Dalam
perjalanan hidup, manusia sering kali berharap agar semuanya berjalan lancar
tanpa hambatan. Banyak orang ingin hidup yang penuh kenyamanan, rezeki yang
mudah, dan masalah yang jauh dari dirinya. Namun kenyataannya, hidup tidak
pernah benar-benar datar; selalu ada pasang surut yang datang silih berganti.
Kalam hikmah dari Assoc. Prof. Dr. Al-Habib Segaf Baharun, M.HI yang berbunyi “2
hal yang selalu mengiringi kehidupan kita, yaitu kesusahan dan kemudahan. Jika
hanya ada kesusahan, kita akan stres, dan jika hanya ada kemudahan, kita tidak
akan bersyukur” merupakan pengingat mendalam bahwa kehidupan ini memang
diciptakan seimbang, agar manusia tetap kuat sekaligus tetap rendah hati di
hadapan Allah.
Makna
utama dari kalam hikmah tersebut adalah bahwa kesusahan dan kemudahan merupakan
bagian alami dari kehidupan manusia. Tidak ada seorang pun yang hidupnya selalu
bahagia tanpa masalah, sebagaimana tidak ada pula yang terus-menerus berada
dalam kesedihan tanpa harapan. Kesusahan hadir sebagai ujian dan proses
pembentukan diri, sedangkan kemudahan hadir sebagai hadiah dan rahmat dari
Allah. Dengan adanya dua kondisi ini, manusia belajar bahwa hidup tidak hanya
tentang menikmati hasil, tetapi juga tentang menjalani proses dengan sabar.
Kalam
hikmah ini juga menjelaskan bahwa kesusahan memiliki fungsi penting dalam
membentuk ketahanan mental dan spiritual manusia. Ketika seseorang menghadapi
kesulitan, ia belajar untuk bersabar, berusaha, dan berdoa. Dalam kesusahan,
manusia sering lebih dekat kepada Allah karena merasa lemah dan membutuhkan
pertolongan-Nya. Namun, jika hidup hanya dipenuhi kesusahan tanpa ada jeda
kemudahan, manusia bisa kehilangan semangat, mengalami tekanan batin, bahkan
merasa putus asa. Oleh sebab itu, Allah menghadirkan kemudahan sebagai penyejuk
hati agar manusia tidak jatuh dalam stres dan kelelahan berkepanjangan.
Di
sisi lain, kemudahan pun memiliki hikmah yang tidak kalah besar. Kemudahan
membuat manusia merasakan nikmat, ketenangan, dan keberkahan dalam hidup.
Tetapi kalam hikmah ini menegaskan bahwa jika hidup hanya berisi kemudahan,
manusia justru berpotensi lupa diri. Seseorang yang selalu dimudahkan bisa
merasa semua hal adalah hasil usahanya semata, sehingga timbul sifat sombong
dan lalai. Kemudahan yang terus menerus tanpa ujian dapat menghilangkan rasa
syukur, karena manusia tidak lagi merasakan arti perjuangan. Maka, kesusahan
hadir sebagai pengingat bahwa manusia hanyalah hamba yang membutuhkan pertolongan
Allah.
Pesan penting dari hikmah ini adalah bahwa keseimbangan antara kesusahan dan kemudahan mendidik manusia untuk memiliki dua sikap utama: sabar dan syukur. Ketika ditimpa kesulitan, manusia diajak untuk bersabar dan tetap yakin bahwa pertolongan Allah dekat. Ketika diberi kelapangan, manusia diajak untuk bersyukur dan menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan. Sabar dan syukur bukan hanya sekadar ucapan, tetapi harus tampak dalam tindakan, seperti tetap beribadah, tetap menjaga akhlak, serta tetap berbagi kepada sesama. Inilah karakter seorang mukmin yang kuat, tidak mudah goyah saat diuji, dan tidak lupa diri saat diberi nikmat.
Dengan demikian, kalam hikmah Assoc. Prof. Dr. Al-Habib Segaf Baharun, M.HI ini mengajarkan bahwa kehidupan bukanlah tentang mencari kenyamanan tanpa ujian, melainkan tentang memaknai setiap keadaan sebagai jalan menuju kedewasaan iman. Kesusahan mengajarkan manusia untuk tidak bergantung pada dunia, sedangkan kemudahan mengajarkan manusia untuk tidak lupa pada Allah. Jika manusia mampu memahami makna ini, maka ia akan menjalani hidup dengan hati yang lebih tenang, lebih bijak, dan lebih siap menghadapi apa pun yang datang. Karena sejatinya, hidup bukan tentang bebas masalah, tetapi tentang bagaimana kita tetap dekat kepada Allah dalam setiap keadaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar