Halaman

Rabu, 31 Desember 2025

Lisan yang Dijaga, Jiwa yang Selamat

Kalam hikmah Imam Dzun Nun Al-Mishri yang diriwayatkan dalam kitab Al-Risalah al-Qusyairiyyah, “Orang yang paling mampu menjaga diri adalah orang yang paling mampu menjaga mulutnya”, mengandung pesan mendalam tentang hubungan antara lisan dan keselamatan jiwa. Kalam hikmah ini mengingatkan bahwa banyak kerusakan akhlak dan kehancuran hubungan manusia berawal dari ucapan yang tidak terjaga. Dalam tradisi tasawuf, penjagaan diri (hifdh al-nafs) bukan hanya soal menjauhi maksiat lahiriah, tetapi juga mengendalikan anggota tubuh yang paling cepat menyeret manusia ke dalam dosa, yaitu lisan.

Menjaga mulut berarti menjaga ucapan agar tidak keluar kecuali yang bermanfaat, benar, dan diridhai Allah. Lisan memiliki kekuatan besar: ia bisa menjadi sarana zikir, nasihat, dan kebaikan, tetapi juga dapat berubah menjadi alat ghibah, fitnah, dusta, dan kesombongan. Imam Dzun Nun Al-Mishri menekankan bahwa orang yang mampu mengendalikan lisannya menunjukkan kedewasaan ruhani, karena ia tidak menuruti dorongan hawa nafsu untuk berbicara tanpa pertimbangan.

Keterkaitan antara menjaga lisan dan menjaga diri sangat erat, sebab lisan adalah cerminan isi hati. Ketika hati dipenuhi kesadaran kepada Allah, rasa takut akan dosa, dan keinginan untuk selamat, maka lisan akan lebih terkontrol. Sebaliknya, lisan yang liar sering menjadi tanda hati yang lalai. Oleh karena itu, menjaga mulut sejatinya adalah proses menjaga hati, sebab ucapan yang baik lahir dari hati yang bersih dan terlatih dalam muraqabah (merasa selalu diawasi oleh Allah).

Dalam konteks kehidupan sosial, kalam hikmah ini sangat relevan. Banyak konflik, permusuhan, dan dosa sosial terjadi bukan karena perbuatan fisik, tetapi karena kata-kata: ucapan yang melukai, membongkar aib, menyulut kebencian, atau menyebarkan kebohongan. Orang yang mampu menjaga mulutnya akan lebih aman hubungannya dengan manusia dan lebih selamat amalnya di hadapan Allah. Inilah makna “paling mampu menjaga diri”: ia melindungi kehormatan, pahala, dan keselamatan akhiratnya.

Dengan demikian, kalam hikmah Imam Dzun Nun Al-Mishri mengajarkan bahwa pengendalian diri sejati dimulai dari lisan. Menahan diri dari ucapan yang sia-sia dan berbahaya adalah bentuk mujahadah yang besar, tetapi hasilnya adalah keselamatan dan ketenangan jiwa. Orang yang mampu menjaga mulutnya telah menutup banyak pintu dosa, dan dengan itu ia menjadi hamba yang lebih dekat kepada Allah serta lebih aman bagi dirinya dan orang lain.

Selasa, 30 Desember 2025

Mengapa Orang Beriman Lebih Mudah Merasa Cukup?

Kalam hikmah Bisyir Al-Hafi “الْقَنَاعَةُ مَلِكٌ لاَ يَسْكُنُ إِلاَّ فِي قَلْبِ مُؤْمِنٍ (Qana’ah itu ibarat raja yang tidak mau bertempat tinggal kecuali di hati orang mukmin)” merupakan ungkapan yang sangat dalam tentang kondisi batin seorang beriman. Perkataan ini mengajak kita memahami bahwa kebahagiaan sejati dalam Islam tidak ditentukan oleh banyaknya harta atau luasnya kenikmatan dunia, melainkan oleh sikap hati dalam menyikapi apa yang Allah berikan. Bisyir Al-Hafi, seorang ulama dan zahid besar, menekankan bahwa qana’ah adalah kemuliaan batin yang hanya bisa hidup di hati yang beriman.

Qana’ah berarti sikap merasa cukup dan ridha terhadap rezeki yang Allah tetapkan, disertai usaha yang halal dan tawakal kepada-Nya. Qana’ah bukanlah pasrah tanpa ikhtiar atau menolak dunia sama sekali, melainkan ketenangan hati setelah berusaha, tanpa keluh kesah dan tanpa iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Orang yang qana’ah tidak diperbudak oleh keinginan yang tak ada habisnya, sehingga hidupnya lebih tenang, ringan, dan terjaga dari sifat tamak serta rakus.

Bisyir Al-Hafi mengibaratkan qana’ah sebagai “raja” karena qana’ah memiliki kekuasaan besar atas hati. Jika qana’ah bersemayam, ia akan memerintah seluruh sikap batin: menundukkan keserakahan, mengusir kegelisahan, dan menjaga kehormatan diri. Seperti raja yang mulia, qana’ah tidak mau tinggal di sembarang tempat. Ia hanya menetap di hati yang bersih, tunduk kepada Allah, dan dipenuhi keyakinan bahwa Allah Maha Bijaksana dalam membagi rezeki.

Ungkapan “tidak mau bertempat tinggal kecuali di hati orang mukmin” menunjukkan bahwa iman adalah syarat utama lahirnya qana’ah. Hati yang beriman percaya sepenuhnya kepada janji Allah, yakin bahwa rezeki telah ditakar, dan memahami bahwa nilai manusia di sisi Allah bukan pada harta, melainkan pada ketakwaan. Tanpa iman, hati akan selalu gelisah, membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa kurang meskipun memiliki banyak. Karena itu, qana’ah sulit tumbuh di hati yang lemah imannya.

Dengan demikian, ucapan Bisyir Al-Hafi ini mengajarkan bahwa qana’ah adalah kemuliaan spiritual yang menjadikan seorang mukmin “kaya” meski sederhana. Qana’ah menjadikan hati merdeka dari perbudakan dunia dan menjauhkan manusia dari kehinaan meminta-minta atau dengki. Jika qana’ah telah bersemayam sebagai raja di hati, maka hidup akan dipenuhi rasa syukur, ketenangan, dan kehormatan—itulah kekayaan sejati yang hanya Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Senin, 29 Desember 2025

Hati yang Diawasi, Diri yang Terjaga

Ungkapan “Perasaan malu (melakukan perkara yang tidak pantas) adalah cabang dari muraqabah (merasa dipantau oleh Allah)” mengandung makna akhlak dan spiritual yang sangat dalam. Sebelum memahaminya secara rinci, penting untuk menempatkan ungkapan ini dalam kerangka pendidikan jiwa dalam Islam. Islam tidak hanya menekankan ketaatan lahiriah, tetapi juga pembinaan batin agar seseorang memiliki pengendalian diri yang kuat, bahkan ketika tidak ada manusia yang melihatnya.

Perasaan malu dalam konteks ini bukanlah rasa rendah diri atau takut berlebihan kepada manusia, melainkan rasa enggan dan menahan diri dari perbuatan yang tidak pantas menurut agama dan akhlak. Rasa malu seperti ini merupakan sifat terpuji yang mendorong seseorang untuk menjaga kehormatan diri, ucapan, dan perbuatannya. Ia menjadi benteng yang mencegah seseorang terjerumus ke dalam dosa, karena hati merasa tidak nyaman melakukan keburukan, baik di hadapan orang lain maupun saat sendirian.

Sementara itu, muraqabah adalah kesadaran mendalam bahwa Allah senantiasa mengawasi, mengetahui, dan menyaksikan segala sesuatu yang dilakukan oleh hamba-Nya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Muraqabah melahirkan rasa tanggung jawab spiritual yang tinggi, karena seseorang meyakini bahwa tidak ada satu pun perbuatan, niat, atau lintasan hati yang luput dari pengetahuan Allah. Kesadaran inilah yang membentuk keikhlasan dan konsistensi dalam kebaikan.

Ketika dikatakan bahwa perasaan malu adalah cabang dari muraqabah, maksudnya adalah bahwa rasa malu yang sejati tumbuh dari kesadaran akan pengawasan Allah. Seseorang merasa malu berbuat maksiat bukan sekadar karena takut kepada manusia, tetapi karena merasa tidak pantas melanggar perintah Allah yang selalu melihatnya. Dengan kata lain, semakin kuat muraqabah seseorang, semakin kuat pula rasa malunya terhadap perbuatan dosa dan pelanggaran akhlak.

Akhirnya, ungkapan ini mengajarkan bahwa pembinaan akhlak harus dimulai dari dalam hati. Jika muraqabah tertanam dengan baik, maka perasaan malu akan muncul secara alami dan menjadi pengontrol perilaku yang efektif. Malu yang bersumber dari muraqabah akan menjaga seseorang dalam kesendirian maupun keramaian, menjadikannya pribadi yang jujur, beradab, dan bertakwa. Inilah hubungan yang harmonis antara kesadaran iman dan akhlak dalam kehidupan seorang muslim.

Minggu, 28 Desember 2025

Versi Terbaik Diri: Perjalanan Sunyi Menuju Kedewasaan dan Toleransi

Ungkapan “Semoga setiap orang menemukan versi terbaik dari dirinya tanpa harus merendahkan pilihan orang lain” adalah doa sekaligus refleksi moral yang sangat relevan dalam kehidupan modern. Di tengah dunia yang penuh perbandingan, kompetisi, dan opini yang beragam, kalimat ini mengajak kita untuk kembali kepada esensi pengembangan diri: menjadi lebih baik tanpa kehilangan empati terhadap orang lain. Ungkapan ini menyentuh sisi kemanusiaan dan spiritual manusia, bahwa setiap orang memiliki jalan, pengalaman, dan ritme yang berbeda dalam mencapai kebaikan diri.

Secara filosofi, ungkapan ini menekankan dua nilai penting: autentisitas dan toleransi. Menemukan “versi terbaik diri” berarti berproses menuju jati diri yang lebih matang, lebih sadar, dan lebih bermakna tanpa harus meniru orang lain. Namun, proses tersebut harus disertai kesadaran bahwa jalan hidup setiap orang berbeda. Dengan demikian, kebesaran seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi pencapaiannya, tetapi dari seberapa lapang hatinya dalam menghargai pilihan dan perjalanan orang lain. Dalam pandangan moral, inilah bentuk kematangan spiritual—menjadi baik tanpa merasa paling benar.

Dari sisi psikologis, ungkapan ini mengajarkan pentingnya self-acceptance (penerimaan diri) dan self-growth (pertumbuhan diri). Banyak orang gagal menemukan kebahagiaan karena terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Padahal, setiap individu memiliki kapasitas, tantangan, dan tujuan hidup yang unik. Ketika seseorang fokus pada perbaikan dirinya sendiri, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang damai dan percaya diri. Sebaliknya, ketika seseorang merasa harus merendahkan pilihan orang lain untuk membenarkan dirinya, itu adalah tanda ketidakdewasaan emosional. Dalam konteks sosial, sikap saling menghargai perbedaan adalah kunci keharmonisan dan kemajuan bersama.

Secara etis, ungkapan ini mengandung pesan agar manusia belajar humility (kerendahan hati). Setiap pilihan hidup—selama tidak melanggar nilai moral atau menyakiti orang lain—layak dihormati. Dalam perspektif spiritual, kalimat ini mengingatkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan jalan dan takdir masing-masing. Tidak ada satu pola kesuksesan atau kebahagiaan yang berlaku untuk semua orang. Maka, tugas manusia bukanlah menilai, melainkan memperbaiki diri sambil mendoakan kebaikan bagi sesama. Inilah bentuk ibadah sosial yang paling lembut: memperbaiki diri tanpa menuntut dunia untuk sama seperti kita.

Ungkapan tersebut mengajarkan keseimbangan antara introspeksi dan empati. Menjadi versi terbaik dari diri sendiri adalah perjalanan panjang yang memerlukan kesadaran, kejujuran, dan cinta terhadap proses. Namun, perjalanan itu baru menjadi bermakna ketika disertai sikap menghormati perbedaan orang lain. Dalam dunia yang penuh opini dan perbandingan, pesan ini mengingatkan kita untuk tetap rendah hati: terus bertumbuh tanpa merasa lebih tinggi dari yang lain. Karena sejatinya, manusia terbaik bukanlah yang paling sempurna, melainkan yang paling tulus dalam memperbaiki diri dan paling lembut dalam memahami sesamanya.

Sabtu, 27 Desember 2025

Ketika Dunia Menjadi Ujian: Menemukan Ketenangan di Tengah Kerisauan

Perkataan ulama, “Dunia adalah kerisauan dan duka cita. Maka apabila terdapat kesenangan di dalamnya berarti itu adalah keuntungan,” mengandung makna mendalam tentang hakikat kehidupan dunia dan cara manusia seharusnya menyikapinya. Ucapan ini berakar dari pandangan Islam yang menempatkan dunia sebagai tempat ujian, bukan tujuan akhir. Dunia bukanlah tempat untuk mencari kebahagiaan abadi, melainkan arena perjuangan untuk meraih ridha Allah dan menyiapkan diri menuju kehidupan yang kekal di akhirat. Oleh karena itu, kesenangan yang hadir di dunia bukan sesuatu yang pasti atau kekal, melainkan sekadar anugerah sementara yang patut disyukuri, bukan dijadikan sandaran utama kebahagiaan.

