Dalam
khazanah tasawuf Islam, para ulama sering menyampaikan hikmah yang singkat
namun sangat dalam maknanya. Salah satu kalam hikmah yang terkenal adalah
perkataan Imam Fudhail bin Iyadh yang dinukil dalam kitab Ar-Risalah
al-Qusyairiyyah: “Allah menjadikan segala kejelekan dalam satu rumah dan
menjadikan cinta dunia sebagai kuncinya. Allah menjadikan segala kebaikan dalam
satu rumah dan menjadikan zuhud sebagai kuncinya.” Ungkapan ini bukan
sekadar nasihat moral, tetapi merupakan peta spiritual yang menjelaskan akar
kerusakan hati sekaligus jalan pembuka menuju keselamatan dan kemuliaan ruhani.
Makna
“Allah menjadikan segala kejelekan dalam satu rumah” menunjukkan bahwa
keburukan dalam kehidupan manusia sebenarnya saling terhubung dan bersumber
dari satu akar yang sama. Kejelekan yang dimaksud tidak hanya dosa besar,
tetapi juga penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, riya’, hasad, rakus,
serta ketidakjujuran. Semua itu dapat dipahami sebagai “isi rumah” keburukan.
Ketika seseorang sudah masuk ke dalam rumah tersebut, maka ia akan mudah
melakukan berbagai jenis pelanggaran, baik dalam hubungan kepada Allah maupun
kepada sesama manusia. Hikmah ini mengajarkan bahwa dosa-dosa tidak berdiri
sendiri, melainkan memiliki hubungan sebab-akibat yang mengakar kuat dalam
orientasi hidup manusia.
Lalu
Imam Fudhail menyatakan bahwa “cinta dunia adalah kunci rumah kejelekan.”
Artinya, pintu keburukan paling sering terbuka ketika hati terlalu melekat pada
dunia. Cinta dunia (hubbu ad-dunya) bukan berarti sekadar memiliki harta
atau menikmati kehidupan, melainkan menjadikan dunia sebagai tujuan utama,
pusat kebahagiaan, dan ukuran keberhasilan. Ketika dunia dicintai secara
berlebihan, manusia akan mudah menghalalkan segala cara: menipu, curang,
menindas, bahkan melupakan halal-haram. Dari sinilah muncul kerusakan moral,
karena orientasi hidup berpindah dari mencari ridha Allah menjadi mengejar
kepentingan nafsu dan prestise duniawi.
Sebaliknya,
hikmah ini menyebut bahwa “Allah menjadikan segala kebaikan dalam satu rumah.”
Rumah kebaikan mencakup amal saleh yang lahir dan batin: shalat yang khusyuk,
sedekah yang ikhlas, akhlak yang lembut, sabar, syukur, tawakal, serta rasa
takut dan cinta kepada Allah. Semua bentuk kebaikan itu saling menguatkan. Jika
satu kebaikan tumbuh, maka kebaikan lain akan lebih mudah mengikuti. Contohnya,
orang yang jujur akan lebih mudah menjaga amanah; orang yang rendah hati akan
lebih mudah menerima nasihat; orang yang ikhlas akan lebih mudah bersabar. Maka
“rumah kebaikan” adalah simbol keterpaduan amal saleh yang membentuk pribadi
bertakwa.
Kemudian Imam Fudhail menegaskan bahwa “zuhud adalah kunci rumah kebaikan.” Zuhud bukan berarti membenci dunia atau meninggalkan pekerjaan, melainkan mengosongkan hati dari ketergantungan kepada dunia. Dunia tetap berada di tangan, tetapi tidak menguasai hati. Zuhud adalah sikap batin yang memandang dunia sebagai sarana menuju akhirat, bukan tujuan akhir. Orang yang zuhud tidak mudah tergoda oleh pujian, jabatan, atau kekayaan, karena ia memahami bahwa semua itu fana dan akan dipertanggungjawabkan. Dengan zuhud, hati menjadi ringan, sehingga mudah untuk ikhlas, mudah untuk taat, dan mudah untuk menahan diri dari maksiat.
Hikmah Imam Fudhail bin Iyadh ini mengajarkan bahwa inti perjalanan spiritual adalah mengatur arah cinta dalam hati. Jika cinta dunia menjadi dominan, maka pintu keburukan terbuka lebar. Namun jika zuhud tumbuh—yakni memprioritaskan akhirat dan ridha Allah—maka pintu kebaikan akan terbuka luas. Pesan ini sangat relevan sepanjang zaman, karena banyak manusia jatuh bukan karena kurang ilmu, tetapi karena hatinya terbelenggu oleh dunia. Maka solusi yang ditawarkan tasawuf bukan sekadar memperbanyak amal lahiriah, tetapi juga membangun kesadaran batin: menjadikan Allah sebagai tujuan utama dan menjadikan dunia hanya sebagai jalan. Dengan demikian, seseorang akan lebih mudah hidup dalam ketaatan, ketenangan, dan keberkahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar