Ada kalanya
seseorang memiliki pekerjaan yang baik, keluarga yang menyayanginya,
penghasilan yang cukup, serta berbagai pencapaian yang dahulu pernah menjadi
impiannya, tetapi tetap merasa hidupnya belum memuaskan. Ia terus mengejar
sesuatu, menyelesaikan satu urusan, kemudian menemukan urusan lain yang harus
dicapai. Ketika satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan berikutnya yang
terasa sama pentingnya. Dalam keadaan seperti inilah kalam hikmah yang
dinisbatkan kepada KH. Baha'uddin Nursalim (Gus Baha'), "Kadang yang
membuat kita lelah bukan hidup, tapi keinginan kita yang tidak ada habisnya,"
menemukan makna yang mendalam. Ungkapan ini mengajak kita melihat bahwa sumber
kelelahan manusia tidak selalu berasal dari beratnya keadaan, tetapi terkadang
dari pikiran dan hati yang terus menuntut lebih dari apa yang sedang dijalani.
Ada perbedaan antara menjalani kehidupan dengan penuh semangat dan menjalani
kehidupan dengan perasaan selalu kekurangan. Orang yang pertama menikmati
proses dan berusaha mencapai tujuan, sedangkan orang yang kedua sering kali
kehilangan kesempatan menikmati apa yang telah dimilikinya karena pikirannya
terus tertuju pada sesuatu yang belum berhasil diperoleh.
Keinginan pada
dasarnya bukan sesuatu yang salah. Manusia membutuhkan cita-cita, harapan, dan
dorongan untuk memperbaiki kehidupannya. Tanpa keinginan, seseorang mungkin
kehilangan motivasi untuk belajar, bekerja, berkarya, dan memberikan kehidupan
yang lebih baik bagi keluarganya. Namun, persoalan muncul ketika keinginan
tidak lagi memiliki batas dan berubah menjadi tuntutan yang harus selalu
dipenuhi. Kita ingin penghasilan lebih besar, jabatan lebih tinggi, rumah lebih
bagus, penghargaan lebih banyak, serta pengakuan dari orang lain. Ironisnya,
setelah semua itu diperoleh, kebahagiaan yang diharapkan sering kali hanya
bertahan sebentar sebelum muncul standar baru yang harus dikejar. Kita kemudian
terjebak dalam perlombaan yang tidak pernah memiliki garis akhir. Bahkan, kehidupan
orang lain yang terlihat lebih berhasil sering dijadikan ukuran untuk menilai
kekurangan diri sendiri. Akibatnya, apa yang dahulu dianggap sebagai pencapaian
luar biasa perlahan kehilangan nilainya karena kita terlalu sibuk
membandingkannya dengan sesuatu yang belum dimiliki. Di sinilah letak persoalan
sesungguhnya: bukan pada banyaknya keinginan semata, melainkan pada
ketidakmampuan mengendalikan keinginan sehingga kebahagiaan selalu ditempatkan
di masa depan.
Lebih jauh, ungkapan tersebut bukan berarti manusia harus berhenti berusaha, mengubur cita-cita, atau menerima semua keadaan tanpa melakukan perubahan. Ada perbedaan mendasar antara menerima kenyataan dan menyerah terhadap kehidupan. Seseorang tetap boleh memiliki ambisi, bekerja keras, membangun usaha, mengejar pendidikan, dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik. Namun, ia perlu memahami bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan, tidak semua harapan harus terwujud sesuai waktu yang diinginkan, dan tidak semua keberhasilan dapat diukur melalui materi maupun pengakuan sosial. Ada saatnya seseorang perlu mengevaluasi kembali tujuan hidupnya: apakah sesuatu benar-benar dibutuhkan atau hanya diinginkan karena melihat orang lain memilikinya? Apakah perjuangan yang dilakukan membawa kehidupan menjadi lebih bermakna atau justru mengorbankan kesehatan, hubungan keluarga, ketenangan batin, dan waktu untuk beribadah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena manusia sering kali terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa mempertimbangkan harga yang harus dibayar untuk mendapatkannya. Jangan sampai demi memperoleh kehidupan yang dianggap sempurna, seseorang justru kehilangan kemampuan menikmati kehidupan yang sebenarnya sudah cukup baik. Dengan demikian, mengendalikan keinginan bukanlah bentuk kelemahan, melainkan kemampuan menentukan mana yang layak diperjuangkan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.
Dalam perspektif Islam, pesan tersebut memiliki kedekatan dengan nilai qana'ah, zuhud, syukur, dan tawakal. Qana'ah mengajarkan kemampuan merasa cukup atas pemberian Allah tanpa menghilangkan semangat untuk berikhtiar, sedangkan zuhud mengajarkan agar dunia tidak menguasai hati, meskipun seseorang tetap bekerja dan memanfaatkan kehidupan dunia dengan sebaik-baiknya. Dalam pembahasan tasawuf, persoalan keterikatan batin terhadap dunia bahkan dipandang lebih sulit daripada sekadar meninggalkan kesenangan dunia secara lahiriah. Artinya, seseorang tidak harus menjadi miskin untuk belajar hidup sederhana, tidak harus kehilangan jabatan untuk memahami kerendahan hati, dan tidak harus mengalami kegagalan untuk belajar menerima ketentuan Allah. Yang perlu dibangun adalah kemampuan menempatkan keinginan secara proporsional: berusaha tanpa diperbudak ambisi, memiliki sesuatu tanpa merasa paling berharga karenanya, serta menerima kekurangan tanpa kehilangan harapan. Pada akhirnya, hikmah dari ungkapan tersebut bukan mengajak kita memiliki sedikit keinginan, melainkan mengajarkan agar keinginan tidak mengambil seluruh ruang dalam kehidupan. Sebab, kehidupan yang bermakna bukan kehidupan ketika semua yang kita inginkan berhasil dimiliki, melainkan ketika kita mampu memperjuangkan apa yang penting, mensyukuri apa yang telah hadir, dan tetap memiliki ketenangan meskipun ada hal-hal yang belum menjadi milik kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar