Di tengah kehidupan manusia
yang penuh dengan penilaian, tuntutan, dan ekspektasi sosial, sering kali
seseorang terjebak dalam kecemasan: takut kehilangan penilaian baik manusia,
takut dicela, atau takut tidak diterima. Padahal, para ulama besar telah lama
mengingatkan bahwa arah rasa takut sangat menentukan kualitas hidup dan
kemuliaan seseorang. Salah satu kalam hikmah yang sangat dalam maknanya
disampaikan oleh Syekh Sa‘id Ramadhan al-Buthi: “Rasa takutmu kepada Allah
menjadikanmu disenangi manusia. Rasa takutmu pada manusia menjadikanmu
diremehkan oleh mereka.” Ungkapan ini mengandung pelajaran akidah, akhlak,
dan psikologi sosial yang sangat relevan sepanjang zaman.
Makna pertama dari hikmah ini
adalah bahwa rasa takut kepada Allah melahirkan ketulusan, kejujuran, dan
konsistensi dalam sikap. Orang yang takut kepada Allah akan menjaga ucapan dan
perbuatannya, bukan demi pujian manusia, melainkan demi ridha-Nya. Ketika
seseorang bersikap lurus karena Allah, Allah pula yang menanamkan kewibawaan
dan rasa hormat di hati manusia terhadapnya. Inilah yang dimaksud bahwa rasa
takut kepada Allah justru menjadikan seseorang disenangi dan dihormati,
meskipun ia tidak pernah mengejar popularitas atau pengakuan.
Sebaliknya, rasa takut kepada
manusia menjadikan seseorang kehilangan kemerdekaan batin. Ia akan mudah
berkompromi dengan kebenaran, menukar prinsip dengan kepentingan, dan
menyesuaikan sikap demi menjaga citra. Sikap semacam ini justru membuat manusia
lain memandangnya lemah dan tidak memiliki pendirian. Ketika seseorang terlalu
takut kepada penilaian manusia, ia akan terus berada dalam posisi tertekan, dan
pada akhirnya justru diremehkan karena tidak memiliki keteguhan sikap.
Syekh Sa‘id Ramadhan al-Buthi melalui kalam hikmah ini ingin menanamkan prinsip tauhid yang kokoh: bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang layak ditakuti secara mutlak. Ketika rasa takut hanya tertuju kepada Allah, maka rasa takut kepada makhluk akan mengecil dengan sendirinya. Hal ini melahirkan keberanian moral, ketenangan jiwa, serta kemampuan berkata benar meski pahit. Ironisnya, justru keberanian dan keteguhan inilah yang membuat manusia menghormati dan menghargai seseorang, baik secara sadar maupun tidak.
Dengan demikian, kalam hikmah Syekh Sa‘id Ramadhan al-Buthi ini mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak lahir dari upaya menyenangkan sesama manusia, melainkan dari kesungguhan menyenangkan Allah. Rasa takut kepada Allah membentuk pribadi yang berwibawa, jujur, dan konsisten, sementara rasa takut kepada manusia melahirkan kegelisahan dan kehinaan. Oleh karena itu, siapa pun yang mendambakan kehormatan di mata manusia hendaknya terlebih dahulu menata hatinya agar hanya takut kepada Allah, karena dari sanalah Allah menganugerahkan kemuliaan yang sejati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar