Di antara tanda
kematangan iman seorang hamba adalah kemampuannya menjaga lisan dan
memperhatikan perasaan sesama. Banyak orang mampu menahan diri dari dosa besar
yang tampak, tetapi tidak sedikit yang lalai dari dosa yang keluar melalui
kata-kata. Kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Al-Habib Umar bin Hafidz “Menjaga
perasaan orang lain adalah bagian dari iman. Berpikirlah berkali-kali sebelum
melontarkan kata-kata, karena luka akibat lisan seringkali lebih dalam daripada
luka akibat pedang” menjadi pengingat bahwa ucapan bukan sekadar bunyi yang
keluar dari mulut, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di
hadapan Allah.
Dalam Islam,
lisan memiliki kedudukan yang sangat penting karena ia dapat menjadi jalan
menuju kebaikan atau sebab datangnya dosa. Dengan lisan, seseorang dapat
membaca Al-Qur’an, berzikir, menasihati, mendamaikan, dan menguatkan hati orang
lain. Namun dengan lisan pula seseorang dapat menyakiti, merendahkan,
memfitnah, mencela, membuka aib, dan mematahkan semangat sesama. Karena itu,
menjaga ucapan bukan hanya persoalan sopan santun, tetapi bagian dari keimanan
dan ketakwaan kepada Allah.
Menjaga
perasaan orang lain bukan berarti membenarkan semua kesalahan atau meninggalkan
nasihat. Islam tetap memerintahkan amar makruf nahi mungkar, tetapi nasihat
harus disampaikan dengan hikmah, kelembutan, dan adab. Kebenaran yang
disampaikan dengan kasar bisa melukai hati, sedangkan nasihat yang dibalut
dengan kasih sayang lebih mudah diterima. Seorang mukmin tidak hanya
memperhatikan benar atau salahnya isi ucapan, tetapi juga mempertimbangkan
waktu, cara, nada, dan keadaan orang yang mendengarnya.
Luka akibat lisan sering kali lebih dalam daripada luka fisik karena kata-kata dapat menetap lama dalam ingatan dan perasaan seseorang. Ucapan yang merendahkan bisa membuat seseorang kehilangan percaya diri, ucapan yang menyakitkan bisa merusak hubungan, dan ucapan yang kasar bisa meninggalkan bekas batin yang sulit hilang. Oleh sebab itu, seorang muslim diajarkan untuk berpikir sebelum berbicara: apakah ucapan ini benar, apakah bermanfaat, apakah perlu disampaikan, dan apakah cara menyampaikannya tidak menyakiti hati orang lain.
Maka, menjaga lisan adalah jalan untuk menjaga iman, menjaga persaudaraan, dan menjaga kemuliaan diri di hadapan Allah. Seorang hamba yang saleh tidak hanya dikenal dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari lembutnya tutur kata dan amanahnya dalam berbicara. Jika belum mampu mengucapkan kebaikan, diam adalah pilihan yang lebih selamat. Sebab, lisan yang dijaga akan melahirkan ketenangan, sedangkan lisan yang dibiarkan tanpa kendali dapat menjadi sebab penyesalan di dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar