Dalam
hiruk pikuk kehidupan dunia yang penuh kesibukan, ambisi, dan distraksi,
manusia sering kali tanpa sadar melenceng dari arah yang seharusnya. Hati
menjadi lalai, ibadah terasa berat, dan ketaatan perlahan tergeser oleh urusan
duniawi. Di tengah kondisi inilah ungkapan “Mari kita usahakan ketaatan itu
lagi. Mari berjalan di arah yang memang seharusnya. Ingat tujuan hidup kita
bukan dunia, tapi akhirat” hadir sebagai seruan lembut namun tegas untuk
kembali menata arah hidup dan menyadarkan manusia akan tujuan hakiki
keberadaannya.
Ajakan
untuk “mengusahakan ketaatan itu lagi” menunjukkan bahwa ketaatan adalah proses
yang perlu diperjuangkan, bukan sesuatu yang selalu stabil. Setiap manusia
pasti pernah berada di fase naik dan turun dalam iman. Ungkapan ini tidak
menghakimi masa lalu, tetapi mengajak untuk bangkit dan memulai kembali.
Ketaatan kepada Allah—melalui ibadah, menjaga akhlak, dan menjauhi
larangan-Nya—adalah fondasi utama agar hidup memiliki nilai dan keberkahan.
Kalimat
“mari berjalan di arah yang memang seharusnya” mengandung makna evaluasi diri.
Ia mengajak manusia untuk bertanya: ke mana arah hidup ini sedang berjalan?
Apakah keputusan, pilihan, dan aktivitas sehari-hari mendekatkan diri kepada
Allah atau justru menjauhkan? Arah hidup yang benar bukan diukur dari seberapa
sukses seseorang di mata dunia, tetapi seberapa lurus jalannya sesuai dengan
tuntunan agama dan nilai kebenaran.
Ungkapan ini semakin kuat dengan pengingat bahwa tujuan hidup bukan dunia, melainkan akhirat. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Ketika orientasi hidup hanya tertuju pada dunia—harta, jabatan, atau popularitas—manusia mudah lalai, gelisah, dan kecewa. Namun, ketika akhirat dijadikan tujuan utama, urusan dunia akan ditempatkan secara proporsional: dikejar secukupnya, tanpa mengorbankan iman dan ketaatan.
Pada akhirnya, ungkapan ini adalah ajakan penuh kasih untuk kembali pulang—pulang kepada Allah, kepada ketaatan, dan kepada tujuan hidup yang sejati. Ia mengingatkan bahwa tidak pernah terlambat untuk memperbaiki arah dan memperbarui niat. Dengan menjadikan akhirat sebagai orientasi, setiap langkah di dunia akan lebih terarah, setiap ujian terasa lebih ringan, dan hidup dijalani dengan kesadaran, ketenangan, serta harapan akan ridha Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar