Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan
kompetitif, banyak orang mengukur rezeki dari angka, jabatan, dan kepemilikan
materi. Namun, ungkapan Arab yang indah ini: إِنَّ أَجْمَلَ الْأَرْزَاقِ فِي سَكِيْنَةِ الرُّوْحِ وَنُوْرِ
الْعَقْلِ وَصِحَّةِ الْجَسَدِ “Paling indahnya rezeki adalah
ketenangan jiwa, pikiran jernih, dan kesehatan jasmani” mengajak kita meninjau
ulang makna rezeki yang sesungguhnya. Ia menyampaikan pesan mendalam bahwa
rezeki terindah bukanlah sekadar harta yang tampak, melainkan ketenangan jiwa,
kejernihan akal, dan kesehatan tubuh. Ungkapan ini menyentuh dimensi spiritual,
intelektual, dan fisik manusia secara utuh, sehingga relevan sepanjang zaman
dan lintas budaya.
Pertama, سَكِيْنَةُ الرُّوْحِ (ketenangan
jiwa) merupakan fondasi kebahagiaan sejati. Jiwa yang tenang tidak mudah
diguncang oleh ujian, tidak terombang-ambing oleh pujian maupun celaan, dan
mampu menerima takdir dengan lapang dada. Dalam perspektif psikologis,
ketenangan jiwa berkorelasi dengan stabilitas emosi dan kesehatan mental.
Seseorang yang memiliki sakinah akan mampu berpikir lebih rasional, mengambil
keputusan dengan bijak, serta menjalin hubungan sosial yang harmonis. Tanpa
ketenangan batin, kekayaan materi sekalipun sering kali tidak mampu
menghadirkan rasa cukup dan syukur.
Kedua, نُوْرُ الْعَقْلِ (cahaya
akal atau pikiran yang jernih) menggambarkan kemampuan intelektual yang
tercerahkan. Kata “nur” (cahaya) di sini bukan sekadar metafora, tetapi simbol
dari pemahaman yang benar, kebijaksanaan, dan kemampuan membedakan yang haq dan
batil. Pikiran yang jernih memungkinkan seseorang untuk melihat realitas secara
objektif, menghindari prasangka, serta berpikir kritis dan solutif. Dalam dunia
pendidikan dan pengembangan diri, kejernihan akal merupakan modal utama untuk
belajar sepanjang hayat (lifelong learning). Ia adalah rezeki yang
memungkinkan manusia berkembang dan memberi manfaat bagi sesama.
Ketiga, صِحَّةُ الْجَسَدِ (kesehatan
jasmani) menjadi aspek yang sering disadari justru ketika hilang. Tubuh yang
sehat memungkinkan seseorang beraktivitas, beribadah, bekerja, dan berkarya
secara optimal. Dalam kajian kesehatan, kondisi fisik yang baik berkontribusi
langsung pada kualitas hidup dan produktivitas. Tanpa kesehatan, peluang dan
potensi sering kali terhambat. Oleh karena itu, kesehatan bukan hanya anugerah
biologis, tetapi juga amanah yang perlu dijaga melalui pola hidup seimbang,
nutrisi yang baik, olahraga, dan manajemen stres.
Jika ketiga unsur ini disatukan, tampak bahwa ungkapan tersebut menggambarkan konsep kesejahteraan yang holistik. Ia tidak memisahkan aspek spiritual, intelektual, dan fisik, melainkan memandang manusia sebagai satu kesatuan yang utuh (integratif). Dalam kerangka ini, rezeki tidak lagi dipahami secara materialistik, tetapi sebagai kualitas hidup yang menyeluruh. Seseorang mungkin tidak memiliki kekayaan melimpah, namun jika jiwanya tenang, pikirannya tercerahkan, dan tubuhnya sehat, maka ia telah memperoleh rezeki yang sangat agung.
Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan kita untuk mensyukuri nikmat yang sering terabaikan. Ia menggeser orientasi hidup dari sekadar “memiliki” menuju “menjadi”—menjadi pribadi yang damai, cerdas, dan sehat. Kesadaran ini membentuk sikap hidup yang lebih bijaksana, seimbang, dan penuh syukur. Pada akhirnya, rezeki terindah bukanlah apa yang tersimpan di tangan kita, melainkan apa yang hidup dan tumbuh di dalam diri kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar