Ada banyak hal
berharga yang pernah singgah dalam pikiran kita, tetapi tidak semuanya berhasil
tinggal. Nasihat seorang guru yang begitu menyentuh, gagasan yang muncul ketika
merenung, pelajaran hidup yang diperoleh melalui pengalaman, atau pemahaman
mendalam yang tiba-tiba hadir saat membaca, sering kali terasa begitu jelas
ketika pertama kali kita menerimanya. Namun, beberapa waktu kemudian, sebagian
darinya perlahan memudar, bahkan hilang tanpa meninggalkan jejak. Bukan karena
pengetahuan tersebut tidak berharga, melainkan karena manusia memiliki
keterbatasan dalam menjaga apa yang tersimpan dalam ingatannya. Kenyataan
inilah yang tercermin dalam sebuah kalam hikmah yang dinisbatkan kepada
Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi: مَا كُتِبَ قَرَّ وَمَا حُفِظَ
فَرَّ yang berarti, “Apa yang
ditulis akan menetap, sedangkan apa yang hanya dihafal dapat terlepas.”
Ungkapan yang singkat ini mengandung pesan mendalam tentang pentingnya menjaga
ilmu, menghargai pengetahuan, dan menyadari bahwa sesuatu yang dianggap telah
dikuasai belum tentu dapat dipertahankan selamanya dalam ingatan.
Secara
kebahasaan, kata qarra (قَرَّ) mengandung makna menetap, kukuh, atau berada pada tempatnya,
sedangkan kata farra (فَرَّ) berarti
melarikan diri atau terlepas. Kedua kata tersebut menggambarkan perbedaan
antara pengetahuan yang telah diikat melalui tulisan dan pengetahuan yang
semata-mata bergantung pada daya ingat. Menulis merupakan usaha untuk
memberikan tempat yang lebih tetap bagi pengetahuan agar dapat ditemukan,
dipelajari, dan dimanfaatkan kembali ketika diperlukan. Sementara itu,
mengandalkan hafalan tanpa pencatatan menghadirkan risiko bahwa pengetahuan
tersebut akan terlupakan karena perjalanan waktu, bertambahnya kesibukan, atau
melemahnya kemampuan mengingat. Dalam tradisi keilmuan Islam, ungkapan ini juga
dikenal sebagai pepatah yang telah tercatat dalam literatur adab menuntut ilmu. Hal tersebut memperlihatkan bahwa
pesan tentang pentingnya menulis telah lama menjadi bagian dari kesadaran
intelektual para ulama. Dengan demikian, kalam hikmah tersebut bukan sekadar
anjuran untuk rajin mencatat, melainkan pengingat bahwa ilmu merupakan amanah
yang harus dipelihara dengan kesungguhan, bukan hanya diterima dan dibiarkan
bergantung pada ingatan.
Lebih jauh,
hikmah tersebut mengajarkan bahwa menulis bukan hanya kegiatan menyimpan pengetahuan,
melainkan juga proses memperdalam pemahaman. Ketika seseorang mendengarkan
penjelasan, membaca kitab, atau mengikuti sebuah majelis ilmu, ia mungkin
merasa telah memahami seluruh pembahasan yang disampaikan. Akan tetapi, ketika
berusaha menuangkannya kembali ke dalam tulisan, barulah terlihat bagian mana
yang benar-benar dipahami dan bagian mana yang masih memerlukan penjelasan.
Menulis menuntut seseorang untuk memilih gagasan utama, menyusun hubungan
antarpemikiran, membedakan hal yang penting dari yang sekunder, serta
merumuskan kembali pengetahuan dengan bahasa yang lebih teratur. Melalui proses
tersebut, sesuatu yang semula hanya diterima secara pasif berubah menjadi
pemahaman yang diolah secara sadar. Tidak mengherankan apabila para ulama terdahulu
memiliki tradisi pencatatan yang kuat, baik melalui penulisan kitab, penyusunan
syarah, maupun penghimpunan berbagai faedah yang diperoleh dari guru-guru
mereka. Mereka memahami bahwa ilmu yang tidak dijaga berisiko menghilang
bersama berlalunya waktu, sedangkan ilmu yang terdokumentasi memiliki
kesempatan lebih besar untuk terus dikaji, dikritisi, dan dikembangkan oleh
generasi berikutnya.
Meskipun demikian, kalam hikmah ini tidak boleh dipahami sebagai penolakan terhadap pentingnya hafalan. Dalam khazanah pendidikan Islam, hafalan justru menempati kedudukan yang sangat terhormat, terutama dalam pemeliharaan Al-Qur'an, hadis, dan berbagai disiplin ilmu keagamaan. Banyak ulama memiliki kekuatan hafalan yang luar biasa dan menjadikannya sebagai landasan untuk memahami serta mengembangkan ilmu. Persoalan yang hendak ditekankan dalam ungkapan tersebut bukanlah kelemahan hafalan sebagai metode belajar, melainkan keterbatasan manusia apabila hanya menggantungkan pemeliharaan pengetahuan pada satu kemampuan. Hafalan menjaga ilmu agar senantiasa hadir dalam diri seseorang, sedangkan tulisan menyediakan sarana untuk menelusuri dan memeriksanya kembali. Keduanya bukan dua jalan yang saling bertentangan, melainkan dua cara yang dapat saling menguatkan. Bahkan pada masa ketika teknologi memungkinkan manusia menyimpan jutaan informasi dalam perangkat digital, pesan ini tetap relevan. Kemudahan menyimpan informasi perlu disertai kebiasaan mengorganisasikan catatan, memeriksa ketepatannya, serta membacanya kembali. Sebab, banyaknya informasi yang tersimpan tidak serta-merta menunjukkan kedalaman pemahaman seseorang terhadap ilmu yang dimilikinya.
Pada akhirnya, kalam hikmah مَا كُتِبَ قَرَّ وَمَا حُفِظَ فَرَّ mengajak kita memandang kegiatan menulis sebagai bentuk tanggung jawab intelektual sekaligus penghargaan terhadap ilmu. Tidak setiap orang harus menjadi penulis buku, melahirkan karya ilmiah, atau menghasilkan pemikiran besar untuk mengamalkan pesan tersebut. Mencatat pelajaran dari seorang guru, menuliskan hikmah dari pengalaman hidup, merangkum isi bacaan, atau mendokumentasikan pengetahuan yang bermanfaat merupakan langkah sederhana yang memiliki nilai penting. Catatan yang hari ini tampak biasa mungkin suatu saat menjadi jawaban atas persoalan yang kita hadapi, menjadi pengingat ketika pemahaman mulai memudar, atau menjadi sumber pengetahuan bagi orang lain. Namun, tulisan pun tidak otomatis abadi; ia tetap memerlukan pemeliharaan, pengkajian, dan pewarisan agar manfaatnya bertahan. Di sinilah letak kedalaman pesan yang dapat direnungkan dari hikmah tersebut: ilmu yang hanya disimpan dalam ingatan memiliki batas pada kemampuan seseorang mengingatnya, sedangkan ilmu yang dituliskan memperoleh kesempatan untuk hidup melampaui pengalaman dan usia penulisnya. Manusia tidak selalu mampu mempertahankan setiap hal yang pernah diketahuinya, tetapi melalui tulisan, ia dapat meninggalkan jejak pemikiran yang tetap memberi manfaat bahkan ketika dirinya tidak lagi hadir untuk menjelaskannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar