Pepatah Arab “إِذَا كَانَ الْكَلَامُ
مِنْ فِضَّةٍ فَالسُّكُوْتُ مِنْ ذَهَبٍ” (Jika bicara itu perak, maka
diam adalah emas) merupakan ungkapan hikmah yang sangat masyhur dan sarat
makna. Pepatah ini mengajarkan bahwa meskipun berbicara memiliki nilai dan
manfaat, ada kalanya diam justru lebih bernilai dan lebih mulia. Dalam
kehidupan sehari-hari, manusia sering tergoda untuk banyak bicara tanpa
mempertimbangkan dampak dari ucapannya. Ungkapan ini hadir sebagai pengingat
lembut agar lisan dijaga, dan kebijaksanaan lebih diutamakan daripada sekadar
keinginan untuk berbicara.
Perumpamaan perak dan emas
dalam pepatah ini menunjukkan perbedaan nilai. Perak adalah logam berharga,
tetapi emas lebih berharga darinya. Demikian pula, berbicara pada dasarnya
adalah sesuatu yang baik, terutama jika berisi kebenaran, nasihat, dan ilmu.
Namun, diam menjadi lebih bernilai ketika pembicaraan tidak membawa manfaat,
berpotensi menimbulkan fitnah, atau menyakiti perasaan orang lain. Dalam
konteks ini, diam bukan kelemahan, melainkan bentuk kecerdasan dan pengendalian
diri.
Dalam ajaran Islam, menjaga
lisan merupakan bagian penting dari akhlak mulia. Rasulullah Saw. mengajarkan
bahwa keselamatan seseorang sangat bergantung pada kemampuannya menjaga ucapan.
Pepatah ini sejalan dengan prinsip tersebut, karena diam dapat menjadi benteng
dari dosa-dosa lisan seperti ghibah, namimah, dusta, dan perkataan sia-sia.
Dengan memilih diam, seseorang sesungguhnya sedang melindungi dirinya sendiri
dari banyak keburukan.
Diam yang dimaksud dalam pepatah ini bukanlah sikap pasif atau enggan menyampaikan kebenaran. Ada saat-saat di mana berbicara menjadi kewajiban, seperti ketika menegakkan kebenaran, menasihati dalam kebaikan, atau membela yang terzalimi. Namun, kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Orang yang bijak adalah mereka yang mampu menimbang situasi, bukan mereka yang selalu berbicara atau selalu diam.
Dengan demikian, pepatah Arab “إِذَا كَانَ الْكَلَامُ مِنْ فِضَّةٍ فَالسُّكُوْتُ مِنْ ذَهَبٍ” mengajarkan keseimbangan dalam berkomunikasi. Ia mendidik manusia agar tidak menjadikan lisan sebagai sumber penyesalan, tetapi sebagai sarana kebaikan yang terkontrol. Dengan membiasakan diri untuk berpikir sebelum berbicara dan berani memilih diam ketika diperlukan, seseorang akan lebih dihormati, ucapannya lebih bermakna, dan hidupnya lebih tenang. Inilah emas sejati dari sebuah sikap diam yang penuh hikmah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar