Di antara untaian hikmah yang dinisbatkan
kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, terdapat
kalimat yang sangat tajam sekaligus reflektif:
مَنْ كَانَتْ هِمَّتُهُ مَا دَخَلَ الْبَطْنَ فَقِيْمَتُهُ مَا
خَرَجَ مِنْهُ
“Barang siapa orientasi pikirannya hanya
pada apa yang masuk ke perutnya, maka nilai dirinya seperti apa yang keluar
darinya.” Kalam hikmah ini bukan sekadar sindiran, melainkan peringatan
mendalam tentang martabat manusia dan arah hidup yang dipilihnya. Beliau
mengajak kita meninjau ulang tujuan, ambisi, dan kualitas diri di tengah
kehidupan yang sering terjebak pada kepentingan material dan biologis semata.
Secara bahasa, kata himmah berarti
tekad, orientasi, atau cita-cita yang menjadi pusat perhatian seseorang. Dalam
perspektif etika Islam, himmah mencerminkan derajat jiwa: semakin tinggi
orientasi seseorang, semakin tinggi pula nilainya. Ketika seseorang menjadikan
kebutuhan perut—makan, minum, dan kenikmatan fisik—sebagai tujuan utama hidup,
maka ia merendahkan dirinya pada level insting biologis. Sayyidina Ali bin Abi
Thalib karramallahu wajhah mengingatkan bahwa manusia diciptakan bukan
hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani, melainkan untuk mengemban amanah
spiritual dan moral.
Kalam hikmah ini tidak dimaksudkan untuk
meremehkan kebutuhan fisik, sebab Islam mengakui pentingnya menjaga kesehatan
dan kecukupan pangan. Namun, ketika perhatian seseorang hanya berputar pada
konsumsi, kenikmatan, dan kepentingan duniawi, maka kualitas dirinya tereduksi.
Ia tidak lagi berpikir tentang ilmu, amal, kemaslahatan, atau kontribusi
sosial. Dalam kondisi demikian, nilainya diukur sebatas apa yang bersifat
sementara dan rendah, sebagaimana kiasan yang disebutkan dalam kalam hikmah
tersebut.
Secara filosofis, pernyataan ini menegaskan
perbedaan antara manusia dan makhluk lain. Hewan hidup dengan orientasi dasar
pada makan dan bertahan hidup, sedangkan manusia dianugerahi akal dan ruh untuk
mencapai makna yang lebih tinggi. Jika manusia menyempitkan tujuannya hanya
pada pemuasan insting, maka ia menyia-nyiakan potensi kemanusiaannya. Nilai
manusia sejatinya terletak pada ilmu yang dipelajari, amal yang dilakukan, dan
manfaat yang diberikan kepada sesama.
Dalam konteks sosial modern, kalam hikmah ini relevan sebagai kritik terhadap gaya hidup konsumtif dan materialistik. Ketika keberhasilan diukur semata-mata dari apa yang dimiliki dan dinikmati, maka orientasi hidup menjadi dangkal. Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh kualitas kontribusi dan integritasnya, bukan oleh apa yang ia konsumsi. Orang yang tinggi cita-citanya akan memikirkan bagaimana memberi, bukan sekadar menerima; bagaimana membangun, bukan hanya menikmati.
Dengan demikian, kalam hikmah ini merupakan ajakan untuk meninggikan orientasi hidup. Manusia hendaknya menjadikan ilmu, ibadah, dan kemaslahatan sebagai pusat perhatian. Semakin luhur tujuan yang dikejar, semakin tinggi pula nilai dirinya di hadapan manusia dan di sisi Allah. Hikmah Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah ini mengingatkan bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh apa yang ia masukkan ke dalam perutnya, tetapi oleh apa yang ia hasilkan dalam bentuk amal, karya, dan manfaat bagi kehidupan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar