Pernahkah kita merenungkan,
untuk siapa sebenarnya ilmu yang selama ini kita pelajari, ajarkan, dan
sebarkan kepada orang lain? Apakah kita benar-benar ingin menghadirkan manfaat,
menerangi kebodohan, dan membimbing sesama menuju kebaikan, atau tanpa disadari
justru mengharapkan pengakuan, kekaguman, dan pujian manusia? Di tengah
kehidupan yang semakin menempatkan popularitas, penghargaan, dan pengakuan
sosial sebagai ukuran keberhasilan, pertanyaan tersebut menjadi sangat penting
untuk direnungkan. Tidak sedikit orang berlomba menunjukkan keluasan
pengetahuan, kecerdasan berbicara, dan kemampuan memberikan nasihat, tetapi
terkadang lupa memeriksa ketulusan niat yang tersembunyi di dalam hatinya.
Dalam konteks inilah, kalam hikmah yang dinisbatkan kepada ulama besar tasawuf,
Syekh Abu Hasan as-Syadzili, menghadirkan pelajaran spiritual yang sangat
mendalam: “Janganlah kamu menyebarkan ilmu agar manusia membenarkanmu, atau
memuji atau mengapresiasi kamu. Tetapi sebarkanlah ilmu agar Allah
membenarkanmu.” Pokok ungkapan ini juga tercatat dalam tafsir Ibnu Ajibah,
Al-Bahr al-Madid, yang menekankan pentingnya menyampaikan ilmu bukan demi
pembenaran manusia, melainkan dengan orientasi kepada Allah. Kalam hikmah
tersebut mengingatkan bahwa kemuliaan ilmu tidak semata-mata terletak pada
seberapa banyak orang mengagumi pemiliknya, tetapi pada kebenaran, ketulusan,
dan kebermanfaatannya. Sebab, ilmu yang sejati bukanlah sarana untuk
meninggikan diri di hadapan manusia, melainkan jalan untuk semakin merendahkan
hati di hadapan Allah Swt.
Dalam
pandangan Islam, ilmu merupakan amanah sekaligus karunia Allah Swt. yang harus
dijaga, diamalkan, dan disampaikan dengan penuh tanggung jawab. Seseorang yang
memperoleh pengetahuan tidak semestinya menjadikan ilmunya sebagai alat untuk
membangun kesombongan, merendahkan orang lain, atau memperoleh kedudukan
melalui kekaguman manusia. Sebaliknya, ilmu hendaknya menjadi sarana
mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki akhlak, serta memberikan manfaat
bagi kehidupan. Kalam hikmah Syekh Abu Hasan as-Syadzili menekankan pentingnya
ikhlas, yaitu memurnikan niat agar setiap kebaikan dilakukan dengan mengharap
ridha Allah, bukan menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama. Prinsip ini
sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 yang menegaskan
perintah untuk beribadah kepada-Nya dengan penuh keikhlasan:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ
ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah
dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan
salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).” Rasulullah
Saw. juga mengajarkan melalui hadis riwayat Imam al-Bukhari bahwa setiap amal
bergantung pada niatnya. Dengan demikian, dua orang yang menyampaikan ilmu yang
sama dapat memiliki orientasi batin yang berbeda. Seseorang mungkin berbicara
untuk memperoleh penghargaan, sedangkan yang lain menyampaikan pengetahuan
karena berharap orang lain memahami kebenaran dan memperoleh manfaat. Perbedaan
tersebut mengajarkan bahwa kualitas amal tidak cukup dinilai dari penampilan
luarnya, tetapi juga berkaitan erat dengan tujuan yang melandasinya. Ilmu yang
disampaikan dengan keikhlasan tidak membutuhkan tepuk tangan untuk menjadi
bermakna, karena tujuan utamanya bukan mendapatkan pengakuan manusia, melainkan
mengharap ridha Allah dan menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Salah satu ujian terbesar bagi
orang yang memiliki ilmu adalah munculnya keinginan untuk selalu dianggap
benar, dihormati, dipuji, dan diakui kehebatannya. Keinginan tersebut dapat
tumbuh secara perlahan, bahkan ketika seseorang pada awalnya memiliki niat yang
baik. Ketika pujian menjadi sesuatu yang sangat diharapkan, seseorang mungkin
mulai merasa kecewa apabila pendapatnya tidak diperhatikan, tersinggung ketika
dikritik, atau merasa tersaingi ketika orang lain memiliki pengetahuan yang
lebih luas. Dalam ajaran akhlak dan tasawuf, keadaan ini berkaitan dengan
bahaya riya’ (beramal agar dilihat manusia), sum'ah (mencari
ketenaran melalui amal), dan ‘ujub (mengagumi kelebihan diri sendiri).
Terlebih pada era digital, ketika ilmu dan nasihat dapat disebarluaskan melalui
media sosial, jumlah pengikut, tanda suka, komentar, serta apresiasi publik
terkadang menjadi ukuran yang lebih diperhatikan daripada ketepatan informasi
dan manfaat yang dihasilkan. Padahal, popularitas bukanlah jaminan kebenaran,
sebagaimana sedikitnya apresiasi tidak selalu menunjukkan bahwa suatu kebaikan
tidak bernilai. Namun, menerima pujian atau penghargaan bukan dengan sendirinya
merupakan kesalahan, selama hal tersebut tidak menggeser keikhlasan dan
tanggung jawab dalam menyampaikan ilmu. Orang yang benar-benar mencintai ilmu
akan tetap bersedia belajar, menerima koreksi, dan mengakui kekeliruan meskipun
tindakannya tidak mendatangkan pujian. Sebab, salah satu tanda kedewasaan
seorang berilmu adalah ketika ia lebih mencintai kebenaran daripada keinginan
untuk selalu dianggap benar, serta lebih mengutamakan manfaat ilmunya daripada
kemasyhuran namanya.
Makna mendalam dari ungkapan “sebarkanlah ilmu agar Allah membenarkanmu” dapat dipahami sebagai ajakan untuk memastikan bahwa ilmu yang disampaikan berlandaskan kebenaran, diniatkan secara tulus, dan dijalankan sesuai tuntunan-Nya. Ungkapan tersebut bukan berarti seseorang boleh menganggap setiap pendapat pribadinya pasti dibenarkan oleh Allah, melainkan mengingatkan agar ia senantiasa mencari kebenaran dengan rendah hati dan mengharapkan penerimaan amal di sisi-Nya. Oleh karena itu, menyebarkan ilmu tidak cukup hanya dilakukan melalui kefasihan berbicara, kecerdasan berargumentasi, atau kemampuan menjelaskan berbagai persoalan. Ilmu harus disertai kejujuran intelektual, ketepatan sumber, kesediaan menerima perbedaan pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan, serta kesungguhan untuk mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan. Seorang pendidik, misalnya, hendaknya tidak hanya berusaha agar murid-murid mengagumi kepandaiannya, tetapi juga memastikan bahwa pengetahuan yang disampaikan membantu mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Demikian pula seorang ulama, akademisi, pemimpin, atau siapa pun yang memiliki kesempatan berbagi pengetahuan perlu menjadikan ilmunya sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat, bukan semata-mata alat membangun citra pribadi. Ketika ilmu disampaikan dengan kasih sayang, kerendahan hati, dan tanggung jawab, penerimanya tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga dapat merasakan keteladanan akhlak. Orang berilmu yang mulia bukanlah mereka yang selalu ingin terlihat paling mengetahui, melainkan mereka yang menyadari keterbatasannya, bersedia terus belajar, dan menjadikan pengetahuannya sebagai jalan untuk mengabdi kepada Allah serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan.
Dengan demikian, kalam hikmah Syekh Abu Hasan as-Syadzili mengajak kita melakukan perenungan mendalam tentang hubungan antara ilmu, keikhlasan, dan tujuan kehidupan. Setiap pengetahuan yang kita miliki merupakan amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan, sehingga menyebarkannya tidak seharusnya hanya didorong oleh keinginan memperoleh pujian, penghormatan, atau pengakuan masyarakat. Sebaliknya, jadikanlah ilmu sebagai jalan untuk menanam kebaikan, menguatkan keimanan, memperbaiki akhlak, dan membantu sesama menemukan pemahaman yang benar. Jangan merasa lebih mulia hanya karena memiliki pengetahuan yang belum dimiliki orang lain, sebab semakin luas ilmu seseorang, semestinya semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya. Jangan pula berhenti menyampaikan kebaikan hanya karena tidak mendapatkan apresiasi, selama ilmu yang disampaikan benar, bermanfaat, dan dilakukan dengan cara yang bijaksana. Pujian manusia dapat datang dan pergi, penghargaan dapat berubah mengikuti keadaan, dan popularitas dapat memudar seiring berjalannya waktu. Namun, kebaikan yang ditanam melalui ilmu berpotensi terus memberikan manfaat jauh melampaui kehidupan seseorang. Karena itu, sebelum berbicara, mengajar, menulis, atau membagikan pengetahuan, tanyakanlah kepada hati: apakah semua ini dilakukan demi kebenaran dan ridha Allah, atau sekadar ingin terlihat hebat di mata manusia? “Janganlah menjadikan ilmu sebagai tangga untuk meninggikan diri di hadapan manusia, tetapi jadikanlah ilmu sebagai jalan untuk merendahkan hati di hadapan Allah. Sebarkanlah kebenaran meskipun tidak semua orang memujimu, ajarkanlah kebaikan meskipun tidak semua orang mengenang namamu, dan teruslah berbagi ilmu meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan. Sebab, kemuliaan seorang berilmu bukan ditentukan oleh banyaknya manusia yang membenarkannya, melainkan oleh ketulusan niat, kebenaran amal, dan ridha Allah yang senantiasa diharapkannya.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar