Halaman

Sabtu, 13 Desember 2025

Jalan Menuju Persahabatan yang Menguatkan Iman

Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama memberikan perhatian besar terhadap adab pergaulan dan pemilihan teman. Imam al-Ghazali, seorang tokoh besar dalam tasawuf dan etika Islam, menekankan bahwa kualitas lingkungan sosial sangat mempengaruhi kebersihan hati dan perkembangan spiritual seseorang. Dalam Bidayatul Hidayah, beliau memberi nasihat berharga tentang bagaimana seharusnya seseorang memilih teman dekat. Nasihat ini tidak sekadar etika sosial, tetapi juga metode menjaga diri agar tetap berada di jalan kebaikan.

Hal pertama yang ditekankan Imam al-Ghazali adalah akal. Seorang teman hendaknya memiliki akal yang sehat, karena akal adalah alat untuk membedakan yang benar dari yang salah. Berteman dengan orang yang kurang menggunakan akalnya berpotensi menyeret seseorang ke dalam tindakan ceroboh atau keputusan tidak bijak. Teman yang berakal akan memberi nasihat yang lurus, memahami situasi dengan proporsional, dan tidak bertindak gegabah. Hal ini penting karena hubungan pertemanan sering kali melibatkan saling memengaruhi, dan kecerdasan akal menjadi landasan kedewasaan dalam bertindak.

Syarat kedua adalah akhlak yang baik. Bagi Imam al-Ghazali, akhlak yang buruk lebih menular daripada penyakit. Teman yang buruk akhlaknya akan menunjukkan perilaku negatif yang mudah ditiru atau memicu kerusakan hubungan. Teman berakhlak baik tidak hanya menjaga lisan dan perbuatannya, tetapi juga menghadirkan ketenangan bagi orang di sekitarnya. Ia mendorong kepada kebaikan, menjaga kehormatan sahabatnya, serta tidak menambah beban hidup orang lain dengan kelakuan yang menyakitkan atau merugikan.

Ketiga adalah kesalehan, yang berarti menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan. Imam al-Ghazali menegaskan bahwa teman yang saleh akan membawa sahabatnya mendekat kepada Allah, bukan menjauh. Mereka saling menasihati dalam kebenaran dan saling mengingatkan ketika tergelincir. Kesalehan juga menjadi indikator kejujuran dalam beramal dan ketulusan hati dalam pergaulan. Bersahabat dengan orang yang lalai dalam agama dapat perlahan-lahan melemahkan komitmen spiritual seseorang tanpa disadari.

Keempat, seorang teman hendaknya tidak serakah terhadap harta. Sifat tamak dapat merusak hubungan, menimbulkan kecurigaan, dan bahkan mendorong seseorang melakukan tindakan tercela. Orang yang tamak cenderung memanfaatkan orang lain demi keuntungan pribadi. Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa pertemanan yang didasari atau dicampuri ketamakan tidak akan langgeng dan sulit melahirkan ketulusan. Teman yang tidak serakah justru akan membawa ketenangan, karena hubungan tidak dibayangi kepentingan materi.

Terakhir, Imam al-Ghazali memperingatkan agar tidak berteman dengan pembohong. Kebohongan menghancurkan kepercayaan, dan tanpa kepercayaan tidak ada hubungan yang sehat. Pembohong dapat menggambarkan yang jauh seolah dekat dan yang dekat seolah jauh, menciptakan fitnah, dan menimbulkan kerusakan sosial. Oleh karena itu, memilih teman yang jujur adalah perlindungan bagi kehormatan, ketenangan jiwa, dan keselamatan agama. Melalui lima kriteria ini, Imam al-Ghazali memberikan panduan yang sangat mendalam agar seseorang tidak salah memilih teman dan selalu berada dalam lingkungan yang menuntun kepada kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mendidik dengan Hati, Mengabdi dengan Iman: Warisan Keteladanan Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani

Tulisan ini hadir dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Almaghfurlah K.H. M. Asj...