Halaman

Minggu, 15 Februari 2026

Berjalan Tenang Menuju Tujuan

Dalam kehidupan yang serba cepat, manusia sering merasa tertinggal hanya karena langkahnya tidak secepat orang lain. Media sosial dan tuntutan lingkungan membuat kecepatan seolah menjadi ukuran keberhasilan. Padahal, tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan berlari. Ungkapan “Jalan kaki bukan berarti tidak sampai kan?” hadir sebagai pengingat lembut bahwa setiap orang memiliki ritme hidupnya sendiri, dan pelan bukan berarti gagal.

Kalimat “Yang lari saja kadang bisa jatuh” mengajarkan bahwa kecepatan tidak selalu menjamin keselamatan dan keberhasilan. Banyak orang yang melesat cepat dalam hidup—cepat sukses, cepat terkenal, cepat mencapai target—namun tidak sedikit pula yang akhirnya kelelahan, kehilangan arah, atau jatuh sebelum sampai tujuan. Ini menunjukkan bahwa tergesa-gesa tanpa kesiapan mental dan fondasi yang kuat justru berisiko menghentikan perjalanan lebih awal.

Ungkapan ini kemudian menegaskan bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling istiqamah melangkah. Istiqamah berarti konsisten, teguh, dan tidak mudah menyerah meski langkah terasa berat. Dalam konteks hidup, istiqamah adalah kemampuan untuk terus bergerak meski hasil belum terlihat, tetap berusaha meski proses terasa panjang, dan tidak berhenti hanya karena merasa tertinggal dari orang lain.

Pesan tentang “langkah kecil yang konsisten” memiliki makna yang sangat mendalam. Langkah kecil mungkin tampak tidak berarti jika dilihat sekilas, namun jika dilakukan terus-menerus, ia akan membawa seseorang jauh lebih maju dibandingkan lari kencang yang hanya bertahan sesaat. Konsistensi membangun kebiasaan, memperkuat mental, dan menumbuhkan kepercayaan diri. Dari langkah-langkah kecil inilah perubahan besar perlahan terbentuk.

Ungkapan “Selama arahmu benar” menjadi kunci utama dalam perjalanan hidup. Kecepatan dan jarak tempuh tidak akan bermakna jika arah yang dituju keliru. Arah yang benar berarti tujuan yang jelas, nilai yang tepat, dan niat yang lurus. Selama seseorang berjalan di jalan yang benar—baik secara moral, spiritual, maupun tujuan hidup—maka setiap langkah, sekecil apa pun, memiliki nilai dan makna.

Pada akhirnya, ungkapan ini mengajarkan ketenangan dalam menjalani hidup. Tidak perlu tergesa, tidak perlu membandingkan langkah dengan orang lain. Selama seseorang terus melangkah dengan istiqamah dan arah yang benar, ia pasti akan sampai pada tujuan yang telah ditetapkan. Pelan bukanlah masalah, berhenti yang perlu diwaspadai. Karena dalam hidup, yang benar-benar menang bukanlah yang paling cepat, melainkan yang tetap berjalan sampai akhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mendidik dengan Hati, Mengabdi dengan Iman: Warisan Keteladanan Almaghfurlah K.H. M. Asj’ari Sarbani

Tulisan ini hadir dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Almaghfurlah K.H. M. Asj...