Halaman

Sabtu, 31 Oktober 2026

Ketika Keinginan Lebih Melelahkan daripada Kehidupan

Ada kalanya seseorang memiliki pekerjaan yang baik, keluarga yang menyayanginya, penghasilan yang cukup, serta berbagai pencapaian yang dahulu pernah menjadi impiannya, tetapi tetap merasa hidupnya belum memuaskan. Ia terus mengejar sesuatu, menyelesaikan satu urusan, kemudian menemukan urusan lain yang harus dicapai. Ketika satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan berikutnya yang terasa sama pentingnya. Dalam keadaan seperti inilah kalam hikmah yang dinisbatkan kepada KH. Baha'uddin Nursalim (Gus Baha'), "Kadang yang membuat kita lelah bukan hidup, tapi keinginan kita yang tidak ada habisnya," menemukan makna yang mendalam. Ungkapan ini mengajak kita melihat bahwa sumber kelelahan manusia tidak selalu berasal dari beratnya keadaan, tetapi terkadang dari pikiran dan hati yang terus menuntut lebih dari apa yang sedang dijalani. Ada perbedaan antara menjalani kehidupan dengan penuh semangat dan menjalani kehidupan dengan perasaan selalu kekurangan. Orang yang pertama menikmati proses dan berusaha mencapai tujuan, sedangkan orang yang kedua sering kali kehilangan kesempatan menikmati apa yang telah dimilikinya karena pikirannya terus tertuju pada sesuatu yang belum berhasil diperoleh.

Keinginan pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Manusia membutuhkan cita-cita, harapan, dan dorongan untuk memperbaiki kehidupannya. Tanpa keinginan, seseorang mungkin kehilangan motivasi untuk belajar, bekerja, berkarya, dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. Namun, persoalan muncul ketika keinginan tidak lagi memiliki batas dan berubah menjadi tuntutan yang harus selalu dipenuhi. Kita ingin penghasilan lebih besar, jabatan lebih tinggi, rumah lebih bagus, penghargaan lebih banyak, serta pengakuan dari orang lain. Ironisnya, setelah semua itu diperoleh, kebahagiaan yang diharapkan sering kali hanya bertahan sebentar sebelum muncul standar baru yang harus dikejar. Kita kemudian terjebak dalam perlombaan yang tidak pernah memiliki garis akhir. Bahkan, kehidupan orang lain yang terlihat lebih berhasil sering dijadikan ukuran untuk menilai kekurangan diri sendiri. Akibatnya, apa yang dahulu dianggap sebagai pencapaian luar biasa perlahan kehilangan nilainya karena kita terlalu sibuk membandingkannya dengan sesuatu yang belum dimiliki. Di sinilah letak persoalan sesungguhnya: bukan pada banyaknya keinginan semata, melainkan pada ketidakmampuan mengendalikan keinginan sehingga kebahagiaan selalu ditempatkan di masa depan.

Lebih jauh, ungkapan tersebut bukan berarti manusia harus berhenti berusaha, mengubur cita-cita, atau menerima semua keadaan tanpa melakukan perubahan. Ada perbedaan mendasar antara menerima kenyataan dan menyerah terhadap kehidupan. Seseorang tetap boleh memiliki ambisi, bekerja keras, membangun usaha, mengejar pendidikan, dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik. Namun, ia perlu memahami bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan, tidak semua harapan harus terwujud sesuai waktu yang diinginkan, dan tidak semua keberhasilan dapat diukur melalui materi maupun pengakuan sosial. Ada saatnya seseorang perlu mengevaluasi kembali tujuan hidupnya: apakah sesuatu benar-benar dibutuhkan atau hanya diinginkan karena melihat orang lain memilikinya? Apakah perjuangan yang dilakukan membawa kehidupan menjadi lebih bermakna atau justru mengorbankan kesehatan, hubungan keluarga, ketenangan batin, dan waktu untuk beribadah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena manusia sering kali terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa mempertimbangkan harga yang harus dibayar untuk mendapatkannya. Jangan sampai demi memperoleh kehidupan yang dianggap sempurna, seseorang justru kehilangan kemampuan menikmati kehidupan yang sebenarnya sudah cukup baik. Dengan demikian, mengendalikan keinginan bukanlah bentuk kelemahan, melainkan kemampuan menentukan mana yang layak diperjuangkan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.

Dalam perspektif Islam, pesan tersebut memiliki kedekatan dengan nilai qana'ah, zuhud, syukur, dan tawakal. Qana'ah mengajarkan kemampuan merasa cukup atas pemberian Allah tanpa menghilangkan semangat untuk berikhtiar, sedangkan zuhud mengajarkan agar dunia tidak menguasai hati, meskipun seseorang tetap bekerja dan memanfaatkan kehidupan dunia dengan sebaik-baiknya. Dalam pembahasan tasawuf, persoalan keterikatan batin terhadap dunia bahkan dipandang lebih sulit daripada sekadar meninggalkan kesenangan dunia secara lahiriah. Artinya, seseorang tidak harus menjadi miskin untuk belajar hidup sederhana, tidak harus kehilangan jabatan untuk memahami kerendahan hati, dan tidak harus mengalami kegagalan untuk belajar menerima ketentuan Allah. Yang perlu dibangun adalah kemampuan menempatkan keinginan secara proporsional: berusaha tanpa diperbudak ambisi, memiliki sesuatu tanpa merasa paling berharga karenanya, serta menerima kekurangan tanpa kehilangan harapan. Pada akhirnya, hikmah dari ungkapan tersebut bukan mengajak kita memiliki sedikit keinginan, melainkan mengajarkan agar keinginan tidak mengambil seluruh ruang dalam kehidupan. Sebab, kehidupan yang bermakna bukan kehidupan ketika semua yang kita inginkan berhasil dimiliki, melainkan ketika kita mampu memperjuangkan apa yang penting, mensyukuri apa yang telah hadir, dan tetap memiliki ketenangan meskipun ada hal-hal yang belum menjadi milik kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tanah yang Tak Berpindah, Manfaat yang Melintasi Generasi: Memaknai Wakaf Benda Tidak Bergerak dalam Islam

Sebidang tanah dapat tetap berdiri di tempat yang sama selama puluhan tahun, tetapi manfaat yang dihasilkannya bisa berubah mengikuti kebutu...