Dalam
kehidupan sehari-hari, manusia sering kali menilai kemuliaan dirinya dari
hal-hal lahiriah: kepandaian berbicara, keberanian berpendapat, dan keaktifan
dalam berbagai percakapan. Namun para wali dan ulama besar justru menilai
seseorang dari “apa yang ia tinggalkan”, bukan dari apa yang ia ucapkan. Imam
Ma‘ruf Al-Karkhi dalam kitab Al-Jawahir al-Lu’luiyyah menyampaikan
peringatan yang sangat tajam:
كَلَامُ الْعَبْدِ فِيْمَا لَا يَعْنِيْهِ خُذْلَانٌ مِنَ
اللهِ
“Pembicaraan
seorang hamba dalam perkara yang tidak bermanfaat adalah bentuk penghinaan dari
Allah untuknya.” Kalam ini mengguncang kesadaran, karena menunjukkan bahwa
kelalaian lisan bukan sekadar kesalahan pribadi, melainkan tanda sikap Allah
terhadap hamba tersebut.
Makna
khudzlân minallâh (dibiarkan dan ditelantarkan oleh Allah) dalam
perkataan Imam Ma‘ruf Al-Karkhi menunjukkan kondisi yang sangat berbahaya
secara spiritual. Ketika Allah menghinakan seorang hamba, Dia tidak selalu
menimpakan musibah besar, tetapi membiarkan hamba tersebut tenggelam dalam
ucapan sia-sia, tanpa rasa bersalah dan tanpa dorongan untuk memperbaiki diri.
Ini adalah bentuk hukuman yang halus namun mematikan, karena hamba merasa biasa
saja padahal sedang dijauhkan dari taufik dan hidayah.
Ucapan
yang tidak bermanfaat mencerminkan kelalaian hati dan lemahnya muraqabah
(kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi). Seorang hamba yang hatinya hidup akan
sangat berhati-hati dalam berbicara, karena ia menyadari bahwa setiap kata
dicatat dan akan dimintai pertanggungjawaban. Sebaliknya, ketika seseorang
dibiarkan berbicara tanpa kendali, itu menandakan bahwa hatinya tidak lagi
terhubung dengan nilai akhirat. Dalam konteks ini, banyak bicara bukanlah tanda
kecerdasan, melainkan indikasi keterputusan hubungan dengan Allah.
Imam Ma‘ruf Al-Karkhi juga ingin menanamkan kesadaran bahwa kemuliaan seorang hamba terletak pada penjagaan lisan. Diam dari perkara yang tidak bermanfaat adalah adab orang-orang yang dekat dengan Allah. Mereka memahami bahwa setiap ucapan memiliki dampak ruhani, baik menambah cahaya iman maupun mengundang kegelapan hati. Oleh karena itu, para salaf lebih memilih diam panjang yang bermakna daripada banyak bicara yang kosong, karena diam tersebut menjaga kehormatan diri di hadapan Allah dan manusia.
Dengan demikian, kalam hikmah ini mengajak kita untuk melakukan muhasabah yang jujur terhadap lisan. Jika seseorang merasa mudah larut dalam obrolan sia-sia, gemar berkomentar tanpa manfaat, dan sulit menahan diri dari pembicaraan yang tidak perlu, maka itu bisa menjadi tanda bahwa ia sedang berada dalam kondisi khudzlân. Jalan keluarnya adalah kembali kepada Allah dengan tobat, memperbanyak zikir, dan membiasakan lisan hanya untuk kebenaran dan kebaikan. Semoga Allah memuliakan kita dengan taufik-Nya, menjaga lisan kita, dan menjauhkan kita dari penghinaan yang tersembunyi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar