Halaman

Kamis, 29 Oktober 2026

Merawat Ikhlas di Tengah Dahaga Pengakuan

Ada kelelahan yang tidak selalu lahir dari beratnya pekerjaan, tetapi dari keinginan agar setiap pekerjaan diketahui, dihargai, dan mendapatkan pengakuan. Seseorang mungkin telah melakukan banyak kebaikan, membantu sesama, mengabdikan waktunya untuk kepentingan orang lain, bahkan mengorbankan sesuatu yang berharga. Namun, ketika apa yang dilakukannya tidak memperoleh perhatian atau apresiasi sebagaimana yang diharapkan, muncul perasaan kecewa, tersinggung, bahkan keinginan untuk berhenti berbuat baik. Keadaan ini memperlihatkan betapa mudahnya manusia menggantungkan kepuasan batinnya pada penilaian orang lain. Tanpa disadari, sesuatu yang semula dilakukan atas dasar ketulusan dapat bergeser menjadi usaha memperoleh pengakuan. Dalam konteks inilah, sebuah kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Al-Habib Umar bin Hafidz mengandung pesan yang patut direnungkan: كُنْ عَمَلَكَ لِيًصَدِّقَهُ اللهُ، لاَ تَكُنْ لِيُصَدِّقَهُ الْخَلْقُ yang dimaknai “Jadikan amal perbuatanmu agar diakui Allah, dan jangan jadikan ia sebagai alat untuk membuat manusia mengakuinya.” Ungkapan ini mengajak manusia memeriksa kembali sesuatu yang sering luput dari perhatian ketika melakukan kebaikan, yakni kepada siapa sesungguhnya amal tersebut ditujukan. Sebab, tidak semua perbuatan yang terlihat baik di hadapan manusia berangkat dari niat yang sepenuhnya bersih, sebagaimana tidak semua kebaikan yang luput dari perhatian manusia kehilangan nilainya di sisi Allah.

Pesan utama kalam hikmah tersebut terletak pada pentingnya keikhlasan sebagai landasan dalam beramal, yakni menempatkan keridhaan Allah sebagai tujuan utama, bukan menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran tertinggi keberhasilan suatu kebaikan. Pengakuan manusia memiliki keterbatasan karena mereka hanya dapat menilai sesuatu berdasarkan apa yang terlihat, terdengar, atau diketahui. Sementara itu, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk niat yang tersembunyi di balik tindakan seseorang. Oleh karena itu, amal yang tampak besar belum tentu memiliki kedudukan yang sama dengan besarnya perhatian yang diperolehnya, sedangkan kebaikan sederhana yang dilakukan dengan ketulusan dapat memiliki nilai yang sangat berarti di sisi Allah. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 110, yang memerintahkan orang yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya agar mengerjakan amal saleh dan tidak mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada-Nya.

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.” Ayat tersebut menegaskan bahwa amal yang diharapkan diterima Allah harus dilandasi niat yang benar dan dilaksanakan sesuai dengan tuntunan agama. Dengan demikian, keikhlasan bukan sekadar persoalan menyembunyikan perbuatan baik, melainkan menjaga agar orientasi batin tetap tertuju kepada Allah, sekalipun perbuatan tersebut diketahui atau disaksikan banyak orang. Manusia boleh memberikan penghargaan atas suatu amal, tetapi penghargaan itu tidak seharusnya menjadi alasan utama mengapa amal tersebut dilakukan.

Dalam kehidupan sehari-hari, menjaga kemurnian niat bukanlah perkara sederhana karena keinginan untuk dihargai merupakan bagian dari kecenderungan manusia yang harus dikelola dengan kesadaran. Seseorang yang mengajar mungkin berharap ilmunya bermanfaat, tetapi pada saat yang sama dapat tergoda untuk mengukur keberhasilannya melalui banyaknya pujian yang diterima. Orang yang bersedekah dapat terdorong oleh kepedulian yang tulus, tetapi juga mungkin merasa perlu memastikan bahwa orang lain mengetahui kemurahan hatinya. Demikian pula seseorang yang mengabdikan diri dalam organisasi, lembaga pendidikan, atau kegiatan sosial dapat mengalami pergeseran orientasi ketika pengakuan pribadi mulai dianggap lebih penting daripada manfaat yang dihasilkan. Di sinilah muncul bahaya riya, yaitu memperlihatkan amal dengan tujuan memperoleh pujian atau kedudukan di hadapan manusia, serta sum'ah, yakni memperdengarkan atau menyebarluaskan amal untuk mendapatkan pengakuan. Rasulullah Saw. telah memperingatkan bahaya memperlihatkan dan memperdengarkan amal demi mendapatkan pujian. Namun, kalam hikmah tersebut tidak berarti bahwa setiap kebaikan harus disembunyikan atau bahwa menyampaikan hasil pekerjaan kepada publik selalu bertentangan dengan keikhlasan. Ada kalanya suatu amal perlu diketahui untuk memberikan teladan, mengajak orang lain berbuat baik, atau memenuhi tanggung jawab dan transparansi. Perbedaannya terletak pada tujuan yang mendasarinya. Memperlihatkan kebaikan agar orang lain memperoleh manfaat berbeda dengan melakukan kebaikan agar diri sendiri memperoleh pujian.

Pada akhirnya, kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Al-Habib Umar bin Hafidz tersebut mengajarkan bahwa kematangan spiritual seseorang tidak semata-mata terlihat dari banyaknya amal yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga niat ketika amal itu memperoleh pujian, menghadapi kritik, atau bahkan tidak mendapatkan perhatian sama sekali. Keikhlasan dapat dilatih dengan membiasakan diri mengajukan pertanyaan sederhana sebelum dan sesudah melakukan kebaikan: apakah perbuatan ini tetap akan saya lakukan apabila tidak seorang pun mengetahuinya? Apakah saya masih bersedia melanjutkan pengabdian apabila orang lain memperoleh penghargaan atas pekerjaan yang telah saya lakukan? Apakah kritik akan saya terima sebagai kesempatan memperbaiki diri, atau justru saya anggap sebagai ancaman terhadap citra pribadi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menilai kesucian hati orang lain, melainkan sebagai sarana muhasabah agar seseorang tidak kehilangan arah dalam perjalanan amalnya. Allah menggambarkan ketulusan orang-orang yang berbuat baik dalam surat Al-Insan ayat 9, yakni mereka memberikan makanan karena mengharapkan keridaan Allah tanpa mengharapkan balasan maupun ucapan terima kasih.

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا

“(Mereka berkata,) “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya demi rida Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih darimu.” Sikap demikian tidak menjadikan seseorang kehilangan semangat ketika dihargai ataupun dipandang sebelah mata, karena keduanya tidak menentukan tujuan utama pengabdiannya. Ia tetap berusaha bekerja dengan baik, bertanggung jawab atas tindakannya, menerima masukan, dan memperbaiki kekurangan, tanpa menjadikan tepuk tangan manusia sebagai ukuran nilai dirinya. Sebab, ada perbedaan mendasar antara berbuat baik agar terlihat sebagai orang baik dan berbuat baik karena meyakini bahwa kebaikan itu memang harus dilakukan. Pada titik inilah keikhlasan menemukan maknanya yang paling dalam: manusia tetap berusaha memberikan yang terbaik, tetapi tidak menyerahkan ketenteraman hatinya kepada penilaian manusia yang senantiasa berubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merawat Ikhlas di Tengah Dahaga Pengakuan

Ada kelelahan yang tidak selalu lahir dari beratnya pekerjaan, tetapi dari keinginan agar setiap pekerjaan diketahui, dihargai, dan mendap...