Di tengah perjalanan menuntut ilmu, tidak
semua hati selalu siap menerima nasihat, pelajaran, atau kebenaran yang
disampaikan oleh guru dan orang-orang berilmu. Ada masa ketika hati terasa
keras, pikiran sedang penuh, atau ego membuat seseorang sulit menerima ilmu
dengan lapang. Namun, dalam keadaan seperti itu, ada satu hal yang tetap harus
dijaga, yaitu mahabbah, cinta dan penghormatan kepada ilmu serta kepada
orang-orang yang membawanya. Sebab, cinta kepada ilmu adalah pintu yang tetap
terbuka, meskipun saat itu hati belum mampu memahami atau mengamalkannya
sepenuhnya.
Ungkapan “Jika hati tidak bisa menerima
ilmu, maka jangan sampai tidak ada mahabbah” mengandung makna yang sangat
dalam. Seseorang mungkin belum mampu menjalankan ilmu yang ia dengar, belum
sanggup memahami hikmah di balik nasihat, atau bahkan merasa berat menerima
teguran dari guru. Akan tetapi, ia tidak boleh membenci ilmu, meremehkan
nasihat, atau menjauh dari orang-orang yang mengajarkan kebaikan.
Ketidakmampuan menerima ilmu adalah kelemahan yang masih bisa diperbaiki,
tetapi hilangnya cinta kepada ilmu dapat menjadi tanda hati mulai jauh dari
cahaya kebaikan.
Mahabbah terhadap ilmu
berarti seseorang tetap memuliakan ilmu meskipun dirinya belum sempurna dalam
mengamalkannya. Ia tetap senang melihat orang belajar, tetap menghormati guru,
tetap menyukai majelis ilmu, dan tetap merasa bahwa ilmu adalah sesuatu yang
mulia. Sikap ini penting karena cinta sering kali menjadi jalan awal menuju
perubahan. Orang yang mencintai ilmu, meskipun belum mampu menerimanya
sepenuhnya, masih memiliki harapan besar untuk suatu saat dibukakan hatinya
oleh Allah agar dapat memahami, menerima, dan mengamalkan ilmu tersebut.
Sebaliknya, ketika seseorang kehilangan mahabbah kepada ilmu dan ahlinya, ia mudah jatuh pada sikap meremehkan, mencela, bahkan memusuhi kebenaran. Ia tidak hanya belum menerima ilmu, tetapi juga menutup pintu hatinya dari sumber kebaikan. Inilah keadaan yang lebih berbahaya, karena hati yang tidak mencintai ilmu akan semakin jauh dari bimbingan. Maka, menjaga adab kepada guru, menghargai nasihat, dan tetap rendah hati di hadapan ilmu adalah bentuk perlindungan agar hati tidak semakin keras.
Dengan demikian, pesan tersebut mengajarkan bahwa dalam kondisi selemah apa pun, seorang penuntut ilmu harus tetap menjaga rasa cinta kepada ilmu dan orang-orang yang berilmu. Mungkin hari ini ia belum mampu memahami, belum sanggup mengamalkan, atau belum bisa menerima sepenuhnya, tetapi selama mahabbah masih ada, harapan untuk berubah tetap terbuka. Cinta kepada ilmu adalah benih yang suatu saat dapat tumbuh menjadi pemahaman, kesadaran, dan amal. Karena itu, jangan biarkan hati kosong dari cinta kepada ilmu, sebab dari cinta itulah cahaya hidayah sering kali mulai masuk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar