Di tengah kehidupan yang serba
cepat, manusia sering terjebak pada logika siapa yang paling awal memulai dan
paling terlihat menonjol. Padahal, dalam banyak ajaran kehidupan, yang lebih
bernilai bukanlah kecepatan awal, melainkan keteguhan hingga akhir. Ungkapan “Belajarlah
dari shalat tarawih, bukan tentang siapa yang datang paling cepat tapi tentang
siapa yang mampu bertahan sampai akhir” mengandung hikmah mendalam yang
melampaui ibadah ritual. Ia mengajak kita untuk merenungi makna konsistensi,
kesabaran, dan keistiqamahan dalam menjalani proses hidup.
Shalat tarawih adalah ibadah
yang khas dilakukan pada malam-malam Ramadan. Banyak orang datang ke masjid
dengan semangat besar di awal, bahkan berusaha hadir paling cepat. Namun,
seiring berjalannya rakaat demi rakaat, tidak sedikit yang mulai merasa lelah
dan memilih untuk pulang sebelum selesai. Dari sini, tarawih mengajarkan bahwa
semangat awal saja tidak cukup; dibutuhkan ketahanan fisik dan mental agar
mampu menyempurnakan ibadah hingga akhir.
Ungkapan tersebut menegaskan
bahwa nilai utama dalam tarawih bukan terletak pada posisi awal di shaf, tetapi
pada kemampuan menjaga komitmen sampai salam terakhir. Hal ini mencerminkan
prinsip istiqamah dalam Islam, yaitu konsisten dalam kebaikan meskipun terasa
berat. Orang yang bertahan sampai akhir menunjukkan kesungguhan, kesabaran, dan
ketulusan dalam beribadah, bukan sekadar dorongan sesaat atau pencitraan
lahiriah.
Hikmah ini sangat relevan
dengan kehidupan sehari-hari. Dalam belajar, bekerja, maupun beramal, banyak
orang memulai dengan antusiasme tinggi, tetapi berhenti di tengah jalan ketika
menghadapi kesulitan. Tarawih mengajarkan bahwa keberhasilan dan kematangan
sering kali diraih oleh mereka yang mampu bertahan, bukan oleh mereka yang
hanya bersemangat di awal. Ketekunan dan kesabaran justru menjadi kunci utama
dalam menuntaskan setiap proses.
Selain itu, ungkapan ini juga mengingatkan agar manusia tidak mudah menilai orang lain dari tampilan awal. Bisa jadi seseorang tidak menonjol di permulaan, tetapi ia memiliki daya tahan dan komitmen yang kuat hingga akhir. Dalam pandangan Islam, Allah lebih mencintai amal yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit. Oleh karena itu, bertahan dalam kebaikan lebih utama daripada memulai dengan gegap gempita namun cepat menyerah.
Dengan demikian, shalat tarawih menjadi cermin kehidupan yang sarat pelajaran. Ia mengajarkan bahwa kualitas diri ditentukan oleh keteguhan hati dan kemampuan menyelesaikan amanah hingga akhir. Ungkapan ini mendorong kita untuk tidak sekadar berambisi menjadi yang tercepat atau terlihat paling awal, tetapi berusaha menjadi pribadi yang istiqamah, sabar, dan setia pada proses. Sebab, dalam ibadah maupun kehidupan, yang paling berharga adalah mereka yang mampu bertahan sampai garis akhir dengan penuh keikhlasan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar