Halaman

Selasa, 22 September 2026

Ketika Ilmu Menjadi Jalan Menuju Allah, Bukan Dunia

Ada penyakit hati yang sering tidak terasa: ilmu bertambah, tetapi kecintaan kepada dunia justru semakin menguat. Seseorang bisa semakin luas pengetahuannya, semakin fasih berbicara tentang agama, bahkan semakin tinggi kedudukannya di tengah masyarakat, tetapi semua itu belum tentu membuat hatinya semakin dekat kepada Allah. Dari sinilah kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Dzun Nun al-Mishri rahimahullah terasa sangat tajam: “Dahulu orang alim bertambah ilmunya karena membenci dan meninggalkan dunia, sedangkan hari ini orang makin mencintai dan mengejar dunia dengan ilmunya. Dahulu orang menggunakan hartanya untuk mengejar ilmu, sedangkan hari ini orang menggunakan ilmunya untuk mengejar harta.” Ungkapan ini bukanlah celaan terhadap ilmu atau harta, melainkan peringatan tentang perubahan niat. Ilmu yang semestinya menjadi jalan menuju Allah dapat kehilangan keberkahannya ketika berubah menjadi alat untuk mengejar popularitas, kekayaan, kedudukan, dan kepentingan duniawi.

Bagian pertama dari hikmah tersebut mengingatkan bahwa para ulama dan pencari ilmu terdahulu memandang ilmu sebagai sarana untuk mengenal Allah, memperbaiki diri, dan mempersiapkan kehidupan akhirat. Semakin luas ilmu mereka, semakin mereka memahami betapa kecil dan fananya dunia di hadapan kebesaran akhirat. Karena itu, ilmu melahirkan sifat zuhud, yakni bukan berarti meninggalkan pekerjaan, keluarga, atau harta, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan. Allah mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan, sementara kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang sesungguhnya. Orang berilmu sejati justru semakin takut kepada Allah, sebagaimana firman-Nya,

. . . اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ  . . .

“. . . Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama . . .” (QS. Fathir: 28). Maka ukuran kedalaman ilmu bukan hanya banyaknya hafalan dan argumentasi, tetapi juga sejauh mana ilmu tersebut melahirkan ketakwaan, kerendahan hati, dan kesadaran akan akhirat.

Kalimat “hari ini orang makin mencintai dan mengejar dunia dengan ilmunya” merupakan peringatan keras agar ilmu tidak diperalat menjadi tangga menuju kepentingan pribadi. Ilmu dapat menjadi fitnah ketika seseorang belajar hanya agar memperoleh gelar, pujian, pengikut, kekuasaan, atau keuntungan materi. Lebih berbahaya lagi apabila ilmu agama digunakan untuk membangun citra kesalehan, memenangkan perdebatan, mencari kedudukan, atau mendekati orang-orang berkuasa demi memperoleh keuntungan duniawi. Padahal Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa amal sangat bergantung pada niat. Karena itu, seorang penuntut ilmu harus terus bertanya kepada dirinya: Untuk siapa aku belajar? Untuk apa aku mengajar? Apa yang sebenarnya aku cari melalui ilmu ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini merupakan bentuk muhasabah agar ilmu tidak berhenti di kepala, tetapi turun ke hati dan membentuk amal. Sebab ilmu yang disertai keikhlasan akan mendekatkan seseorang kepada Allah, sedangkan ilmu yang dikuasai hawa nafsu dapat menjadi sebab kesombongan dan jauhnya hati dari-Nya.

Bagian kedua dari kalam hikmah tersebut bahkan lebih menggugah: “Dahulu orang menggunakan hartanya untuk mengejar ilmu, sedangkan hari ini orang menggunakan ilmunya untuk mengejar harta.” Para pencari ilmu pada masa dahulu rela menempuh perjalanan jauh, menghabiskan waktu, tenaga, dan harta demi mendapatkan satu hadis, bertemu seorang guru, atau memahami satu persoalan agama dengan benar. Bagi mereka, harta adalah pelayan ilmu, bukan ilmu sebagai pelayan harta. Namun hikmah ini tidak berarti seorang ulama, guru, dosen, atau pendidik dilarang menerima penghasilan dari pekerjaannya. Islam tidak mengharamkan memperoleh rezeki melalui profesi keilmuan. Persoalannya terletak pada orientasi hati: apakah harta menjadi sarana untuk menopang kehidupan dan pengabdian kepada ilmu, atau justru ilmu hanya dipelajari sejauh menghasilkan keuntungan materi? Ketika keuntungan menjadi ukuran utama, ada bahaya kebenaran dikompromikan, ilmu disembunyikan, atau pendapat disesuaikan dengan kepentingan pihak yang memberikan dunia.

Dengan demikian, kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Dzun Nun al-Mishri mengajak setiap pencari ilmu untuk melakukan tajdidun niyyah, memperbarui niat secara terus-menerus. Ilmu adalah amanah dan cahaya; ia menjadi mulia ketika mengantarkan pemiliknya kepada keikhlasan, ketakwaan, dan manfaat bagi manusia. Harta boleh dicari, karier boleh dibangun, gelar boleh diraih, dan kedudukan boleh dimiliki, tetapi semua itu hendaknya berada di tangan, bukan menguasai hati. Jangan sampai ilmu yang semestinya mengangkat derajat kita di hadapan Allah justru berubah menjadi alat untuk memperbesar bagian dunia yang pasti akan ditinggalkan. Orang yang beruntung adalah mereka yang menggunakan hartanya untuk mendukung ilmu, menggunakan ilmunya untuk beramal, menggunakan amalnya untuk mencari ridha Allah, dan menjadikan dunia sekadar kendaraan menuju akhirat. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang ikhlas, rezeki yang halal, amal yang diterima, serta kemampuan untuk menjadikan seluruh pengetahuan sebagai jalan semakin dekat kepada-Nya.

Anak Saleh, Warisan Terindah bagi Orang Tua

Ada satu masa ketika seluruh kebanggaan dunia harus diletakkan: gelar tidak lagi disebut, jabatan tidak lagi dipertahankan, kekayaan tidak...