Halaman

Selasa, 02 Desember 2025

Jejak Kehidupan: Bermimpi di Awal, Berjuang di Tengah, Bijaksana di Akhir

Ungkapan “Kehidupan yang sempurna itu adalah ketika kita di masa muda mencurahkan seluruh waktu kita untuk ambisi-ambisi kita, ketika di masa dewasa mencurahkan seluruh waktu kita untuk berjuang, dan ketika kita di masa tua mencurahkan seluruh waktu kita untuk merenung” mengandung filosofi mendalam tentang perjalanan hidup manusia. Ungkapan ini tidak hanya menggambarkan fase-fase kehidupan secara biologis, tetapi juga menunjukkan bagaimana semestinya kita memaknai setiap tahapan hidup agar memiliki kualitas yang utuh, seimbang, dan bermakna. Di dalamnya, tersirat pesan bahwa kesempurnaan hidup bukan terletak pada panjangnya umur, melainkan pada kemampuan kita memaksimalkan setiap fase dengan peran dan kesadaran yang tepat.

Pada masa muda, seseorang berada pada tahap penuh energi, mimpi, dan idealisme. Masa ini dicirikan dengan keberanian untuk mencoba hal baru dan semangat mengejar ambisi tanpa terlalu banyak rasa takut terhadap risiko. Ungkapan tersebut menekankan bahwa masa muda adalah waktu terbaik untuk menetapkan tujuan besar, memperluas wawasan, dan membangun fondasi masa depan. Mencurahkan waktu untuk ambisi bukan berarti sekadar mengejar materi atau kedudukan, tetapi juga mengembangkan karakter, menggali potensi, dan merintis jalan hidup yang akan ditempuh di masa mendatang.

Memasuki masa dewasa, seseorang memasuki fase perjuangan. Ambisi yang dibentuk di masa muda kini diuji dengan kenyataan hidup yang lebih kompleks. Pada tahap ini, perjuangan bukan hanya soal bekerja keras secara fisik, tetapi juga menjaga komitmen, menghadapi tantangan mental, dan menyelesaikan tanggung jawab yang semakin besar. Ungkapan tersebut mengajarkan bahwa kesempurnaan hidup tidak datang dengan sendirinya; ia lahir dari perjuangan yang sungguh-sungguh. Masa dewasa adalah waktu untuk mewujudkan apa yang pernah dicita-citakan, sekaligus membangun stabilitas bagi diri dan orang-orang yang kita cintai.

Sementara itu, masa tua digambarkan sebagai fase merenung. Inilah tahap ketika seseorang telah melewati banyak pengalaman hidup, baik suka maupun duka, dan mulai menoleh untuk melihat kembali perjalanan panjang yang telah ditempuh. Merenung bukan berarti pasif atau menyerah, tetapi menjadi proses evaluasi dan pendalaman makna hidup. Pada fase ini, seseorang biasanya menemukan kebijaksanaan yang tidak bisa diperoleh ketika masih muda atau dewasa, karena waktu merenung memberikan ruang untuk memahami makna di balik setiap perjuangan dan pencapaian.

Dengan demikian, ungkapan tersebut menggambarkan bahwa kesempurnaan hidup tercapai ketika kita mampu memaknai setiap fase kehidupan dengan tugas dan kesadarannya masing-masing. Masa muda untuk bermimpi, masa dewasa untuk berjuang, dan masa tua untuk memetik hikmah. Ketika setiap fase dijalani dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan, hidup menjadi lebih utuh, tidak sia-sia, dan penuh makna. Filosofi ini mengajak kita untuk tidak terburu-buru ingin cepat dewasa atau menyesali masa lalu, melainkan menjalani setiap tahap kehidupan sesuai porsinya, karena setiap fase memiliki keindahan dan pelajarannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mendidik dengan Hati, Mengabdi dengan Iman: Warisan Keteladanan Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani

Tulisan ini hadir dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Almaghfurlah K.H. M. Asj...