terlihat oleh orang lain. Ada amal yang memang harus tampak, seperti mengajar, berdakwah, bersedekah secara terbuka untuk memberi contoh, atau menjalankan amanah sosial. Yang menjadi masalah bukan terlihatnya amal, melainkan keinginan hati untuk dipuji karena amal tersebut. Seorang hamba yang ikhlas tidak sibuk membangun citra kesalehan di hadapan manusia, tetapi sibuk menjaga keridaan Allah dalam setiap keadaan, baik ketika amalnya diketahui maupun ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Oleh sebab itu, setiap kali melakukan kebaikan, seorang muslim hendaknya memperbanyak muhasabah dan berdoa agar Allah menjaga hatinya dari riya. Kebaikan yang paling selamat adalah kebaikan yang dilakukan karena Allah, tanpa menuntut pengakuan manusia. Jika suatu amal diketahui orang lain, maka hendaknya hati tetap rendah, tidak merasa lebih suci, dan tidak menjadikan pujian sebagai tujuan. Sebab, kemuliaan sejati bukan terletak pada banyaknya orang yang mengetahui amal kita, tetapi pada diterimanya amal tersebut oleh Allah dengan niat yang ikhlas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar