Dalam
perjalanan kehidupan, waktu adalah anugerah terbesar yang Allah titipkan kepada
manusia. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali, sehingga orang
yang memahami nilai waktu akan berusaha mengisinya dengan amal yang mendekatkan
diri kepada Allah. Dalam Dars Abuya Shaleh Alaydrus disampaikan sebuah nasihat
penuh hikmah bahwa bagi siapa saja yang merasa banyak kesempatan dalam hidupnya
telah terlewatkan, masih terdapat jalan untuk memperbaiki dan menambalnya,
yaitu dengan menjaga waktu-waktu mulia yang memiliki keutamaan besar. Empat
waktu yang disebutkan tersebut menjadi kesempatan istimewa bagi seorang hamba
untuk memperbanyak ibadah, memohon rahmat, memperbaiki hubungan dengan Allah,
serta menghidupkan kembali semangat spiritual dalam menjalani kehidupan.
Waktu pertama
yang sangat mulia adalah qabla fajr, yaitu waktu sebelum masuk atau
menjelang waktu Shubuh. Waktu ini merupakan salah satu saat yang penuh
keberkahan karena Allah memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk mendekat,
berdoa, beristighfar, dan memohon rahmat-Nya. Suasana malam yang tenang
menjelang fajar menjadi momen yang sangat berharga untuk bermunajat dengan
penuh ketulusan. Pada waktu ini, seseorang dapat meninggalkan sejenak kesibukan
dunia dan menghadirkan hati sepenuhnya kepada Allah. Menjaga waktu sebelum Shubuh
berarti melatih diri untuk bangun dari kelalaian dan membuka hari dengan
hubungan yang kuat bersama Sang Pencipta.
Waktu kedua
adalah ba’da fajar, yaitu setelah shalat Shubuh hingga terbitnya
matahari. Waktu ini memiliki nilai yang tinggi karena menjadi awal perjalanan
aktivitas seorang manusia dalam satu hari. Imam Al-Ghazali memberikan arahan
agar waktu antara setelah Shubuh hingga terbit matahari diisi dengan berbagai
amalan yang bermanfaat, seperti tilawah Al-Qur’an, tafakur, muthala’ah kitab,
dan membaca wirid. Tilawah Al-Qur’an memberikan ketenangan hati, tafakur
melatih kesadaran terhadap kebesaran Allah, muthala’ah kitab menambah wawasan
keilmuan, sedangkan wirid menjadi sarana untuk selalu mengingat Allah. Dengan
mengisi waktu pagi dengan kebaikan, seseorang akan mendapatkan keberkahan dalam
aktivitasnya sepanjang hari.
Waktu ketiga
yang dianjurkan untuk dijaga adalah sebelum terbenamnya matahari. Waktu
menjelang Maghrib merupakan salah satu kesempatan berharga untuk memperbanyak
doa dan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hikmah yang disampaikan,
disebutkan bahwa Sayyidah Fatimah az-Zahra pada hari Jumat sebelum terbenamnya
matahari menghadap kiblat dan memperbanyak doa. Hal ini menunjukkan betapa
mulianya waktu tersebut untuk bermunajat dan berharap kepada Allah. Seorang
hamba yang memanfaatkan waktu ini dengan doa, istighfar, dan mengingat Allah
akan memiliki kesempatan besar untuk memperkuat harapan, memperbaiki keadaan,
serta memohon kebaikan bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Waktu keempat adalah antara Maghrib dan Isya’, yaitu waktu yang berada di antara dua shalat malam. Waktu ini sering kali menjadi kesempatan yang terlewatkan karena sebagian orang sibuk dengan aktivitas dunia setelah menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Padahal, waktu antara Maghrib dan Isya’ dapat diisi dengan berbagai amalan seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, menghadiri majelis ilmu, berdoa, dan melakukan ibadah lainnya. Menghidupkan waktu ini menjadi bentuk kesungguhan seorang hamba dalam mencari keberkahan dan menjaga kedekatan dengan Allah di tengah kesibukan kehidupan.
Dengan demikian, pesan dari Dars Abuya Shaleh Alaydrus tentang empat waktu mulia tersebut mengajarkan bahwa kesempatan untuk memperbaiki diri selalu terbuka selama seseorang masih memiliki umur. Masa lalu yang mungkin telah terlewat tidak menjadi penghalang untuk kembali mendekat kepada Allah, karena setiap waktu yang dimanfaatkan dengan kebaikan memiliki nilai yang sangat besar. Menjaga qabla fajr, ba’da fajr, sebelum terbenam matahari, serta antara Maghrib dan Isya’ adalah bentuk ikhtiar seorang hamba dalam meraih rahmat, keberkahan, dan kedekatan dengan Allah. Waktu yang dijaga dengan ibadah akan menjadi investasi berharga yang menemani perjalanan manusia menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar