Halaman

Selasa, 21 April 2026

Meninggikan Cita, Memuliakan Diri

Di antara untaian hikmah yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, terdapat kalimat yang sangat tajam sekaligus reflektif:

مَنْ كَانَتْ هِمَّتُهُ مَا دَخَلَ الْبَطْنَ فَقِيْمَتُهُ مَا خَرَجَ مِنْهُ

Barang siapa orientasi pikirannya hanya pada apa yang masuk ke perutnya, maka nilai dirinya seperti apa yang keluar darinya.” Kalam hikmah ini bukan sekadar sindiran, melainkan peringatan mendalam tentang martabat manusia dan arah hidup yang dipilihnya. Beliau mengajak kita meninjau ulang tujuan, ambisi, dan kualitas diri di tengah kehidupan yang sering terjebak pada kepentingan material dan biologis semata.

Secara bahasa, kata himmah berarti tekad, orientasi, atau cita-cita yang menjadi pusat perhatian seseorang. Dalam perspektif etika Islam, himmah mencerminkan derajat jiwa: semakin tinggi orientasi seseorang, semakin tinggi pula nilainya. Ketika seseorang menjadikan kebutuhan perut—makan, minum, dan kenikmatan fisik—sebagai tujuan utama hidup, maka ia merendahkan dirinya pada level insting biologis. Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah mengingatkan bahwa manusia diciptakan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani, melainkan untuk mengemban amanah spiritual dan moral.

Kalam hikmah ini tidak dimaksudkan untuk meremehkan kebutuhan fisik, sebab Islam mengakui pentingnya menjaga kesehatan dan kecukupan pangan. Namun, ketika perhatian seseorang hanya berputar pada konsumsi, kenikmatan, dan kepentingan duniawi, maka kualitas dirinya tereduksi. Ia tidak lagi berpikir tentang ilmu, amal, kemaslahatan, atau kontribusi sosial. Dalam kondisi demikian, nilainya diukur sebatas apa yang bersifat sementara dan rendah, sebagaimana kiasan yang disebutkan dalam kalam hikmah tersebut.

Secara filosofis, pernyataan ini menegaskan perbedaan antara manusia dan makhluk lain. Hewan hidup dengan orientasi dasar pada makan dan bertahan hidup, sedangkan manusia dianugerahi akal dan ruh untuk mencapai makna yang lebih tinggi. Jika manusia menyempitkan tujuannya hanya pada pemuasan insting, maka ia menyia-nyiakan potensi kemanusiaannya. Nilai manusia sejatinya terletak pada ilmu yang dipelajari, amal yang dilakukan, dan manfaat yang diberikan kepada sesama.

Dalam konteks sosial modern, kalam hikmah ini relevan sebagai kritik terhadap gaya hidup konsumtif dan materialistik. Ketika keberhasilan diukur semata-mata dari apa yang dimiliki dan dinikmati, maka orientasi hidup menjadi dangkal. Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh kualitas kontribusi dan integritasnya, bukan oleh apa yang ia konsumsi. Orang yang tinggi cita-citanya akan memikirkan bagaimana memberi, bukan sekadar menerima; bagaimana membangun, bukan hanya menikmati.

Dengan demikian, kalam hikmah ini merupakan ajakan untuk meninggikan orientasi hidup. Manusia hendaknya menjadikan ilmu, ibadah, dan kemaslahatan sebagai pusat perhatian. Semakin luhur tujuan yang dikejar, semakin tinggi pula nilai dirinya di hadapan manusia dan di sisi Allah. Hikmah Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah ini mengingatkan bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh apa yang ia masukkan ke dalam perutnya, tetapi oleh apa yang ia hasilkan dalam bentuk amal, karya, dan manfaat bagi kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Meninggikan Cita, Memuliakan Diri

Di antara untaian hikmah yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah , terdapat kalimat yang sangat tajam sek...