Ungkapan ini mencerminkan kesadaran akan sifat fana dunia. Dunia dipenuhi dengan ujian, kesulitan, ketidakpastian, dan penderitaan, baik dalam bentuk kehilangan, cobaan, maupun kegelisahan hati. Para ulama ingin mengingatkan bahwa kerisauan dan duka cita merupakan bagian alami dari kehidupan duniawi, dan manusia tidak dapat menghindarinya sepenuhnya. Maka, apabila seseorang mendapati kebahagiaan, ketenangan, atau keberkahan di tengah segala keterbatasan dunia, itu adalah bentuk rahmat dan “bonus” dari Allah. Dengan kata lain, kesenangan duniawi bukan jaminan, tetapi karunia yang patut disyukuri tanpa melupakan hakikat ujian di baliknya.

Dalam ajaran Islam, dunia disebut sebagai darul ibtila’ — tempat ujian. Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan (QS. Al-Baqarah: 155). Oleh karena itu, kesedihan, kecemasan, dan penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup. Namun, justru melalui ujian itulah Allah menilai keteguhan iman dan kesabaran seorang hamba. Ketika seseorang tetap bersyukur dan bersabar di tengah kesulitan, maka ia telah mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah. Dalam konteks ini, kesenangan dunia yang muncul sesekali adalah “nikmat ringan” yang seharusnya disambut dengan rasa syukur, bukan dijadikan tujuan utama hidup.

Ungkapan ini juga mengandung nilai psikologis yang sangat relevan bagi manusia modern. Ketika seseorang memahami bahwa dunia tidak sempurna dan penuh ketidakseimbangan, ia akan lebih siap menghadapi kenyataan hidup tanpa terlalu larut dalam kekecewaan. Kesadaran ini membentuk ketenangan batin, sebab ia tidak menuntut dunia untuk selalu menyenangkan. Sebaliknya, ia belajar menikmati kesenangan sederhana sebagai “keuntungan tambahan,” bukan hak yang harus dimiliki. Dengan cara pandang ini, seseorang akan hidup lebih tenang, tidak mudah kecewa, dan mampu menerima setiap peristiwa sebagai bagian dari takdir yang bijaksana.

Ungkapan para ulama tersebut mengajarkan kebijaksanaan hidup yang berakar pada iman, kesabaran, dan syukur. Dunia adalah tempat yang penuh ujian, sehingga duka dan kerisauan adalah bagian dari perjalanan menuju kedewasaan spiritual. Namun, jika di tengah kerisauan itu seseorang masih mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, atau rezeki yang melimpah, maka itu adalah karunia yang patut disyukuri. Pesan ini mengingatkan kita untuk tidak menggantungkan kebahagiaan pada dunia yang sementara, melainkan pada ketenangan hati dan kedekatan kepada Allah. Dengan demikian, seseorang akan mampu menjalani hidup dengan lapang dada, menerima duka dengan sabar, dan menyambut bahagia dengan syukur.

Jumat, 26 Desember 2025

Bahasa Hati: Keindahan Saling Memahami dalam Persahabatan Sejati

Lucius Annaeus Seneca, atau lebih dikenal sebagai Seneca, adalah seorang filsuf Stoik, penulis, dan negarawan dari Roma Kuno yang pemikirannya tetap relevan hingga masa kini. Dalam berbagai tulisannya, Seneca banyak menyoroti tema tentang kebijaksanaan, etika, dan hubungan antarmanusia, termasuk persahabatan. Salah satu ungkapannya yang paling indah dan penuh makna berbunyi: “Salah satu kualitas terindah dari persahabatan sejati adalah saling memahami dan dipahami” (One of the beautiful qualities of true friendship is to understand and to be understood). Ungkapan ini menggambarkan inti dari hubungan manusia yang mendalam, bahwa persahabatan sejati tidak dibangun atas kepentingan, tetapi atas empati, pengertian, dan ketulusan hati.

Dalam pandangan Stoikisme, manusia tidak bisa hidup sepenuhnya sendiri. Kita memerlukan hubungan yang bermakna untuk bertumbuh secara moral dan emosional. Bagi Seneca, “memahami dan dipahami” bukan hanya soal komunikasi, tetapi juga bentuk tertinggi dari kebijaksanaan emosional. Ketika seseorang benar-benar memahami temannya, ia tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga mengerti makna di baliknya, perasaan, kekhawatiran, dan nilai yang mendasari tindakan. Sebaliknya, ketika seseorang merasa dipahami, ia merasakan ketenangan dan penerimaan tanpa syarat. Hubungan semacam ini menjadi fondasi kuat bagi persahabatan yang tahan waktu.

Stoikisme menekankan virtue (kebajikan) sebagai bentuk tertinggi dari kebahagiaan. Dalam konteks persahabatan, kebajikan ini diwujudkan melalui kejujuran, empati, dan kesetiaan. Persahabatan sejati, menurut Seneca, bukanlah hubungan yang dibangun atas dasar keuntungan pribadi atau kesenangan sesaat, tetapi hubungan moral yang saling menumbuhkan. “Memahami dan dipahami” berarti mengakui bahwa setiap manusia memiliki jalan berpikir, pengalaman, dan penderitaan masing-masing. Dengan menerima itu tanpa menghakimi, seseorang menjalankan prinsip Stoik tentang ketenangan batin, yakni kedamaian yang lahir dari penerimaan terhadap diri dan orang lain.

Ungkapan Seneca tetap sangat relevan di era modern yang serba cepat dan individualistis. Dalam dunia yang didominasi oleh komunikasi digital dan interaksi dangkal, makna sejati dari “memahami dan dipahami” sering kali hilang. Banyak orang memiliki banyak “teman” secara sosial, tetapi sedikit yang benar-benar bisa saling memahami secara mendalam. Seneca mengingatkan kita bahwa persahabatan sejati bukan diukur dari intensitas pertemuan atau lamanya waktu, melainkan dari kedalaman hubungan dan kejujuran dalam komunikasi. Dalam memahami teman, kita juga belajar memahami diri sendiri.

Ungkapan Seneca mengajarkan bahwa inti dari persahabatan sejati adalah empati dua arah, kemampuan untuk mendengarkan, menerima, dan berbagi tanpa pamrih. Persahabatan yang sejati bukan sekadar hadir di saat senang, tetapi juga memahami tanpa perlu banyak kata, dan tetap setia di saat sulit. Dalam makna yang lebih luas, pesan Seneca mengajak kita untuk membangun hubungan manusiawi yang tulus dan bermakna, di mana pengertian menjadi bahasa hati yang paling indah. Dengan saling memahami dan dipahami, kita tidak hanya menemukan teman sejati, tetapi juga menemukan kedamaian dalam diri kita sendiri.

Kamis, 25 Desember 2025

Bukan Sekadar Cerdas: Seni Menggunakan Pikiran dengan Baik

René Descartes, seorang filsuf asal Prancis yang dikenal sebagai Bapak Filsafat Modern, adalah tokoh yang membawa perubahan besar dalam cara manusia berpikir tentang pengetahuan dan kebenaran. Salah satu ungkapannya yang terkenal berbunyi: “Tidak cukup memiliki pikiran yang baik, yang penting adalah menggunakannya dengan baik.” Kalimat ini tidak hanya menekankan pentingnya kemampuan berpikir, tetapi juga tanggung jawab moral dan intelektual dalam menggunakan akal secara benar. Dalam pandangan Descartes, berpikir adalah esensi kemanusiaan, namun kualitas manusia tidak diukur dari seberapa tajam pikirannya, melainkan dari bagaimana ia menggunakan pikiran itu untuk mencapai kebenaran dan kebijaksanaan.

Ungkapan ini berakar pada gagasan Descartes tentang rasionalisme, yaitu keyakinan bahwa akal budi adalah sumber utama pengetahuan. Namun, Descartes mengingatkan bahwa memiliki akal yang baik saja tidak menjamin seseorang berpikir benar. Pikiran yang baik harus diarahkan dengan metode, logika, dan disiplin intelektual agar menghasilkan kebenaran. Ia menolak pandangan bahwa kecerdasan bawaan cukup untuk memahami dunia. Sebaliknya, ia menegaskan perlunya kemampuan reflektif dan kesadaran untuk menggunakan akal secara sistematis. Dalam hal ini, “menggunakannya dengan baik” berarti berpikir secara kritis, objektif, dan terarah.

Descartes terkenal dengan karya monumentalnya Discourse on the Method, di mana ia memperkenalkan empat langkah berpikir rasional untuk mencapai pengetahuan yang benar: tidak menerima sesuatu tanpa bukti jelas, membagi masalah menjadi bagian kecil, menyusun pikiran dari yang sederhana ke yang kompleks, dan memastikan langkah-langkahnya lengkap. Prinsip ini mencerminkan inti dari ungkapannya, bahwa pikiran yang baik harus disertai metode yang benar. Tanpa metode, pikiran dapat tersesat oleh prasangka, emosi, dan keyakinan yang tidak rasional. Dengan kata lain, berpikir dengan baik adalah seni menggunakan akal untuk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam kehidupan modern yang penuh informasi dan opini, pesan Descartes menjadi semakin relevan. Banyak orang cerdas secara intelektual, tetapi tidak semuanya menggunakan kecerdasannya untuk hal yang bermanfaat. Misalnya, kemampuan berpikir logis bisa digunakan untuk membenarkan kesalahan atau menyebarkan informasi palsu jika tidak disertai integritas moral. Karena itu, “menggunakan pikiran dengan baik” juga berarti menempatkan pengetahuan dalam bingkai etika—menggunakan akal untuk kebaikan, bukan sekadar kepentingan pribadi. Pikiran yang baik tanpa kebijaksanaan ibarat pedang tajam tanpa arah, berpotensi melukai daripada menyembuhkan.

Ungkapan René Descartes mengajarkan bahwa nilai sejati dari kecerdasan manusia terletak pada bagaimana ia menggunakannya. Pikiran adalah anugerah, tetapi tanggung jawab moral dan rasionalitas adalah pilihan sadar. Dengan berpikir secara terarah, kritis, dan beretika, manusia tidak hanya menjadi makhluk rasional, tetapi juga makhluk bijaksana. Pesan ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan nalar bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai kehidupan yang bermakna dan penuh kebajikan, itulah esensi sejati dari “menggunakan pikiran dengan baik.”

Rabu, 24 Desember 2025

Manusia yang Selalu Belajar: Pendidikan dan Kesadaran Kritis Menurut Paulo Freire

Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan asal Brasil dan penulis buku Pedagogy of the Oppressed, dikenal sebagai tokoh penting dalam pemikiran pendidikan kritis. Ia memandang pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi sebagai upaya pembebasan manusia dari ketertindasan, baik sosial, politik, maupun intelektual. Salah satu ungkapannya yang terkenal berbunyi: “Menjadi manusia berarti menjadi makhluk dalam proses, tidak pernah selesai, selalu menjadi.” Ungkapan ini menggambarkan pandangan mendalam Freire tentang hakikat manusia sebagai makhluk yang senantiasa berkembang dan tidak pernah berhenti belajar.

Dalam pandangan Freire, manusia bukanlah entitas yang statis, melainkan makhluk dinamis yang terus membentuk dirinya melalui pengalaman, refleksi, dan tindakan. Kalimat “tidak pernah selesai” menegaskan bahwa manusia selalu berada dalam proses “menjadi” yakni sebuah perjalanan tanpa akhir menuju pemahaman diri dan dunia. Ia menolak gagasan bahwa manusia dapat dianggap “jadi” atau “selesai” pada titik tertentu, karena setiap pengalaman baru selalu membuka ruang untuk pembelajaran dan perubahan. Dengan demikian, eksistensi manusia bersifat terbuka, terus berevolusi, dan menuntut kesadaran reflektif atas keberadaannya.

Ungkapan ini juga mencerminkan inti dari teori pendidikan Freire, yaitu “pendidikan pembebasan” (liberating education). Dalam proses pendidikan yang sejati, guru dan murid sama-sama belajar dan tumbuh; tidak ada pihak yang pasif menerima pengetahuan. Proses “selalu menjadi” menuntut dialog, kesadaran kritis, dan keterlibatan aktif dalam memahami realitas sosial. Bagi Freire, pendidikan bukanlah pengisian “wadah kosong”, melainkan proses dialogis yang menumbuhkan manusia menjadi subjek (bukan objek) dalam kehidupannya sendiri. Inilah mengapa belajar tidak berhenti di ruang kelas, melainkan berlangsung sepanjang hidup.

Freire ingin menegaskan bahwa kemanusiaan sejati terletak pada kemampuan manusia untuk terus bertumbuh dan memperbaiki diri. Kesadaran bahwa kita “selalu menjadi” membuat manusia rendah hati terhadap keterbatasannya, tetapi juga optimistis terhadap kemampuannya untuk berubah. Dalam konteks sosial, hal ini berarti manusia harus aktif mengubah kondisi ketidakadilan, bukan sekadar menerimanya. Proses menjadi manusia sejati tidak hanya terjadi dalam ranah intelektual, tetapi juga melalui tindakan sosial yang berkeadilan dan berempati.

Ungkapan Paulo Freire mengandung pesan universal bahwa manusia adalah proyek yang tak pernah selesai. Menjadi manusia berarti terus mencari makna, menumbuhkan kesadaran, dan berpartisipasi dalam perubahan dunia. Proses ini menuntut keterbukaan terhadap pengalaman, refleksi atas kesalahan, dan keberanian untuk terus berkembang. Dengan memahami bahwa kita “selalu menjadi”, kita belajar menerima perjalanan hidup sebagai ruang pembelajaran tanpa akhir, sebuah proses yang menjadikan kita lebih manusiawi dari waktu ke waktu.

Selasa, 23 Desember 2025

Ketika Ilmu Menuntut Amal dan Amal Membutuhkan Ilmu

Ilmu dan amal merupakan dua unsur pokok dalam ajaran Islam yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi dan menyempurnakan. Tema “Ilmu dan amal tidak dapat dipisahkan. Ilmu tanpa amal celaka. Amal tanpa ilmu, sia-sia” menjadi pengingat penting bagi setiap Muslim agar tidak berhenti pada tataran pengetahuan semata, namun juga tidak beramal tanpa landasan ilmu yang benar. Inilah prinsip dasar dalam membangun kehidupan beragama yang lurus dan seimbang.

Ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Dengan ilmu, seseorang dapat mengenal Allah, memahami perintah dan larangan-Nya, serta mengetahui cara beribadah yang benar. Namun, ilmu yang tidak diamalkan justru dapat menjadi hujjah (argumen) yang memberatkan pemiliknya di hadapan Allah. Karena itu, para ulama menegaskan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang membuahkan amal, bukan sekadar pengetahuan yang berhenti di lisan atau tulisan.

Peringatan keras tentang bahaya ilmu tanpa amal disampaikan oleh Imam Ibnu Ruslan dalam kitab Shofwatuz Zubad. Beliau berkata:

فَعَالِمٌ بِعِلْمِهِ لَمْ يَعْمَلَنْ # مُعَذَّبٌ مِنْ قَبْلِ عُبَّادِ الْوَثَنِ

Artinya: “Seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, akan diazab lebih dahulu daripada para penyembah berhala.” Kalam hikmah ini menunjukkan bahwa ilmu yang tidak diamalkan bukan hanya tidak bermanfaat, tetapi juga berpotensi mendatangkan azab yang lebih berat karena adanya unsur kelalaian dan pengkhianatan terhadap ilmu itu sendiri.

Di sisi lain, Islam juga memperingatkan bahaya beramal tanpa ilmu. Amal yang dilakukan tanpa pemahaman yang benar berisiko menyimpang dari tuntunan syariat dan tidak bernilai di sisi Allah. Hal ini juga ditegaskan oleh Imam Ibnu Ruslan dalam lanjutan nazamnya:

وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ # أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لَا تُقْبَلُ

Artinya: “Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amal-amalnya tertolak dan tidak diterima.” Pesan ini mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup, tetapi harus disertai dengan ilmu yang benar agar amal diterima oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, keseimbangan antara ilmu dan amal menjadi kunci keselamatan seorang hamba. Ilmu berfungsi sebagai penunjuk jalan, sedangkan amal merupakan realisasi nyata dari petunjuk tersebut. Ilmu tanpa amal menjadikan seseorang lalai dan sombong, sementara amal tanpa ilmu dapat menjerumuskan pada kesesatan meskipun niatnya baik. Keduanya harus berjalan seiring agar menghasilkan ketakwaan yang hakiki.

Sebagai penutup, seorang Muslim hendaknya terus menuntut ilmu dengan niat mengamalkannya, serta beramal dengan senantiasa merujuk kepada ilmu yang shahih. Dengan demikian, ilmu menjadi cahaya yang menerangi amal, dan amal menjadi bukti kejujuran ilmu. Inilah jalan para ulama dan orang-orang saleh, yaitu menjadikan ilmu dan amal sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan demi meraih ridha Allah SWT dan keselamatan di dunia serta akhirat.

Senin, 22 Desember 2025

Di Pangkuan Ibu, Cinta Diajarkan Tanpa Syarat

Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember merupakan momen istimewa untuk merenungi kembali peran agung seorang ibu dalam kehidupan manusia. Berangkat dari ungkapan “Ibu adalah rumah pertama tempat cinta tumbuh tanpa syarat”, kita diingatkan bahwa sebelum mengenal dunia luar, seorang anak terlebih dahulu mengenal kasih sayang dari ibunya. Dari rahim hingga dekapan, ibu menjadi tempat pertama seorang manusia merasakan cinta yang tulus, perlindungan, dan penerimaan tanpa syarat. Cinta inilah yang menjadi fondasi awal bagi tumbuhnya kepribadian, empati, dan rasa aman dalam diri seorang anak.

Islam menempatkan ibu pada kedudukan yang sangat mulia. Rasulullah Saw. menegaskan hal ini melalui sabda beliau ketika ditanya tentang siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik: “أُمُّكَ، ثُمَّ أُمُّكَ، ثُمَّ أُمُّكَ، ثُمَّ أَبُوْكَ”, yang artinya: “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa besarnya pengorbanan dan cinta seorang ibu menjadikannya pihak yang paling utama untuk dihormati, disayangi, dan dibalas dengan bakti oleh seorang anak.

Ibu disebut sebagai “rumah pertama” karena di sanalah seorang anak belajar arti kehidupan. Rumah ini bukan sekadar bangunan, melainkan tempat di mana cinta hadir tanpa syarat, tanpa perhitungan, dan tanpa tuntutan balasan. Saat anak jatuh, ibu menguatkan; saat anak salah, ibu menasihati; dan saat anak lemah, ibu mendoakan. Semua dilakukan dengan ketulusan yang lahir dari cinta sejati seorang ibu.

Cinta ibu juga bersifat konsisten dan tidak bergantung pada kondisi anak. Baik anak berhasil maupun gagal, ibu tetap mencintai, mendoakan, dan berharap yang terbaik. Inilah bentuk cinta tanpa syarat yang menjadi sumber kekuatan bagi anak dalam menjalani kehidupan. Dari rumah pertama inilah seorang anak belajar mencintai, menghormati, dan menghargai sesama.

Oleh karena itu, peringatan Hari Ibu hendaknya menjadi pengingat bagi setiap anak untuk terus berbakti kepada ibu, baik dengan ucapan yang lembut, perhatian, maupun doa yang tulus. Rasulullah Saw. bersabda: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُهُ فِي سَخَطِهِمَا yang artinya: “Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Hakim). Semoga kita mampu menjaga dan memuliakan “rumah pertama” itu dengan bakti dan cinta, selama ibu masih bersama kita maupun melalui doa ketika ia telah tiada.

Minggu, 21 Desember 2025

Menjemput Keberkahan Rajab dengan Doa dan Ibadah

Bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan aram (mulia) dalam Islam selain Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Masuknya bulan Rajab menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk mulai mempersiapkan diri secara ruhani menuju bulan Ramadhan. Para ulama dan orang-orang saleh sejak dahulu menjadikan Rajab sebagai bulan pembuka untuk memperbanyak ibadah, membersihkan hati, serta menata niat agar ibadah di bulan-bulan berikutnya dapat dijalani dengan lebih maksimal dan penuh kesadaran spiritual.

Salah satu amaliyah yang sangat dianjurkan ketika memasuki bulan Rajab adalah membaca doa: اللهم بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ yang artinya, “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami hingga bulan Ramadhan.” Doa ini mencerminkan harapan seorang Mukmin agar diberi keberkahan umur, kesehatan, dan kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhan. Meskipun hadis tentang doa ini diperselisihkan derajat kesahihannya, para ulama membolehkannya sebagai doa kebaikan dan harapan yang baik (rajā’).

Amaliyah berikutnya adalah puasa sunnah di bulan Rajab. Tidak ada puasa khusus dengan hari tertentu yang diwajibkan di bulan Rajab, namun berpuasa sunnah secara umum sangat dianjurkan, sebagaimana puasa sunnah di hari Senin dan Kamis atau puasa ayyamul bidh (tanggal 13, 14, dan 15). Puasa di bulan Rajab menjadi sarana melatih kesabaran, menundukkan hawa nafsu, serta membiasakan diri dengan ibadah puasa sebelum memasuki Ramadhan.

Selain puasa, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan zikir di bulan Rajab. Istighfar berfungsi membersihkan dosa dan kesalahan yang telah lalu, sedangkan zikir menghidupkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan shalawat secara rutin di bulan ini akan menumbuhkan ketenangan jiwa serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah sebagai bekal menuju bulan penuh ampunan.

Amaliyah lain yang juga sering dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin adalah membaca surat Yasin, baik secara pribadi maupun berjamaah, serta melakukan zikir termasuk membaca 35 kali saat khatib di atas mimbar pada hari Jum’at terakhir bulan Rajab أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ، مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ. Praktik ini termasuk bentuk memperbanyak amal kebaikan dan doa, meskipun tidak ada dalil khusus yang secara tegas mewajibkannya. Selama diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan tidak diyakini sebagai ibadah wajib, amalan-amalan tersebut termasuk dalam kategori amal kebajikan yang dibolehkan.

Sebagai penutup, bulan Rajab juga merupakan waktu yang tepat untuk memperbanyak shalat sunnah, seperti shalat tahajud, shalat dhuha, dan shalat rawatib. Shalat sunnah membantu melembutkan hati, menumbuhkan kekhusyukan, serta memperbaiki kualitas shalat wajib. Dengan menghidupkan bulan Rajab melalui berbagai amaliyah tersebut, diharapkan seorang Muslim dapat memasuki bulan Sya’ban dan Ramadhan dengan hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, dan kesiapan ibadah yang lebih matang.

Sabtu, 20 Desember 2025

Dari Keluhan ke Kendali: Seni Menemukan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali dihadapkan pada situasi yang tidak dapat dikendalikan. Mulai dari perubahan cuaca, keputusan orang lain, hingga hasil dari berbagai usaha yang telah dilakukan. Dalam menghadapi hal-hal semacam ini, banyak orang terjebak dalam kebiasaan mengeluh dan menyalahkan keadaan. Donald Robertson, seorang psikoterapis kognitif dan penulis buku How to Think Like a Roman Emperor, memberikan nasihat yang sangat berharga: “Jangan buang waktu mengeluh tentang sesuatu yang di luar kendali. Fokuslah pada apa yang bisa Anda lakukan.” Ungkapan ini tidak hanya mencerminkan kebijaksanaan filsafat Stoik, tetapi juga memberikan panduan praktis untuk menjaga ketenangan batin di tengah ketidakpastian hidup.

Pernyataan Robertson berakar pada filsafat Stoikisme yang menekankan pentingnya membedakan antara hal-hal yang bisa kita kendalikan dan yang tidak. Dalam pandangan ini, manusia tidak seharusnya menghabiskan energi emosional untuk memikirkan hal-hal di luar kendali, seperti opini orang lain, cuaca, atau masa lalu. Sebaliknya, fokus seharusnya diarahkan pada tindakan dan sikap pribadi, yaitu bagaimana seseorang merespons situasi. Dengan memahami batas kendali, seseorang dapat hidup dengan lebih damai dan efisien, tanpa terbebani oleh rasa frustrasi atau kekecewaan terhadap hal-hal yang tak dapat diubah.

Dari perspektif psikoterapi kognitif, gagasan ini memiliki dasar ilmiah yang kuat. Fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan membantu seseorang mengembangkan locus of control internal, yakni keyakinan bahwa dirinya memiliki peran aktif dalam menentukan nasib dan kebahagiaan sendiri. Orang dengan locus of control internal cenderung lebih resilien, memiliki motivasi tinggi, dan tidak mudah stres ketika menghadapi tantangan. Sebaliknya, mereka yang terus mengeluh dan menyalahkan faktor eksternal biasanya terjebak dalam pola pikir pasif, yang justru memperburuk keadaan psikologis mereka.

Dalam praktiknya, nasihat Robertson dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya, ketika menghadapi kegagalan dalam pekerjaan, alih-alih menyalahkan keadaan atau rekan kerja, seseorang bisa fokus memperbaiki strategi, meningkatkan keterampilan, atau memperbaiki komunikasi. Dalam konteks sosial, ketika dihadapkan pada perilaku orang lain yang tidak bisa dikontrol, respons yang bijak adalah menjaga sikap tenang dan menyesuaikan reaksi diri, bukan terjebak dalam emosi negatif. Dengan demikian, fokus pada apa yang bisa dilakukan membuat seseorang lebih produktif dan berdaya.

Ungkapan Donald Robertson bukan sekadar nasihat moral, melainkan panduan praktis untuk mengelola kehidupan dengan lebih rasional dan efektif. Dengan berhenti mengeluh tentang hal-hal di luar kendali dan mengalihkan perhatian pada tindakan nyata, seseorang dapat menghemat energi emosional, memperkuat ketahanan mental, dan menciptakan kehidupan yang lebih bermakna. Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah hasil dari keadaan eksternal, melainkan dari kemampuan kita mengelola pikiran, sikap, dan tindakan terhadap apa yang terjadi di sekitar kita.

Jumat, 19 Desember 2025

Tidak Ada Jalan Pintas: Seni Bertahan dan Belajar untuk Meraih Sukses

Tim Ferriss, seorang penulis, pengusaha, dan podcaster terkenal asal Amerika Serikat, dikenal melalui karya-karyanya seperti The 4-Hour Workweek dan podcast The Tim Ferriss Show. Ia sering membahas strategi sukses, pengembangan diri, dan kebiasaan tokoh-tokoh besar dunia. Salah satu ungkapannya yang menggugah berbunyi: “Kunci sukses terletak pada kegigihan, daya tahan menghadapi kegagalan, dan semangat belajar tanpa henti.” Ungkapan ini merangkum filosofi hidup Ferriss yang menekankan bahwa kesuksesan bukanlah hasil keberuntungan semata, melainkan buah dari mentalitas yang kuat, ketahanan emosional, dan komitmen terhadap pertumbuhan diri.

Ungkapan ini mengandung pandangan mendalam tentang hakikat kesuksesan. Bagi Ferriss, sukses bukan hanya soal pencapaian materi atau popularitas, melainkan tentang kemampuan untuk terus maju meski menghadapi rintangan. “Kegigihan” adalah fondasi utama, kemauan untuk tetap melangkah walau hasil belum tampak. Namun, kegigihan saja tidak cukup tanpa “daya tahan menghadapi kegagalan”, yakni kemampuan untuk bangkit, belajar dari kesalahan, dan menyesuaikan strategi. Kombinasi keduanya menciptakan ketangguhan psikologis (resilience), sebuah kualitas penting dalam menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian dan perubahan cepat.

Tim Ferriss selalu menekankan pentingnya lifelong learning—proses belajar yang tidak berhenti pada pendidikan formal. Bagi Ferriss, orang sukses bukanlah mereka yang tahu segalanya, tetapi mereka yang terus mencari tahu, beradaptasi, dan memperbaiki diri. Semangat belajar tanpa henti membantu seseorang memperluas wawasan, menemukan solusi kreatif, dan menghadapi tantangan dengan cara baru. Dalam konteks ini, belajar tidak hanya berarti membaca buku, tetapi juga merenungkan pengalaman, mendengarkan orang lain, dan berani mencoba hal baru meski berisiko gagal.

Dalam dunia kerja dan bisnis yang kompetitif, nilai-nilai yang diungkapkan Ferriss sangat relevan. Inovasi dan kemajuan teknologi menuntut individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tahan banting dan cepat beradaptasi. Banyak orang gagal bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena mudah menyerah saat menghadapi hambatan. Di sisi lain, mereka yang memiliki kegigihan dan semangat belajar justru mampu menemukan peluang dalam kesulitan. Ungkapan Ferriss menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati datang dari keberanian untuk gagal berkali-kali tanpa kehilangan semangat untuk mencoba lagi.

Ungkapan Tim Ferriss menegaskan bahwa kesuksesan adalah hasil dari proses panjang yang melibatkan mental tangguh, ketekunan, dan kehausan akan pengetahuan. Kegigihan menjaga seseorang tetap bergerak maju, daya tahan terhadap kegagalan membuatnya kuat, dan semangat belajar terus memperluas kemampuannya. Ketiga hal ini membentuk siklus pertumbuhan pribadi yang berkelanjutan. Dalam arti yang lebih luas, Ferriss mengajarkan bahwa menjadi sukses berarti menjadi pembelajar seumur hidup, seseorang yang tak pernah berhenti mencoba, berkembang, dan memberi makna pada setiap langkah dalam perjalanannya.

Kamis, 18 Desember 2025

Bahasa Arab, Cahaya di Antara Bahasa Dunia

كُلُّ الْقُلُوْبِ تَوَحَّدَتْ فِي حُبِّهَا

فَهِيَ الْمَلِيْكَةُ وَالْهَوَى وَالتَّاجُ

لُغَةٌ حَبَاهَا اللهُ سِحْرَ بَيَانِهِ

فَكَأَنَّهَا بَيْنَ اللُّغَاتِ سِرَاجُ

Semua hati bersatu dalam kecintaan kepadanya,

sebab dialah sang ratu, cinta, dan mahkota.

Bahasa yang dicintai Allah dengan keindahan ungkapannya,

seakan-akan ia menjadi pelita di antara semua bahasa.

Bahasa merupakan jembatan peradaban yang menghubungkan manusia dengan ilmu, budaya, dan nilai-nilai luhur kehidupan. Di antara bahasa-bahasa dunia, bahasa Arab memiliki kedudukan yang istimewa, baik dari sisi sejarah, peradaban, maupun spiritualitas. Oleh karena itu, peringatan Hari Bahasa Arab Sedunia setiap tanggal 18 Desember menjadi momentum penting untuk merefleksikan peran bahasa Arab sebagai bahasa ilmu, budaya, dan wahyu yang telah memberi kontribusi besar bagi peradaban manusia.

Tanggal 18 Desember diperingati sebagai Hari Bahasa Arab Sedunia karena pada tanggal tersebut pada tahun 1973, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi menetapkan bahasa Arab sebagai salah satu dari enam bahasa resmi dunia. Pengakuan ini menegaskan posisi bahasa Arab sebagai bahasa internasional yang digunakan oleh ratusan juta penutur di berbagai belahan dunia serta menjadi sarana komunikasi dalam diplomasi, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan global.

Syair pada gambar menggambarkan bahasa Arab sebagai “ratu bahasa”, “mahkota”, dan “pelita”. Ungkapan ini menegaskan bahwa keindahan bahasa Arab tidak hanya terletak pada strukturnya yang kaya dan ekspresif, tetapi juga pada kemampuannya menyatukan makna, rasa, dan keindahan sastra. Bahasa Arab mampu menampung ekspresi cinta, hikmah, dan pemikiran mendalam yang sulit ditandingi oleh bahasa lain.

Keistimewaan bahasa Arab semakin kuat karena ia dipilih Allah Swt. sebagai bahasa Al-Qur’an. Sebagaimana tergambar dalam syair bahwa bahasa Arab menjadi bahasa wahyu yang mengandung pesan ilahi untuk seluruh umat manusia. Setiap lafadz dan susunan katanya mengandung makna yang dalam, sehingga mempelajari bahasa Arab bukan sekadar mempelajari alat komunikasi, tetapi juga mendekatkan diri kepada pemahaman ajaran Islam secara lebih utuh.

Dalam sejarah peradaban, bahasa Arab pernah menjadi bahasa ilmu pengetahuan dunia. Karya-karya besar dalam bidang kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, dan sastra ditulis dalam bahasa Arab dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Eropa. Hal ini menjadikan bahasa Arab sebagai “pelita” peradaban, sebagaimana disebutkan dalam syair, yang menerangi dunia dengan cahaya ilmu dan kebijaksanaan.

Di lingkungan pendidikan, khususnya di madrasah, universitas, dan lembaga Islam, bahasa Arab memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang berilmu dan berakhlak. Peringatan Hari Bahasa Arab Sedunia menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap bahasa Arab, tidak hanya sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai identitas keilmuan dan budaya Islam yang kaya akan nilai-nilai luhur.

Melalui peringatan Hari Bahasa Arab Sedunia setiap 18 Desember, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif untuk terus melestarikan, mempelajari, dan mengembangkan bahasa Arab dalam kehidupan modern. Sebagaimana digambarkan dalam syair, bahasa Arab adalah pelita di antara bahasa-bahasa dunia, pelita yang menerangi akal, memperhalus rasa, dan menuntun manusia menuju pemahaman yang lebih dalam tentang ilmu, budaya, dan nilai ketuhanan.

Rabu, 17 Desember 2025

Belajar Bersama, Bukan Dari Satu Arah

Dalam dunia pendidikan modern, gagasan tentang hubungan guru dan murid terus mengalami perkembangan. Salah satu pemikir besar yang sangat berpengaruh dalam hal ini adalah Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan asal Brasil yang dikenal melalui karyanya Pedagogy of the Oppressed. Salah satu ucapannya yang terkenal— “Guru bukanlah satu-satunya yang tahu. Murid pun membawa pengetahuan yang penting”—menjadi kritik tajam terhadap sistem pendidikan tradisional yang menempatkan guru sebagai pusat mutlak. Ungkapan ini menandai perubahan paradigma: pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan satu arah, tetapi proses dialogis yang memanusiakan kedua belah pihak.

Freire ingin menolak model pendidikan yang ia sebut sebagai banking model, yaitu anggapan bahwa murid seperti “celengan kosong” yang harus diisi oleh guru. Menurutnya, model ini merendahkan kemampuan berpikir murid dan menghilangkan sifat kritis yang seharusnya tumbuh dalam proses belajar. Dengan mengatakan bahwa murid pun membawa pengetahuan penting, Freire menegaskan bahwa setiap individu memiliki pengalaman hidup, intuisi, dan perspektif unik yang dapat memperkaya proses pembelajaran. Pendidikan yang baik harus memberi ruang bagi pengetahuan itu untuk muncul dan diolah bersama.

Ungkapan tersebut juga menegaskan bahwa “pendidikan adalah dialog”, bukan monolog. Guru bukanlah satu-satunya sumber kebenaran; ia adalah fasilitator yang membantu murid memahami dunia dan dirinya sendiri. Dalam ruang belajar yang dialogis, murid dapat mengajukan pertanyaan, mempertanyakan asumsi, dan menghubungkan materi pelajaran dengan realitas hidup mereka. Dengan cara ini, proses belajar menjadi aktif dan bermakna. Pengetahuan tidak lagi dipandang sebagai fakta statis, melainkan sesuatu yang terbentuk melalui interaksi, refleksi, dan pengalaman bersama.

Lebih jauh lagi, Freire menekankan bahwa pengakuan terhadap pengetahuan murid merupakan bentuk penghormatan terhadap kemanusiaan mereka. Ketika guru menyadari bahwa murid membawa pengetahuan penting, ia tidak lagi memandang murid sebagai sosok pasif, tetapi sebagai subjek yang memiliki kemampuan berpikir dan berkontribusi. Hal ini membangun hubungan yang setara dan saling menghargai. Murid menjadi lebih percaya diri, lebih berani berpikir kritis, dan lebih mampu mengambil peran aktif dalam membangun pemahaman bersama.

Pada akhirnya, ucapan Paulo Freire ini mengajarkan bahwa “pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang membuka ruang bagi semua suara”, termasuk suara murid. Ketika murid diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan, pengalaman, dan pemahamannya, maka lahirlah proses pembelajaran yang lebih kaya dan konstruktif. Guru tetap berperan sebagai pembimbing, tetapi tidak mematikan potensi intelektual murid. Dengan cara inilah pendidikan dapat melahirkan manusia yang sadar, kritis, dan mampu berperan aktif dalam membangun perubahan sosial. Inilah hakikat pesan Freire: belajar adalah kolaborasi dan pemberdayaan, bukan dominasi.

Selasa, 16 Desember 2025

Seni Merasa Cukup dalam Hidup Modern

Dalam filsafat dan psikologi modern, semakin banyak pemikir yang menyoroti hubungan antara kepuasan hidup dan kemampuan manusia mengelola keinginannya. Salah satu di antaranya adalah Donald Robertson, seorang psikoterapis kognitif sekaligus penulis buku How to Think Like a Roman Emperor, yang banyak terinspirasi oleh filsafat Stoa. Ucapannya, “Kehidupan yang baik bukanlah tentang memiliki lebih banyak, tetapi tentang membutuhkan lebih sedikit,” menggambarkan inti pemikiran Stoisisme sekaligus prinsip penting dalam psikologi kesejahteraan. Ungkapan ini mengajak kita melihat kebahagiaan bukan dari luar diri, tetapi dari dalam, melalui kemampuan mengendalikan keinginan dan mengurangi ketergantungan pada hal-hal eksternal.

Makna inti ungkapan tersebut adalah bahwa “kualitas hidup tidak ditentukan oleh banyaknya hal yang kita miliki”, melainkan oleh sejauh mana kita merasa cukup dengan apa yang sudah ada. Dalam kehidupan modern, banyak orang mengejar materi, status, atau pencapaian tanpa henti, berharap bahwa semua itu akan menghadirkan kebahagiaan. Namun, realitas psikologis menunjukkan bahwa kepuasan semacam itu hanya berlangsung sebentar, sebelum muncul lagi keinginan baru. Dengan kata lain, keinginan tak pernah selesai. Karena itu, Robertson mengingatkan bahwa kehidupan yang baik justru dimulai ketika kita mengurangi ketergantungan terhadap hal-hal yang berada di luar kendali diri.

Ungkapan Robertson juga sejalan dengan prinsip kognitif bahwa “pikiran kitalah yang menentukan tingkat kebahagiaan”, bukan kondisi eksternal. Ketika seseorang membutuhkan banyak hal untuk merasa bahagia, ia menciptakan banyak titik kerentanan dalam hidupnya. Perubahan kecil dalam keadaan ekonomi, lingkungan sosial, atau pencapaian pribadi dapat langsung mengguncang emosinya. Sebaliknya, orang yang kebutuhannya sederhana memiliki kestabilan emosi yang lebih besar karena ia tidak menggantungkan kebahagiaannya pada hal-hal yang rapuh. Dengan membutuhkan lebih sedikit, kita membangun fondasi batin yang kuat dan tidak mudah digoyahkan oleh keadaan.

Selain itu, ucapan ini menekankan pentingnya “pengendalian diri dan kesadaran akan nilai-nilai esensial”. Kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang penuh dengan barang, tetapi penuh dengan makna: hubungan yang baik, kesehatan mental yang stabil, tujuan hidup yang jelas, serta kemampuan menikmati hal-hal kecil. Ketika seseorang mampu menyederhanakan kebutuhannya, ia dapat lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting. Prinsip ini menjadi inti dalam praktik Stoisisme: kebebasan sejati bukanlah memiliki semuanya, tetapi tidak diperbudak oleh apa pun. Menyederhanakan hidup berarti membebaskan diri dari beban yang tidak perlu.

Pada akhirnya, pesan Donald Robertson mengajarkan bahwa “kedamaian dan kebahagiaan yang tahan lama lahir dari rasa cukup”, bukan dari penumpukan keinginan. Menerapkan prinsip “membutuhkan lebih sedikit” bukan berarti menolak kenikmatan dunia, tetapi memahami batasan yang sehat antara kebutuhan dan keinginan. Dengan cara hidup seperti ini, seseorang dapat merasakan kehidupan yang lebih ringan, lebih terkendali, dan lebih bermakna. Pesan ini relevan bagi siapa pun yang ingin keluar dari tekanan kehidupan modern dan menemukan kembali inti kebahagiaan yang sederhana namun mendalam.

Ketika Jiwa Kehilangan Arah

Dalam tradisi keilmuan dan tasawuf Islam, para ulama tidak hanya berbicara tentang kec...