Halaman

Jumat, 20 Februari 2026

Tarawih sebagai Madrasah Istiqamah

Di tengah kehidupan yang serba cepat, manusia sering terjebak pada logika siapa yang paling awal memulai dan paling terlihat menonjol. Padahal, dalam banyak ajaran kehidupan, yang lebih bernilai bukanlah kecepatan awal, melainkan keteguhan hingga akhir. Ungkapan “Belajarlah dari shalat tarawih, bukan tentang siapa yang datang paling cepat tapi tentang siapa yang mampu bertahan sampai akhir” mengandung hikmah mendalam yang melampaui ibadah ritual. Ia mengajak kita untuk merenungi makna konsistensi, kesabaran, dan keistiqamahan dalam menjalani proses hidup.

Shalat tarawih adalah ibadah yang khas dilakukan pada malam-malam Ramadan. Banyak orang datang ke masjid dengan semangat besar di awal, bahkan berusaha hadir paling cepat. Namun, seiring berjalannya rakaat demi rakaat, tidak sedikit yang mulai merasa lelah dan memilih untuk pulang sebelum selesai. Dari sini, tarawih mengajarkan bahwa semangat awal saja tidak cukup; dibutuhkan ketahanan fisik dan mental agar mampu menyempurnakan ibadah hingga akhir.

Ungkapan tersebut menegaskan bahwa nilai utama dalam tarawih bukan terletak pada posisi awal di shaf, tetapi pada kemampuan menjaga komitmen sampai salam terakhir. Hal ini mencerminkan prinsip istiqamah dalam Islam, yaitu konsisten dalam kebaikan meskipun terasa berat. Orang yang bertahan sampai akhir menunjukkan kesungguhan, kesabaran, dan ketulusan dalam beribadah, bukan sekadar dorongan sesaat atau pencitraan lahiriah.

Hikmah ini sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam belajar, bekerja, maupun beramal, banyak orang memulai dengan antusiasme tinggi, tetapi berhenti di tengah jalan ketika menghadapi kesulitan. Tarawih mengajarkan bahwa keberhasilan dan kematangan sering kali diraih oleh mereka yang mampu bertahan, bukan oleh mereka yang hanya bersemangat di awal. Ketekunan dan kesabaran justru menjadi kunci utama dalam menuntaskan setiap proses.

Selain itu, ungkapan ini juga mengingatkan agar manusia tidak mudah menilai orang lain dari tampilan awal. Bisa jadi seseorang tidak menonjol di permulaan, tetapi ia memiliki daya tahan dan komitmen yang kuat hingga akhir. Dalam pandangan Islam, Allah lebih mencintai amal yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit. Oleh karena itu, bertahan dalam kebaikan lebih utama daripada memulai dengan gegap gempita namun cepat menyerah.

Dengan demikian, shalat tarawih menjadi cermin kehidupan yang sarat pelajaran. Ia mengajarkan bahwa kualitas diri ditentukan oleh keteguhan hati dan kemampuan menyelesaikan amanah hingga akhir. Ungkapan ini mendorong kita untuk tidak sekadar berambisi menjadi yang tercepat atau terlihat paling awal, tetapi berusaha menjadi pribadi yang istiqamah, sabar, dan setia pada proses. Sebab, dalam ibadah maupun kehidupan, yang paling berharga adalah mereka yang mampu bertahan sampai garis akhir dengan penuh keikhlasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tarawih sebagai Madrasah Istiqamah

Di tengah kehidupan yang serba cepat, manusia sering terjebak pada logika siapa yang paling awal memulai dan paling terlihat menonjol. Pad...