Halaman

Kamis, 15 Oktober 2026

Menjadi Kaya dalam Pengetahuan, Mulia dalam Kepribadian

Pernahkah kita merenungkan mengapa sebagian manusia begitu sibuk memperindah penampilan, memperbesar kekayaan, dan mengejar kemewahan, tetapi terkadang melupakan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu memperkaya pikiran, memperluas pengetahuan, dan memperindah akhlak? Di tengah kehidupan modern yang semakin menempatkan kemewahan materi sebagai simbol keberhasilan, manusia sering kali terjebak dalam perlombaan untuk terlihat lebih kaya, lebih hebat, dan lebih terhormat daripada orang lain. Rumah yang megah, kendaraan yang mahal, pakaian bermerek, dan berbagai simbol status sosial terkadang dianggap sebagai ukuran utama kesuksesan. Padahal, kemuliaan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang dimilikinya, melainkan juga oleh keluasan pengetahuan, kedalaman pemikiran, kebijaksanaan, dan manfaat yang mampu diberikannya kepada sesama. Dalam konteks inilah, ungkapan penuh makna yang dinisbatkan kepada Prof. Dr. Abdul Mu'ti menjadi sangat relevan untuk direnungkan: “Hidup harus sederhana, ilmu harus mewah.” Pesan yang juga diberitakan sebagai nasihat beliau ini mengandung filosofi tentang keseimbangan antara kesahajaan hidup dan kesungguhan mengembangkan pengetahuan. Ungkapan tersebut mengingatkan bahwa kehidupan yang berkualitas tidak harus ditandai dengan kemewahan materi, tetapi semestinya dibangun melalui kekayaan intelektual, kematangan spiritual, dan keluhuran budi pekerti. Sebab, kemewahan dunia dapat membuat seseorang terlihat terhormat di mata manusia, tetapi ilmu yang bermanfaat dan akhlak yang mulia dapat menjadikan kehidupannya benar-benar bermakna.

Makna “hidup harus sederhana” bukanlah ajakan untuk menolak kemajuan, menghindari kesejahteraan, atau menganggap kekayaan sebagai sesuatu yang buruk. Kesederhanaan justru merupakan kemampuan seseorang mengelola keinginan, membedakan kebutuhan dengan kemewahan yang tidak diperlukan, serta menjalani kehidupan secara proporsional tanpa dikendalikan oleh gengsi dan tuntutan pengakuan sosial. Orang yang sederhana tidak selalu berarti orang yang memiliki sedikit harta, sebagaimana orang kaya belum tentu hidup berlebihan. Kesederhanaan merupakan pilihan sikap yang mencerminkan kedewasaan dalam memandang kehidupan. Seseorang yang memiliki jabatan tinggi, kekayaan berlimpah, atau kedudukan terhormat tetap dapat menjalani kehidupan dengan rendah hati, tidak memamerkan kelebihan, dan tidak merendahkan orang lain. Kesederhanaan mengajarkan kita untuk mensyukuri apa yang telah dimiliki, menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab, serta menghindari kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan pencapaian orang lain. Ketika seseorang mampu hidup sederhana, ia memiliki ruang yang lebih luas untuk memusatkan perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting, seperti pendidikan, keluarga, kesehatan, ibadah, dan pengabdian kepada masyarakat. Kesederhanaan bukanlah tanda ketidakmampuan untuk hidup mewah, melainkan cerminan kemampuan mengendalikan diri agar nilai kehidupan tidak ditentukan oleh kemewahan yang dimiliki. Sebab, kekayaan sejati bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga tentang seberapa bijaksana seseorang mensyukuri dan memanfaatkan apa yang telah dimilikinya.

Sementara itu, ungkapan “ilmu harus mewah” mengandung pesan bahwa manusia tidak boleh merasa cukup dengan pengetahuan yang terbatas, pemikiran yang dangkal, atau pemahaman yang diperoleh tanpa proses pembelajaran yang sungguh-sungguh. Kata mewah dalam konteks ini tidak harus dimaknai sebagai ilmu yang mahal atau hanya dapat diperoleh oleh kalangan tertentu, melainkan sebagai pengetahuan yang luas, mendalam, berkualitas, terus diperbarui, dan memiliki nilai manfaat yang tinggi. Seseorang boleh memilih hidup dengan fasilitas yang sederhana, tetapi hendaknya memiliki semangat belajar yang besar, wawasan yang terbuka, kemampuan berpikir kritis, dan keinginan untuk terus mengembangkan dirinya. Kemewahan ilmu dapat diwujudkan melalui kebiasaan membaca, meneliti, berdiskusi, menguji kebenaran informasi, menghargai perbedaan pandangan, serta mempelajari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Gelar akademik yang tinggi tentu merupakan pencapaian yang patut dihargai, tetapi keluasan ilmu tidak berhenti pada banyaknya ijazah, sertifikat, atau penghargaan yang dimiliki. Ilmu yang berkualitas juga tercermin dari kemampuan memahami persoalan secara mendalam, mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan menghasilkan solusi bagi kehidupan. Oleh karena itu, memperkaya ilmu merupakan investasi jangka panjang yang tidak kehilangan nilai hanya karena perubahan keadaan ekonomi atau kedudukan sosial. Harta dapat berkurang ketika digunakan, tetapi ilmu yang terus dipelajari, diamalkan, dan dibagikan justru dapat berkembang serta memberikan manfaat yang semakin luas. Maka, jangan merasa cukup hanya karena telah memiliki pengetahuan, sebab semakin banyak seseorang belajar, semakin besar pula kesadarannya bahwa masih begitu luas ilmu yang belum diketahuinya.

Pesan “hidup harus sederhana, ilmu harus mewah” sesungguhnya mengajarkan keseimbangan antara kualitas kehidupan lahiriah dan kedalaman kualitas diri. Kesederhanaan membentuk pribadi yang rendah hati, sedangkan ilmu yang luas membangun kemampuan untuk berpikir, memahami, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Keduanya harus berjalan beriringan agar seseorang tidak terjebak dalam dua keadaan yang sama-sama perlu dihindari, yaitu kemewahan materi tanpa kedalaman pengetahuan dan keluasan ilmu tanpa keluhuran akhlak. Orang yang memiliki ilmu tinggi, tetapi menggunakan pengetahuannya untuk menyombongkan diri, merendahkan orang lain, atau sekadar mengejar popularitas, belum sepenuhnya mencerminkan kemuliaan ilmu. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana dan terus mengembangkan pengetahuan dengan penuh tanggung jawab dapat menjadi teladan yang sangat berharga bagi lingkungannya. Prinsip tersebut relevan diterapkan dalam dunia pendidikan, kepemimpinan, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat. Seorang guru, misalnya, tidak harus menampilkan kemewahan untuk memperoleh penghormatan murid-muridnya, tetapi perlu terus memperkaya pengetahuan, meningkatkan kompetensi, dan memperlihatkan keteladanan dalam perilaku. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kedudukan tinggi, tetapi harus mempunyai wawasan, integritas, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap kepentingan masyarakat. Demikian pula seorang akademisi atau cendekiawan hendaknya tidak sekadar mengejar pengakuan intelektual, melainkan memastikan bahwa pengetahuannya mampu menjawab persoalan nyata. Ilmu yang tinggi seharusnya tidak membuat seseorang semakin jauh dari masyarakat, tetapi justru menjadikannya semakin rendah hati, terbuka terhadap pembelajaran, dan bersungguh-sungguh menghadirkan manfaat bagi sesama. Sebab, kemewahan ilmu menemukan makna terbaiknya ketika bertemu dengan kesederhanaan sikap dan kemuliaan akhlak.

Dengan demikian, kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Prof. Dr. Abdul Mu'ti mengajak kita meninjau kembali ukuran keberhasilan dan kemuliaan dalam menjalani kehidupan. Jangan sampai kita begitu bersemangat mengejar kemewahan yang dapat dilihat orang lain, tetapi mengabaikan kekayaan pengetahuan dan kualitas kepribadian yang sesungguhnya jauh lebih menentukan nilai diri kita. Tidak ada yang salah dengan keinginan memiliki kehidupan yang sejahtera, rumah yang nyaman, pekerjaan yang baik, dan fasilitas yang memadai. Namun, semua itu hendaknya tidak membuat kita melupakan kewajiban untuk terus belajar, memperbaiki akhlak, mengembangkan kemampuan, dan memberikan kontribusi bagi kehidupan. Jadikanlah kesederhanaan sebagai cara menjaga kerendahan hati, ilmu sebagai sarana memperluas pandangan, dan akhlak sebagai pedoman menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab. Jangan hanya berlomba memperindah rumah, tetapi lupa memperindah pikiran dengan ilmu. Jangan hanya berusaha memperkaya harta, tetapi membiarkan wawasan dan pemahaman berhenti berkembang. Jangan pula merasa lebih mulia karena gelar atau jabatan, sebab nilai seseorang juga ditentukan oleh bagaimana pengetahuan dan kedudukannya digunakan untuk menghadirkan kebaikan. Teruslah belajar sepanjang hayat, sekalipun usia bertambah, jabatan berubah, dan keadaan kehidupan tidak selalu sesuai harapan. “Hiduplah sederhana agar hatimu tidak diperbudak oleh kemewahan dunia, tetapi perkayalah ilmumu agar pikiranmu tidak terbelenggu oleh keterbatasan pengetahuan. Jangan sibuk menjadi manusia yang terlihat kaya karena harta, tetapi berusahalah menjadi pribadi yang benar-benar kaya karena ilmu, bijaksana karena pengalaman, dan mulia karena akhlak. Sebab, kemewahan yang paling berharga bukanlah apa yang melekat pada penampilan, melainkan pengetahuan yang menerangi pikiran, kebijaksanaan yang membimbing tindakan, dan kebaikan yang terus mengalir melalui pengabdian.” Itulah pesan kehidupan yang dapat kita petik: sederhanalah dalam penampilan, kayalah dalam pengetahuan, rendah hatilah dalam kedudukan, dan jadilah luar biasa melalui kebermanfaatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Kaya dalam Pengetahuan, Mulia dalam Kepribadian

Pernahkah kita merenungkan mengapa sebagian manusia begitu sibuk memperindah penampilan, memperbesar kekayaan, dan mengejar kemewahan, tet...